<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Mitos-Mitos Gerhana Matahari Total di Dunia</title><description>Berikut Okezone merangkum beberapa mitos terkait Gerhana Matahari Total dari seluruh penjuru dunia.</description><link>https://news.okezone.com/read/2016/03/09/18/1331240/mitos-mitos-gerhana-matahari-total-di-dunia</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2016/03/09/18/1331240/mitos-mitos-gerhana-matahari-total-di-dunia"/><item><title>Mitos-Mitos Gerhana Matahari Total di Dunia</title><link>https://news.okezone.com/read/2016/03/09/18/1331240/mitos-mitos-gerhana-matahari-total-di-dunia</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2016/03/09/18/1331240/mitos-mitos-gerhana-matahari-total-di-dunia</guid><pubDate>Rabu 09 Maret 2016 06:00 WIB</pubDate><dc:creator>Silviana Dharma</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2016/03/09/18/1331240/mitos-mitos-gerhana-matahari-total-di-dunia-JCP7KC30lE.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Mitos-mitos gerhana matahari total di dunia.</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2016/03/09/18/1331240/mitos-mitos-gerhana-matahari-total-di-dunia-JCP7KC30lE.jpg</image><title>Mitos-mitos gerhana matahari total di dunia.</title></images><description>FENOMENA Gerhana Matahari Total selalu menimbulkan polemik. Sebagian menghubungkannya dengan sesuatu yang baik, meskipun mayoritas meyakini peristiwa alam langka ini sebagai pertanda dari langit bahwa ada hal buruk yang akan terjadi.
Seperti kata Direktur Griffith Observatory di Los Angeles, California E.C. Krupp, matahari telah lama menjadi sumber cahaya dan pusat kehidupan  makhluk hidup di Bumi, termasuk bagi manusia. Orang-orang bergantung pada pergerakan dari Matahari dan juga Bulan, karena itulah ada kepercayaan besar terhadap keadidayaan kedua benda langit tersebut.
Ketika ilmu pengetahuan manusia masih primitif, mitos-mitos dipakai untuk menjelaskan fenomena alam. Demikian lah yang terjadi pada fenomena Gerhana Matahari, yang hingga kini masih diyakini oleh beberapa kelompok tradisional.
Berikut Okezone merangkum beberapa mitos terkait Gerhana Matahari Total dari seluruh penjuru dunia.
Negara-negara di Asia, seperti China meyakini bahwa gerhana disebabkan oleh makhluk mistis Naga yang melahap matahari. Fenomena itu dianggap sebagai pertanda buruk, sehingga mereka membuat bunyi-bunyian yang bising selama gerhana untuk menakut-nakuti si naga.
Lain lagi di Vietnam yang percaya bahwa matahari bukan dimakan oleh   Naga, melainkan oleh Kodok atau Katak. Sementara masyarakat Korea   mengatakan gerhana terjadi karena anjing api mencoba mencuri matahari.
&amp;ldquo;Raja langit memerintahkan makhluk mistis itu untuk menangkap   matahari yang panas, terkadang juga menangkap bulan yang dingin.   Anjing-anjing itu seringnya gagal, namun ketika mereka berhasil   menggigitnya, terjadilah apa yang kita kenal dengan gerhana,&amp;rdquo; terang   Krupp, sebagaimana dikutip dari National Geographic, Rabu (9/3/2016).Di India juga ada kepercayaan serupa yang lebih ekstrim. Orang Hindu  di India percaya bahwa peristiwa hilangnya matahari pada masa terbitnya  dapat mencemari air dan makanan. Oleh karena itu, mereka menolak makan  dan minum selama gerhana menyelimuti negerinya. Orang-orang dilarang  keluar rumah dan menengok ke arah matahari karena akan tersedot  pikirannya ke alam gaib. Para perempuan juga dipaksa menghentikan  pekerjaan memotong di dapur, sebab dapat membuat tangan mereka teriris  pisau.
Menurut kepercayaan Hindu, peristiwa gerhana bermula dari Iblis  bernama Rahu dan Ketu, yang menyamar jadi Tuhan guna mencuri minuman  abadi atau eliksir. Matahari dan bulan mengetahui niat jahat mereka dan  melaporkannya kepada Dewa Wisnu.

Foto: Rahu (time and date)
Keduanya dihukum penggal oleh sang dewa. Namun, agak terlambat karena  Rahu sudah meminumnya dan cairan itu sudah sampai di kerongkongan.  Akibatnya kepala Rahu menjadi imortal, meskipun tubuhnya mati.
Dikisahkan kepala Rahu terus berkelana mengarungi angkasa. Ia  mengejar matahari dan bulan dengan penuh kebencian. Suatu kali ia  berhasil melahap matahari. Namun karena lehernya bolong, Matahari dengan  mudah meloloskan diri. Itulah mengapa gerhana hanya terjadi sebentar  saja.Di belahan Bumi lain seperti Amerika Latin, mitos dan legenda   mengenai gerhana matahari juga diwartakan secara turun temurun.   Berdasarkan kepercayaan suku Maya dan Inka, orang Meksiko memandang   gerhana matahari berbahaya bagi perempuan yang sedang hamil. Para calon   ibu biasanya diwajibkan untuk berpakaian serba merah cerah dan   menyematkan peniti pada pakaiannya guna menangkal bala.
Yunani menghubungkan fenomena bulan menghadang matahari ini dengan   kisah dewa-dewinya yang terkenal. Rakyat Mesopotamia menyalakan lilin   seraya berdoa agar matahari segera bersinar kembali.
Tradisi Roma menganggap gerhana terjadi akibat dosa-dosa manusia,   karena ada serigala yang memakan bintang besar tersebut atau karena   bulan sedang bersembunyi dari Tuhan. Sementara di Mesir, orang percaya   bahwa gerhana matahari adalah hasil dari pertarungan antara Apophis si   ular, Dewa Apophis dan Dewa matahari Ra. Apophis keluar sebagai   pemenangnya, dan untuk mengembalikan matahari ke langit, Firaun   (keturunan langsung dari matahari) pergi mengitari kuil Osiris sampai   gerhana itu selesai.

Foto: Ular Apophi versus Dewa Ra. (gks.uk)&amp;ldquo;Mitos favorit saya datang dari suku Batammaliba di Togo dan Benin, Afrika Barat,&amp;rdquo; kata pengamat lain, Maryboy.
Menurut mitologi yang beredar di kedua negara tersebut, matahari dan    bulan bertengkar selama terjadinya gerhana. Orang-orang di Bumi   kemudian  menjadi penengah, yang meminta mereka untuk berhenti   berperang.
&amp;ldquo;Suku Navajo juga menjadikan momen ini sebagai momen istimewa untuk    merenung dan mencari keseimbangan kosmik. Mereka tahu bahwa itu hanya    bagian dari hukum alam, tetapi mereka hingga kini masih berpegang teguh    pada adat istiadatnya untuk bergelung di dalam rumah bersama  keluarga,   bernyanyi dan menahan diri dari makan, minum maupun tidur,&amp;rdquo;  tutur   etnograf perempuan itu.

Foto: Navajo. (ICTMN)Hanya Tahiti mungkin yang menganggap peristiwa gerhana sebagai     pertanda baik dan menyambut kedatangannya. Masyarakat Tahiti percaya     pada tahap itu matahari yang dinamakan Dewa Fati sedang bercinta dengan     Dewi Bulan. Kekuatan mereka tercurah ke negara yang dilintasinya    dan  diyakini dapat membawa harapan dan kesempatan-kesempatan baru  yang    dapat mengubah hidup orang-orang menjadi lebih baik.
&amp;ldquo;Oleh karena Dewa Matahari dan Dewi Bulan sedang bersenggama hari     ini, semoga kesempatan baru akan datang kepadaku. Selama gerhana, bayang     bulan jatuh ke Bumi, mengantarkan keseimbangan waktu, sihir dan     kelahiran kembali,&amp;rdquo; demikian nyanyian Bangsa Tahiti saat terjadi     gerhana, dilakukan sambil menyalakan sebatang lilin putih sebagai     perlambangan dari Dewa Matahari dan lilin hitam untuk Dewi Bulan,     dilansir dari David Reneke.
Tahun ini, gerhana matahari total melewati langit Indonesia.     Bertepatan dengan hari raya Nyepi yang jatuh pada hari ini Rabu     (9/3/2016), akan ada 12 provinsi di tanah air yang dapat menyaksikan     fenomena langka ini, yakni Sumatera Selatan, Bangka Belitung,     Kalimantan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara, Papua Nugini dan berakhir di     Lautan Pasifik.
Waktu terjadinya akan dimulai beberapa saat lagi, sekira pukul 6.20     dan berakhir kira-kira sejam kemudian. Namun begitu, di setiap wilayah     yang akan dilintasinya, kita hanya bisa menyaksikan selama 3-4 menit     saja.</description><content:encoded>FENOMENA Gerhana Matahari Total selalu menimbulkan polemik. Sebagian menghubungkannya dengan sesuatu yang baik, meskipun mayoritas meyakini peristiwa alam langka ini sebagai pertanda dari langit bahwa ada hal buruk yang akan terjadi.
Seperti kata Direktur Griffith Observatory di Los Angeles, California E.C. Krupp, matahari telah lama menjadi sumber cahaya dan pusat kehidupan  makhluk hidup di Bumi, termasuk bagi manusia. Orang-orang bergantung pada pergerakan dari Matahari dan juga Bulan, karena itulah ada kepercayaan besar terhadap keadidayaan kedua benda langit tersebut.
Ketika ilmu pengetahuan manusia masih primitif, mitos-mitos dipakai untuk menjelaskan fenomena alam. Demikian lah yang terjadi pada fenomena Gerhana Matahari, yang hingga kini masih diyakini oleh beberapa kelompok tradisional.
Berikut Okezone merangkum beberapa mitos terkait Gerhana Matahari Total dari seluruh penjuru dunia.
Negara-negara di Asia, seperti China meyakini bahwa gerhana disebabkan oleh makhluk mistis Naga yang melahap matahari. Fenomena itu dianggap sebagai pertanda buruk, sehingga mereka membuat bunyi-bunyian yang bising selama gerhana untuk menakut-nakuti si naga.
Lain lagi di Vietnam yang percaya bahwa matahari bukan dimakan oleh   Naga, melainkan oleh Kodok atau Katak. Sementara masyarakat Korea   mengatakan gerhana terjadi karena anjing api mencoba mencuri matahari.
&amp;ldquo;Raja langit memerintahkan makhluk mistis itu untuk menangkap   matahari yang panas, terkadang juga menangkap bulan yang dingin.   Anjing-anjing itu seringnya gagal, namun ketika mereka berhasil   menggigitnya, terjadilah apa yang kita kenal dengan gerhana,&amp;rdquo; terang   Krupp, sebagaimana dikutip dari National Geographic, Rabu (9/3/2016).Di India juga ada kepercayaan serupa yang lebih ekstrim. Orang Hindu  di India percaya bahwa peristiwa hilangnya matahari pada masa terbitnya  dapat mencemari air dan makanan. Oleh karena itu, mereka menolak makan  dan minum selama gerhana menyelimuti negerinya. Orang-orang dilarang  keluar rumah dan menengok ke arah matahari karena akan tersedot  pikirannya ke alam gaib. Para perempuan juga dipaksa menghentikan  pekerjaan memotong di dapur, sebab dapat membuat tangan mereka teriris  pisau.
Menurut kepercayaan Hindu, peristiwa gerhana bermula dari Iblis  bernama Rahu dan Ketu, yang menyamar jadi Tuhan guna mencuri minuman  abadi atau eliksir. Matahari dan bulan mengetahui niat jahat mereka dan  melaporkannya kepada Dewa Wisnu.

Foto: Rahu (time and date)
Keduanya dihukum penggal oleh sang dewa. Namun, agak terlambat karena  Rahu sudah meminumnya dan cairan itu sudah sampai di kerongkongan.  Akibatnya kepala Rahu menjadi imortal, meskipun tubuhnya mati.
Dikisahkan kepala Rahu terus berkelana mengarungi angkasa. Ia  mengejar matahari dan bulan dengan penuh kebencian. Suatu kali ia  berhasil melahap matahari. Namun karena lehernya bolong, Matahari dengan  mudah meloloskan diri. Itulah mengapa gerhana hanya terjadi sebentar  saja.Di belahan Bumi lain seperti Amerika Latin, mitos dan legenda   mengenai gerhana matahari juga diwartakan secara turun temurun.   Berdasarkan kepercayaan suku Maya dan Inka, orang Meksiko memandang   gerhana matahari berbahaya bagi perempuan yang sedang hamil. Para calon   ibu biasanya diwajibkan untuk berpakaian serba merah cerah dan   menyematkan peniti pada pakaiannya guna menangkal bala.
Yunani menghubungkan fenomena bulan menghadang matahari ini dengan   kisah dewa-dewinya yang terkenal. Rakyat Mesopotamia menyalakan lilin   seraya berdoa agar matahari segera bersinar kembali.
Tradisi Roma menganggap gerhana terjadi akibat dosa-dosa manusia,   karena ada serigala yang memakan bintang besar tersebut atau karena   bulan sedang bersembunyi dari Tuhan. Sementara di Mesir, orang percaya   bahwa gerhana matahari adalah hasil dari pertarungan antara Apophis si   ular, Dewa Apophis dan Dewa matahari Ra. Apophis keluar sebagai   pemenangnya, dan untuk mengembalikan matahari ke langit, Firaun   (keturunan langsung dari matahari) pergi mengitari kuil Osiris sampai   gerhana itu selesai.

Foto: Ular Apophi versus Dewa Ra. (gks.uk)&amp;ldquo;Mitos favorit saya datang dari suku Batammaliba di Togo dan Benin, Afrika Barat,&amp;rdquo; kata pengamat lain, Maryboy.
Menurut mitologi yang beredar di kedua negara tersebut, matahari dan    bulan bertengkar selama terjadinya gerhana. Orang-orang di Bumi   kemudian  menjadi penengah, yang meminta mereka untuk berhenti   berperang.
&amp;ldquo;Suku Navajo juga menjadikan momen ini sebagai momen istimewa untuk    merenung dan mencari keseimbangan kosmik. Mereka tahu bahwa itu hanya    bagian dari hukum alam, tetapi mereka hingga kini masih berpegang teguh    pada adat istiadatnya untuk bergelung di dalam rumah bersama  keluarga,   bernyanyi dan menahan diri dari makan, minum maupun tidur,&amp;rdquo;  tutur   etnograf perempuan itu.

Foto: Navajo. (ICTMN)Hanya Tahiti mungkin yang menganggap peristiwa gerhana sebagai     pertanda baik dan menyambut kedatangannya. Masyarakat Tahiti percaya     pada tahap itu matahari yang dinamakan Dewa Fati sedang bercinta dengan     Dewi Bulan. Kekuatan mereka tercurah ke negara yang dilintasinya    dan  diyakini dapat membawa harapan dan kesempatan-kesempatan baru  yang    dapat mengubah hidup orang-orang menjadi lebih baik.
&amp;ldquo;Oleh karena Dewa Matahari dan Dewi Bulan sedang bersenggama hari     ini, semoga kesempatan baru akan datang kepadaku. Selama gerhana, bayang     bulan jatuh ke Bumi, mengantarkan keseimbangan waktu, sihir dan     kelahiran kembali,&amp;rdquo; demikian nyanyian Bangsa Tahiti saat terjadi     gerhana, dilakukan sambil menyalakan sebatang lilin putih sebagai     perlambangan dari Dewa Matahari dan lilin hitam untuk Dewi Bulan,     dilansir dari David Reneke.
Tahun ini, gerhana matahari total melewati langit Indonesia.     Bertepatan dengan hari raya Nyepi yang jatuh pada hari ini Rabu     (9/3/2016), akan ada 12 provinsi di tanah air yang dapat menyaksikan     fenomena langka ini, yakni Sumatera Selatan, Bangka Belitung,     Kalimantan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara, Papua Nugini dan berakhir di     Lautan Pasifik.
Waktu terjadinya akan dimulai beberapa saat lagi, sekira pukul 6.20     dan berakhir kira-kira sejam kemudian. Namun begitu, di setiap wilayah     yang akan dilintasinya, kita hanya bisa menyaksikan selama 3-4 menit     saja.</content:encoded></item></channel></rss>
