<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Keterikatan India dan Indonesia dalam Goresan Sejarah</title><description>Jika merunut sejarah republik ini, India punya peranan besar dan tak ternilai buat mengundang pengakuan lain dari dunia internasional.</description><link>https://news.okezone.com/read/2016/02/04/18/1304359/keterikatan-india-dan-indonesia-dalam-goresan-sejarah</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2016/02/04/18/1304359/keterikatan-india-dan-indonesia-dalam-goresan-sejarah"/><item><title>Keterikatan India dan Indonesia dalam Goresan Sejarah</title><link>https://news.okezone.com/read/2016/02/04/18/1304359/keterikatan-india-dan-indonesia-dalam-goresan-sejarah</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2016/02/04/18/1304359/keterikatan-india-dan-indonesia-dalam-goresan-sejarah</guid><pubDate>Kamis 04 Februari 2016 07:07 WIB</pubDate><dc:creator>Randy Wirayudha</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2016/02/04/18/1304359/keterikatan-india-dan-indonesia-dalam-goresan-sejarah-yi15Su5TqZ.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Presiden pertama RI, Ir. Soekarno dan Perdana Menteri India, Pandit Jawaharlal Nehru (Foto: Wikipedia)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2016/02/04/18/1304359/keterikatan-india-dan-indonesia-dalam-goresan-sejarah-yi15Su5TqZ.jpg</image><title>Presiden pertama RI, Ir. Soekarno dan Perdana Menteri India, Pandit Jawaharlal Nehru (Foto: Wikipedia)</title></images><description>JIKA generasi &amp;ldquo;awam&amp;rdquo; Indonesia saat ini menyebut nama India, yang terbersit pertama kali dalam pikiran, mesti nama-nama seperti Shakrukh Khan, Amitabh Bachchan, atau paling &amp;lsquo;banter&amp;rsquo; Mahatma Gandhi.
Tapi apakah Anda mengenal figur KL Punjabi, Biju Patnaik, atau setidaknya Pandit Jawaharlal Nehru? Bisa ditebak, tak banyak yang mengenal dua nama ini.
Padahal jika merunut sejarah berdirinya republik ini, India punya peranan besar dan tak ternilai artinya buat mengundang pengakuan lain dari dunia internasional, terkait kemerdekaan Indonesia.
Jika kembali menilik garis panjang &amp;ldquo;benang merah&amp;rdquo; antara India dan Indonesia, hubungan keduanya sedianya sudah terjalin sejak hampir dua milenium (dua ribu tahun) silam.Tiga (Hindu, Budha dan Islam) dari enam agama yang diakui Indonesia  saat ini, datangnya dari India. Belum lagi dengan berbagai hasil silang  budaya India-Indonesia yang tercipta dalam kisah Ramayana dan  Mahabharata, hingga terciptanya candi-candi Indonesia yang kini sudah  dikenal dunia.

Sayangnya, hubungan dua negara bertetangga (berbatasan di Laut  Andaman) ini sempat terputus, lantaran India dan Indonesia sempat berada  dalam cengkeraman kolonialisme Inggris dan Belanda.
Namun di awal-awal abad 20, hubungan keduanya sempat kembali  terjalin, setelah terjadi saling berbalas kunjungan beberapa tokoh,  seperti Rabindranath Tagore dan Ki Hadjar Dewantara.
Kedatangan Tagor, sastrawan pemenang Penghargaan Nobel ke  Indonesia via perjalanan laut di Tanjung Priok, seolah menyambung  &amp;ldquo;nostalgia&amp;rdquo; keterikatan dua negara.Ki Hadjar Dewantara, pelukis Affandi dan Dr. Ida Bagus Mantra,   kemudian membalas kunjungan itu dengan menemui Tagor di Shanti Niketan.
Jalinan India-Indonesia di era Revolusi Fisik (1945-1949)
Di masa revolusi fisik, keeratan India dan Indonesia kian nampak.   India jadi salah satu negara yang mengakui Proklamasi 17 Agustus 1945,   setelah Mesir. India juga memainkan peran penting yang membawa konflik   Indonesia-Belanda menjadi isu internasional ke Perserikatan   Bangsa-Bangsa.
Bak ingin berbalas budi, Perdana Menteri (PM) Indonesia, Sutan   Sjahrir menyampaikan maksudnya, untuk menembus blokade ekonomi Belanda   dengan diplomasi beras India, medio Mei 1946.

Setelah PM Nehru menyambut niat Sjahrir tersebut, utusan India,  KL  Punjabi menggelar kesepakatan resmi pengiriman ratusan ribu ton beras   dengan Sjahrir, ditandai &amp;ldquo;tanda jadi&amp;rdquo; berupa sekeranjang beras yang   ditutupi bendera merah putih.&amp;ldquo;Bingkisan&amp;rdquo; itu dimaksudkan Sjahrir, untuk dihadiahkan kepada  Raja   Muda Lord Wavell di India, via KL Punjabi. Kepanitiaan pun dibentuk    pada 27 Mei 1946 dengan diketauai Ir. Subianto. Pengiriman beras itu    diberangkatkan dengan kapal-kapal India dari Pelabuhan Cirebon,    Probolinggo dan Banyuwangi.
Sebagai &amp;ldquo;balasan&amp;rdquo; pengiriman beras, melalui PM Nehru, menguatkan    pengakuan terhadap Indonesia, dengan mengundang PM Sjahrir dan Wakil    Presiden RI, Mohammad Hatta ke New Delhi dalam Konferensi Inter-Asian    Relations (23 Maret-2 April 1947).
Tahu bahwa Sjahrir dan Hatta bakal kesulitan menembus blokade    Belanda, sebagaimana dikutip dari buku &amp;lsquo;Sjahrir: Politics and Exile in    Indonesia&amp;rsquo;, Nehru pun mengutus kawannya seorang pebisnis asal Bengal,    Bijayananda &amp;ldquo;Biju&amp;rdquo; Patnaik untuk &amp;ldquo;menjemput&amp;rdquo; Sjahrir.

Pada 31 Maret 1947 malam, Patnaik dengan pesawat Inggris mendarat  di   Bandara Kemayoran, Jakarta, untuk kemudian langsung kembali ke Delhi    dengan membawa serta Sjahrir, sang istri Poppy Saleh, Ali Boediardjo    dan Soedjatmoko.Sesampainya di Bandara Delhi, Sjahrir disambut langsung oleh  Nehru    dan mendaratnya PM Indonesia itu, juga jadi sorotan bagi  media-media    India. Seketika, figur Sjahrir mulai dikenal publik India.
Sjahrir bahkan diinapkan di rumah pribadi Nehru dan dipertemukan     dengan Gubernur Jenderal Inggris di India, Laksamana Lord Louis     Mountbatten.
Sedikit membahas Patnaik yang membawa Sjahrir ke India, sejatinya     pebisnis asal Bengal ini sudah lama berperjalanan bolak-balik dari     India ke Indonesia. Bahkan terdapat kisah menarik tentang Patnaik yang     dikaitkan dengan keluarga Presiden pertama RI, Soekarno.
Pada Januari 1947 ketika Patnaik yang dikemudian hari menjadi     menteri, bertemu Soekarno, kebetulan kala itu istri kedua Soekarno,     Fatmawati, baru saja melahirkan anak kedua mereka di saat hujan tengah     turun dengan lebatnya.

Di saat itulah, Patnaik sempat memberikan nama buat adik Guntur     Soekarnoputra itu, dengan nama Meghawati &amp;ndash; atas permintaan Soekarno     pribadi. Dalam bahasa sansekerta, artinya awan hujan. Jadilah anak kedua     Soekarno itu yang kemudian menjadi Presiden kelima RI, dinamai     Megawati.</description><content:encoded>JIKA generasi &amp;ldquo;awam&amp;rdquo; Indonesia saat ini menyebut nama India, yang terbersit pertama kali dalam pikiran, mesti nama-nama seperti Shakrukh Khan, Amitabh Bachchan, atau paling &amp;lsquo;banter&amp;rsquo; Mahatma Gandhi.
Tapi apakah Anda mengenal figur KL Punjabi, Biju Patnaik, atau setidaknya Pandit Jawaharlal Nehru? Bisa ditebak, tak banyak yang mengenal dua nama ini.
Padahal jika merunut sejarah berdirinya republik ini, India punya peranan besar dan tak ternilai artinya buat mengundang pengakuan lain dari dunia internasional, terkait kemerdekaan Indonesia.
Jika kembali menilik garis panjang &amp;ldquo;benang merah&amp;rdquo; antara India dan Indonesia, hubungan keduanya sedianya sudah terjalin sejak hampir dua milenium (dua ribu tahun) silam.Tiga (Hindu, Budha dan Islam) dari enam agama yang diakui Indonesia  saat ini, datangnya dari India. Belum lagi dengan berbagai hasil silang  budaya India-Indonesia yang tercipta dalam kisah Ramayana dan  Mahabharata, hingga terciptanya candi-candi Indonesia yang kini sudah  dikenal dunia.

Sayangnya, hubungan dua negara bertetangga (berbatasan di Laut  Andaman) ini sempat terputus, lantaran India dan Indonesia sempat berada  dalam cengkeraman kolonialisme Inggris dan Belanda.
Namun di awal-awal abad 20, hubungan keduanya sempat kembali  terjalin, setelah terjadi saling berbalas kunjungan beberapa tokoh,  seperti Rabindranath Tagore dan Ki Hadjar Dewantara.
Kedatangan Tagor, sastrawan pemenang Penghargaan Nobel ke  Indonesia via perjalanan laut di Tanjung Priok, seolah menyambung  &amp;ldquo;nostalgia&amp;rdquo; keterikatan dua negara.Ki Hadjar Dewantara, pelukis Affandi dan Dr. Ida Bagus Mantra,   kemudian membalas kunjungan itu dengan menemui Tagor di Shanti Niketan.
Jalinan India-Indonesia di era Revolusi Fisik (1945-1949)
Di masa revolusi fisik, keeratan India dan Indonesia kian nampak.   India jadi salah satu negara yang mengakui Proklamasi 17 Agustus 1945,   setelah Mesir. India juga memainkan peran penting yang membawa konflik   Indonesia-Belanda menjadi isu internasional ke Perserikatan   Bangsa-Bangsa.
Bak ingin berbalas budi, Perdana Menteri (PM) Indonesia, Sutan   Sjahrir menyampaikan maksudnya, untuk menembus blokade ekonomi Belanda   dengan diplomasi beras India, medio Mei 1946.

Setelah PM Nehru menyambut niat Sjahrir tersebut, utusan India,  KL  Punjabi menggelar kesepakatan resmi pengiriman ratusan ribu ton beras   dengan Sjahrir, ditandai &amp;ldquo;tanda jadi&amp;rdquo; berupa sekeranjang beras yang   ditutupi bendera merah putih.&amp;ldquo;Bingkisan&amp;rdquo; itu dimaksudkan Sjahrir, untuk dihadiahkan kepada  Raja   Muda Lord Wavell di India, via KL Punjabi. Kepanitiaan pun dibentuk    pada 27 Mei 1946 dengan diketauai Ir. Subianto. Pengiriman beras itu    diberangkatkan dengan kapal-kapal India dari Pelabuhan Cirebon,    Probolinggo dan Banyuwangi.
Sebagai &amp;ldquo;balasan&amp;rdquo; pengiriman beras, melalui PM Nehru, menguatkan    pengakuan terhadap Indonesia, dengan mengundang PM Sjahrir dan Wakil    Presiden RI, Mohammad Hatta ke New Delhi dalam Konferensi Inter-Asian    Relations (23 Maret-2 April 1947).
Tahu bahwa Sjahrir dan Hatta bakal kesulitan menembus blokade    Belanda, sebagaimana dikutip dari buku &amp;lsquo;Sjahrir: Politics and Exile in    Indonesia&amp;rsquo;, Nehru pun mengutus kawannya seorang pebisnis asal Bengal,    Bijayananda &amp;ldquo;Biju&amp;rdquo; Patnaik untuk &amp;ldquo;menjemput&amp;rdquo; Sjahrir.

Pada 31 Maret 1947 malam, Patnaik dengan pesawat Inggris mendarat  di   Bandara Kemayoran, Jakarta, untuk kemudian langsung kembali ke Delhi    dengan membawa serta Sjahrir, sang istri Poppy Saleh, Ali Boediardjo    dan Soedjatmoko.Sesampainya di Bandara Delhi, Sjahrir disambut langsung oleh  Nehru    dan mendaratnya PM Indonesia itu, juga jadi sorotan bagi  media-media    India. Seketika, figur Sjahrir mulai dikenal publik India.
Sjahrir bahkan diinapkan di rumah pribadi Nehru dan dipertemukan     dengan Gubernur Jenderal Inggris di India, Laksamana Lord Louis     Mountbatten.
Sedikit membahas Patnaik yang membawa Sjahrir ke India, sejatinya     pebisnis asal Bengal ini sudah lama berperjalanan bolak-balik dari     India ke Indonesia. Bahkan terdapat kisah menarik tentang Patnaik yang     dikaitkan dengan keluarga Presiden pertama RI, Soekarno.
Pada Januari 1947 ketika Patnaik yang dikemudian hari menjadi     menteri, bertemu Soekarno, kebetulan kala itu istri kedua Soekarno,     Fatmawati, baru saja melahirkan anak kedua mereka di saat hujan tengah     turun dengan lebatnya.

Di saat itulah, Patnaik sempat memberikan nama buat adik Guntur     Soekarnoputra itu, dengan nama Meghawati &amp;ndash; atas permintaan Soekarno     pribadi. Dalam bahasa sansekerta, artinya awan hujan. Jadilah anak kedua     Soekarno itu yang kemudian menjadi Presiden kelima RI, dinamai     Megawati.</content:encoded></item></channel></rss>
