<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>66 Pasangan China Nikah Masal ala Dinasti Han</title><description>Provinsi Hebei, China, gelar acara nikah masal  internasional pertama yang diikuti oleh 66 pasangan dan ratusan kerabat  mempelai.</description><link>https://news.okezone.com/read/2016/05/26/18/1398350/66-pasangan-china-nikah-masal-ala-dinasti-han</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2016/05/26/18/1398350/66-pasangan-china-nikah-masal-ala-dinasti-han"/><item><title>66 Pasangan China Nikah Masal ala Dinasti Han</title><link>https://news.okezone.com/read/2016/05/26/18/1398350/66-pasangan-china-nikah-masal-ala-dinasti-han</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2016/05/26/18/1398350/66-pasangan-china-nikah-masal-ala-dinasti-han</guid><pubDate>Kamis 26 Mei 2016 17:03 WIB</pubDate><dc:creator>Silviana Dharma</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2016/05/26/18/1398350/66-pasangan-china-nikah-masal-ala-dinasti-han-wpRG60Gwny.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Nikah Masal ala Dinasti Han di Hebei, China. (Foto: Barcroft Images)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2016/05/26/18/1398350/66-pasangan-china-nikah-masal-ala-dinasti-han-wpRG60Gwny.jpg</image><title>Nikah Masal ala Dinasti Han di Hebei, China. (Foto: Barcroft Images)</title></images><description>HEBEI &amp;ndash; Acara pernikahan masal biasanya selalu digandrungi para pasangan yang hendak menikah karena dianggap dapat menghemat anggaran nikah dan hemat waktu. Di Provinsi Hebei, China, baru saja digelar acara nikah masal internasional pertama yang diikuti oleh 66 pasangan dan ratusan kerabat mempelai.
Bedanya, upacara pernikahan dilakukan ala Dinasti Han, era kerajaan yang pernah menguasai China selama lebih dari 2.000 tahun yang lalu. Diwartakan Daily Mail, Kamis (26/5/2016), masing-masing pasangan didandani dengan baju tradisional, Hanfu merah, berlaku untuk pengantin perempuan maupun laki-laki.
Sesuai ritual yang tertulis dalam Buku Ritus Zhou, para pengantin seolah menjelajah waktu, kembali ke masa lampau. Mereka menjalani ritual Jiefa atau saling mengikat rambut. Menurut adat Dinasti Han, pada fase ini kedua mempelai diwajibkan memotong sejumput kecil rambut di pucuk kepala pasangannya dan mengikatnya jadi satu dengan seutas benang merah.
Dalam beberapa kasus, pasangan yang menikah memasukkan jalinan rambut mereka itu ke dalam suatu kantong, yang juga berwarna merah, untuk kemudian diwariskan sebagai jimat keberuntungan bagi pasangan baru menikah berikutnya.
Sementara itu, serupa dengan pernikahan di zaman modern, setiap pasangan ditemani oleh minimal seorang  pendamping pria dan wanita. Namun, menurut adat Dinasti Han, pendamping ini juga punya andil. Mereka masing-masing diberi sepotong daging untuk dimakan, sementara mempelai mengaitkan tangan membentuk silang seraya bersulang.
Upacara pernikahan dengan gaya Dinasti Han ini merupakan yang pertama kalinya diadakan di Negeri Tirai Bambu. Bertempat di tepi pantai Bohai, setiap pasangan berkesempatan menjadi pemeran utama dalam ritual upacara pernikahannya dalam waktu 20 menit.
Selepas itu, mereka pun bisa berswafoto (selfie) ria. Selayaknya, pasangan modern lain.</description><content:encoded>HEBEI &amp;ndash; Acara pernikahan masal biasanya selalu digandrungi para pasangan yang hendak menikah karena dianggap dapat menghemat anggaran nikah dan hemat waktu. Di Provinsi Hebei, China, baru saja digelar acara nikah masal internasional pertama yang diikuti oleh 66 pasangan dan ratusan kerabat mempelai.
Bedanya, upacara pernikahan dilakukan ala Dinasti Han, era kerajaan yang pernah menguasai China selama lebih dari 2.000 tahun yang lalu. Diwartakan Daily Mail, Kamis (26/5/2016), masing-masing pasangan didandani dengan baju tradisional, Hanfu merah, berlaku untuk pengantin perempuan maupun laki-laki.
Sesuai ritual yang tertulis dalam Buku Ritus Zhou, para pengantin seolah menjelajah waktu, kembali ke masa lampau. Mereka menjalani ritual Jiefa atau saling mengikat rambut. Menurut adat Dinasti Han, pada fase ini kedua mempelai diwajibkan memotong sejumput kecil rambut di pucuk kepala pasangannya dan mengikatnya jadi satu dengan seutas benang merah.
Dalam beberapa kasus, pasangan yang menikah memasukkan jalinan rambut mereka itu ke dalam suatu kantong, yang juga berwarna merah, untuk kemudian diwariskan sebagai jimat keberuntungan bagi pasangan baru menikah berikutnya.
Sementara itu, serupa dengan pernikahan di zaman modern, setiap pasangan ditemani oleh minimal seorang  pendamping pria dan wanita. Namun, menurut adat Dinasti Han, pendamping ini juga punya andil. Mereka masing-masing diberi sepotong daging untuk dimakan, sementara mempelai mengaitkan tangan membentuk silang seraya bersulang.
Upacara pernikahan dengan gaya Dinasti Han ini merupakan yang pertama kalinya diadakan di Negeri Tirai Bambu. Bertempat di tepi pantai Bohai, setiap pasangan berkesempatan menjadi pemeran utama dalam ritual upacara pernikahannya dalam waktu 20 menit.
Selepas itu, mereka pun bisa berswafoto (selfie) ria. Selayaknya, pasangan modern lain.</content:encoded></item></channel></rss>
