<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Misi Nasution-Yani &amp; Ranpur Inggris Pengiring Pahlawan Revolusi</title><description>Tak terkira ironinya ketika ranpur yang dibeli Jenderal Yani dari Inggris, justru mengusung jasadnya sendiri pasca-tragedi 1 Oktober 1965.</description><link>https://news.okezone.com/read/2016/02/26/18/1321625/misi-nasution-yani-ranpur-inggris-pengiring-pahlawan-revolusi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2016/02/26/18/1321625/misi-nasution-yani-ranpur-inggris-pengiring-pahlawan-revolusi"/><item><title>Misi Nasution-Yani &amp; Ranpur Inggris Pengiring Pahlawan Revolusi</title><link>https://news.okezone.com/read/2016/02/26/18/1321625/misi-nasution-yani-ranpur-inggris-pengiring-pahlawan-revolusi</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2016/02/26/18/1321625/misi-nasution-yani-ranpur-inggris-pengiring-pahlawan-revolusi</guid><pubDate>Jum'at 26 Februari 2016 06:06 WIB</pubDate><dc:creator>Randy Wirayudha</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2016/02/25/18/1321625/misi-nasution-yani-ranpur-inggris-pengiring-pahlawan-revolusi-3HwGAwwqXG.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Salah satu momen penandatanganan pembelian alutsista asing dalam &quot;Misi Yani&quot; (Foto: Capture Buku 'Profil Seorang Prajurit TNI')</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2016/02/25/18/1321625/misi-nasution-yani-ranpur-inggris-pengiring-pahlawan-revolusi-3HwGAwwqXG.jpg</image><title>Salah satu momen penandatanganan pembelian alutsista asing dalam &quot;Misi Yani&quot; (Foto: Capture Buku 'Profil Seorang Prajurit TNI')</title></images><description>GENCAR berkonfrontasi dengan Belanda kala berupaya merebut Irian Barat pada medio 1960an, Indonesia membutuhkan sejumlah alat utama sistem pertahanan (alutsista) baru dengan berbagai negara Eropa sebagai destinasi pembelian alutsista, termasuk Uni Soviet.
Presiden RI pertama, Ir. Soekarno pun segera &amp;ldquo;menitahkan&amp;rdquo; Menteri Pertahanan dan Keamanan (Menhankam) merangkap Menteri Panglima Angkatan Darat/Kepala Staf Angkatan Darat (Menpangad/KASAD), Jenderal (TNI) Abdul Haris Nasution dengan sebuah misi &amp;ndash; &amp;ldquo;Misi Nasution&amp;rdquo;.
Destinasi pertama sosok yang dikenal dengan sebutan &amp;ldquo;Pak Nas&amp;rdquo; itu tak lain adalah Amerika Serikat (AS). Namun lantaran tidak harmonisnya Presiden AS, Dwight &quot;Ike&quot; Eisenhower dengan Soekarno pada saat itu, membuat AS enggan menjual alutsista pada Indonesia.
Gagal bernegosiasi dengan Negeri Paman Sam, Pak Nas pun mengalihkan tujuannya ke Uni Soviet. Berangkat ke Moskva pada 28 Desember 1960, Pak Nas langsung disambut Menhan Soviet, Marsekal Udara Rodion Malinovsky.Awalnya, pertemuan Pak Nas dengan Malinovsky sempat terusik  pertanyaan sang Marsekal, soal benar atau tidaknya Pak Nas merupakan  sahabat AS, musuh bebuyutan Soviet di era Perang Dingin.
&amp;ldquo;Saya dengar Anda adalah sahabat Amerika,&amp;rdquo; cetus Malinovsky dalam  buku &amp;lsquo;Sahabat Lama, Era Baru: 60 Tahun Pasang Surut Hubungan  Indonesia-Rusia&amp;rsquo;.
Sontak, Pak Nas menjawab,: &amp;ldquo;Kami berusaha bersahabat  dengan semua bangsa, termasuk Soviet. Apalagi sama-sama berpendirian  politik anti-kolonialisme,&amp;rdquo;.

Mendengar penjelasan diplomatis Pak Nas, relasi keduanya pun  mencair dan berujung persahabatan secara pribadi. Di sisi lain,  kunjungan Pak Nas pun tak sia-sia, lantaran kontrak sebesar USD500 juta  sukses diresmikan untuk membeli sejumlah alutsista, di antaranya 12  kapal selam dan pesawat-pesawat tempur MiG-21.Misi Jenderal Yani ke Eropa Timur, Jerman Barat &amp;amp; Inggris 
Misi pembelian alutsista tak hanya diemban Pak Nas. Deputi   Menpangad/KASAD, Letjen TNI Ahmad Yani pun ikut &amp;ldquo;bertualang&amp;rdquo; hingga ke   negara-negara Eropa Timur, Jerman Barat, hingga ke Inggris.
Tujuan Jenderal Yani dalam misinya ini diawali kunjungan ke   Yugoslavia (kini pecah menjadi Kroasia, Serbia, Bosnia-Herzegovina,   Montenegro, Slovenia, dan Makedonia) dengan ditemani Direktur Djawatan   Peralatan Angkatan Darat (kini Palad) Kolonel Moch. Rivai dan Kolonel   Kusumo dari Perindustrian Angkatan Darat (Pindad).
Selain Yugoslavia, Polandia dan Cekoslovakia (kini pecah menjadi   Republik Ceko dan Slovakia), di mana Jenderal Yani sempat tertarik pada   sebuah alutsista roket kaliber 130 milimeter (mm) yang kemudian   dibelinya meski tak ada dalam &amp;ldquo;daftar belanjanya&amp;rdquo;.

&amp;ldquo;Pada waktu itu, roket kaliber 130 mm belum dikenal di Indonesia.   Roket itu mampu menembakkan 32 peluru sekaligus. Daya rusaknya sangat   ampuh,&amp;rdquo; tulis Amelia Yani, salah satu putri Jenderal Yani dalam biografi   &amp;lsquo;Profil Seorang Prajurit TNI&amp;rsquo;.&amp;ldquo;Agaknya roket itu belum ada dalam daftar yang dibawa dan bapak    (Jenderal Yani) tanpa menunggu instruksi dari Jakarta, memutuskan untuk    membelinya,&amp;rdquo; sambung Amelia Yani dalam buku tersebut.
Jerman Barat kemudian jadi destinasi berikutnya yang turut    didampingi Pak Nas langsung, Brigjen Soeharto, serta atase militer    Indonesia di Bonn, Jerman Barat, Kolonel Donald Isaac (DI) Pandjaitan.
Hubungan baik Kolonel DI Pandjaitan dengan otoritas militer  Jerman   Barat, turut berperan serta dalam pertemuan langsung Jenderal  Nasution   dengan Kanselir merangkap Menhan Jerman Barat kala itu, Franz  Josef   Strauss.
Kedekatan hubungan Kolonel Pandjaitan itu juga mencairkan suasana    yang serius antara petinggi militer dua negara itu, hingga meyakinkan    kesediaan Jerman Barat sebagai salah satu anggota Pakta Pertahanan    Atlantik Utara (NATO), untuk menjual alutsista kepada Indonesia yang    tengah berseteru dengan anggota NATO lainnya, Belanda.

&amp;ldquo;Memang Jerman Barat anggota NATO. Indonesia bukan anggota NATO.    Karena itu, Jerman Barat bebas menjual persenjataannya tanpa berbicara    lebih dulu dengan anggota lain (Belanda),&amp;rdquo; ungkap Strauss dalam  biografi   &amp;lsquo;D. I. Pandjaitan: Gugur Dalam Seragam Kebesaran&amp;rsquo;.
Sementara perjalanan &amp;ldquo;Misi Yani&amp;rdquo; di Inggris, juga membuahkan  hasil   dengan peresmian penandatanganan kontrak sejumlah alutsista,  termasuk   kendaraan tempur (ranpur) lapis baja Alvis Saladin FV601 dan  Alvis   Saracen FV603.Alvis Saracen FV603, Ranpur Pengusung Tujuh Jenderal 
Ironisnya, Alvis Saracen yang merupakan ranpur angkut  personel    beroda enam itu bukannya terlibat dalam pertempuran gemilang,  namun    justru catatan duka mendalam, tak hanya buat TNI, tapi juga  segenap    individu yang mengaku setia pada Pancasila.
Sekilas mengulas ranpur buatan Alvis Car and Engineering Company     tersebut, punya jarak operasional 400 kilometer tanpa mengisi bahan     bakar lagi dengan dipersenjatai dua senapan mesin Bren Gun dan M1919     Browning kaliber 30 mm.
Ranpur berbobot 11 ton dengan panjang 4,8 meter serta lebar 2,54     meter ini, diperuntukkan guna membawa (maksimal) sembilan personel plus     dua kru pengemudi.
Ranpur ini juga punya kemampuan &amp;ldquo;berlari&amp;rdquo; hingga 72 km per jam     dengan dipasok mesin Rolls-Royce B80Mk.6A delapan silinder, serta     dilengkapi pelindung baja Rolled Homogenous Armor (RHA) setebal 16 mm.
Namun di atas ranpur yang dibeli dari Negeri Tiga Singa itu pula,     diusung seonggok tubuh tak bernyawa Jenderal Yani dan para pahlawan     revolusi korban tragedi 30 September/1Oktober 1965 lainnya &amp;ndash; termasuk DI     Pandjaitan.

Konvoi ranpur Saracen dengan mengusung peti-peti jenazah berbalut     bendera merah-putih itu, mengantarkan para pahlawan revolusi dari     Markas Besar Angkatan Darat (MBAD), menuju Taman Makam Pahlawan     Kalibata, tepat di hari peringatan TNI 5 Oktober 1965.
&amp;ldquo;Pemberangkatan dilepaskan dengan salvo penghormatan. Sepanjang    jalan  dari MBAD ke Kalibata, iring-iringan jenazah (diatas ranpur    Saracen)  berjalan perlahan disertai mendung dan hujan gerimis.   Sepanjang  jalan  lautan rakyat menangis. Suasana hening, berat,&amp;rdquo; sebut   Amelia Yani  lagi  di biografi Jenderal Yani.</description><content:encoded>GENCAR berkonfrontasi dengan Belanda kala berupaya merebut Irian Barat pada medio 1960an, Indonesia membutuhkan sejumlah alat utama sistem pertahanan (alutsista) baru dengan berbagai negara Eropa sebagai destinasi pembelian alutsista, termasuk Uni Soviet.
Presiden RI pertama, Ir. Soekarno pun segera &amp;ldquo;menitahkan&amp;rdquo; Menteri Pertahanan dan Keamanan (Menhankam) merangkap Menteri Panglima Angkatan Darat/Kepala Staf Angkatan Darat (Menpangad/KASAD), Jenderal (TNI) Abdul Haris Nasution dengan sebuah misi &amp;ndash; &amp;ldquo;Misi Nasution&amp;rdquo;.
Destinasi pertama sosok yang dikenal dengan sebutan &amp;ldquo;Pak Nas&amp;rdquo; itu tak lain adalah Amerika Serikat (AS). Namun lantaran tidak harmonisnya Presiden AS, Dwight &quot;Ike&quot; Eisenhower dengan Soekarno pada saat itu, membuat AS enggan menjual alutsista pada Indonesia.
Gagal bernegosiasi dengan Negeri Paman Sam, Pak Nas pun mengalihkan tujuannya ke Uni Soviet. Berangkat ke Moskva pada 28 Desember 1960, Pak Nas langsung disambut Menhan Soviet, Marsekal Udara Rodion Malinovsky.Awalnya, pertemuan Pak Nas dengan Malinovsky sempat terusik  pertanyaan sang Marsekal, soal benar atau tidaknya Pak Nas merupakan  sahabat AS, musuh bebuyutan Soviet di era Perang Dingin.
&amp;ldquo;Saya dengar Anda adalah sahabat Amerika,&amp;rdquo; cetus Malinovsky dalam  buku &amp;lsquo;Sahabat Lama, Era Baru: 60 Tahun Pasang Surut Hubungan  Indonesia-Rusia&amp;rsquo;.
Sontak, Pak Nas menjawab,: &amp;ldquo;Kami berusaha bersahabat  dengan semua bangsa, termasuk Soviet. Apalagi sama-sama berpendirian  politik anti-kolonialisme,&amp;rdquo;.

Mendengar penjelasan diplomatis Pak Nas, relasi keduanya pun  mencair dan berujung persahabatan secara pribadi. Di sisi lain,  kunjungan Pak Nas pun tak sia-sia, lantaran kontrak sebesar USD500 juta  sukses diresmikan untuk membeli sejumlah alutsista, di antaranya 12  kapal selam dan pesawat-pesawat tempur MiG-21.Misi Jenderal Yani ke Eropa Timur, Jerman Barat &amp;amp; Inggris 
Misi pembelian alutsista tak hanya diemban Pak Nas. Deputi   Menpangad/KASAD, Letjen TNI Ahmad Yani pun ikut &amp;ldquo;bertualang&amp;rdquo; hingga ke   negara-negara Eropa Timur, Jerman Barat, hingga ke Inggris.
Tujuan Jenderal Yani dalam misinya ini diawali kunjungan ke   Yugoslavia (kini pecah menjadi Kroasia, Serbia, Bosnia-Herzegovina,   Montenegro, Slovenia, dan Makedonia) dengan ditemani Direktur Djawatan   Peralatan Angkatan Darat (kini Palad) Kolonel Moch. Rivai dan Kolonel   Kusumo dari Perindustrian Angkatan Darat (Pindad).
Selain Yugoslavia, Polandia dan Cekoslovakia (kini pecah menjadi   Republik Ceko dan Slovakia), di mana Jenderal Yani sempat tertarik pada   sebuah alutsista roket kaliber 130 milimeter (mm) yang kemudian   dibelinya meski tak ada dalam &amp;ldquo;daftar belanjanya&amp;rdquo;.

&amp;ldquo;Pada waktu itu, roket kaliber 130 mm belum dikenal di Indonesia.   Roket itu mampu menembakkan 32 peluru sekaligus. Daya rusaknya sangat   ampuh,&amp;rdquo; tulis Amelia Yani, salah satu putri Jenderal Yani dalam biografi   &amp;lsquo;Profil Seorang Prajurit TNI&amp;rsquo;.&amp;ldquo;Agaknya roket itu belum ada dalam daftar yang dibawa dan bapak    (Jenderal Yani) tanpa menunggu instruksi dari Jakarta, memutuskan untuk    membelinya,&amp;rdquo; sambung Amelia Yani dalam buku tersebut.
Jerman Barat kemudian jadi destinasi berikutnya yang turut    didampingi Pak Nas langsung, Brigjen Soeharto, serta atase militer    Indonesia di Bonn, Jerman Barat, Kolonel Donald Isaac (DI) Pandjaitan.
Hubungan baik Kolonel DI Pandjaitan dengan otoritas militer  Jerman   Barat, turut berperan serta dalam pertemuan langsung Jenderal  Nasution   dengan Kanselir merangkap Menhan Jerman Barat kala itu, Franz  Josef   Strauss.
Kedekatan hubungan Kolonel Pandjaitan itu juga mencairkan suasana    yang serius antara petinggi militer dua negara itu, hingga meyakinkan    kesediaan Jerman Barat sebagai salah satu anggota Pakta Pertahanan    Atlantik Utara (NATO), untuk menjual alutsista kepada Indonesia yang    tengah berseteru dengan anggota NATO lainnya, Belanda.

&amp;ldquo;Memang Jerman Barat anggota NATO. Indonesia bukan anggota NATO.    Karena itu, Jerman Barat bebas menjual persenjataannya tanpa berbicara    lebih dulu dengan anggota lain (Belanda),&amp;rdquo; ungkap Strauss dalam  biografi   &amp;lsquo;D. I. Pandjaitan: Gugur Dalam Seragam Kebesaran&amp;rsquo;.
Sementara perjalanan &amp;ldquo;Misi Yani&amp;rdquo; di Inggris, juga membuahkan  hasil   dengan peresmian penandatanganan kontrak sejumlah alutsista,  termasuk   kendaraan tempur (ranpur) lapis baja Alvis Saladin FV601 dan  Alvis   Saracen FV603.Alvis Saracen FV603, Ranpur Pengusung Tujuh Jenderal 
Ironisnya, Alvis Saracen yang merupakan ranpur angkut  personel    beroda enam itu bukannya terlibat dalam pertempuran gemilang,  namun    justru catatan duka mendalam, tak hanya buat TNI, tapi juga  segenap    individu yang mengaku setia pada Pancasila.
Sekilas mengulas ranpur buatan Alvis Car and Engineering Company     tersebut, punya jarak operasional 400 kilometer tanpa mengisi bahan     bakar lagi dengan dipersenjatai dua senapan mesin Bren Gun dan M1919     Browning kaliber 30 mm.
Ranpur berbobot 11 ton dengan panjang 4,8 meter serta lebar 2,54     meter ini, diperuntukkan guna membawa (maksimal) sembilan personel plus     dua kru pengemudi.
Ranpur ini juga punya kemampuan &amp;ldquo;berlari&amp;rdquo; hingga 72 km per jam     dengan dipasok mesin Rolls-Royce B80Mk.6A delapan silinder, serta     dilengkapi pelindung baja Rolled Homogenous Armor (RHA) setebal 16 mm.
Namun di atas ranpur yang dibeli dari Negeri Tiga Singa itu pula,     diusung seonggok tubuh tak bernyawa Jenderal Yani dan para pahlawan     revolusi korban tragedi 30 September/1Oktober 1965 lainnya &amp;ndash; termasuk DI     Pandjaitan.

Konvoi ranpur Saracen dengan mengusung peti-peti jenazah berbalut     bendera merah-putih itu, mengantarkan para pahlawan revolusi dari     Markas Besar Angkatan Darat (MBAD), menuju Taman Makam Pahlawan     Kalibata, tepat di hari peringatan TNI 5 Oktober 1965.
&amp;ldquo;Pemberangkatan dilepaskan dengan salvo penghormatan. Sepanjang    jalan  dari MBAD ke Kalibata, iring-iringan jenazah (diatas ranpur    Saracen)  berjalan perlahan disertai mendung dan hujan gerimis.   Sepanjang  jalan  lautan rakyat menangis. Suasana hening, berat,&amp;rdquo; sebut   Amelia Yani  lagi  di biografi Jenderal Yani.</content:encoded></item></channel></rss>
