<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kisah Nestapa Bocah yang Dipaksa Jadi Joki</title><description>Mereka dipaksa mencari uang dengan menjadi joki, tidur di trotoar dan tak mendapatkan pendidikan.</description><link>https://news.okezone.com/read/2016/03/31/338/1350557/kisah-nestapa-bocah-yang-dipaksa-jadi-joki</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2016/03/31/338/1350557/kisah-nestapa-bocah-yang-dipaksa-jadi-joki"/><item><title>Kisah Nestapa Bocah yang Dipaksa Jadi Joki</title><link>https://news.okezone.com/read/2016/03/31/338/1350557/kisah-nestapa-bocah-yang-dipaksa-jadi-joki</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2016/03/31/338/1350557/kisah-nestapa-bocah-yang-dipaksa-jadi-joki</guid><pubDate>Kamis 31 Maret 2016 17:30 WIB</pubDate><dc:creator>Syamsul Anwar Khoemaeni</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2016/03/31/338/1350557/kisah-nestapa-bocah-yang-dipaksa-jadi-joki-qIS2yfdI1s.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Dua bocah korban eksploitasi (Syamsul Anwar/Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2016/03/31/338/1350557/kisah-nestapa-bocah-yang-dipaksa-jadi-joki-qIS2yfdI1s.jpg</image><title>Dua bocah korban eksploitasi (Syamsul Anwar/Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Kepala Panti Sosial Handayani, Cipayung, Jakarta Timur, Neneng Haryani membeberkan kisah nestapa bocah korban eksploitasi di jalanan Ibu Kota. Bocah berinisial W (5) dan R (7) misalnya, dipaksa untuk menjadi joki oleh seseorang yang diduga bukan ibu kandungnya.
&quot;Mereka cerita sebelum sekolah suruh joki dulu atau setelah sekolah, sampai jam lima sore,&quot; ujar Neneng kepada awak media di kantornya, Kamis (31/3/2016).
Tak jarang, kedua bocah malang itu harus tidur dan menginap di trotoar. Keduanya pun saling kenal di jalanan dan tidak memiliki hubungan darah satu sama lain.
&quot;Kadang menginap di trotoar, tidur di situ,&quot; imbuhnya.
Sehari, W dan R bisa mengumpulkan uang hingga Rp50 ribu. Ironisnya, mereka hanya diberi Rp2 ribu dari hasil yang disetorkan tersebut.
&quot;Sehari Rp30-40 ribu, bisa sampai Rp50 ribu. W dan R teman di jalanan. Mereka sejak kecil sudah disuruh mengamen. Tapi, dikasih Rp2 ribu buat jajan,&quot; sambungnya.
Kepada pengurus panti, W mengaku belum bersekolah. Sementara R, yang sudah berpendidikan, dipaksa untuk menjadi joki oleh orang diduga bukan ibu kandungnya.
&quot;Setoran? Mereka tidak paham. Anak masih labil, kita masih data. W belum sekolah, R sudah sekolah, mereka mengakunya hanya joki. Si R, tidak mengemis. Kita belum tau itu ibu kandung atau bukan,&quot; tukasnya.
Neneng menyebut kondisi dua bocah tersebut sudah mulai stabil. Berbeda dengan saat dijemput dari Polrestro Jakarta Selatan, keduanya terdiam dan mengalami trauma.
&quot;Kami biarkan mereka bermain, mereka masi trauma. Sekarang kondisinya sudah mulai stabil,&quot; tandasnya sembari mengawasi W dan R.
Seperti diketahui, di Panti Sosial Hanyani saat ini terdapat empat bocah korban eksploitasi anak. Selain W dan R, terdapat dua balita yang sering diberi obat penenang oleh para pelaku. Kasus tersebut saat ini juga tengah ditangani jajaran Polrestro Jakarta Selatan.
&amp;nbsp;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;http://video.okezone.com/embed/MjAxNi8wMy8zMC8yMi83MDc4OC8zL1dSLU5iZGxvWC1z&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;
(sal)</description><content:encoded>JAKARTA - Kepala Panti Sosial Handayani, Cipayung, Jakarta Timur, Neneng Haryani membeberkan kisah nestapa bocah korban eksploitasi di jalanan Ibu Kota. Bocah berinisial W (5) dan R (7) misalnya, dipaksa untuk menjadi joki oleh seseorang yang diduga bukan ibu kandungnya.
&quot;Mereka cerita sebelum sekolah suruh joki dulu atau setelah sekolah, sampai jam lima sore,&quot; ujar Neneng kepada awak media di kantornya, Kamis (31/3/2016).
Tak jarang, kedua bocah malang itu harus tidur dan menginap di trotoar. Keduanya pun saling kenal di jalanan dan tidak memiliki hubungan darah satu sama lain.
&quot;Kadang menginap di trotoar, tidur di situ,&quot; imbuhnya.
Sehari, W dan R bisa mengumpulkan uang hingga Rp50 ribu. Ironisnya, mereka hanya diberi Rp2 ribu dari hasil yang disetorkan tersebut.
&quot;Sehari Rp30-40 ribu, bisa sampai Rp50 ribu. W dan R teman di jalanan. Mereka sejak kecil sudah disuruh mengamen. Tapi, dikasih Rp2 ribu buat jajan,&quot; sambungnya.
Kepada pengurus panti, W mengaku belum bersekolah. Sementara R, yang sudah berpendidikan, dipaksa untuk menjadi joki oleh orang diduga bukan ibu kandungnya.
&quot;Setoran? Mereka tidak paham. Anak masih labil, kita masih data. W belum sekolah, R sudah sekolah, mereka mengakunya hanya joki. Si R, tidak mengemis. Kita belum tau itu ibu kandung atau bukan,&quot; tukasnya.
Neneng menyebut kondisi dua bocah tersebut sudah mulai stabil. Berbeda dengan saat dijemput dari Polrestro Jakarta Selatan, keduanya terdiam dan mengalami trauma.
&quot;Kami biarkan mereka bermain, mereka masi trauma. Sekarang kondisinya sudah mulai stabil,&quot; tandasnya sembari mengawasi W dan R.
Seperti diketahui, di Panti Sosial Hanyani saat ini terdapat empat bocah korban eksploitasi anak. Selain W dan R, terdapat dua balita yang sering diberi obat penenang oleh para pelaku. Kasus tersebut saat ini juga tengah ditangani jajaran Polrestro Jakarta Selatan.
&amp;nbsp;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;http://video.okezone.com/embed/MjAxNi8wMy8zMC8yMi83MDc4OC8zL1dSLU5iZGxvWC1z&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;
(sal)</content:encoded></item></channel></rss>
