<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>  Berikut Proses Identifikasi Para Korban Bom Sarinah</title><description>Kombes Pol Anton Castilani menjelaskan ada beberapa proses identifikasi korban bom di Sarinah, Jakarta Pusat.</description><link>https://news.okezone.com/read/2016/01/15/338/1289379/berikut-proses-identifikasi-para-korban-bom-sarinah</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2016/01/15/338/1289379/berikut-proses-identifikasi-para-korban-bom-sarinah"/><item><title>  Berikut Proses Identifikasi Para Korban Bom Sarinah</title><link>https://news.okezone.com/read/2016/01/15/338/1289379/berikut-proses-identifikasi-para-korban-bom-sarinah</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2016/01/15/338/1289379/berikut-proses-identifikasi-para-korban-bom-sarinah</guid><pubDate>Jum'at 15 Januari 2016 21:40 WIB</pubDate><dc:creator>Syamsul Anwar Khoemaeni</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2016/01/15/338/1289379/berikut-proses-identifikasi-para-korban-bom-sarinah-O33YGt58cD.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Illustrasi Okezone</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2016/01/15/338/1289379/berikut-proses-identifikasi-para-korban-bom-sarinah-O33YGt58cD.jpg</image><title>Foto: Illustrasi Okezone</title></images><description>

JAKARTA - Kepala Bidang Kedokteran (Kabidok) Pusat Kedokteran dan Kesehatan (Pusdokes) Mabes Polri, Kombes Pol Anton Castilani menjelaskan ada beberapa proses identifikasi korban bom di Sarinah, Jakarta Pusat.

Fase pertama, kata dia, di tempat kejadian perkara (TKP), polisi mengumpulkan barang bukti yang berada di lapangan dan mencatat semua data, termasuk letak dan posisi korban.

&quot;Namanya sebuah operasi DVI ada lima fase. Pertama itu di TKP, kita mengumpulkan barang bukti yang ada di lapangan, dan mencatat semuanya, termasuk letak dan sebagainya,&quot; ujar Anton kepada wartawan di RS Polri Kramatjati, Jakarta Timur, Jumat (15/1/2016).

Selanjutnya, jasad korban kita dibawa ke kamar jenazah. Di fase kedua, polisi mengumpulkan segala informasi yang diperoleh dari jasad korban. Data tersebut ialah mulai sidik jari, gigi, DNA, serta tanda-tanda fisik, maupun properti atau barang yang melekat badan jenazah.

&quot;Kemudian secara paralel, teman-tan di antemortem akan mengumpulkan informasi serupa, sidik jari dari pihak keluarga, imigrasi, atau database yang lain. Kemudian data record atau gigi gerigi dari dokter gigi, atau dari gambar atau foto yang tersenyum,&quot; imbuhnya.

Tahan ketiga lanjut Anton adalah data pembanding DNA, baik kerabat dekat, orang tua, anak maupun direct sample berupa sikat gigi, pisau cukur rambut, atau tisu bekas yang tertinggal di kamar jenazah.

&quot;Berikut info tanda fisik. Misalnya keluarga menyampaikan itu ada cacat dalam tubuhnya, tanda lahir, bekas operasi. Terakhir mungkin kalau diketahui sebelum berangkat ke tempat kejadian, memakai pakaian apa, membawa tas apa, cincin, kalung, atau punya barang melekat lain, seperti jam tangan bisa disampaikan,&quot; sambungnya.

Terakhir, seluruh data yang diperoleh dari satu hingga tiga lantas bandingkan. Apakah sidik jarinya cocok, apakah gigi geliginya cocok, DNA-nya cocok atau yang lain.

&quot;Baru dari situ kita ambil kesimpulan, kalau cocok maka dinyatakan jenazah ini sesuai dengan A, teridentifikasi,&quot; tukasnya.

Berikut Proses Identifikasi Para Korban Bom Sarinah
</description><content:encoded>

JAKARTA - Kepala Bidang Kedokteran (Kabidok) Pusat Kedokteran dan Kesehatan (Pusdokes) Mabes Polri, Kombes Pol Anton Castilani menjelaskan ada beberapa proses identifikasi korban bom di Sarinah, Jakarta Pusat.

Fase pertama, kata dia, di tempat kejadian perkara (TKP), polisi mengumpulkan barang bukti yang berada di lapangan dan mencatat semua data, termasuk letak dan posisi korban.

&quot;Namanya sebuah operasi DVI ada lima fase. Pertama itu di TKP, kita mengumpulkan barang bukti yang ada di lapangan, dan mencatat semuanya, termasuk letak dan sebagainya,&quot; ujar Anton kepada wartawan di RS Polri Kramatjati, Jakarta Timur, Jumat (15/1/2016).

Selanjutnya, jasad korban kita dibawa ke kamar jenazah. Di fase kedua, polisi mengumpulkan segala informasi yang diperoleh dari jasad korban. Data tersebut ialah mulai sidik jari, gigi, DNA, serta tanda-tanda fisik, maupun properti atau barang yang melekat badan jenazah.

&quot;Kemudian secara paralel, teman-tan di antemortem akan mengumpulkan informasi serupa, sidik jari dari pihak keluarga, imigrasi, atau database yang lain. Kemudian data record atau gigi gerigi dari dokter gigi, atau dari gambar atau foto yang tersenyum,&quot; imbuhnya.

Tahan ketiga lanjut Anton adalah data pembanding DNA, baik kerabat dekat, orang tua, anak maupun direct sample berupa sikat gigi, pisau cukur rambut, atau tisu bekas yang tertinggal di kamar jenazah.

&quot;Berikut info tanda fisik. Misalnya keluarga menyampaikan itu ada cacat dalam tubuhnya, tanda lahir, bekas operasi. Terakhir mungkin kalau diketahui sebelum berangkat ke tempat kejadian, memakai pakaian apa, membawa tas apa, cincin, kalung, atau punya barang melekat lain, seperti jam tangan bisa disampaikan,&quot; sambungnya.

Terakhir, seluruh data yang diperoleh dari satu hingga tiga lantas bandingkan. Apakah sidik jarinya cocok, apakah gigi geliginya cocok, DNA-nya cocok atau yang lain.

&quot;Baru dari situ kita ambil kesimpulan, kalau cocok maka dinyatakan jenazah ini sesuai dengan A, teridentifikasi,&quot; tukasnya.

Berikut Proses Identifikasi Para Korban Bom Sarinah
</content:encoded></item></channel></rss>
