<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Bikin Heboh, Jelang Magrib Pohon Kedoya Keluarkan Asap Hitam</title><description>Mulai pukul 17.40 WIB ratusan warga dari berbagai daerah datang ke  lokasi tersebut ingin menyaksikan kebenaran fenomena alam tersebut.</description><link>https://news.okezone.com/read/2016/03/30/525/1349370/bikin-heboh-jelang-magrib-pohon-kedoya-keluarkan-asap-hitam</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2016/03/30/525/1349370/bikin-heboh-jelang-magrib-pohon-kedoya-keluarkan-asap-hitam"/><item><title>Bikin Heboh, Jelang Magrib Pohon Kedoya Keluarkan Asap Hitam</title><link>https://news.okezone.com/read/2016/03/30/525/1349370/bikin-heboh-jelang-magrib-pohon-kedoya-keluarkan-asap-hitam</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2016/03/30/525/1349370/bikin-heboh-jelang-magrib-pohon-kedoya-keluarkan-asap-hitam</guid><pubDate>Rabu 30 Maret 2016 15:52 WIB</pubDate><dc:creator>Agregasi Pikiran Rakyat</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2016/03/30/525/1349370/bikin-heboh-jelang-magrib-pohon-kedoya-keluarkan-asap-hitam-eDtRq6vezk.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Seorang warga menunjukkan pohon kedoya yang mengeluarkan asap jelang magrib (foto: PR Online)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2016/03/30/525/1349370/bikin-heboh-jelang-magrib-pohon-kedoya-keluarkan-asap-hitam-eDtRq6vezk.jpg</image><title>Seorang warga menunjukkan pohon kedoya yang mengeluarkan asap jelang magrib (foto: PR Online)</title></images><description>MAJALENGKA - Sebuah fenomena alam terjadi di Blok Kamis, RT 02 RW 05, Desa Leuwimunding, Kecamatan leuwimunding. Sebuah pohon kedoya di bagian pucuk paling atasnya setiap menjelang magrib mengeluarkan asap hitam sebesar pergelangan tangan dengan ketinggian asap hingga satu meteran dan asap baru menghilang setelah habis magrib bersamaan dengan gelapnya malam.
Mulai pukul 17.40 WIB ratusan warga dari berbagai daerah datang ke lokasi tersebut ingin menyaksikan kebenaran fenomena alam tersebut hingga akhirnya membuat kemacetan di ruas jalan utama Rajagaluh-Cirebon lintas Leiwimunding.
Seperti dilansir dari PR Online, pohon kedoya tersebut berada di kebun milik Tati, depan rumah Muharam. Tepatnya di pinggir aliran sungai kecil yang membelah Desa Leuwimunding.
Menurut keterangan Oti, Tati, Ani serta Muharam yang rumahnya berada di dekat pohon kedoya, fenomena alam tersebut sebetulnya sudah cukup lama hampir tiga bulanan. Pertama kali asap di atas puncak daun kedoya ini terlihat oleh Pendi seorang pedagang sate yang biasa mangkal dekat pasar Leuwimunding dan rumahnya tidak jauh dari letak pohon kedoya.
Dia melihat ada asap tebal menjulang ke atas sebesar pergelangan tangan orang dewasa, namun asap hitam tersebut tidak terurai hingga cukup lama. Seminggu belakangan ini informasi adanya asap tebal semakin menyebar hingga akhirnya tiga hari terakir banyak warga yang berdatangan dari berbagai daerah ingin menyaksikannya.
Tak ayal ruas jalan Rajagaluh-Cirebon lintas Leuwimundingpun kerap terjadi kemacetan hingga akhirnya aparat kepolisian terpaksa harus mengatur arus lalulintas karena warga tidak bisa dibubarkan.
Disampaikan Muharam, asap tebal tersebut awalnya hanya muncul di satu pohon kedoya dari jumlah tiga pohon yang ada, namun kadang juga muncul diketiga-tiganya. Yang aneh munculnya asap ini hanya terjadi setelah adzan berkumandang di sejumlah tempat. Setelah adzan selesai asap itupun hilang bersamaan dengan gelapnya malam.
&amp;ldquo;Yang kami heran asap ini ketika adzan berkumandang hanya di dua tempat, asap belum muncul. Kalaupun muncul hanya sedikit saja pendek paling sekitar 50 cm. Begitu suara adzan ramai di mana-mana asap semakin tinggi bisa mencapai lebih dari 1 meteran lebih,&amp;rdquo; papar Muharam yang rumahnya persis berada di depan rumahnya berjarak sekitar 10 meteran.
Bila malam Jumat, asap akan lebih banyak lagi, muncul di puncak ketiga pohon kedoya yang posisinya berderet di pinggir sungai. Namun saja yang paling nampak asapnya berada di pohon kedoya yang paling besar dengan medelin sekitar 40 cm dan ketinggian kurang lebih 15.
Oti menyebutkan, penomena alam tersebut ada pula warga yang menyebut laron (sunda:rambetuk) berkumpul diatas pohon, ada pula yang mengatakan alien.
&amp;ldquo;Duka da rame pisan nu nyebat teh rupi-rupi, aya nu nyebat alien aya nu aseup, aya nu nyebut rametuk, tapi da ayanya mung magrib wungkul. (Warga sangat rame menyebutnya macam-macam, ada yang menyebut alien, ada yang menyebut asap, ada pula yang menyebut rametuk, namun adanya hanya saat magrib saja),&amp;rdquo; ujar Oti.
</description><content:encoded>MAJALENGKA - Sebuah fenomena alam terjadi di Blok Kamis, RT 02 RW 05, Desa Leuwimunding, Kecamatan leuwimunding. Sebuah pohon kedoya di bagian pucuk paling atasnya setiap menjelang magrib mengeluarkan asap hitam sebesar pergelangan tangan dengan ketinggian asap hingga satu meteran dan asap baru menghilang setelah habis magrib bersamaan dengan gelapnya malam.
Mulai pukul 17.40 WIB ratusan warga dari berbagai daerah datang ke lokasi tersebut ingin menyaksikan kebenaran fenomena alam tersebut hingga akhirnya membuat kemacetan di ruas jalan utama Rajagaluh-Cirebon lintas Leiwimunding.
Seperti dilansir dari PR Online, pohon kedoya tersebut berada di kebun milik Tati, depan rumah Muharam. Tepatnya di pinggir aliran sungai kecil yang membelah Desa Leuwimunding.
Menurut keterangan Oti, Tati, Ani serta Muharam yang rumahnya berada di dekat pohon kedoya, fenomena alam tersebut sebetulnya sudah cukup lama hampir tiga bulanan. Pertama kali asap di atas puncak daun kedoya ini terlihat oleh Pendi seorang pedagang sate yang biasa mangkal dekat pasar Leuwimunding dan rumahnya tidak jauh dari letak pohon kedoya.
Dia melihat ada asap tebal menjulang ke atas sebesar pergelangan tangan orang dewasa, namun asap hitam tersebut tidak terurai hingga cukup lama. Seminggu belakangan ini informasi adanya asap tebal semakin menyebar hingga akhirnya tiga hari terakir banyak warga yang berdatangan dari berbagai daerah ingin menyaksikannya.
Tak ayal ruas jalan Rajagaluh-Cirebon lintas Leuwimundingpun kerap terjadi kemacetan hingga akhirnya aparat kepolisian terpaksa harus mengatur arus lalulintas karena warga tidak bisa dibubarkan.
Disampaikan Muharam, asap tebal tersebut awalnya hanya muncul di satu pohon kedoya dari jumlah tiga pohon yang ada, namun kadang juga muncul diketiga-tiganya. Yang aneh munculnya asap ini hanya terjadi setelah adzan berkumandang di sejumlah tempat. Setelah adzan selesai asap itupun hilang bersamaan dengan gelapnya malam.
&amp;ldquo;Yang kami heran asap ini ketika adzan berkumandang hanya di dua tempat, asap belum muncul. Kalaupun muncul hanya sedikit saja pendek paling sekitar 50 cm. Begitu suara adzan ramai di mana-mana asap semakin tinggi bisa mencapai lebih dari 1 meteran lebih,&amp;rdquo; papar Muharam yang rumahnya persis berada di depan rumahnya berjarak sekitar 10 meteran.
Bila malam Jumat, asap akan lebih banyak lagi, muncul di puncak ketiga pohon kedoya yang posisinya berderet di pinggir sungai. Namun saja yang paling nampak asapnya berada di pohon kedoya yang paling besar dengan medelin sekitar 40 cm dan ketinggian kurang lebih 15.
Oti menyebutkan, penomena alam tersebut ada pula warga yang menyebut laron (sunda:rambetuk) berkumpul diatas pohon, ada pula yang mengatakan alien.
&amp;ldquo;Duka da rame pisan nu nyebat teh rupi-rupi, aya nu nyebat alien aya nu aseup, aya nu nyebut rametuk, tapi da ayanya mung magrib wungkul. (Warga sangat rame menyebutnya macam-macam, ada yang menyebut alien, ada yang menyebut asap, ada pula yang menyebut rametuk, namun adanya hanya saat magrib saja),&amp;rdquo; ujar Oti.
</content:encoded></item></channel></rss>
