<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ngambek Soal Dokumen 9/11, Raja Saudi Tidak Sambut Obama</title><description>Raja Salman tidak menyambut kedatangan Presiden Barack Obama ke Arab Saudi.</description><link>https://news.okezone.com/read/2016/04/21/18/1368392/ngambek-soal-dokumen-9-11-raja-saudi-tidak-sambut-obama</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2016/04/21/18/1368392/ngambek-soal-dokumen-9-11-raja-saudi-tidak-sambut-obama"/><item><title>Ngambek Soal Dokumen 9/11, Raja Saudi Tidak Sambut Obama</title><link>https://news.okezone.com/read/2016/04/21/18/1368392/ngambek-soal-dokumen-9-11-raja-saudi-tidak-sambut-obama</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2016/04/21/18/1368392/ngambek-soal-dokumen-9-11-raja-saudi-tidak-sambut-obama</guid><pubDate>Kamis 21 April 2016 00:03 WIB</pubDate><dc:creator>Silviana Dharma</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2016/04/21/18/1368392/ngambek-soal-dokumen-9-11-raja-saudi-tidak-sambut-obama-bmJxzDYTTR.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Presiden Barack Obama bertemu Raja Salman di Arab Saudi. (Foto: CBS News)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2016/04/21/18/1368392/ngambek-soal-dokumen-9-11-raja-saudi-tidak-sambut-obama-bmJxzDYTTR.jpg</image><title>Presiden Barack Obama bertemu Raja Salman di Arab Saudi. (Foto: CBS News)</title></images><description>RIYADH &amp;ndash; Ada yang ganjil dengan kedatangan Presiden Amerika Serikat, Barack Obama ke Arab Saudi. Ketika melangkah turun dari pesawat khusus kepresidenannya di Bandara Internasional King Khalid, penguasa Kerajaan Arab Saudi Raja Salman tidak tampak di mana pun.
Kehadirannya tetap disambut keluarga kerajaan, namun oleh pejabat yang pangkatnya lebih rendah, yakni Gubernur Riyadh Pangeran Faisal bin Bandar Al Saud.
Dilansir dari Independent, Kamis (21/4/2016), pada saat yang sama dengan tibanya Obama, televisi lokal malah menayangkan Raja Salman tengah menyambut hangat tamu kenegaraan lain dari sesama negara teluk. Padahal tamu yang dimaksud adalah petinggi negara setingkat pejabat senior, bukan kepala negara maupun kepala pemerintahan.
&amp;ldquo;Keputusan Raja Saudi untuk tidak menyambut tamu negara yang pangkatnya lebih tinggi jelas sangat tidak biasa dan menyiratkan pesan bahwa mereka hanya memiliki sedikit kepercayaan pada Obama,&amp;rdquo; ujar pengamat keamanan dari Pusat Penelitian Negara Teluk Arab, Mustafa Alani.
Pada akhirnya, Obama memang mengadakan pertemuan empat mata dengan Raja Salman, sesuai yang dijadwalkan. Ia juga berpartisipasi dalam KTT Negara Teluk Arab, yang dihadiri pula oleh Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, Oman dan Bahrain. Namun insiden ini, secara tidak langsung menunjukkan bahwa Saudi ngambek atau menampilkan ketidaksukaan yang jelas terhadap Negeri Paman Sam.&amp;ldquo;Ada ketidakpercayaan yang sangat besar di sini. Saudi selalu berbeda  pendapat dengan presiden-presiden AS sebelumnya. Jadi kali ini, ia juga  merasa presiden yang datang tidak akan membawa (pesan) apapun (yang  ingin didengar Saudi),&amp;rdquo; tandas Alani.
(Baca juga: Kisruh Dokumen 9/11, Obama Kunjungi Arab Saudi)
Hubungan antara negeri adidaya dan Negeri Petro Dollar Arab memang  tengah berada di ambang kekisruhan. Saudi marah dengan tuduhan Pentagon  bahwa Kerajaan Saudi terlibat dalam pendanaan jaringan teroris. Kongres  AS bahkan kian mendesak pemerintahan Obama untuk membuka dokumen  serangan teror ke World Trade Center (WTC) di New York pada 11 September  2001.
(Baca juga: Obama Didesak Buka Dokumen yang Hubungkan Saudi dengan 9/11)
Seperti diketahui, sebanyak 15 dari 19 pembajak pesawat yang menabrak  WTC merupakan warga negara Arab Saudi. Terkait hal tersebut, AS selama  ini kesulitan meminta pertanggungjawaban Arab Saudi karena keluarga  kerajaan memiliki kekebalan hukum.
Jika kongres bersikeras mengesahkan UU yang dapat menuntut Saudi  sebagai pihak yang bersalah atas peristiwa 9/11, maka Menteri Luar  Negeri Saudi, Ade al Jubeir menegaskan, negaranya tidak akan segan-segan  menjual aset AS bernilai miliaran dolar.</description><content:encoded>RIYADH &amp;ndash; Ada yang ganjil dengan kedatangan Presiden Amerika Serikat, Barack Obama ke Arab Saudi. Ketika melangkah turun dari pesawat khusus kepresidenannya di Bandara Internasional King Khalid, penguasa Kerajaan Arab Saudi Raja Salman tidak tampak di mana pun.
Kehadirannya tetap disambut keluarga kerajaan, namun oleh pejabat yang pangkatnya lebih rendah, yakni Gubernur Riyadh Pangeran Faisal bin Bandar Al Saud.
Dilansir dari Independent, Kamis (21/4/2016), pada saat yang sama dengan tibanya Obama, televisi lokal malah menayangkan Raja Salman tengah menyambut hangat tamu kenegaraan lain dari sesama negara teluk. Padahal tamu yang dimaksud adalah petinggi negara setingkat pejabat senior, bukan kepala negara maupun kepala pemerintahan.
&amp;ldquo;Keputusan Raja Saudi untuk tidak menyambut tamu negara yang pangkatnya lebih tinggi jelas sangat tidak biasa dan menyiratkan pesan bahwa mereka hanya memiliki sedikit kepercayaan pada Obama,&amp;rdquo; ujar pengamat keamanan dari Pusat Penelitian Negara Teluk Arab, Mustafa Alani.
Pada akhirnya, Obama memang mengadakan pertemuan empat mata dengan Raja Salman, sesuai yang dijadwalkan. Ia juga berpartisipasi dalam KTT Negara Teluk Arab, yang dihadiri pula oleh Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, Oman dan Bahrain. Namun insiden ini, secara tidak langsung menunjukkan bahwa Saudi ngambek atau menampilkan ketidaksukaan yang jelas terhadap Negeri Paman Sam.&amp;ldquo;Ada ketidakpercayaan yang sangat besar di sini. Saudi selalu berbeda  pendapat dengan presiden-presiden AS sebelumnya. Jadi kali ini, ia juga  merasa presiden yang datang tidak akan membawa (pesan) apapun (yang  ingin didengar Saudi),&amp;rdquo; tandas Alani.
(Baca juga: Kisruh Dokumen 9/11, Obama Kunjungi Arab Saudi)
Hubungan antara negeri adidaya dan Negeri Petro Dollar Arab memang  tengah berada di ambang kekisruhan. Saudi marah dengan tuduhan Pentagon  bahwa Kerajaan Saudi terlibat dalam pendanaan jaringan teroris. Kongres  AS bahkan kian mendesak pemerintahan Obama untuk membuka dokumen  serangan teror ke World Trade Center (WTC) di New York pada 11 September  2001.
(Baca juga: Obama Didesak Buka Dokumen yang Hubungkan Saudi dengan 9/11)
Seperti diketahui, sebanyak 15 dari 19 pembajak pesawat yang menabrak  WTC merupakan warga negara Arab Saudi. Terkait hal tersebut, AS selama  ini kesulitan meminta pertanggungjawaban Arab Saudi karena keluarga  kerajaan memiliki kekebalan hukum.
Jika kongres bersikeras mengesahkan UU yang dapat menuntut Saudi  sebagai pihak yang bersalah atas peristiwa 9/11, maka Menteri Luar  Negeri Saudi, Ade al Jubeir menegaskan, negaranya tidak akan segan-segan  menjual aset AS bernilai miliaran dolar.</content:encoded></item></channel></rss>
