<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Pertempuran Aru: Mengadu Nyali di Kegelapan Malam</title><description>Setidaknya dari replika di museum yang terletak di Jalan Gatot Subroto itu, khalayak sedikitnya juga akan mengingat heroisme Yos Sudarso.</description><link>https://news.okezone.com/read/2016/01/15/18/1289055/pertempuran-aru-mengadu-nyali-di-kegelapan-malam</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2016/01/15/18/1289055/pertempuran-aru-mengadu-nyali-di-kegelapan-malam"/><item><title>Pertempuran Aru: Mengadu Nyali di Kegelapan Malam</title><link>https://news.okezone.com/read/2016/01/15/18/1289055/pertempuran-aru-mengadu-nyali-di-kegelapan-malam</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2016/01/15/18/1289055/pertempuran-aru-mengadu-nyali-di-kegelapan-malam</guid><pubDate>Jum'at 15 Januari 2016 15:40 WIB</pubDate><dc:creator>Randy Wirayudha</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2016/01/15/18/1289055/pertempuran-aru-mengadu-nyali-di-kegelapan-malam-joXzBtPBU9.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Replika KRI Matjan Tutul 650 di Museum Satria Mandala (Foto: Wikimedia)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2016/01/15/18/1289055/pertempuran-aru-mengadu-nyali-di-kegelapan-malam-joXzBtPBU9.jpg</image><title>Replika KRI Matjan Tutul 650 di Museum Satria Mandala (Foto: Wikimedia)</title></images><description>UKURANNYA memang terbilang kecil dilihat dari replikanya yang teronggok di Museum Satria Mandala, Jakarta. Tapi jangan sangka &amp;ldquo;nyali&amp;rdquo; kapal legendaris bernama KRI Matjan Tutul (650) itu sekecil ukuran standar-nya sebagai kapal patroli cepat.
Setidaknya dari replika di museum yang terletak di bilangan Jalan Gatot Subroto itu, khalayak sedikitnya juga akan mengingat heroisme Komodor Yosaphat &amp;ldquo;Yos&amp;rdquo; Sudarso, lebih dari setengah abad silam.
Ya, 54 tahun lalu atau tepatnya 15 Januari 1962, Komodor Sudarso menantang maut bersama 73 anak buahnya di Pertempuran Laut Aru, untuk mengonfrontir tiga kapal perang Belanda, Hr.Ms. Evertsen, Hr.Ms. Kortenaer dan Hr.Ms.Utrecht yang dibantu pesawat patroli maritim Lockheed P-2 Neptune.
Pada beberapa versi kisah sejarah, KRI Matjan Tutul 650 bersama dua kapal patroli cepat lainnya, KRI Matjan Kumbang 653 dan KRI Harimau 654 dikatakan tengah melindungi konvoi kapal pendaratan di Irian Barat. Sementara pada beberapa buku lain, disebutkan kapal itu hanya berpatroli.Tapi yang pasti, pertempuran ini terjadi saat hubungan Indonesia dan  Belanda masih &amp;ldquo;panas-panasnya&amp;rdquo; soal perseteruan &amp;ldquo;hak asuh&amp;rdquo; terkait Irian  Barat &amp;ndash; kawasan paling timur yang tak juga dilepas Belanda, kendati  sudah mengakui kedaulatan Republik Indonesia sejak 27 Desember 1949.
Pertempuran Laut Aru terjadi sekira pukul 21.00 WIT (Waktu  Indonesia Timur), saat tiga kapal perang milik Angkatan Laut Republik  Indonesia (ALRI, kini TNI AL) itu terlacak pengintaian Pesawat Neptune  milik Koninklije Marine (Angkatan Laut Belanda) dan kemudian dihadang Kapal  Perusak Evertsen dan Kortenaer.

Kronologi yang dinukil dari buku &amp;lsquo;Bung Karno: Masalah  Pertahanan-Keamanan&amp;rsquo; menyebutkan, serangan pertama oleh Pesawat Neptune  dilancarkan pada 21.45, tapi gagal lantaran peluru suar pesawat macet.
Lima menit berselang, komando yang dipegang Yos Sudarso  memerintahkan ketiga kapal putar haluan. Pada 22.02, serangan udara  Pesawat Neptune kembali dilancarkan dengan roket. Beruntung, serangan  kedua itu tak mengenai sasaran dan langsung dibalas tembakan antipesawat  dari KRI Matjan Kumbang.Baru pada sekira pukul 22.07, Kapal Belanda, Evertsen,  memuntahkan  peluru meriam 12 cm ke arah KRI Matjan Tutul yang ternyata  meleset.  Semenit kemudian, KRI Matjan Tutul membalas tembakan dengan  senjata 40  mm dan 12,7 mm dari geladak.
Melalui komunikasi radio, pada pukul 22.09 Komodor Yos Sudarso   menyerukan: &amp;ldquo;Kobarkan semangat pertempuran!&amp;rdquo;, sebelum akhirnya ikut   tewas tenggelam, setelah tembakan Evertsen mengenai KRI Matjan Tutul.
21 awak tewas, termasuk Komodor Yos Sudarso, Kapten Tjiptadi,  Kapten  Memet, Sastrawiria dan Kapten Wiratno. Sementara 53 awak lainnya   ditangkap setelah sekoci mereka dihadang Kapal Evertsen.
Pukul 22.10, giliran Kapal Kortenaer yang mengincar Matjan Kumbang dan terus memburu kapal patroli kecil itu sampai pukul 23.45.
Sementara pukul 22.45, Kapal Evertsen memburu KRI Harimau dengan  turut  memuntahkan peluru meriamnya yang juga akhirnya dihentikan pada  pukul  23.45, pasca-KRI Matjan Kumbang dan KRI Harimau berhasil keluar  dari  medan pertempuran.</description><content:encoded>UKURANNYA memang terbilang kecil dilihat dari replikanya yang teronggok di Museum Satria Mandala, Jakarta. Tapi jangan sangka &amp;ldquo;nyali&amp;rdquo; kapal legendaris bernama KRI Matjan Tutul (650) itu sekecil ukuran standar-nya sebagai kapal patroli cepat.
Setidaknya dari replika di museum yang terletak di bilangan Jalan Gatot Subroto itu, khalayak sedikitnya juga akan mengingat heroisme Komodor Yosaphat &amp;ldquo;Yos&amp;rdquo; Sudarso, lebih dari setengah abad silam.
Ya, 54 tahun lalu atau tepatnya 15 Januari 1962, Komodor Sudarso menantang maut bersama 73 anak buahnya di Pertempuran Laut Aru, untuk mengonfrontir tiga kapal perang Belanda, Hr.Ms. Evertsen, Hr.Ms. Kortenaer dan Hr.Ms.Utrecht yang dibantu pesawat patroli maritim Lockheed P-2 Neptune.
Pada beberapa versi kisah sejarah, KRI Matjan Tutul 650 bersama dua kapal patroli cepat lainnya, KRI Matjan Kumbang 653 dan KRI Harimau 654 dikatakan tengah melindungi konvoi kapal pendaratan di Irian Barat. Sementara pada beberapa buku lain, disebutkan kapal itu hanya berpatroli.Tapi yang pasti, pertempuran ini terjadi saat hubungan Indonesia dan  Belanda masih &amp;ldquo;panas-panasnya&amp;rdquo; soal perseteruan &amp;ldquo;hak asuh&amp;rdquo; terkait Irian  Barat &amp;ndash; kawasan paling timur yang tak juga dilepas Belanda, kendati  sudah mengakui kedaulatan Republik Indonesia sejak 27 Desember 1949.
Pertempuran Laut Aru terjadi sekira pukul 21.00 WIT (Waktu  Indonesia Timur), saat tiga kapal perang milik Angkatan Laut Republik  Indonesia (ALRI, kini TNI AL) itu terlacak pengintaian Pesawat Neptune  milik Koninklije Marine (Angkatan Laut Belanda) dan kemudian dihadang Kapal  Perusak Evertsen dan Kortenaer.

Kronologi yang dinukil dari buku &amp;lsquo;Bung Karno: Masalah  Pertahanan-Keamanan&amp;rsquo; menyebutkan, serangan pertama oleh Pesawat Neptune  dilancarkan pada 21.45, tapi gagal lantaran peluru suar pesawat macet.
Lima menit berselang, komando yang dipegang Yos Sudarso  memerintahkan ketiga kapal putar haluan. Pada 22.02, serangan udara  Pesawat Neptune kembali dilancarkan dengan roket. Beruntung, serangan  kedua itu tak mengenai sasaran dan langsung dibalas tembakan antipesawat  dari KRI Matjan Kumbang.Baru pada sekira pukul 22.07, Kapal Belanda, Evertsen,  memuntahkan  peluru meriam 12 cm ke arah KRI Matjan Tutul yang ternyata  meleset.  Semenit kemudian, KRI Matjan Tutul membalas tembakan dengan  senjata 40  mm dan 12,7 mm dari geladak.
Melalui komunikasi radio, pada pukul 22.09 Komodor Yos Sudarso   menyerukan: &amp;ldquo;Kobarkan semangat pertempuran!&amp;rdquo;, sebelum akhirnya ikut   tewas tenggelam, setelah tembakan Evertsen mengenai KRI Matjan Tutul.
21 awak tewas, termasuk Komodor Yos Sudarso, Kapten Tjiptadi,  Kapten  Memet, Sastrawiria dan Kapten Wiratno. Sementara 53 awak lainnya   ditangkap setelah sekoci mereka dihadang Kapal Evertsen.
Pukul 22.10, giliran Kapal Kortenaer yang mengincar Matjan Kumbang dan terus memburu kapal patroli kecil itu sampai pukul 23.45.
Sementara pukul 22.45, Kapal Evertsen memburu KRI Harimau dengan  turut  memuntahkan peluru meriamnya yang juga akhirnya dihentikan pada  pukul  23.45, pasca-KRI Matjan Kumbang dan KRI Harimau berhasil keluar  dari  medan pertempuran.</content:encoded></item></channel></rss>
