<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Sekilas Menengok Pertalian Hubungan Saudi-Iran</title><description>Pertama kali Saudi dan Iran putus hubungan adalah pada era 1960an, di mana saat itu Iran memberi pengakuan terhadap Israel.</description><link>https://news.okezone.com/read/2016/01/05/18/1280765/sekilas-menengok-pertalian-hubungan-saudi-iran</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2016/01/05/18/1280765/sekilas-menengok-pertalian-hubungan-saudi-iran"/><item><title>Sekilas Menengok Pertalian Hubungan Saudi-Iran</title><link>https://news.okezone.com/read/2016/01/05/18/1280765/sekilas-menengok-pertalian-hubungan-saudi-iran</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2016/01/05/18/1280765/sekilas-menengok-pertalian-hubungan-saudi-iran</guid><pubDate>Selasa 05 Januari 2016 03:49 WIB</pubDate><dc:creator>Randy Wirayudha</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2016/01/05/18/1280765/sekilas-menengok-pertalian-hubungan-saudi-iran-mHb8M4mTJg.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi: Iranreview.org</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2016/01/05/18/1280765/sekilas-menengok-pertalian-hubungan-saudi-iran-mHb8M4mTJg.jpg</image><title>Ilustrasi: Iranreview.org</title></images><description>ARAB Saudi dan Iran sejak awal abad ke-20, dikenal bukan dua negara yang bisa &amp;lsquo;akur&amp;rsquo; secara permanen. Meski sudah meresmikan hubungan diplomatik sejak 1929, namun gejolak selalu ada di antara dua negeri yang mayoritas warganya terbagi dua sektarian, Sunni dan Syiah ini.
Pertama kali Saudi dan Iran putus hubungan adalah pada era 1960an, di mana saat itu Iran memberi pengakuan terhadap berdirinya negara Israel. Pada 1966, kedua pemimpin saat itu, Syah Iran &amp;ndash; Mohammad Reza Pahlavi dan Raja Faisal, saling mengunjungi.
Pasca-mundurnya pasukan Inggris dari Teluk Persia pada 1968, Saudi dan Iran menandatangani perjanjian demarkasi dan bertanggung jawab atas stabilitas keamanan di Teluk Persia.
Di awa 1970an, persahabatan Syah Iran dan Raja Saudi mulai goyah lagi, lantaran Iran memodernisasi setiap aspek militernya. Perebutan beberapa pulau di Teluk Persia yang mencuatkan konflik dengan Uni Emirat Arab (UEA), juga jadi faktor lain soal adanya tensi dalam pertalian hubungan Saudi-Iran.Hubungan Saudi-Iran juga digemparkan kritik keras pemerintahan baru  Iran pasca-revolusi yang menjatuhkan rezim Syah, terhadap Kerajaan Saudi  pada 1979. Semakin derasnya kecaman Iran di bawah pimpinan Ruhullah  Musavi Khomeini, memutuskan hubungan diplomatik kedua negara.
Pada Perang Iran-Irak, Saudi memihak Irak yang kala itu berada di  bawah pimpinan Saddam Hussein. Bahkan, Saudi diketahui menyokong  finansial Irak sebesar USD25 miliar. Dukungan yang sama terhadap Irak  juga datang dari beberapa &amp;ldquo;sekutu&amp;rdquo; Saudi, macam Kuwait, Bahrain, Qatar  dan UEA.
Serangan terhadap Kedutaan Saudi yang terjadi belum lama ini,  juga sedianya pernah terjadi pada 1987, pasca-insiden Haji yang  menewaskan 400 jamaah Haji, di mana dua per tiga dari korbannya adalah  warga Iran. Buntutnya, pada 1988 tak satu pun jamaah Iran bisa  mendapatkan visa Haji.
Saat perang Iran-Irak berakhir, hubungan diplomatik Iran dan  Saudi berangsur membaik, di mana pada 1991, hubungan kedua negara  dipulihkan, pasca-terpilihnya Presiden Iran, Mohammad Khatami. Dua  pemimpin kembali saling berkunjunjung, di pada Pangeran Abdullah melawat  ke Tehran pada Desember 1997 dan Khatami menyambangi Riyadh, Mei 1999.Di sisi lain, Saudi dan Iran memainkan peran berbeda dalam Krisis   Suriah. Saudi menyokong para pemberontak, sementara Iran berdiri di   belakang Presiden Suriah, Bashar al-Assad.
Tragedi haji lainnya pada 2015, kembali jadi faktor memanasnya   hubungan Iran dan Saudi. Terhitung, sekira 464 warga Iran diklaim tewas   dan akibatnya, pemerintah Iran mengecam Saudi dan menyebut tidak   kompeten dalam mengurus musim Haji.
Terakhir dan terbaru, Menteri Luar Negeri Saudi, Adel al-Jubeir   menyatakan memutuskan hubungan diplomatik dengan Iran, Senin, 4 Januari   2015 kemarin waktu setempat, pasca-diserangnya Kedutaan Saudi di  Tehran.

Kedutaan Saudi di Tehran, diserang massa demonstran yang marah   akibat eksekusi ulama Syiah, Sheikh Nimr al-Nimr. Massa bahkan   melemparkan sejumlah bom bakar ke gedung kedutaan.
Tapi para diplomat Saudi bisa dievakuasi dengan selamat. Setelah   mengetahui kabar para diplomat Saudi selamat, Al-Jubeir segera menggelar   konferensi pers, untuk memutus hubungan diplomatik dan hubungan dagang   dengan Iran.</description><content:encoded>ARAB Saudi dan Iran sejak awal abad ke-20, dikenal bukan dua negara yang bisa &amp;lsquo;akur&amp;rsquo; secara permanen. Meski sudah meresmikan hubungan diplomatik sejak 1929, namun gejolak selalu ada di antara dua negeri yang mayoritas warganya terbagi dua sektarian, Sunni dan Syiah ini.
Pertama kali Saudi dan Iran putus hubungan adalah pada era 1960an, di mana saat itu Iran memberi pengakuan terhadap berdirinya negara Israel. Pada 1966, kedua pemimpin saat itu, Syah Iran &amp;ndash; Mohammad Reza Pahlavi dan Raja Faisal, saling mengunjungi.
Pasca-mundurnya pasukan Inggris dari Teluk Persia pada 1968, Saudi dan Iran menandatangani perjanjian demarkasi dan bertanggung jawab atas stabilitas keamanan di Teluk Persia.
Di awa 1970an, persahabatan Syah Iran dan Raja Saudi mulai goyah lagi, lantaran Iran memodernisasi setiap aspek militernya. Perebutan beberapa pulau di Teluk Persia yang mencuatkan konflik dengan Uni Emirat Arab (UEA), juga jadi faktor lain soal adanya tensi dalam pertalian hubungan Saudi-Iran.Hubungan Saudi-Iran juga digemparkan kritik keras pemerintahan baru  Iran pasca-revolusi yang menjatuhkan rezim Syah, terhadap Kerajaan Saudi  pada 1979. Semakin derasnya kecaman Iran di bawah pimpinan Ruhullah  Musavi Khomeini, memutuskan hubungan diplomatik kedua negara.
Pada Perang Iran-Irak, Saudi memihak Irak yang kala itu berada di  bawah pimpinan Saddam Hussein. Bahkan, Saudi diketahui menyokong  finansial Irak sebesar USD25 miliar. Dukungan yang sama terhadap Irak  juga datang dari beberapa &amp;ldquo;sekutu&amp;rdquo; Saudi, macam Kuwait, Bahrain, Qatar  dan UEA.
Serangan terhadap Kedutaan Saudi yang terjadi belum lama ini,  juga sedianya pernah terjadi pada 1987, pasca-insiden Haji yang  menewaskan 400 jamaah Haji, di mana dua per tiga dari korbannya adalah  warga Iran. Buntutnya, pada 1988 tak satu pun jamaah Iran bisa  mendapatkan visa Haji.
Saat perang Iran-Irak berakhir, hubungan diplomatik Iran dan  Saudi berangsur membaik, di mana pada 1991, hubungan kedua negara  dipulihkan, pasca-terpilihnya Presiden Iran, Mohammad Khatami. Dua  pemimpin kembali saling berkunjunjung, di pada Pangeran Abdullah melawat  ke Tehran pada Desember 1997 dan Khatami menyambangi Riyadh, Mei 1999.Di sisi lain, Saudi dan Iran memainkan peran berbeda dalam Krisis   Suriah. Saudi menyokong para pemberontak, sementara Iran berdiri di   belakang Presiden Suriah, Bashar al-Assad.
Tragedi haji lainnya pada 2015, kembali jadi faktor memanasnya   hubungan Iran dan Saudi. Terhitung, sekira 464 warga Iran diklaim tewas   dan akibatnya, pemerintah Iran mengecam Saudi dan menyebut tidak   kompeten dalam mengurus musim Haji.
Terakhir dan terbaru, Menteri Luar Negeri Saudi, Adel al-Jubeir   menyatakan memutuskan hubungan diplomatik dengan Iran, Senin, 4 Januari   2015 kemarin waktu setempat, pasca-diserangnya Kedutaan Saudi di  Tehran.

Kedutaan Saudi di Tehran, diserang massa demonstran yang marah   akibat eksekusi ulama Syiah, Sheikh Nimr al-Nimr. Massa bahkan   melemparkan sejumlah bom bakar ke gedung kedutaan.
Tapi para diplomat Saudi bisa dievakuasi dengan selamat. Setelah   mengetahui kabar para diplomat Saudi selamat, Al-Jubeir segera menggelar   konferensi pers, untuk memutus hubungan diplomatik dan hubungan dagang   dengan Iran.</content:encoded></item></channel></rss>
