<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Hilangnya Tradisi Raon Becak Imlek di Tebingtinggi</title><description>Hilangnya tradisi raon becak menjadi penyebab utama mengapa perayaan Imlek di Kota Tebingtinggi sunyi.</description><link>https://news.okezone.com/read/2016/02/13/340/1310767/hilangnya-tradisi-raon-becak-imlek-di-tebingtinggi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2016/02/13/340/1310767/hilangnya-tradisi-raon-becak-imlek-di-tebingtinggi"/><item><title>Hilangnya Tradisi Raon Becak Imlek di Tebingtinggi</title><link>https://news.okezone.com/read/2016/02/13/340/1310767/hilangnya-tradisi-raon-becak-imlek-di-tebingtinggi</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2016/02/13/340/1310767/hilangnya-tradisi-raon-becak-imlek-di-tebingtinggi</guid><pubDate>Sabtu 13 Februari 2016 00:08 WIB</pubDate><dc:creator>Erie Prasetyo</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2016/02/12/340/1310767/hilangnya-tradisi-raon-becak-imlek-di-tebingtinggi-Cszq2B1SdZ.jpg" expression="full" type="image/jpeg">foto: Erie Prasetyo/Okezone</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2016/02/12/340/1310767/hilangnya-tradisi-raon-becak-imlek-di-tebingtinggi-Cszq2B1SdZ.jpg</image><title>foto: Erie Prasetyo/Okezone</title></images><description>MEDAN - Tahun baru Imlek 2016 yang dirayakan selama 15 hari terasa sunyi di Kota Tebingtinggi, Sumatera Utara. Padahal empat tahun ke belakang, kemeriahan saat Imlek jelas terlihat di kota itu.

Hilangnya tradisi raon becak menjadi penyebab utama mengapa perayaan Imlek di Kota Tebingtinggi sunyi. Tradisi raon becak yang memeriahkan perayaan Imlek dulu sempat tersohor di kalangan etnis Tionghoa di Sumatera Utara (Sumut).

Dulunya, etnis Tionghoa dari luar kota banyak yang merayakan Imlek di Tebingtinggi hanya untuk sekedar melihat raon becak. Mereka yang merayakan Imlek menumpangi becak mengelilingi Kota Tebingtinggi.

Sejak 2012-2014, etnis Tionghoa di Tebingtinggi tak menggelar tradisi raon becak. Baru pada 2015 kegiatan itu kembali digelar. Sayangnya ada beberapa pihak yang menentang, sehingga pada tahun ini raon becak tidak lagi digelar.

Pada pagelaran raon becak, warga yang berada di tepi jalan dan warga peserta raon becak melempar jagung, air, dan telur sebagai bentuk suka cita perayaan Imlek.

Namun bagi kelompok tertentu, tradisi tersebut mengganggu ketentraman dan membuat Kota jadi kotor karena banyak sampah berserakan. Itulah yang mendasari kelompok tertentu mengimbau etnis Tionghoa agar tidak menggelar raon becak.Imbauan dilakukan dengan cara menyebarkan selebaran larangan ke berbagai tempat termasuk ke sekolah. Selebaran juga diberikan ke guru, sehingga para guru melarang muridnya untuk menggelar raon becak.

Raon becak lahir sekira tahun 1970-an. Merupakan kegiatan tahunan warga Tionghoa di Kota Tebingtinggi saat merayakan Imlek. Sedangkan tradisi lempar jagung, air dan telur baru muncul pada tahun 2000.

Pagelaran rakyat itu dilakukan saat malam pergantian tahun baru Cina atau Imlek. Usai berdoa di wihara, ribuan etnis Tionghoa menumpangi becak berkeliling Kota Tebingtinggi. Pagelaran itu biasanya dilakukan dari hari pertama Imlek hingga hari ke-3. Kemudian pada hari ke-8 dan ke-15 (Cap Go Meh).

Untuk membuat raon becak menjadi menarik. Ratusan penarik becak dayung atau becak bermotor, menghiasai becak dengan pernak-pernik khas Imlek. Para warga lain juga bersuka cita melihat parade yang digelar di jalan-jalan protokol.

Wakil Ketua Generasi Muda Indonesia Tionghoa (Gema Inti) Sumatera Utara, Sandy Wu menyayangkan hilangnya budaya raon becak di Kota Tebingtinggi. &quot;Dulu sewaktu saya masih sekolah, setiap hari raya Imlek kota pasti sangat ramai dilalui parade raon becak,&quot; kata Sandy kepada Okezone.
Padahal menurutnya, jika tradisi raon becak dilestarikan, bisa menarik wisatawan untuk merayarakan Imlek di Kota Tebingtinggi. &quot;Para anak-anak muda maupun orangtua bisa ikut serta dalam kegiatan itu. Raon becak bisa menjadi daya tarik wisata bagi Kota Tebingtinggi. Saya berharap untuk tahun-tahun ke depan bisa mulai dihidupkan lagi tradisi raon becak,&quot; terang Sandy.

Merasa kehilangan tradisi raon becak juga dirasakan Robin. Pria dengan nama sapaan Acen ini, menilai suasana Imlek tahun ini di Tebingtinggi adalah yang tersuram. &quot;Kali ini Imlek paling suram dan paling sunyi di kota ini. Kalau begini lebih baik keluar kota,&quot; ucapnya.

Acen juga menuturkan ketakutan warga etnis Tionghoa untuk menggelar raon becak karena beredar kabar adanya larangan dari pihak tertentu. &quot;Kabarnya dilarang, itu sebabnya warga takut raon becak karena ada oknum tertentu yg melarang,&quot; tutur Acen.

Sepinya perayaan Imlek di Tebingtinggi berdampak pada perputaran ekonomi di kota itu, terutama bagi pedagang kaki lima dan penarik becak. Rahman, penarik becak yang biasa mangkal di simpang Jalan Sudirman, mengutarakan keluhannya.

&quot;Sunyi kali kota ini, yang diharapkan tiap tahunnya malah tak ada. Dahulu setiap imlek setidaknya bisa bawa pulang uang untuk keluarga, mau nya pemerintah mendukunglah kegiatan itu,&quot; kata Rahman.
</description><content:encoded>MEDAN - Tahun baru Imlek 2016 yang dirayakan selama 15 hari terasa sunyi di Kota Tebingtinggi, Sumatera Utara. Padahal empat tahun ke belakang, kemeriahan saat Imlek jelas terlihat di kota itu.

Hilangnya tradisi raon becak menjadi penyebab utama mengapa perayaan Imlek di Kota Tebingtinggi sunyi. Tradisi raon becak yang memeriahkan perayaan Imlek dulu sempat tersohor di kalangan etnis Tionghoa di Sumatera Utara (Sumut).

Dulunya, etnis Tionghoa dari luar kota banyak yang merayakan Imlek di Tebingtinggi hanya untuk sekedar melihat raon becak. Mereka yang merayakan Imlek menumpangi becak mengelilingi Kota Tebingtinggi.

Sejak 2012-2014, etnis Tionghoa di Tebingtinggi tak menggelar tradisi raon becak. Baru pada 2015 kegiatan itu kembali digelar. Sayangnya ada beberapa pihak yang menentang, sehingga pada tahun ini raon becak tidak lagi digelar.

Pada pagelaran raon becak, warga yang berada di tepi jalan dan warga peserta raon becak melempar jagung, air, dan telur sebagai bentuk suka cita perayaan Imlek.

Namun bagi kelompok tertentu, tradisi tersebut mengganggu ketentraman dan membuat Kota jadi kotor karena banyak sampah berserakan. Itulah yang mendasari kelompok tertentu mengimbau etnis Tionghoa agar tidak menggelar raon becak.Imbauan dilakukan dengan cara menyebarkan selebaran larangan ke berbagai tempat termasuk ke sekolah. Selebaran juga diberikan ke guru, sehingga para guru melarang muridnya untuk menggelar raon becak.

Raon becak lahir sekira tahun 1970-an. Merupakan kegiatan tahunan warga Tionghoa di Kota Tebingtinggi saat merayakan Imlek. Sedangkan tradisi lempar jagung, air dan telur baru muncul pada tahun 2000.

Pagelaran rakyat itu dilakukan saat malam pergantian tahun baru Cina atau Imlek. Usai berdoa di wihara, ribuan etnis Tionghoa menumpangi becak berkeliling Kota Tebingtinggi. Pagelaran itu biasanya dilakukan dari hari pertama Imlek hingga hari ke-3. Kemudian pada hari ke-8 dan ke-15 (Cap Go Meh).

Untuk membuat raon becak menjadi menarik. Ratusan penarik becak dayung atau becak bermotor, menghiasai becak dengan pernak-pernik khas Imlek. Para warga lain juga bersuka cita melihat parade yang digelar di jalan-jalan protokol.

Wakil Ketua Generasi Muda Indonesia Tionghoa (Gema Inti) Sumatera Utara, Sandy Wu menyayangkan hilangnya budaya raon becak di Kota Tebingtinggi. &quot;Dulu sewaktu saya masih sekolah, setiap hari raya Imlek kota pasti sangat ramai dilalui parade raon becak,&quot; kata Sandy kepada Okezone.
Padahal menurutnya, jika tradisi raon becak dilestarikan, bisa menarik wisatawan untuk merayarakan Imlek di Kota Tebingtinggi. &quot;Para anak-anak muda maupun orangtua bisa ikut serta dalam kegiatan itu. Raon becak bisa menjadi daya tarik wisata bagi Kota Tebingtinggi. Saya berharap untuk tahun-tahun ke depan bisa mulai dihidupkan lagi tradisi raon becak,&quot; terang Sandy.

Merasa kehilangan tradisi raon becak juga dirasakan Robin. Pria dengan nama sapaan Acen ini, menilai suasana Imlek tahun ini di Tebingtinggi adalah yang tersuram. &quot;Kali ini Imlek paling suram dan paling sunyi di kota ini. Kalau begini lebih baik keluar kota,&quot; ucapnya.

Acen juga menuturkan ketakutan warga etnis Tionghoa untuk menggelar raon becak karena beredar kabar adanya larangan dari pihak tertentu. &quot;Kabarnya dilarang, itu sebabnya warga takut raon becak karena ada oknum tertentu yg melarang,&quot; tutur Acen.

Sepinya perayaan Imlek di Tebingtinggi berdampak pada perputaran ekonomi di kota itu, terutama bagi pedagang kaki lima dan penarik becak. Rahman, penarik becak yang biasa mangkal di simpang Jalan Sudirman, mengutarakan keluhannya.

&quot;Sunyi kali kota ini, yang diharapkan tiap tahunnya malah tak ada. Dahulu setiap imlek setidaknya bisa bawa pulang uang untuk keluarga, mau nya pemerintah mendukunglah kegiatan itu,&quot; kata Rahman.
</content:encoded></item></channel></rss>
