<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Pertempuran Aru: Tuduhan Belanda &amp; Bantahan Jenderal Yani</title><description>AL Belanda segera melancarkan tuduhan bahwa Indonesia akan melecut konflik dengan invasi ke Irian Barat.</description><link>https://news.okezone.com/read/2016/01/15/18/1289099/pertempuran-aru-tuduhan-belanda-bantahan-jenderal-yani</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2016/01/15/18/1289099/pertempuran-aru-tuduhan-belanda-bantahan-jenderal-yani"/><item><title>Pertempuran Aru: Tuduhan Belanda &amp; Bantahan Jenderal Yani</title><link>https://news.okezone.com/read/2016/01/15/18/1289099/pertempuran-aru-tuduhan-belanda-bantahan-jenderal-yani</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2016/01/15/18/1289099/pertempuran-aru-tuduhan-belanda-bantahan-jenderal-yani</guid><pubDate>Jum'at 15 Januari 2016 16:14 WIB</pubDate><dc:creator>Randy Wirayudha</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2016/01/15/18/1289099/pertempuran-aru-tuduhan-belanda-bantahan-jenderal-yani-1d2BhCe2Sw.jpg" expression="full" type="image/jpeg">KRI Matjan Tutul 650 (Foto: Wikipedia)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2016/01/15/18/1289099/pertempuran-aru-tuduhan-belanda-bantahan-jenderal-yani-1d2BhCe2Sw.jpg</image><title>KRI Matjan Tutul 650 (Foto: Wikipedia)</title></images><description>INSIDEN (Laut) Aru. Begitu pihak Koninklijke Marine (Angkatan Laut Belanda) menyebut pertempuran malam di Laut Arafuru 15 Januari 54 tahun silam. Belanda menuduh insiden itu merupakan buntut dari upaya Indonesia untuk menginvasi Irian Barat yang saat itu masih dalam genggaman Belanda.
Ya, tahun 1962 saat itu Indonesia dan Belanda tengah &amp;ldquo;panas-panasnya&amp;rdquo; berseteru soal status Irian Barat. Disebutkan buku &amp;lsquo;Between the Tides&amp;rsquo;, Belanda kala itu masih punya sekira 7.500 personel pasukan. Indonesia pun merancang wacana untuk mendaratkan sejumlah personel dan relawan.
Upaya itu mendapat penghadangan dari sedikitnya tiga kapal perang Belanda, &amp;ldquo;Evertsen&amp;rdquo;, &amp;ldquo;Kortenaer&amp;rdquo;, dan &amp;ldquo;Utrecht&amp;rdquo; yang dibantu pesawat patroli Maritim Lockheed P-2 Neptune dalam peristiwa Pertempuran Laut Aru itu.
Jelas tiga kapal torpedo cepat macam KRI Matjan Tutul, KRI Matjan Kumbang dan KRI Harimau bukan lawan yang terbilang sebanding. Alhasil, pertempuran tak berimbang terjadi pada Senin malam, 15 Januari 1962, di mana dua kapal Indonesia berhasil meloloskan diri.Sementara satu kapal lainnya, KRI Matjan Tutul yang membawa Wakil  Panglima I ALRI (Angkatan Laut Republik Indonesia), Komodor Yosaphat  &amp;ldquo;Yos&amp;rdquo; Sudarso, tewas tenggelam bersama 20 anak buahnya.
Terkait kabar itu, Kepala Staf KOTI (Komando Tertinggi) kala itu,  Mayjen Ahmad Yani di Jakarta disebutkan sangat mencemaskan laporan yang  belum diterimanya dengan lengkap tersebut.

Dalam buku &amp;lsquo;Profil Seorang Prajurit TNI&amp;rsquo;, Jenderal Yani tak bisa  tidur semalaman, keluar-masuk kamar tidur, hingga akhirnya sebuah  telefon berdering.
Dari laporan telefon itu, Jenderal Yani pun  mengetahui dengan lengkap insiden yang menewaskan Komodor Yos Sudarso.  Sidang tertutup pun digelar selama sekira satu seperempat jam.Sementara di Den Haag, AL Belanda segera melancarkan tuduhan bahwa Indonesia akan melecut konflik dengan invasi ke Irian Barat.
&amp;ldquo;Kapal-kapal perang Indonesia menuju pantai Irian Barat, telah   melepaskan tembakan kepada kapal-kapal Belanda,&amp;rdquo; seru pernyataan Den   Haag seperti dikutip buku &amp;lsquo;Sukarno, Tentara, PKI: Segitiga Kekuasaan   Sebelum Prahara Politik 1961-1965&amp;rsquo;.
&amp;ldquo;Dalam pertempuran yang kemudian terjadi, sebuah kapal cepat  torpedo  (MTB) Indonesia terbakar. Belanda menangkap awal kapalnya yang  mencoba  menyelamatkan diri. Jumlah yang tertangkap dua kali lebih besar  dari  awak kapal normal untuk MTB. Hal ini menunjukkan Indonesia berusaha   mendarat di Irian Barat,&amp;rdquo; begitu pernyataan Den Haag.

Jelas datang bantahan oleh Jenderal Yani yang juga selaku juru bicara Staf   Operasi Irian Barat, untuk menyanggah tudingan Belanda di atas. &amp;ldquo;Tidak benar   Indonesia mencoba invasi dan pendaratan,&amp;rdquo; seru Jenderal Yani pada   keterangan persnya kala itu.
&amp;ldquo;Tidak mungkin jika saudara-saudara melihat tipe kapalnya saja.  MTB  bukan imbangan terhadap kapal-kapal perusak Belanda itu. Andaikata  kita  mau menyerang, tentu kekuatan yang kita kerahkan paling tidak mesti   seimbang dengan apa yang mereka ajukan,&amp;rdquo; tandasnya.</description><content:encoded>INSIDEN (Laut) Aru. Begitu pihak Koninklijke Marine (Angkatan Laut Belanda) menyebut pertempuran malam di Laut Arafuru 15 Januari 54 tahun silam. Belanda menuduh insiden itu merupakan buntut dari upaya Indonesia untuk menginvasi Irian Barat yang saat itu masih dalam genggaman Belanda.
Ya, tahun 1962 saat itu Indonesia dan Belanda tengah &amp;ldquo;panas-panasnya&amp;rdquo; berseteru soal status Irian Barat. Disebutkan buku &amp;lsquo;Between the Tides&amp;rsquo;, Belanda kala itu masih punya sekira 7.500 personel pasukan. Indonesia pun merancang wacana untuk mendaratkan sejumlah personel dan relawan.
Upaya itu mendapat penghadangan dari sedikitnya tiga kapal perang Belanda, &amp;ldquo;Evertsen&amp;rdquo;, &amp;ldquo;Kortenaer&amp;rdquo;, dan &amp;ldquo;Utrecht&amp;rdquo; yang dibantu pesawat patroli Maritim Lockheed P-2 Neptune dalam peristiwa Pertempuran Laut Aru itu.
Jelas tiga kapal torpedo cepat macam KRI Matjan Tutul, KRI Matjan Kumbang dan KRI Harimau bukan lawan yang terbilang sebanding. Alhasil, pertempuran tak berimbang terjadi pada Senin malam, 15 Januari 1962, di mana dua kapal Indonesia berhasil meloloskan diri.Sementara satu kapal lainnya, KRI Matjan Tutul yang membawa Wakil  Panglima I ALRI (Angkatan Laut Republik Indonesia), Komodor Yosaphat  &amp;ldquo;Yos&amp;rdquo; Sudarso, tewas tenggelam bersama 20 anak buahnya.
Terkait kabar itu, Kepala Staf KOTI (Komando Tertinggi) kala itu,  Mayjen Ahmad Yani di Jakarta disebutkan sangat mencemaskan laporan yang  belum diterimanya dengan lengkap tersebut.

Dalam buku &amp;lsquo;Profil Seorang Prajurit TNI&amp;rsquo;, Jenderal Yani tak bisa  tidur semalaman, keluar-masuk kamar tidur, hingga akhirnya sebuah  telefon berdering.
Dari laporan telefon itu, Jenderal Yani pun  mengetahui dengan lengkap insiden yang menewaskan Komodor Yos Sudarso.  Sidang tertutup pun digelar selama sekira satu seperempat jam.Sementara di Den Haag, AL Belanda segera melancarkan tuduhan bahwa Indonesia akan melecut konflik dengan invasi ke Irian Barat.
&amp;ldquo;Kapal-kapal perang Indonesia menuju pantai Irian Barat, telah   melepaskan tembakan kepada kapal-kapal Belanda,&amp;rdquo; seru pernyataan Den   Haag seperti dikutip buku &amp;lsquo;Sukarno, Tentara, PKI: Segitiga Kekuasaan   Sebelum Prahara Politik 1961-1965&amp;rsquo;.
&amp;ldquo;Dalam pertempuran yang kemudian terjadi, sebuah kapal cepat  torpedo  (MTB) Indonesia terbakar. Belanda menangkap awal kapalnya yang  mencoba  menyelamatkan diri. Jumlah yang tertangkap dua kali lebih besar  dari  awak kapal normal untuk MTB. Hal ini menunjukkan Indonesia berusaha   mendarat di Irian Barat,&amp;rdquo; begitu pernyataan Den Haag.

Jelas datang bantahan oleh Jenderal Yani yang juga selaku juru bicara Staf   Operasi Irian Barat, untuk menyanggah tudingan Belanda di atas. &amp;ldquo;Tidak benar   Indonesia mencoba invasi dan pendaratan,&amp;rdquo; seru Jenderal Yani pada   keterangan persnya kala itu.
&amp;ldquo;Tidak mungkin jika saudara-saudara melihat tipe kapalnya saja.  MTB  bukan imbangan terhadap kapal-kapal perusak Belanda itu. Andaikata  kita  mau menyerang, tentu kekuatan yang kita kerahkan paling tidak mesti   seimbang dengan apa yang mereka ajukan,&amp;rdquo; tandasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
