<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Prostitusi di Negeri Jiran</title><description>Biasanya para PSK kelas atas mangkal di dekat sejumlah klub malam KL, seperti di daerah Bukit Bintang, Jalan Sultan Ismail dan Jalan Imbi.</description><link>https://news.okezone.com/read/2016/01/05/18/1280775/prostitusi-di-negeri-jiran</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2016/01/05/18/1280775/prostitusi-di-negeri-jiran"/><item><title>Prostitusi di Negeri Jiran</title><link>https://news.okezone.com/read/2016/01/05/18/1280775/prostitusi-di-negeri-jiran</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2016/01/05/18/1280775/prostitusi-di-negeri-jiran</guid><pubDate>Selasa 05 Januari 2016 06:15 WIB</pubDate><dc:creator>Randy Wirayudha</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2016/01/05/18/1280775/prostitusi-di-negeri-jiran-4gYrbwzl9c.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi: Okezone</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2016/01/05/18/1280775/prostitusi-di-negeri-jiran-4gYrbwzl9c.jpg</image><title>Ilustrasi: Okezone</title></images><description>SEPERTI halnya di Indonesia, geliat prostitusi di negeri jiran &amp;ndash; Malaysia, tumbuh dan berjalan secara terselubung. Meski disebut sebagai hal yang ilegal, namun prostitusi di Malaysia seolah tak pernah bisa diberantas tuntas.
Menengok sejarah prostitusi dan eksisnya pekerja seks komersial (PSK) di Negeri &amp;ldquo;Datuk&amp;rdquo; ini, terbilang panjang di mana sekira 200 tahun lalu, para PSK lokal maupun asing, sudah eksis untuk melayani para penebang hutan, pekerja tambang, serta pelaut asing di Semenanjung Malaya.
Kini, prostitusi yang masih eksis, setidaknya &amp;ldquo;bersemayam&amp;rdquo; hanya di beberapa tempat tertentu atau sebutlah &amp;ldquo;Red-Light District&amp;rdquo; di Georgetown, Ipoh, Johor Baru, Kautan dan tentunya, Ibu Kota Malaysia &amp;ndash; Kuala Lumpur (KL).

Industri seks di KL awalnya dijalani para PSK melayu lokal. Tapi dari tahun ke tahun, mulai bermunculan PSK asing dari China, Myanmar, Vietnam, Thailand, Laos, Kamboja Indonesia, hingga Afrika, di mana kebanyakan dari mereka merupakan korban perdagangan manusia.Mereka biasanya muncul di jalan-jalan pada malam hari. Biasanya para PSK kelas atas  &amp;lsquo;mangkal&amp;rsquo; di spot-spot dekat sejumlah klub malam KL, seperti di daerah Bukit Bintang, Jalan Sultan Ismail dan Jalan Imbi.

Sementara untuk PSK &amp;ldquo;kelas menengah&amp;rdquo;, biasanya eksis di kawasan  pasar Lorong Haji Taib, di mana terdapat banyak hotel-hotel melati yang  &amp;ldquo;merangkap&amp;rdquo; rumah bordil.
Sementara di kawasan &amp;ldquo;red-light district&amp;rdquo; lainnya seperti di Chow Kit, tidak hanya para PSK wanita, tapi para transgender juga menjajakan diri.
Tempat-tempat spa dan pijat, sebagaimana halnya di Indonesia,  juga beroperasi secara terselubung menyediakan para PSK. Tempat-tempat  pijat &amp;ldquo;plus-plus&amp;rdquo; itu terdapat di Jalan Alor, Jalan Hicks, Jalan Thamibipilly dan Jalan Petaling.Sedangkan di kawasan Klang Valley, ternyata tidak hanya terdapat   bar-bar Jepang yang jadi tempat hiburan malam terselubung, tapi juga   kafe-kafe dangdut dengan para penari striptis asal Indonesia.

Tapi seperti halnya di Indonesia dan beberapa negara Asia  Tenggara,  prostitusi itu sendiri &amp;ldquo;mengundang&amp;rdquo; eksistensi kejahatan  seksual,  hingga human trafficking.
Medio 2015 lalu, Kepolisian KL mengklaim menahan lebih dari dua  ribu  PSK asing yang diduga korban perdagangan manusia, sebagai hasil  razia  besar-besaran.
Sebanyak 1.030  PSK di antaranya berasal dari China, 387 dari   Indonesia, 237 dari Thailand, 222 Vietnam dan 188 PSK asal Filipina.</description><content:encoded>SEPERTI halnya di Indonesia, geliat prostitusi di negeri jiran &amp;ndash; Malaysia, tumbuh dan berjalan secara terselubung. Meski disebut sebagai hal yang ilegal, namun prostitusi di Malaysia seolah tak pernah bisa diberantas tuntas.
Menengok sejarah prostitusi dan eksisnya pekerja seks komersial (PSK) di Negeri &amp;ldquo;Datuk&amp;rdquo; ini, terbilang panjang di mana sekira 200 tahun lalu, para PSK lokal maupun asing, sudah eksis untuk melayani para penebang hutan, pekerja tambang, serta pelaut asing di Semenanjung Malaya.
Kini, prostitusi yang masih eksis, setidaknya &amp;ldquo;bersemayam&amp;rdquo; hanya di beberapa tempat tertentu atau sebutlah &amp;ldquo;Red-Light District&amp;rdquo; di Georgetown, Ipoh, Johor Baru, Kautan dan tentunya, Ibu Kota Malaysia &amp;ndash; Kuala Lumpur (KL).

Industri seks di KL awalnya dijalani para PSK melayu lokal. Tapi dari tahun ke tahun, mulai bermunculan PSK asing dari China, Myanmar, Vietnam, Thailand, Laos, Kamboja Indonesia, hingga Afrika, di mana kebanyakan dari mereka merupakan korban perdagangan manusia.Mereka biasanya muncul di jalan-jalan pada malam hari. Biasanya para PSK kelas atas  &amp;lsquo;mangkal&amp;rsquo; di spot-spot dekat sejumlah klub malam KL, seperti di daerah Bukit Bintang, Jalan Sultan Ismail dan Jalan Imbi.

Sementara untuk PSK &amp;ldquo;kelas menengah&amp;rdquo;, biasanya eksis di kawasan  pasar Lorong Haji Taib, di mana terdapat banyak hotel-hotel melati yang  &amp;ldquo;merangkap&amp;rdquo; rumah bordil.
Sementara di kawasan &amp;ldquo;red-light district&amp;rdquo; lainnya seperti di Chow Kit, tidak hanya para PSK wanita, tapi para transgender juga menjajakan diri.
Tempat-tempat spa dan pijat, sebagaimana halnya di Indonesia,  juga beroperasi secara terselubung menyediakan para PSK. Tempat-tempat  pijat &amp;ldquo;plus-plus&amp;rdquo; itu terdapat di Jalan Alor, Jalan Hicks, Jalan Thamibipilly dan Jalan Petaling.Sedangkan di kawasan Klang Valley, ternyata tidak hanya terdapat   bar-bar Jepang yang jadi tempat hiburan malam terselubung, tapi juga   kafe-kafe dangdut dengan para penari striptis asal Indonesia.

Tapi seperti halnya di Indonesia dan beberapa negara Asia  Tenggara,  prostitusi itu sendiri &amp;ldquo;mengundang&amp;rdquo; eksistensi kejahatan  seksual,  hingga human trafficking.
Medio 2015 lalu, Kepolisian KL mengklaim menahan lebih dari dua  ribu  PSK asing yang diduga korban perdagangan manusia, sebagai hasil  razia  besar-besaran.
Sebanyak 1.030  PSK di antaranya berasal dari China, 387 dari   Indonesia, 237 dari Thailand, 222 Vietnam dan 188 PSK asal Filipina.</content:encoded></item></channel></rss>
