<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title> 15 Sungai di Sumut Tercemar dan Alami Pendangkalan</title><description>Perlu kerjasama banyak pihak untuk melakukan rehabilitasi terhadap sungai-sungai tersebut.</description><link>https://news.okezone.com/read/2016/03/14/340/1335056/15-sungai-di-sumut-tercemar-dan-alami-pendangkalan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2016/03/14/340/1335056/15-sungai-di-sumut-tercemar-dan-alami-pendangkalan"/><item><title> 15 Sungai di Sumut Tercemar dan Alami Pendangkalan</title><link>https://news.okezone.com/read/2016/03/14/340/1335056/15-sungai-di-sumut-tercemar-dan-alami-pendangkalan</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2016/03/14/340/1335056/15-sungai-di-sumut-tercemar-dan-alami-pendangkalan</guid><pubDate>Senin 14 Maret 2016 08:39 WIB</pubDate><dc:creator>Wahyudi Aulia Siregar</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2016/03/14/340/1335056/15-sungai-di-sumut-tercemar-dan-alami-pendangkalan-jVmCvU7wES.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi (Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2016/03/14/340/1335056/15-sungai-di-sumut-tercemar-dan-alami-pendangkalan-jVmCvU7wES.jpg</image><title>Ilustrasi (Okezone)</title></images><description>MEDAN - Sebanyak 15 sungai yang ada di wilayah Provinsi Sumatera Utara&amp;lrm; (Sumut) dalam kondisi yang mengkhawatirkan. Pasalnya, sungai-sungai yang tergolong sebagai daerah aliran sungai (DAS) utama itu telah mengalami pendangkalan, bahkan sebagian besar juga sudah tercemar.
Kepala Pengelolaan Sumber Daya Air Sumut, Dinsyah Sitompul menyebutkan, ke-15 sungai itu yakni Sungai Batang Angkola-Batang Gadis, Sungai Wampu-Besitang, Sungai Bahbolon, Sungai Barumun-Kualuh, Sungai Nias dan Sungai Cibundung-Batangtoru, yang berada dalam kewenangan mereka.
Serta Sungai Singkil, Sungai Batang Natal-Batang Batahan, Sungai Rokan, Sungai Belumai-Ular-Padang dan Sungai Toba-Asahan, &amp;lrm;yang diurusi Pemerintah Pusat melalui Balai Wilayah Sungai (BWS)
Sejumlah sungai yang tercemar juga mengalir di Kota Medan, yaitu Sungai Deli, Sungai Babura, Sungai Belawan dan Sungai Putih. Sungai-sungai tersebut dikelola BWS&amp;lrm; Sumatera II.
Menurut Dinsyah, penanganan ke-15 sungai tersebut tak bisa mereka selesaikan sendiri. Seluruh jajaran, baik pemerintah pusat maupun pemerintah provinsi harus secara bersama-sama melakukan rehabilitasi terhadap sungai-sungai tersebut.
&quot;Kami juga harus mempe&amp;lrm;rhatikan lingkungan di sekitar sungai yang sudah tercemar. Baik akibat limbah maupun sampah. Semua harus ambil peran. Apalagi masih banyak perumahan dan bangunan yang didirikan di pinggir sungai. Ini menjadi persoalan tersendiri, karena menyebabkan erosi,&quot; jelasnya.
Dinsyah mengaku, untuk mengurusi sungai-sungai yang menjadi tanggungjawab mereka, setidaknya&amp;lrm; dibutuhkan anggaran sekira Rp400 Miliar. Namun, saat ini mereka hanya memperoleh dana sebesar Rp171 Miliar.&amp;nbsp;
&quot;Kami memang kesulitan anggaran. Padahal selain sungai, kami juga harus mengurusi rawa dan irigasi yang jumlahnya juga cukup banyak. Tapi ya itu lah yang harus kami maksimalkan,&quot; tukasnya.
&amp;lrm;Sementara, salah satu warga bantaran Sungai Deli, di Jalan Multatuli, Kota Medan, Zulhamsyah (44) mengaku, kondisi sungai yang membelah Kota Medan itu memang sudah sangat memprihatinkan. Khususnya sepuluh tahun terakhir, dimana banyak bangunan-bangunan tinggi yang berdiri di pinggir sungai.&amp;nbsp;
Menurutnya, sudah menjadi rahasia umum jika bangunan-bangunan tinggi yang berada di pinggir sungai itu, membuang limbahnya langsung ke aliran sungai, yang notabene masih menjadi sumber air bagi sebagian warga kota. Namun, pemerintah sepertinya tutup mata dengan kondisi tersebut.
&quot;Kalau sepuluh tahun lalu, air minum kami masih dari sungai. Tapi sekarang tengoklah airnya cokelat pekat begitu. Untuk mandi, cuci dan kakus (MCK) saja, banyak warga yang tidak mau menggunakannya lagi. Apalagi kadang-kadang berbuih-buih airnya,&quot; keluh Zulhamsyah</description><content:encoded>MEDAN - Sebanyak 15 sungai yang ada di wilayah Provinsi Sumatera Utara&amp;lrm; (Sumut) dalam kondisi yang mengkhawatirkan. Pasalnya, sungai-sungai yang tergolong sebagai daerah aliran sungai (DAS) utama itu telah mengalami pendangkalan, bahkan sebagian besar juga sudah tercemar.
Kepala Pengelolaan Sumber Daya Air Sumut, Dinsyah Sitompul menyebutkan, ke-15 sungai itu yakni Sungai Batang Angkola-Batang Gadis, Sungai Wampu-Besitang, Sungai Bahbolon, Sungai Barumun-Kualuh, Sungai Nias dan Sungai Cibundung-Batangtoru, yang berada dalam kewenangan mereka.
Serta Sungai Singkil, Sungai Batang Natal-Batang Batahan, Sungai Rokan, Sungai Belumai-Ular-Padang dan Sungai Toba-Asahan, &amp;lrm;yang diurusi Pemerintah Pusat melalui Balai Wilayah Sungai (BWS)
Sejumlah sungai yang tercemar juga mengalir di Kota Medan, yaitu Sungai Deli, Sungai Babura, Sungai Belawan dan Sungai Putih. Sungai-sungai tersebut dikelola BWS&amp;lrm; Sumatera II.
Menurut Dinsyah, penanganan ke-15 sungai tersebut tak bisa mereka selesaikan sendiri. Seluruh jajaran, baik pemerintah pusat maupun pemerintah provinsi harus secara bersama-sama melakukan rehabilitasi terhadap sungai-sungai tersebut.
&quot;Kami juga harus mempe&amp;lrm;rhatikan lingkungan di sekitar sungai yang sudah tercemar. Baik akibat limbah maupun sampah. Semua harus ambil peran. Apalagi masih banyak perumahan dan bangunan yang didirikan di pinggir sungai. Ini menjadi persoalan tersendiri, karena menyebabkan erosi,&quot; jelasnya.
Dinsyah mengaku, untuk mengurusi sungai-sungai yang menjadi tanggungjawab mereka, setidaknya&amp;lrm; dibutuhkan anggaran sekira Rp400 Miliar. Namun, saat ini mereka hanya memperoleh dana sebesar Rp171 Miliar.&amp;nbsp;
&quot;Kami memang kesulitan anggaran. Padahal selain sungai, kami juga harus mengurusi rawa dan irigasi yang jumlahnya juga cukup banyak. Tapi ya itu lah yang harus kami maksimalkan,&quot; tukasnya.
&amp;lrm;Sementara, salah satu warga bantaran Sungai Deli, di Jalan Multatuli, Kota Medan, Zulhamsyah (44) mengaku, kondisi sungai yang membelah Kota Medan itu memang sudah sangat memprihatinkan. Khususnya sepuluh tahun terakhir, dimana banyak bangunan-bangunan tinggi yang berdiri di pinggir sungai.&amp;nbsp;
Menurutnya, sudah menjadi rahasia umum jika bangunan-bangunan tinggi yang berada di pinggir sungai itu, membuang limbahnya langsung ke aliran sungai, yang notabene masih menjadi sumber air bagi sebagian warga kota. Namun, pemerintah sepertinya tutup mata dengan kondisi tersebut.
&quot;Kalau sepuluh tahun lalu, air minum kami masih dari sungai. Tapi sekarang tengoklah airnya cokelat pekat begitu. Untuk mandi, cuci dan kakus (MCK) saja, banyak warga yang tidak mau menggunakannya lagi. Apalagi kadang-kadang berbuih-buih airnya,&quot; keluh Zulhamsyah</content:encoded></item></channel></rss>
