<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Virus Zika Merebak, Wanita Diharapkan Tunda Kehamilan</title><description>Virus ini menyerang para wanita hamil. Jika sudah terkena, maka bayi yang dilahirkan akan mengalami kelainan Microcephaly.</description><link>https://news.okezone.com/read/2016/01/23/18/1295299/virus-zika-merebak-wanita-diharapkan-tunda-kehamilan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2016/01/23/18/1295299/virus-zika-merebak-wanita-diharapkan-tunda-kehamilan"/><item><title>Virus Zika Merebak, Wanita Diharapkan Tunda Kehamilan</title><link>https://news.okezone.com/read/2016/01/23/18/1295299/virus-zika-merebak-wanita-diharapkan-tunda-kehamilan</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2016/01/23/18/1295299/virus-zika-merebak-wanita-diharapkan-tunda-kehamilan</guid><pubDate>Sabtu 23 Januari 2016 13:24 WIB</pubDate><dc:creator>Randy Wirayudha</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2016/01/23/18/1295299/virus-zika-merebak-wanita-diharapkan-tunda-kehamilan-rzJc5lo0F3.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi wanita hamil (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2016/01/23/18/1295299/virus-zika-merebak-wanita-diharapkan-tunda-kehamilan-rzJc5lo0F3.jpg</image><title>Ilustrasi wanita hamil (Foto: Shutterstock)</title></images><description>BOGOT&amp;Aacute; &amp;ndash; Virus Zika yang sedianya mulai muncul pad tahun 1940an di Afrika, kini justru merebak luas di Amerika Selatan dan Tengah (Karibia). Brasil jadi negara yang paling parah dilanda virus yang berasal dari nyamuk Aedes Aegypti ini.
Virus ini &quot;menyerang&quot; para wanita hamil. Jika sudah terkena, maka bayi yang dilahirkan akan mengalami kelainan Microcephaly atau kelainan ukuran kepala bayi lebih kecil dari ukuran normal.
Di Brasil sendiri, sejak Oktober 2015 lalu sudah sekira 4.000 bayi yang mengalami kelainan tersebut. Sebanyak 49 bayi dilaporkan meninggal akibat kelainan ini.
Sejumlah negara seperti Ekuador, El Salvador, Jamaika dan Kolombia lewat pemerintahnya, mengeluarkan rekomendasi untuk para wanita menunda kehamilannya.&amp;ldquo;Kami melakukan ini karena kami percaya bahwa rekomendasi ini  merupakan cara yang tepat untuk mengkomunikasikan risiko  (Microcephaly),&amp;rdquo; papar Menteri Kesehatan Kolombia, Alejandro Gaviria,  dikutip BBC, Sabtu (23/1/2016).
&amp;ldquo;Akan ada konsekuensi yang serius jika hamil,&amp;rdquo; tambahnya sembari  menjabarkan soal 13.500 kasus kelainan Microcephaly yang sudah tercatat  di Kolombia.

Pun begitu, rekomendasi pemerintah Kolombia justru dianggap naif  oleh aktivis hak wanita dari Women&amp;rsquo;s Link Worldwide, Monica Roa.  &amp;ldquo;Sungguh naif untuk meminta wanita menunda kehamilan dalam konteks  negara seperti Kolombia,&amp;rdquo; timpalnya.
&amp;ldquo;Di Kolombia, lebih dari 50 persen kehamilan terjadi bukan karena  direncanakan. Belum lagi di semua kawasan Kolombia, kekerasan seksual  terus terjadi,&amp;rdquo; tandas Roa.Sementara Amerika Serikat lewat Pusat Pencegahan dan Pengendalian   Penyakit (USCDCP), mengeluarkan travel warning bagi warganya yang ingin   bepergian ke Amerika Selatan dan Karibia.
Peringatan itu ditujukan pada warga yang khususnya wanita hamil,  untuk  sementara ini bepergian ke Bolivia, Ekuador, Guyana, Brasil,  Kolombia,  El Salvador, Guyana Prancis, Guatemala, Honduras.

Peringatan  serupa juga meliputi Meksiko,  Panama, Paraguay, Suriname, Venezuela,  Barbados, St. Martin, Haiti,  Martinique, Puerto Rico, Guadeloupe,  hingga ke Samoa di Oseania dan Cape Verde di Afrika.</description><content:encoded>BOGOT&amp;Aacute; &amp;ndash; Virus Zika yang sedianya mulai muncul pad tahun 1940an di Afrika, kini justru merebak luas di Amerika Selatan dan Tengah (Karibia). Brasil jadi negara yang paling parah dilanda virus yang berasal dari nyamuk Aedes Aegypti ini.
Virus ini &quot;menyerang&quot; para wanita hamil. Jika sudah terkena, maka bayi yang dilahirkan akan mengalami kelainan Microcephaly atau kelainan ukuran kepala bayi lebih kecil dari ukuran normal.
Di Brasil sendiri, sejak Oktober 2015 lalu sudah sekira 4.000 bayi yang mengalami kelainan tersebut. Sebanyak 49 bayi dilaporkan meninggal akibat kelainan ini.
Sejumlah negara seperti Ekuador, El Salvador, Jamaika dan Kolombia lewat pemerintahnya, mengeluarkan rekomendasi untuk para wanita menunda kehamilannya.&amp;ldquo;Kami melakukan ini karena kami percaya bahwa rekomendasi ini  merupakan cara yang tepat untuk mengkomunikasikan risiko  (Microcephaly),&amp;rdquo; papar Menteri Kesehatan Kolombia, Alejandro Gaviria,  dikutip BBC, Sabtu (23/1/2016).
&amp;ldquo;Akan ada konsekuensi yang serius jika hamil,&amp;rdquo; tambahnya sembari  menjabarkan soal 13.500 kasus kelainan Microcephaly yang sudah tercatat  di Kolombia.

Pun begitu, rekomendasi pemerintah Kolombia justru dianggap naif  oleh aktivis hak wanita dari Women&amp;rsquo;s Link Worldwide, Monica Roa.  &amp;ldquo;Sungguh naif untuk meminta wanita menunda kehamilan dalam konteks  negara seperti Kolombia,&amp;rdquo; timpalnya.
&amp;ldquo;Di Kolombia, lebih dari 50 persen kehamilan terjadi bukan karena  direncanakan. Belum lagi di semua kawasan Kolombia, kekerasan seksual  terus terjadi,&amp;rdquo; tandas Roa.Sementara Amerika Serikat lewat Pusat Pencegahan dan Pengendalian   Penyakit (USCDCP), mengeluarkan travel warning bagi warganya yang ingin   bepergian ke Amerika Selatan dan Karibia.
Peringatan itu ditujukan pada warga yang khususnya wanita hamil,  untuk  sementara ini bepergian ke Bolivia, Ekuador, Guyana, Brasil,  Kolombia,  El Salvador, Guyana Prancis, Guatemala, Honduras.

Peringatan  serupa juga meliputi Meksiko,  Panama, Paraguay, Suriname, Venezuela,  Barbados, St. Martin, Haiti,  Martinique, Puerto Rico, Guadeloupe,  hingga ke Samoa di Oseania dan Cape Verde di Afrika.</content:encoded></item></channel></rss>
