<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Pesawat Legendaris Zero Mengangkasa Lagi di Langit Jepang</title><description>Saingan Zero di Perang Dunia II di zona Pasifik silam, bisa dibilang hanya Supermarine Spitfire kepunyaan Inggris.</description><link>https://news.okezone.com/read/2016/01/28/18/1299323/pesawat-legendaris-zero-mengangkasa-lagi-di-langit-jepang</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2016/01/28/18/1299323/pesawat-legendaris-zero-mengangkasa-lagi-di-langit-jepang"/><item><title>Pesawat Legendaris Zero Mengangkasa Lagi di Langit Jepang</title><link>https://news.okezone.com/read/2016/01/28/18/1299323/pesawat-legendaris-zero-mengangkasa-lagi-di-langit-jepang</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2016/01/28/18/1299323/pesawat-legendaris-zero-mengangkasa-lagi-di-langit-jepang</guid><pubDate>Kamis 28 Januari 2016 14:38 WIB</pubDate><dc:creator>Randy Wirayudha</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2016/01/28/18/1299323/pesawat-legendaris-zero-mengangkasa-lagi-di-langit-jepang-c4iYLnbLHT.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Pesawat Tempur Mitsubishi A6M &quot;Zero&quot; (Foto: AP)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2016/01/28/18/1299323/pesawat-legendaris-zero-mengangkasa-lagi-di-langit-jepang-c4iYLnbLHT.jpg</image><title>Pesawat Tempur Mitsubishi A6M &quot;Zero&quot; (Foto: AP)</title></images><description>KANOYA &amp;ndash; Pasukan Udara Bela Diri Jepang (Koku Jieitai) saat ini dipenuhi dengan alutsista buatan asing. Pesawat-pesawat &amp;ldquo;bermerk&amp;rdquo; Amerika Serikat (AS) jadi tulang punggung. Padahal sekira tujuh dekade silam, Jepang punya sejumlah pesawat tempur andal buatan sendiri.
Salah satunya Mitsubishi A6M &amp;ldquo;Zero&amp;rdquo; nan legendaris. Pesawat tempur yang juga mampu membawa bom itu punya jarak tempuh yang cukup jauh. Saingan Zero di Perang Dunia II di zona Pasifik silam, bisa dibilang hanya Supermarine Spitfire kepunyaan Inggris.
Sudah cukup lama warga Jepang tak melihat pesawat legendaris itu di langit Negeri Matahari Terbit. Pun begitu, setidaknya kebanggaan itu coba dibawakan seorang pengusaha, Masahiro Ishizuka.
Sempat menemukan Zero yang terbengkalai tapi masih utuh di Papua Nugini pada 1970, Ishizuka menggelontorkan dana untuk &amp;ldquo;memugar&amp;rdquo; (jenis) pesawat yang pernah diikutkan dalam operasi Kamikaze pada akhir-akhir Perang Pasifik itu.Tidak hanya menghidupkannya kembali, Ishizuka juga &amp;ldquo;mendandani&amp;rdquo; Zero miliknya itu sebagaimana di era Perang Pasifik dulu, lengkap dengan roundel khas bulatan merah..
Pesawat itu pun diuji mengudara di atas Perfektur Kagoshima di  Pulau Kyushu dari Pangkalan Angkatan Laut AS di Kanoya, Jepang, dengan  diterbangkan mantan pilot AS, Skip Holm.
&amp;ldquo;Saya ingin masyarakat Jepang, terutama generasi muda punya  pengetahuan tentang Pesawat Zero, sebagaimana orang-orang dulu mengingat  dan membanggakannya,&amp;rdquo; ungkap Ishizuka, dikutip Washington Post, Kamis (28/1/2016).

&amp;ldquo;Setiap dari mereka harus punya pemikiran dan perspektif yang  berbeda tentang pesawat ini. Tapi yang terutama, saya ingin masyarakat  tahu bahwa Jepang pernah mengembangkan teknologi pesawat,&amp;rdquo; tandasnya  singkat.Zero merupakan satu dari berbagai jenis pesawat Jepang  buatan  sendiri, yang tak hanya punya catatan pertempuran dahsyat dengan   pesawat-pesawat AS, tapi juga punya catatan kelam sebagai &amp;ldquo;senjata&amp;rdquo;  Kamikaze.

Di sisi lain, pesawat jenis ini juga pernah jadi andalan Thailand, China dan tentunya Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI, kini TNI AU) di masa revolusi fisik 1945-1949.</description><content:encoded>KANOYA &amp;ndash; Pasukan Udara Bela Diri Jepang (Koku Jieitai) saat ini dipenuhi dengan alutsista buatan asing. Pesawat-pesawat &amp;ldquo;bermerk&amp;rdquo; Amerika Serikat (AS) jadi tulang punggung. Padahal sekira tujuh dekade silam, Jepang punya sejumlah pesawat tempur andal buatan sendiri.
Salah satunya Mitsubishi A6M &amp;ldquo;Zero&amp;rdquo; nan legendaris. Pesawat tempur yang juga mampu membawa bom itu punya jarak tempuh yang cukup jauh. Saingan Zero di Perang Dunia II di zona Pasifik silam, bisa dibilang hanya Supermarine Spitfire kepunyaan Inggris.
Sudah cukup lama warga Jepang tak melihat pesawat legendaris itu di langit Negeri Matahari Terbit. Pun begitu, setidaknya kebanggaan itu coba dibawakan seorang pengusaha, Masahiro Ishizuka.
Sempat menemukan Zero yang terbengkalai tapi masih utuh di Papua Nugini pada 1970, Ishizuka menggelontorkan dana untuk &amp;ldquo;memugar&amp;rdquo; (jenis) pesawat yang pernah diikutkan dalam operasi Kamikaze pada akhir-akhir Perang Pasifik itu.Tidak hanya menghidupkannya kembali, Ishizuka juga &amp;ldquo;mendandani&amp;rdquo; Zero miliknya itu sebagaimana di era Perang Pasifik dulu, lengkap dengan roundel khas bulatan merah..
Pesawat itu pun diuji mengudara di atas Perfektur Kagoshima di  Pulau Kyushu dari Pangkalan Angkatan Laut AS di Kanoya, Jepang, dengan  diterbangkan mantan pilot AS, Skip Holm.
&amp;ldquo;Saya ingin masyarakat Jepang, terutama generasi muda punya  pengetahuan tentang Pesawat Zero, sebagaimana orang-orang dulu mengingat  dan membanggakannya,&amp;rdquo; ungkap Ishizuka, dikutip Washington Post, Kamis (28/1/2016).

&amp;ldquo;Setiap dari mereka harus punya pemikiran dan perspektif yang  berbeda tentang pesawat ini. Tapi yang terutama, saya ingin masyarakat  tahu bahwa Jepang pernah mengembangkan teknologi pesawat,&amp;rdquo; tandasnya  singkat.Zero merupakan satu dari berbagai jenis pesawat Jepang  buatan  sendiri, yang tak hanya punya catatan pertempuran dahsyat dengan   pesawat-pesawat AS, tapi juga punya catatan kelam sebagai &amp;ldquo;senjata&amp;rdquo;  Kamikaze.

Di sisi lain, pesawat jenis ini juga pernah jadi andalan Thailand, China dan tentunya Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI, kini TNI AU) di masa revolusi fisik 1945-1949.</content:encoded></item></channel></rss>
