<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Usai Digusur, Warga Pasar Ikan Pilih Jadi &quot;Manusia Perahu&quot;</title><description>Setelah rumahnya digusur, sejumlah warga Pasar Ikan, memilih menjadi &quot;manusia perahu&quot; dan menolak direlokasi ke Rusun Marunda.</description><link>https://news.okezone.com/read/2016/04/13/338/1361633/usai-digusur-warga-pasar-ikan-pilih-jadi-manusia-perahu</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2016/04/13/338/1361633/usai-digusur-warga-pasar-ikan-pilih-jadi-manusia-perahu"/><item><title>Usai Digusur, Warga Pasar Ikan Pilih Jadi &quot;Manusia Perahu&quot;</title><link>https://news.okezone.com/read/2016/04/13/338/1361633/usai-digusur-warga-pasar-ikan-pilih-jadi-manusia-perahu</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2016/04/13/338/1361633/usai-digusur-warga-pasar-ikan-pilih-jadi-manusia-perahu</guid><pubDate>Rabu 13 April 2016 12:25 WIB</pubDate><dc:creator>Fakhrizal Fakhri </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2016/04/13/338/1361633/usai-digusur-warga-pasar-ikan-pilih-jadi-manusia-perahu-5id6hv9uvy.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Warga Pasar Ikan Memilih Jadi &quot;Manusia Perahu&quot; (foto: Fakhri/Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2016/04/13/338/1361633/usai-digusur-warga-pasar-ikan-pilih-jadi-manusia-perahu-5id6hv9uvy.jpg</image><title>Warga Pasar Ikan Memilih Jadi &quot;Manusia Perahu&quot; (foto: Fakhri/Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Setelah rumahnya digusur Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, sejumlah warga Pasar Ikan, Penjaringan, Jakarta Utara, memilih menjadi &quot;manusia perahu&quot;. Mereka menolak direlokasi ke Rusun Marunda.

Acho (53),&amp;lrm; warga terdampak penggusuran, menjelaskan bahwa penolakan ke rusun tersebut karena dirinya tidak akan dapat lagi menggeluti pekerjaannya sebagai nelayan untuk menghidupi keluarganya.

&quot;Saya biasa melaut di sini. Kalau tinggal di Marunda bagaimana pekerjaan saya? Kalaupun Anda mobil antar-jemput belum melaut sudah lelah,&quot; kata Acho kepada Okezone saat ditemui di perahunya, Rabu (13/4/2016).
(Baca Juga:&amp;nbsp; Warga Pasar Ikan Penjaringan Pilih Tinggal di Perahu)

Ia mengungkapkan, sebanyak 200 warga terdampak penggusuran memilih menjadi &quot;manusia perahu&quot;. Kebanyakan, kata Acho, mereka menumpang di perahu-perahu milik warga lain lantaran menolak rumahnya di gusur oleh Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

&quot;Kami kebanyakan juga menumpang di rumah milik warga karena menolak digusur. Kata Ahok, kami menjarah tanah milik negara, padahal kami ini warga siapa?&quot; ucap Acho.

Acho dan warga lainnya mengatakan belum mengetahui sampai kapan akan tinggal di atas perahu.&amp;lrm; Bahkan untuk makan dan kehidupan, mereka saja harus dibantu oleh warga lain.

&quot;Entah harus berapa lama kami harus tinggal di atas perahu. Alhamdulillah untuk makan kami dibantu warga lainnya. Kalau tidur, kami tidurnya harus duduk karena di perahu berdesakan,&quot; ungkap Acho.

&amp;lrm;Lebih lanjut Acho menerangkan, setelah penggusuran, banyak anak warga yang memilih tidak sekolah. Hal itu lantaran membantu orangtuanya mengais sia-sia rumah untuk melanjutkan kehidupannya.

&quot;Bahkan, ada yang seminggu sebelum penggusuran sudah tidak sekolah karena ketakutan banyaknya polisi yang datang kemari. Entah bagaimana ke depan hidup kami nantinya,&quot; keluh Acho.</description><content:encoded>JAKARTA - Setelah rumahnya digusur Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, sejumlah warga Pasar Ikan, Penjaringan, Jakarta Utara, memilih menjadi &quot;manusia perahu&quot;. Mereka menolak direlokasi ke Rusun Marunda.

Acho (53),&amp;lrm; warga terdampak penggusuran, menjelaskan bahwa penolakan ke rusun tersebut karena dirinya tidak akan dapat lagi menggeluti pekerjaannya sebagai nelayan untuk menghidupi keluarganya.

&quot;Saya biasa melaut di sini. Kalau tinggal di Marunda bagaimana pekerjaan saya? Kalaupun Anda mobil antar-jemput belum melaut sudah lelah,&quot; kata Acho kepada Okezone saat ditemui di perahunya, Rabu (13/4/2016).
(Baca Juga:&amp;nbsp; Warga Pasar Ikan Penjaringan Pilih Tinggal di Perahu)

Ia mengungkapkan, sebanyak 200 warga terdampak penggusuran memilih menjadi &quot;manusia perahu&quot;. Kebanyakan, kata Acho, mereka menumpang di perahu-perahu milik warga lain lantaran menolak rumahnya di gusur oleh Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

&quot;Kami kebanyakan juga menumpang di rumah milik warga karena menolak digusur. Kata Ahok, kami menjarah tanah milik negara, padahal kami ini warga siapa?&quot; ucap Acho.

Acho dan warga lainnya mengatakan belum mengetahui sampai kapan akan tinggal di atas perahu.&amp;lrm; Bahkan untuk makan dan kehidupan, mereka saja harus dibantu oleh warga lain.

&quot;Entah harus berapa lama kami harus tinggal di atas perahu. Alhamdulillah untuk makan kami dibantu warga lainnya. Kalau tidur, kami tidurnya harus duduk karena di perahu berdesakan,&quot; ungkap Acho.

&amp;lrm;Lebih lanjut Acho menerangkan, setelah penggusuran, banyak anak warga yang memilih tidak sekolah. Hal itu lantaran membantu orangtuanya mengais sia-sia rumah untuk melanjutkan kehidupannya.

&quot;Bahkan, ada yang seminggu sebelum penggusuran sudah tidak sekolah karena ketakutan banyaknya polisi yang datang kemari. Entah bagaimana ke depan hidup kami nantinya,&quot; keluh Acho.</content:encoded></item></channel></rss>
