<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Inilah Sejarah Singkat Ketandan, Kawasan Pecinan di Yogyakarta</title><description>Namun, hadirnya kawasan pecinan di Yogyakarta memang sulit dilacak  jika diruntut dari segi peninggalan sejarahnya.</description><link>https://news.okezone.com/read/2016/02/08/510/1306984/inilah-sejarah-singkat-ketandan-kawasan-pecinan-di-yogyakarta</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2016/02/08/510/1306984/inilah-sejarah-singkat-ketandan-kawasan-pecinan-di-yogyakarta"/><item><title>Inilah Sejarah Singkat Ketandan, Kawasan Pecinan di Yogyakarta</title><link>https://news.okezone.com/read/2016/02/08/510/1306984/inilah-sejarah-singkat-ketandan-kawasan-pecinan-di-yogyakarta</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2016/02/08/510/1306984/inilah-sejarah-singkat-ketandan-kawasan-pecinan-di-yogyakarta</guid><pubDate>Senin 08 Februari 2016 08:29 WIB</pubDate><dc:creator>Markus Yuwono</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2016/02/08/510/1306984/inilah-sejarah-singkat-ketandan-kawasan-pecinan-di-yogyakarta-MeDK2OX6m5.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Ilustrasi (Dok. Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2016/02/08/510/1306984/inilah-sejarah-singkat-ketandan-kawasan-pecinan-di-yogyakarta-MeDK2OX6m5.jpg</image><title>Foto: Ilustrasi (Dok. Okezone)</title></images><description>YOGYAKARTA &amp;ndash; Perkembangan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tidak lepas dari perkembangan kaum Tionghoa di sana. Jika melihat jejak yang ada, sampai saat ini masih ada sejumlah lokasi di Yogyakarta yang dikenal dengan pecinan, yaitu Ketandan, Pajeksan, Patuk, dan sejumlah lokasi lainnya.
Melihat perkembangan warga Tionghoa di Yogyakarta tidak bisa lepas dari Kampung Ketandan yang tepat berada di sebelah utara Pasar Beringharjo. Berbeda dengan pecinan lainnya, saat masuk kampung ini memang tidak begitu kental nuansa etnis Tionghoa. Hanya sebatas hiasan dengan huruf mandarin dan ada tugu yang dibentuk dengan konsep Tionghoa.
Salah seorang tokoh Tionghoa di Ketandan, Tjundaka Prabawa mengungkapkan, kawasan Ketandan tidak lepas dari sejarah Tan Jin Sing antara tahun 1760-1831. Dia merupakan tokoh Tionghoa yang diangkat sebagai bupati dengan gelar Kanjeng Raden Tumenggung Secadiningrat.
Menurut Tjundaka Prabawa, dari penelusurannya Tan jin Sing mendapatkan rumah yang saat ini disebut wilayah Ketandan. &quot;Saya menelesuri dari sisi etnografi karena kebetulan saya penyuka fotografi etnografi,&quot; ucapnya saat ditemui Okezone di rumahnya, Jumat 5 Februari 2016.
Menurutnya, dari penelusuran yang dilakukannya di Belanda, diketahui ada sebuah peta Yogyakarta pada masa Tan Jin Sing hidup. Saat itu ada sebuah rumah dengan arsitektur Jawa, Eropa, dan China milik Tan Jin Sing sepanjang sekira 700 meter.
Jika merunut ke belakang, Tan Jin Sing diasuh oleh Oei The Long. Dia  sebenarnya anak dari seorang bangsawan Jawa yang meninggal lalu  dijadikan anak angkat oleh Oei The Long.
Bapaknya Demang Kalibeber dan Ibunya Ray Patrawijaya merupakan  keturunan Sultan Amangkurat dari Mataram. Tan Jin Sing besar di  lingkungan Tionghoa. Ia dikenal pandai dan itu terbukti dari tiga bahasa  yang berhasil ia kuasai, yaitu bahasa Inggris, Hokian, dan Mandarin.  &quot;Ia (Tan Jin Sing) sempat hidup di kelenteng selama 8 bulan,&quot; katanya.
Singkatnya, setelah dewasa, Tan Jin Sing menikah dengan anak  keturunan Tionghoa yang ayahnya merupakan Kapitan China di Yogyakarta.  Sepeninggal mertuanya, Tan Jin Sing lantas diangkat sebagai Kapitan  China.
Dalam perkembangannya, Tan Jin Sing dekat dengan Thomas Stamford  Bingley Raffles karena kepandaiannya. Ia pun menjadi pengubung antara  Sultan Hamengku Buwono III saat diangkat sebagai bupati pada 1813.
Sampai sekarang, atas jasanya namanya diabadikan di sebuah jalan di  Yogyakarta. &quot;Ia menempati rumah di sini (Ketandan). Karena beranak turun  sehingga dipecah-pecah, akhirnya tanah itu dipisah-pisah,&quot; ucapnya.
Tjundaka mengungkapkan, rumah dengan bentuk gaya Eropa, China, dan  Jawa tersebut saat ini tinggal sisanya bentuk aslinya di beberapa lokasi  di Ketandan karena sudah banyak bagian yang hancur dan rusak. &quot;Dulu  Sultan Hamengku Buwono III sempat tinggal di sana,&quot; ujarnya.
Nah, nama Ketandan itu dari cerita masyarakat setempat berasal dari  kata tondo. Pada 1800-1900 ketandan itu ditinggali petugas pajak keraton  yang bertugas sebagai penarik pajak bagi warga Tionghoa yang juga biasa  disebut tondo. Inilah dugaan asal penamaan dari Ketandan.
Ada juga sebuah prasati yang ditemukan yang garis besar isinya tugu  ini didirikan sebagai kekancingan warga di sana diterima oleh pihak  keraton dan pemberian itu bertepatan dengan ulang tahun Hamengku Buwono  III.
&quot;Dulu ada cerita sebuah prasasti, tapi saya tidak tahu ditaruh di mana. Apakah sekarang masih ada atau tidak,&quot; ucapnya.Sementara itu, sejarawan dari Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, H  Purwanta mengatakan, tokoh Tionghoa seperti Tan Jin Sing merupakan  salah satu wujud bagaimana peran bangsa Tionghoa terhadap perkembangan  Yogyakarta.
&quot;Memang tidak sedikit, mereka (warga Tionghoa) memberikan kontribusi di Yogyakarta sejak awal Keraton Yogyakarta,&quot; ucapnya.
Namun, hadirnya kawasan pecinan di Yogyakarta memang sulit dilacak  jika diruntut dari segi peninggalan sejarahnya. Apalagi penelitian  sejarah jarang sekali mengungkap fakta mengenai kedatangan mereka ke  Indonesia.
&quot;Sejarah Indonesia jarang sekali mengungkap kedatangan warga China ke  Yogyakarta dan sejak kapan mereka menetap disini,&quot; katanya.
Ketandan merupakan tondo atau dalam masa lalu, nama diberikan kepada  siapa saja yang menarik pajak bagi masyarakat atau sekarang disebut  retribusi yang diserahkan kepada keraton.
&quot;Kemungkinan namanya itu, berasal dari tondo, nama untuk petugas retribusi,&quot; ucapnya.</description><content:encoded>YOGYAKARTA &amp;ndash; Perkembangan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tidak lepas dari perkembangan kaum Tionghoa di sana. Jika melihat jejak yang ada, sampai saat ini masih ada sejumlah lokasi di Yogyakarta yang dikenal dengan pecinan, yaitu Ketandan, Pajeksan, Patuk, dan sejumlah lokasi lainnya.
Melihat perkembangan warga Tionghoa di Yogyakarta tidak bisa lepas dari Kampung Ketandan yang tepat berada di sebelah utara Pasar Beringharjo. Berbeda dengan pecinan lainnya, saat masuk kampung ini memang tidak begitu kental nuansa etnis Tionghoa. Hanya sebatas hiasan dengan huruf mandarin dan ada tugu yang dibentuk dengan konsep Tionghoa.
Salah seorang tokoh Tionghoa di Ketandan, Tjundaka Prabawa mengungkapkan, kawasan Ketandan tidak lepas dari sejarah Tan Jin Sing antara tahun 1760-1831. Dia merupakan tokoh Tionghoa yang diangkat sebagai bupati dengan gelar Kanjeng Raden Tumenggung Secadiningrat.
Menurut Tjundaka Prabawa, dari penelusurannya Tan jin Sing mendapatkan rumah yang saat ini disebut wilayah Ketandan. &quot;Saya menelesuri dari sisi etnografi karena kebetulan saya penyuka fotografi etnografi,&quot; ucapnya saat ditemui Okezone di rumahnya, Jumat 5 Februari 2016.
Menurutnya, dari penelusuran yang dilakukannya di Belanda, diketahui ada sebuah peta Yogyakarta pada masa Tan Jin Sing hidup. Saat itu ada sebuah rumah dengan arsitektur Jawa, Eropa, dan China milik Tan Jin Sing sepanjang sekira 700 meter.
Jika merunut ke belakang, Tan Jin Sing diasuh oleh Oei The Long. Dia  sebenarnya anak dari seorang bangsawan Jawa yang meninggal lalu  dijadikan anak angkat oleh Oei The Long.
Bapaknya Demang Kalibeber dan Ibunya Ray Patrawijaya merupakan  keturunan Sultan Amangkurat dari Mataram. Tan Jin Sing besar di  lingkungan Tionghoa. Ia dikenal pandai dan itu terbukti dari tiga bahasa  yang berhasil ia kuasai, yaitu bahasa Inggris, Hokian, dan Mandarin.  &quot;Ia (Tan Jin Sing) sempat hidup di kelenteng selama 8 bulan,&quot; katanya.
Singkatnya, setelah dewasa, Tan Jin Sing menikah dengan anak  keturunan Tionghoa yang ayahnya merupakan Kapitan China di Yogyakarta.  Sepeninggal mertuanya, Tan Jin Sing lantas diangkat sebagai Kapitan  China.
Dalam perkembangannya, Tan Jin Sing dekat dengan Thomas Stamford  Bingley Raffles karena kepandaiannya. Ia pun menjadi pengubung antara  Sultan Hamengku Buwono III saat diangkat sebagai bupati pada 1813.
Sampai sekarang, atas jasanya namanya diabadikan di sebuah jalan di  Yogyakarta. &quot;Ia menempati rumah di sini (Ketandan). Karena beranak turun  sehingga dipecah-pecah, akhirnya tanah itu dipisah-pisah,&quot; ucapnya.
Tjundaka mengungkapkan, rumah dengan bentuk gaya Eropa, China, dan  Jawa tersebut saat ini tinggal sisanya bentuk aslinya di beberapa lokasi  di Ketandan karena sudah banyak bagian yang hancur dan rusak. &quot;Dulu  Sultan Hamengku Buwono III sempat tinggal di sana,&quot; ujarnya.
Nah, nama Ketandan itu dari cerita masyarakat setempat berasal dari  kata tondo. Pada 1800-1900 ketandan itu ditinggali petugas pajak keraton  yang bertugas sebagai penarik pajak bagi warga Tionghoa yang juga biasa  disebut tondo. Inilah dugaan asal penamaan dari Ketandan.
Ada juga sebuah prasati yang ditemukan yang garis besar isinya tugu  ini didirikan sebagai kekancingan warga di sana diterima oleh pihak  keraton dan pemberian itu bertepatan dengan ulang tahun Hamengku Buwono  III.
&quot;Dulu ada cerita sebuah prasasti, tapi saya tidak tahu ditaruh di mana. Apakah sekarang masih ada atau tidak,&quot; ucapnya.Sementara itu, sejarawan dari Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, H  Purwanta mengatakan, tokoh Tionghoa seperti Tan Jin Sing merupakan  salah satu wujud bagaimana peran bangsa Tionghoa terhadap perkembangan  Yogyakarta.
&quot;Memang tidak sedikit, mereka (warga Tionghoa) memberikan kontribusi di Yogyakarta sejak awal Keraton Yogyakarta,&quot; ucapnya.
Namun, hadirnya kawasan pecinan di Yogyakarta memang sulit dilacak  jika diruntut dari segi peninggalan sejarahnya. Apalagi penelitian  sejarah jarang sekali mengungkap fakta mengenai kedatangan mereka ke  Indonesia.
&quot;Sejarah Indonesia jarang sekali mengungkap kedatangan warga China ke  Yogyakarta dan sejak kapan mereka menetap disini,&quot; katanya.
Ketandan merupakan tondo atau dalam masa lalu, nama diberikan kepada  siapa saja yang menarik pajak bagi masyarakat atau sekarang disebut  retribusi yang diserahkan kepada keraton.
&quot;Kemungkinan namanya itu, berasal dari tondo, nama untuk petugas retribusi,&quot; ucapnya.</content:encoded></item></channel></rss>
