<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Soekarno, Kimilsungia dan Unifikasi Korea</title><description>Saat di Pyongyang, Presiden Soekarno pernah menerima audiensi dadakan dengan pemuda Korsel yang berkeinginan keras unifikasi dengan utara.</description><link>https://news.okezone.com/read/2016/05/12/18/1385897/soekarno-kimilsungia-dan-unifikasi-korea</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2016/05/12/18/1385897/soekarno-kimilsungia-dan-unifikasi-korea"/><item><title>Soekarno, Kimilsungia dan Unifikasi Korea</title><link>https://news.okezone.com/read/2016/05/12/18/1385897/soekarno-kimilsungia-dan-unifikasi-korea</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2016/05/12/18/1385897/soekarno-kimilsungia-dan-unifikasi-korea</guid><pubDate>Kamis 12 Mei 2016 06:02 WIB</pubDate><dc:creator>Randy Wirayudha</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2016/05/11/18/1385897/soekarno-kimilsungia-dan-unifikasi-korea-E4pbAJx4wE.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Kim Il-sung (kiri) saat berkunjung ke Indonesia dan bertemu Presiden Soekarno (Foto: YouTube)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2016/05/11/18/1385897/soekarno-kimilsungia-dan-unifikasi-korea-E4pbAJx4wE.jpg</image><title>Kim Il-sung (kiri) saat berkunjung ke Indonesia dan bertemu Presiden Soekarno (Foto: YouTube)</title></images><description>INDONESIA dan Korea Utara (Korut). Jika menyebut jalinan dan keterikatan kedua negara yang terpisah di belahan bumi selatan dan utara ini, tentu kita takkan luput menyebut Kimilsungia &amp;ndash; varian bunga anggrek hasil persilangan yang awalnya bernama Dendrobium Clara Bundt. 
Anggrek ini bisa begitu ternama di Korut, lantaran pada 1965 lalu sebelum pecah Gerakan 30 September (G30S) 1965, pernah menarik hati The Great Leader, Kim Il-sung.
Pemimpin Korut yang datang bersama putranya, Kim Jong-il itu, terpesona dengan anggrek ini setelah diajak pelesiran oleh Presiden RI pertama, Soekarno di Kebun Raya Bogor.

Kim Il-sung sempat menolak saat Presiden Soekarno menawarkan anggrek itu sebagai hadiah yang pada akhirnya diterima dengan baik. Bunga itu diberi nama Kimilsungia yang mengambil sebutan Kim Il-sung dan Indonesia, sebagai simbol abadi persahabatan Indonesia-Korut.Selain pemberian Kimilsungia yang kini jadi satu dari dua bunga yang  dijadikan ikon nasional Korut, penguatan hubungan Jakarta-Pyongyang  sedianya sempat juga diwarnai penciptaan sebuah lagu bertajuk  &amp;ldquo;Soekarno-Kim Il Sung&amp;rdquo;.
Sebagaimana dikutip dari buku &amp;lsquo;Heirs to World Culture: Being  Indonesian, 1950-1965&amp;rsquo; karya Jennifer Lindsay, lagu itu diciptakan S.W.  Kuntjahjo dan diaransemen M. Karatem, untuk menyambut kedatangan Kim  Il-sung ke Istana Negara pada 10 April 1965 silam.
Momen pemberian bunga Kimilsungia dan persembahan lagu itu,  merupakan balasan kunjungan kakek pemimpin Korut saat ini, Kim Jong-un tersebut, setelah sebelumnya pada medio November 1964, Presiden Soekarno  bertamu untuk kali pertama ke Pyongyang, Ibu Kota Korut bersama  rombongan 70 delegasi.

Ketika itu, Indonesia belum punya Kedutaan Besar Republik  Indonesia (KBRI) seperti sekarang yang ada di Pyongyang, melainkan baru  sekadar kantor pewakilan setingkat Konsulat Jenderal, pasca-lahirnya  hubungan diplomatik Indonesia-Korut pada 1961.Sejak saat itu, relasi Indonesia-Korut sangat erat, bagaikan dua   saudara kandung. Hal yang juga diakui Duta Besar Korut untuk Indonesia,   Ri Jong-ryul, sebagaimana yang diwartakan kantor berita Antara, April   2015 lalu.
&amp;ldquo;Hubungan antara Persiden Soekarno dan Presiden Kim Il-sung  sangat  istimewa dan tidak bisa dibandingkan dengan apapun. Presiden  Soekarno  juga dikenal baik oleh rakyat DPRK (Korut),&amp;rdquo; sebut Dubes Ri.
Masih mengenai momen kunjungan di Pyongyang, Presiden Soekarno   pernah mengungkit isu unifikasi antara Korut dan saudara mereka, Korea   Selatan (Korsel), setahun pasca-melawat ke Ibu Kota Korut itu.

Dalam sebuah pidatonya di Sidang Majelis Permusyawaratan Rakyat   Sementara (MPRS), 6 Desember 1965, Presiden Soekarno mengaku tidak hanya   ditemui para pemuda Korut, tapi juga sejumlah pemuda Korsel yang   ternyata, menyelinap masuk ke Pyongyang demi bisa menemui Soekarno.&amp;ldquo;Korea, Korea Utara, Korea Selatan. That is a nation divide (negara    yang terpecah). Tetapi rakyat Korsel, rakyat Korut, rakyatnya tidak    dividing themselves against themselves (memecah diri sendiri dan saling    bertentangan), tidak!,&amp;rdquo; seru Soekarno dalam buku &amp;lsquo;Revolusi Belum    Selesai&amp;rsquo;.
&amp;ldquo;Cuma pentol-pentolnya (petinggi) yang di selatan, di utara, nah itu gontok-gontokan. Tapi rakyatnya malahan makin berkobar-kobar, punya    semangat nasionalisme. Di Pyongyang, saya tidak hanya bertemu pemuda    Korut, tapi juga para pemuda Korsel,&amp;rdquo; tambahnya.
&amp;ldquo;Mereka nyelundup ke Pyongyang. Saya tanya, kamu orang datang ke sini    (Pyongyang) buat apa? Untuk menyatakan kepada Saudara Soekarno, bahwa    kami rakyat Korea ingin bersatu kembali dan malahan, kami akan  berjuang   untuk bersatu kembali,&amp;rdquo; tandas Soekarno.

Namun terlepas dari itu, hubungan Indonesia-Korut terusik peristiwa    G30S. Dampaknya, relasi kedua negara sempat merenggang meski tidak    terputus. Hingga saat ini, hubungan Indonesia-Korut seolah masih kaku,    lantaran pemerintah RI turut mendesak Korut untuk tidak melanjutkan    program nuklirnya.</description><content:encoded>INDONESIA dan Korea Utara (Korut). Jika menyebut jalinan dan keterikatan kedua negara yang terpisah di belahan bumi selatan dan utara ini, tentu kita takkan luput menyebut Kimilsungia &amp;ndash; varian bunga anggrek hasil persilangan yang awalnya bernama Dendrobium Clara Bundt. 
Anggrek ini bisa begitu ternama di Korut, lantaran pada 1965 lalu sebelum pecah Gerakan 30 September (G30S) 1965, pernah menarik hati The Great Leader, Kim Il-sung.
Pemimpin Korut yang datang bersama putranya, Kim Jong-il itu, terpesona dengan anggrek ini setelah diajak pelesiran oleh Presiden RI pertama, Soekarno di Kebun Raya Bogor.

Kim Il-sung sempat menolak saat Presiden Soekarno menawarkan anggrek itu sebagai hadiah yang pada akhirnya diterima dengan baik. Bunga itu diberi nama Kimilsungia yang mengambil sebutan Kim Il-sung dan Indonesia, sebagai simbol abadi persahabatan Indonesia-Korut.Selain pemberian Kimilsungia yang kini jadi satu dari dua bunga yang  dijadikan ikon nasional Korut, penguatan hubungan Jakarta-Pyongyang  sedianya sempat juga diwarnai penciptaan sebuah lagu bertajuk  &amp;ldquo;Soekarno-Kim Il Sung&amp;rdquo;.
Sebagaimana dikutip dari buku &amp;lsquo;Heirs to World Culture: Being  Indonesian, 1950-1965&amp;rsquo; karya Jennifer Lindsay, lagu itu diciptakan S.W.  Kuntjahjo dan diaransemen M. Karatem, untuk menyambut kedatangan Kim  Il-sung ke Istana Negara pada 10 April 1965 silam.
Momen pemberian bunga Kimilsungia dan persembahan lagu itu,  merupakan balasan kunjungan kakek pemimpin Korut saat ini, Kim Jong-un tersebut, setelah sebelumnya pada medio November 1964, Presiden Soekarno  bertamu untuk kali pertama ke Pyongyang, Ibu Kota Korut bersama  rombongan 70 delegasi.

Ketika itu, Indonesia belum punya Kedutaan Besar Republik  Indonesia (KBRI) seperti sekarang yang ada di Pyongyang, melainkan baru  sekadar kantor pewakilan setingkat Konsulat Jenderal, pasca-lahirnya  hubungan diplomatik Indonesia-Korut pada 1961.Sejak saat itu, relasi Indonesia-Korut sangat erat, bagaikan dua   saudara kandung. Hal yang juga diakui Duta Besar Korut untuk Indonesia,   Ri Jong-ryul, sebagaimana yang diwartakan kantor berita Antara, April   2015 lalu.
&amp;ldquo;Hubungan antara Persiden Soekarno dan Presiden Kim Il-sung  sangat  istimewa dan tidak bisa dibandingkan dengan apapun. Presiden  Soekarno  juga dikenal baik oleh rakyat DPRK (Korut),&amp;rdquo; sebut Dubes Ri.
Masih mengenai momen kunjungan di Pyongyang, Presiden Soekarno   pernah mengungkit isu unifikasi antara Korut dan saudara mereka, Korea   Selatan (Korsel), setahun pasca-melawat ke Ibu Kota Korut itu.

Dalam sebuah pidatonya di Sidang Majelis Permusyawaratan Rakyat   Sementara (MPRS), 6 Desember 1965, Presiden Soekarno mengaku tidak hanya   ditemui para pemuda Korut, tapi juga sejumlah pemuda Korsel yang   ternyata, menyelinap masuk ke Pyongyang demi bisa menemui Soekarno.&amp;ldquo;Korea, Korea Utara, Korea Selatan. That is a nation divide (negara    yang terpecah). Tetapi rakyat Korsel, rakyat Korut, rakyatnya tidak    dividing themselves against themselves (memecah diri sendiri dan saling    bertentangan), tidak!,&amp;rdquo; seru Soekarno dalam buku &amp;lsquo;Revolusi Belum    Selesai&amp;rsquo;.
&amp;ldquo;Cuma pentol-pentolnya (petinggi) yang di selatan, di utara, nah itu gontok-gontokan. Tapi rakyatnya malahan makin berkobar-kobar, punya    semangat nasionalisme. Di Pyongyang, saya tidak hanya bertemu pemuda    Korut, tapi juga para pemuda Korsel,&amp;rdquo; tambahnya.
&amp;ldquo;Mereka nyelundup ke Pyongyang. Saya tanya, kamu orang datang ke sini    (Pyongyang) buat apa? Untuk menyatakan kepada Saudara Soekarno, bahwa    kami rakyat Korea ingin bersatu kembali dan malahan, kami akan  berjuang   untuk bersatu kembali,&amp;rdquo; tandas Soekarno.

Namun terlepas dari itu, hubungan Indonesia-Korut terusik peristiwa    G30S. Dampaknya, relasi kedua negara sempat merenggang meski tidak    terputus. Hingga saat ini, hubungan Indonesia-Korut seolah masih kaku,    lantaran pemerintah RI turut mendesak Korut untuk tidak melanjutkan    program nuklirnya.</content:encoded></item></channel></rss>
