<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Casnawi, Hidup dengan Ratusan Benjolan &amp; Daging Tumbuh</title><description>Tidak jelas apa penyakit yang diderita Casnawi ini karena dia belum  pernah berobat ke dokter, karena belum pernah berobat.</description><link>https://news.okezone.com/read/2016/02/03/525/1304072/casnawi-hidup-dengan-ratusan-benjolan-daging-tumbuh</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2016/02/03/525/1304072/casnawi-hidup-dengan-ratusan-benjolan-daging-tumbuh"/><item><title>Casnawi, Hidup dengan Ratusan Benjolan &amp; Daging Tumbuh</title><link>https://news.okezone.com/read/2016/02/03/525/1304072/casnawi-hidup-dengan-ratusan-benjolan-daging-tumbuh</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2016/02/03/525/1304072/casnawi-hidup-dengan-ratusan-benjolan-daging-tumbuh</guid><pubDate>Rabu 03 Februari 2016 18:32 WIB</pubDate><dc:creator></dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2016/02/03/525/1304072/casnawi-hidup-dengan-ratusan-benjolan-daging-tumbuh-ol7TpCOywO.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Casnawi, penderita kelainan kulit (foto: KabarCirebon)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2016/02/03/525/1304072/casnawi-hidup-dengan-ratusan-benjolan-daging-tumbuh-ol7TpCOywO.jpg</image><title>Casnawi, penderita kelainan kulit (foto: KabarCirebon)</title></images><description>MAJALNGKA &amp;ndash; Casnawi (41), anak pertama pasangan Narwin (60) dan Itris (60), warga Blok Senin RT 02 RW 04, Desa Tegalaren, Kecamatan Ligung, Kabupaten Majalengka, mengalami kelainan bentuk tubuh.Di bagian lengan kiri hingga ke bagian ketiak tumbuh daging menjuntai ke bawah hingga 40 cm.
Ada beberapa bagian daging yang tumbuh cukup besar memajang ke bawah, terutama di bagian lengan kiri. Selain itu, di sekujur tubuh serta wajah tumbuh benjolan mulai sebesar kelereng hingga sebesar telur bebek.
Yang tidak ditumbuhi benjolan hanya di bagian kepala yang ada rambutnya serta bagian bibir, karena di leher, telinga hingga wajah benjolan tampak cukup banyak. Sulit dihitung berapa ratus benjolan yang muncul di badannya.

Dikutip dari Kabar-Cirebon, Rabu (3/2/2016), daging yang tumbuh di bagian belakang terdapat luka, konon, luka tersebut akibat gesekan baju yang terus menerus karena baju yang dipakainya kurang halus sehingga terus menggores kulit.
Tidak jelas apa penyakit yang diderita Casnawi ini karena dia belum pernah berobat ke dokter, keluarganya pun belum pernah mengajaknya untuk berobat atau sekadar menanyakan penyakit yang dideritanya sejak kecil ke dokter terdekat sekalipun. Alasannya tidak memiliki biaya sementara mereka walapun hidup serba kekurangan tidak mendapatkan Jamkesmas atau saat ini BPJS.
Menurut Casnawi didampingi ibunya Itris, penyakit daging tumbuh yang diderta Casnawi mulai dirasakan sejak masih duduk di bangu kelas V, Sekolah Dasar. Awalnya, Casnawi menderita penyakit gatal-gatal atau diistilahkan di kampungnya penyakit budug.



Penyakit Aneh
Setelah itu di bagian lengan kirinya tampak merah memanjang yang lama  kelamaan muncul benjolan di bagian wah lengan serta payudaranya. Lama  kelamaan benjolan semakin membesar dan setelah bertahun-tahun seperti  daging tumbuh memanjang ke bawah hingga puluhan centimeter dan melebar.
Meski begitu keluarganya tidak berupaya mengobatinya dengan alasan  tidak memiliki uang. Keseharian keluarga tersebut adalah menggembala  domba milik orang lain dengan sistem bagi hasil. Atau menjadi buruh  mencangkul dengan upah Rp 50.000 per hari bila sedang musim garap lahan.  Padahal bila penyakitnya sedang terasa, menurut Casnawi, tubuhnya  lemas, mual dan terkadang meriang.
&amp;ldquo;Kalau sedang kuli mencangkul dan kulit atau benjolan di paha terkena  gagang cangkul itu terasa sakit dan mual, makanya belakangan ini sering  berhenti bekerja,&amp;rdquo; ungkap Casnawi.
Menurut adiknya, Tarsini, saat ini sudah hampir sebulan menganggur  karena penyakitnya terus terasa. Sehingga yang bekerja untuk mencari  makan adalah orang tuanya dan adik bungsunya.
&amp;ldquo;Kalau bapak menggembala domba ya adik saya yang buburuh nyangkul  atau sebaliknya. Sekarang domba hasil maparon kini tinggal satu karena  terus dijual untuk memenuhi kebutuhan biaya hidup sehari-hari. Tidak  setiap hari ada pekerjaan mencangkul sehingga banyak nganggur,&amp;rdquo; ungkap  Tarsini.Butuh Biaya Berobat
Sejak dulu dia mengaku sudah berulang kali mendatangi kantor desa,  Kantor Kecamatan Ligung dan puskesmas agar keluarganya bisa mendapatkan  Jamkesmas dengan harapan bisa berobat secara gratis, namun tak kunjung  terwujud.
Sebulan yang lalu ada yang menyarankan untuk mendapatkan BPJB harus  membayar sehingga dia berusaha untuk memprosesnya dan kini telah  memiliki kartu tersebut dengan harapan kakanya bisa berobat ke RSHS  Bandung.
Untuk bekal berobat orang tuanya, Narwin, kini kembali harus menjual  satu ekor domba yang masih tersisa seharga Rp 1.500.000. &amp;ldquo;Kami ingin  kakak segera diobati karena BPJS sudah kami peroleh kemarin untuk empat  orang dengan nilai Rp 105.000, rencananya kami akan diantar Pak Kuwu ke  Bandung. Bapak sekarang sedang pergi menjual domba untuk bekal berobat  nanti,&amp;rdquo; kata Tarsini.
Kaur Kesra Desa Tegalaren, Asep Soandi, membenarkan Casnawi yang  penah menjadi teman sekolahnya menderita kelainan di tubuhnya sejak  kecil.
&amp;ldquo;Saya baru beberapa bulan menjadi aparat desa sehingga tidak  mengetahui persis kondisi Casnawi, karena dulu hanya benjolan di bebrapa  bagian tubuhnya. Mudah-mudahan sekarang bisa diobati di Rumah Sakit  Bandung,&amp;rdquo; ungkapnya.</description><content:encoded>MAJALNGKA &amp;ndash; Casnawi (41), anak pertama pasangan Narwin (60) dan Itris (60), warga Blok Senin RT 02 RW 04, Desa Tegalaren, Kecamatan Ligung, Kabupaten Majalengka, mengalami kelainan bentuk tubuh.Di bagian lengan kiri hingga ke bagian ketiak tumbuh daging menjuntai ke bawah hingga 40 cm.
Ada beberapa bagian daging yang tumbuh cukup besar memajang ke bawah, terutama di bagian lengan kiri. Selain itu, di sekujur tubuh serta wajah tumbuh benjolan mulai sebesar kelereng hingga sebesar telur bebek.
Yang tidak ditumbuhi benjolan hanya di bagian kepala yang ada rambutnya serta bagian bibir, karena di leher, telinga hingga wajah benjolan tampak cukup banyak. Sulit dihitung berapa ratus benjolan yang muncul di badannya.

Dikutip dari Kabar-Cirebon, Rabu (3/2/2016), daging yang tumbuh di bagian belakang terdapat luka, konon, luka tersebut akibat gesekan baju yang terus menerus karena baju yang dipakainya kurang halus sehingga terus menggores kulit.
Tidak jelas apa penyakit yang diderita Casnawi ini karena dia belum pernah berobat ke dokter, keluarganya pun belum pernah mengajaknya untuk berobat atau sekadar menanyakan penyakit yang dideritanya sejak kecil ke dokter terdekat sekalipun. Alasannya tidak memiliki biaya sementara mereka walapun hidup serba kekurangan tidak mendapatkan Jamkesmas atau saat ini BPJS.
Menurut Casnawi didampingi ibunya Itris, penyakit daging tumbuh yang diderta Casnawi mulai dirasakan sejak masih duduk di bangu kelas V, Sekolah Dasar. Awalnya, Casnawi menderita penyakit gatal-gatal atau diistilahkan di kampungnya penyakit budug.



Penyakit Aneh
Setelah itu di bagian lengan kirinya tampak merah memanjang yang lama  kelamaan muncul benjolan di bagian wah lengan serta payudaranya. Lama  kelamaan benjolan semakin membesar dan setelah bertahun-tahun seperti  daging tumbuh memanjang ke bawah hingga puluhan centimeter dan melebar.
Meski begitu keluarganya tidak berupaya mengobatinya dengan alasan  tidak memiliki uang. Keseharian keluarga tersebut adalah menggembala  domba milik orang lain dengan sistem bagi hasil. Atau menjadi buruh  mencangkul dengan upah Rp 50.000 per hari bila sedang musim garap lahan.  Padahal bila penyakitnya sedang terasa, menurut Casnawi, tubuhnya  lemas, mual dan terkadang meriang.
&amp;ldquo;Kalau sedang kuli mencangkul dan kulit atau benjolan di paha terkena  gagang cangkul itu terasa sakit dan mual, makanya belakangan ini sering  berhenti bekerja,&amp;rdquo; ungkap Casnawi.
Menurut adiknya, Tarsini, saat ini sudah hampir sebulan menganggur  karena penyakitnya terus terasa. Sehingga yang bekerja untuk mencari  makan adalah orang tuanya dan adik bungsunya.
&amp;ldquo;Kalau bapak menggembala domba ya adik saya yang buburuh nyangkul  atau sebaliknya. Sekarang domba hasil maparon kini tinggal satu karena  terus dijual untuk memenuhi kebutuhan biaya hidup sehari-hari. Tidak  setiap hari ada pekerjaan mencangkul sehingga banyak nganggur,&amp;rdquo; ungkap  Tarsini.Butuh Biaya Berobat
Sejak dulu dia mengaku sudah berulang kali mendatangi kantor desa,  Kantor Kecamatan Ligung dan puskesmas agar keluarganya bisa mendapatkan  Jamkesmas dengan harapan bisa berobat secara gratis, namun tak kunjung  terwujud.
Sebulan yang lalu ada yang menyarankan untuk mendapatkan BPJB harus  membayar sehingga dia berusaha untuk memprosesnya dan kini telah  memiliki kartu tersebut dengan harapan kakanya bisa berobat ke RSHS  Bandung.
Untuk bekal berobat orang tuanya, Narwin, kini kembali harus menjual  satu ekor domba yang masih tersisa seharga Rp 1.500.000. &amp;ldquo;Kami ingin  kakak segera diobati karena BPJS sudah kami peroleh kemarin untuk empat  orang dengan nilai Rp 105.000, rencananya kami akan diantar Pak Kuwu ke  Bandung. Bapak sekarang sedang pergi menjual domba untuk bekal berobat  nanti,&amp;rdquo; kata Tarsini.
Kaur Kesra Desa Tegalaren, Asep Soandi, membenarkan Casnawi yang  penah menjadi teman sekolahnya menderita kelainan di tubuhnya sejak  kecil.
&amp;ldquo;Saya baru beberapa bulan menjadi aparat desa sehingga tidak  mengetahui persis kondisi Casnawi, karena dulu hanya benjolan di bebrapa  bagian tubuhnya. Mudah-mudahan sekarang bisa diobati di Rumah Sakit  Bandung,&amp;rdquo; ungkapnya.</content:encoded></item></channel></rss>
