<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ribuan Keluarga di Pasuruan Belum Punya Jamban   </title><description>Sebanyak 3.746 kepala keluarga (KK) di Kota Pasuruan belum memiliki Water Closet (WC) atau sanitasi yang baik di rumah tangganya.</description><link>https://news.okezone.com/read/2016/03/10/519/1331903/ribuan-keluarga-di-pasuruan-belum-punya-jamban</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2016/03/10/519/1331903/ribuan-keluarga-di-pasuruan-belum-punya-jamban"/><item><title>Ribuan Keluarga di Pasuruan Belum Punya Jamban   </title><link>https://news.okezone.com/read/2016/03/10/519/1331903/ribuan-keluarga-di-pasuruan-belum-punya-jamban</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2016/03/10/519/1331903/ribuan-keluarga-di-pasuruan-belum-punya-jamban</guid><pubDate>Kamis 10 Maret 2016 02:58 WIB</pubDate><dc:creator>Arie Yoenianto</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2016/03/10/519/1331903/ribuan-keluarga-di-pasuruan-belum-punya-jamban-vPTsiTyLaH.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Illustrasi Okezone</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2016/03/10/519/1331903/ribuan-keluarga-di-pasuruan-belum-punya-jamban-vPTsiTyLaH.jpg</image><title>Foto: Illustrasi Okezone</title></images><description>
PASURUAN - Sebanyak 3.746 kepala keluarga (KK) di Kota Pasuruan belum memiliki Water Closet (WC) atau sanitasi yang baik di rumah tangganya. Masyarakat miskin di perkotaan ini masih menerapkan budaya mandi, dan buang air besar di sungai dalam kehidupan sehari-harinya.

Kepala Bidang Cipta Karya Dinas Pekerjaan Umum Kota Pasuruan, Gustap Purwoko mengungkapkan, masyarakat yang tidak memiliki jamban ini pada umumnya adalah kelompok masyarakat yang berpenghasilan rendah (MBR). Hingga saat ini, sebanyak 36.254 KK yang sudah terlayani sanitasi dan memiliki jamban.

&quot;Budaya masyarakat yang terbiasa buang air besar di sungai menjadi salah satu faktor tidak dimilikinya sanitasi yang baik. Sehingga mereka enggan membangun jamban yang layak,&quot; kata Gustap Purwoko seusai Sosialisasi Pembangunan Sanitasi dan Air Minum bekerjasama dengan IWINS USAID, Rabu (9/3/2016).

Menurutnya, pertumbuhan penduduk dari 208.079 jiwa pada tahun 2020 diperkirakan meningkat menjadi 229.307 jiwa. Dari 3.746 KK yang saat ini belum terlayani diperkirkan akan membengkak menjadi 8.941 KK.

&quot;Secara bertahap, Pemkot Pasuruan akan membangun fasilitas sanitasi masyarakat tersebut. Kami menargetkan tahun 2020 seluruh fasilitas sanitasi masyarakat sudah terpenuhi,&quot; kata Gustap Purwoko.

Proyek yang bekerja sama dengan USAID melalui Initiative for Watsan Improvement trounght Networking Support) IWINS, lanjut Gustap, Pemkot Pasuruan akan membangun fasilitas sanitasi di 10 kelurahan.

Proyek ini diantaranya pembangunan septic komunal yang melingkupi tujuh rumah tangga, sambungan rumah ke instalasi pengolahan air limbah (IPAL) dan pembangunan saluran air bersih menggunakan master meter.

&quot;Saluran air bersih dengan master meter ini bisa dipergunakan untuk 100 KK. Dengan harga tarif sesuai kesepakatan dengan PDAM, pengelolaannya dilakukan oleh kelompok masyarakat,&quot; jelas Gustap.

Sementara itu, Manajer Project IWINS, Arif Lukman Hakim menyatakan, penerima manfaat dari program kerjasama ini di fokuskan pada kelompok masyarakat miskin dipemukiman padat. Melalui sekolah lapangan, IWINS akan menyiapkan dan mengedukasi kelompok masyarakat agar sadar terhadap pentingnya sanitasi.

&quot;Kami akan memfasilitasi dan mengedukasi kelompok masyarakat akan pentingnya program sanitasi. Fasilitator sekolah lapangan ini merupakan individu-individu yang telah mendapatkan pelatihan pada program yang telah berjalan,&quot; kata Arif Lukman Hakim.
</description><content:encoded>
PASURUAN - Sebanyak 3.746 kepala keluarga (KK) di Kota Pasuruan belum memiliki Water Closet (WC) atau sanitasi yang baik di rumah tangganya. Masyarakat miskin di perkotaan ini masih menerapkan budaya mandi, dan buang air besar di sungai dalam kehidupan sehari-harinya.

Kepala Bidang Cipta Karya Dinas Pekerjaan Umum Kota Pasuruan, Gustap Purwoko mengungkapkan, masyarakat yang tidak memiliki jamban ini pada umumnya adalah kelompok masyarakat yang berpenghasilan rendah (MBR). Hingga saat ini, sebanyak 36.254 KK yang sudah terlayani sanitasi dan memiliki jamban.

&quot;Budaya masyarakat yang terbiasa buang air besar di sungai menjadi salah satu faktor tidak dimilikinya sanitasi yang baik. Sehingga mereka enggan membangun jamban yang layak,&quot; kata Gustap Purwoko seusai Sosialisasi Pembangunan Sanitasi dan Air Minum bekerjasama dengan IWINS USAID, Rabu (9/3/2016).

Menurutnya, pertumbuhan penduduk dari 208.079 jiwa pada tahun 2020 diperkirakan meningkat menjadi 229.307 jiwa. Dari 3.746 KK yang saat ini belum terlayani diperkirkan akan membengkak menjadi 8.941 KK.

&quot;Secara bertahap, Pemkot Pasuruan akan membangun fasilitas sanitasi masyarakat tersebut. Kami menargetkan tahun 2020 seluruh fasilitas sanitasi masyarakat sudah terpenuhi,&quot; kata Gustap Purwoko.

Proyek yang bekerja sama dengan USAID melalui Initiative for Watsan Improvement trounght Networking Support) IWINS, lanjut Gustap, Pemkot Pasuruan akan membangun fasilitas sanitasi di 10 kelurahan.

Proyek ini diantaranya pembangunan septic komunal yang melingkupi tujuh rumah tangga, sambungan rumah ke instalasi pengolahan air limbah (IPAL) dan pembangunan saluran air bersih menggunakan master meter.

&quot;Saluran air bersih dengan master meter ini bisa dipergunakan untuk 100 KK. Dengan harga tarif sesuai kesepakatan dengan PDAM, pengelolaannya dilakukan oleh kelompok masyarakat,&quot; jelas Gustap.

Sementara itu, Manajer Project IWINS, Arif Lukman Hakim menyatakan, penerima manfaat dari program kerjasama ini di fokuskan pada kelompok masyarakat miskin dipemukiman padat. Melalui sekolah lapangan, IWINS akan menyiapkan dan mengedukasi kelompok masyarakat agar sadar terhadap pentingnya sanitasi.

&quot;Kami akan memfasilitasi dan mengedukasi kelompok masyarakat akan pentingnya program sanitasi. Fasilitator sekolah lapangan ini merupakan individu-individu yang telah mendapatkan pelatihan pada program yang telah berjalan,&quot; kata Arif Lukman Hakim.
</content:encoded></item></channel></rss>
