<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Puisi Kutuk Teroris Bom Sarinah</title><description>Peristiwa bom Sarinah dan penembakan kafe kopi Starbucks di  Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, menebar duka yang sangat mendalam.</description><link>https://news.okezone.com/read/2016/01/15/338/1289027/puisi-kutuk-teroris-bom-sarinah</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2016/01/15/338/1289027/puisi-kutuk-teroris-bom-sarinah"/><item><title>Puisi Kutuk Teroris Bom Sarinah</title><link>https://news.okezone.com/read/2016/01/15/338/1289027/puisi-kutuk-teroris-bom-sarinah</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2016/01/15/338/1289027/puisi-kutuk-teroris-bom-sarinah</guid><pubDate>Jum'at 15 Januari 2016 15:19 WIB</pubDate><dc:creator>Fahmi Firdaus </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2016/01/15/338/1289027/puisi-kutuk-teroris-bom-sarinah-CS9wlLMStP.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Okezone</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2016/01/15/338/1289027/puisi-kutuk-teroris-bom-sarinah-CS9wlLMStP.jpg</image><title>Foto: Okezone</title></images><description>JAKARTA - Peristiwa bom Sarinah dan penembakan di Waralaba kafe kopi Starbucks di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, menebar duka yang sangat mendalam.
Aktivis Indonesia tanpa diskriminasi Denny JA meluapkan perasaannya lewat puisi yang ia tulis. Dia juga mengutuk keras aksi terorisme yang menyebabkan sejumlah korban jiwa.
Berikut puisi Denny JA dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi, Jumat (15/1/2016)

Teroris, Apakah Kau Punya Ibu?
&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&quot;Teroris, mengapa kau bunuh anakku?
 
Ia tak berurusan dengan kamu
 
Politik ia tak tahu
 
Ia bukan musuh kamu&quot;
 
&amp;nbsp;
 
Menangis meraung Ibu Aminah
 
Ditatapnya lagi mayat berdarah
 
Semua air matanya tumpah
 
Anak satu-satunya mati sudah
 
&amp;nbsp;
 
Bergantian Ibu Aminah dipeluk tetangga
 
Mereka menangis bersama
 
Di pundak mereka, Ibu Aminah terbata:
 
&quot;Anakku bukan polisi
 
Anakku bukan politisi
 
Anakku bukan TNI
 
Mengapa anakku mereka bunuh?&quot;
 
&amp;nbsp;
 
Melengking Ibu Aminah sejadinya
 
Luka terlalu menganga
 
Langit ikut berduka
 
Bumi yang dipijaknya bernanah
 
&amp;nbsp;
 
&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;http://video.okezone.com/embed/MjAxNi8wMS8xNC8xLzY3MzI2LzAva0g5LXZFU25oNVU=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;
 
&amp;nbsp;Tetap ia terpana
 
Mengapa mereka mensasar anaknya?
 
Ia rakyat biasa
 
Muslimah pula
 
&amp;nbsp;
 
Mona, sang wartawati mengamati
 
Sedari tadi ia  terpaku di lokasi
 
Dikumpulkannya aneka informasi
 
Teror di Jakarta ingin ia pahami
 
&amp;nbsp;
 
&quot;Wahai teroris, siapa tuanmu?
 
Apakah kau punya ibu?
 
Tidakkah kau cinta keluargamu?
 
Mengapa kau rela mati?
 
Dengan bom bunuh diri?
 
&amp;nbsp;
 
Peradaban apa yang ingin kalian tegakkan?
 
Mengapa menghalalkan kekerasan dan pembunuhan?
 
Kalian teriakkan nama Tuhan
 
Namun mengapa menjadi setan?
 
&amp;nbsp;
 
Apakah kau kira akan jumpa bidadari?
 
Di surga nan abadi?
 
Demi perjuangan kau rela mati?
 
Inikah ilusi yang meracuni?
 
&amp;nbsp;
 
Apakah ini yang kau kira?
 
Tuhan akan memberimu hadiah?
 
Nabi akan memberimu  berkah?
 
Pada agama kau akan dianggap berjasa?
 
Astaga, siapa yang memasukkan ular di kalian punya kepala?
 
&amp;nbsp;
 
Dibacanya data muthakir
 
Sejak 35 tahun terakhir
 
Dari tahun delapan puluh satu
 
Hingga tahun dua ribu lima belas
 
Terjadi 4506 bom bunuh diri
 
Dipentaskan di 40 negeri
 
Sudah 45 ribu nyawa yang mati
 
&amp;nbsp;
 
ISIS sudah manggung di Indonesia
 
Demikian berita dunia
 
Dari Paris hingga Jakarta
 
Mereka ingin bertahta
 
Gunakan slogan agama
 
Tapi menebarkan neraka
 
&amp;nbsp;
 
Merinding bulu kuduk Mona
 
Rasa takut keras menggoda
 
Haruskah laporan ini dipublikasikannya?
 
Akankah ia menjadi target berikutnya?
 
Aku takut, kata ulu hatinya
 
Aku takut, kata neuron di pikirannya
 
Aku takut, kata jeroan sukmanya
 
&amp;nbsp;
 
Dipandangnya lagi ibu Aminah
 
Yang terus memeluk mayat tak berdaya
 
Mona terkesima
 
Keharuan menguasainya
 
Ia teringat ibunya
 
&amp;nbsp;
 
Jiwanya terguncang
 
Batinnya berperang
 
Antara rasa haru dan  rasa takut
 
Antara keharusan berani dan rasa takut
 
Jika dibiarkannya rasa takut bertahta
 
Bukankah ia kalah sukarela?
 
&amp;nbsp;
 
Lonceng di hati Mona terus bergema
 
Jangan biarkan para ibu di dunia
 
mengalami nasib seperti ibu Aminah
 
Kesaksian harus diberikan
 
Keberanian harus dibangunkan
 
&amp;nbsp;
 
Mona tegakkan kepala
 
Kini matanya menyala
 
Ia sebar di social media
 
#JanganTakut Jakarta
 
#JanganTakut Indonesia
 
# JanganTakut Dunia
 
#Terorisme Musuh Bersama
 
&amp;nbsp;
 
Jangan kalah
 
dengan preman berkedok agama!</description><content:encoded>JAKARTA - Peristiwa bom Sarinah dan penembakan di Waralaba kafe kopi Starbucks di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, menebar duka yang sangat mendalam.
Aktivis Indonesia tanpa diskriminasi Denny JA meluapkan perasaannya lewat puisi yang ia tulis. Dia juga mengutuk keras aksi terorisme yang menyebabkan sejumlah korban jiwa.
Berikut puisi Denny JA dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi, Jumat (15/1/2016)

Teroris, Apakah Kau Punya Ibu?
&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&quot;Teroris, mengapa kau bunuh anakku?
 
Ia tak berurusan dengan kamu
 
Politik ia tak tahu
 
Ia bukan musuh kamu&quot;
 
&amp;nbsp;
 
Menangis meraung Ibu Aminah
 
Ditatapnya lagi mayat berdarah
 
Semua air matanya tumpah
 
Anak satu-satunya mati sudah
 
&amp;nbsp;
 
Bergantian Ibu Aminah dipeluk tetangga
 
Mereka menangis bersama
 
Di pundak mereka, Ibu Aminah terbata:
 
&quot;Anakku bukan polisi
 
Anakku bukan politisi
 
Anakku bukan TNI
 
Mengapa anakku mereka bunuh?&quot;
 
&amp;nbsp;
 
Melengking Ibu Aminah sejadinya
 
Luka terlalu menganga
 
Langit ikut berduka
 
Bumi yang dipijaknya bernanah
 
&amp;nbsp;
 
&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;http://video.okezone.com/embed/MjAxNi8wMS8xNC8xLzY3MzI2LzAva0g5LXZFU25oNVU=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;
 
&amp;nbsp;Tetap ia terpana
 
Mengapa mereka mensasar anaknya?
 
Ia rakyat biasa
 
Muslimah pula
 
&amp;nbsp;
 
Mona, sang wartawati mengamati
 
Sedari tadi ia  terpaku di lokasi
 
Dikumpulkannya aneka informasi
 
Teror di Jakarta ingin ia pahami
 
&amp;nbsp;
 
&quot;Wahai teroris, siapa tuanmu?
 
Apakah kau punya ibu?
 
Tidakkah kau cinta keluargamu?
 
Mengapa kau rela mati?
 
Dengan bom bunuh diri?
 
&amp;nbsp;
 
Peradaban apa yang ingin kalian tegakkan?
 
Mengapa menghalalkan kekerasan dan pembunuhan?
 
Kalian teriakkan nama Tuhan
 
Namun mengapa menjadi setan?
 
&amp;nbsp;
 
Apakah kau kira akan jumpa bidadari?
 
Di surga nan abadi?
 
Demi perjuangan kau rela mati?
 
Inikah ilusi yang meracuni?
 
&amp;nbsp;
 
Apakah ini yang kau kira?
 
Tuhan akan memberimu hadiah?
 
Nabi akan memberimu  berkah?
 
Pada agama kau akan dianggap berjasa?
 
Astaga, siapa yang memasukkan ular di kalian punya kepala?
 
&amp;nbsp;
 
Dibacanya data muthakir
 
Sejak 35 tahun terakhir
 
Dari tahun delapan puluh satu
 
Hingga tahun dua ribu lima belas
 
Terjadi 4506 bom bunuh diri
 
Dipentaskan di 40 negeri
 
Sudah 45 ribu nyawa yang mati
 
&amp;nbsp;
 
ISIS sudah manggung di Indonesia
 
Demikian berita dunia
 
Dari Paris hingga Jakarta
 
Mereka ingin bertahta
 
Gunakan slogan agama
 
Tapi menebarkan neraka
 
&amp;nbsp;
 
Merinding bulu kuduk Mona
 
Rasa takut keras menggoda
 
Haruskah laporan ini dipublikasikannya?
 
Akankah ia menjadi target berikutnya?
 
Aku takut, kata ulu hatinya
 
Aku takut, kata neuron di pikirannya
 
Aku takut, kata jeroan sukmanya
 
&amp;nbsp;
 
Dipandangnya lagi ibu Aminah
 
Yang terus memeluk mayat tak berdaya
 
Mona terkesima
 
Keharuan menguasainya
 
Ia teringat ibunya
 
&amp;nbsp;
 
Jiwanya terguncang
 
Batinnya berperang
 
Antara rasa haru dan  rasa takut
 
Antara keharusan berani dan rasa takut
 
Jika dibiarkannya rasa takut bertahta
 
Bukankah ia kalah sukarela?
 
&amp;nbsp;
 
Lonceng di hati Mona terus bergema
 
Jangan biarkan para ibu di dunia
 
mengalami nasib seperti ibu Aminah
 
Kesaksian harus diberikan
 
Keberanian harus dibangunkan
 
&amp;nbsp;
 
Mona tegakkan kepala
 
Kini matanya menyala
 
Ia sebar di social media
 
#JanganTakut Jakarta
 
#JanganTakut Indonesia
 
# JanganTakut Dunia
 
#Terorisme Musuh Bersama
 
&amp;nbsp;
 
Jangan kalah
 
dengan preman berkedok agama!</content:encoded></item></channel></rss>
