<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kerja Sama Indonesia-Prancis Tangani Korban Perubahan Iklim</title><description>Indonesia bekerja sama dengan Kedubes Prancis mengembangkan pengelolaan sektor pariwisata yang berbasis kelestarian lingkungan hidup.</description><link>https://news.okezone.com/read/2016/06/04/18/1406080/kerja-sama-indonesia-prancis-tangani-korban-perubahan-iklim</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2016/06/04/18/1406080/kerja-sama-indonesia-prancis-tangani-korban-perubahan-iklim"/><item><title>Kerja Sama Indonesia-Prancis Tangani Korban Perubahan Iklim</title><link>https://news.okezone.com/read/2016/06/04/18/1406080/kerja-sama-indonesia-prancis-tangani-korban-perubahan-iklim</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2016/06/04/18/1406080/kerja-sama-indonesia-prancis-tangani-korban-perubahan-iklim</guid><pubDate>Sabtu 04 Juni 2016 02:02 WIB</pubDate><dc:creator>Silviana Dharma</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2016/06/03/18/1406080/kerja-sama-indonesia-prancis-tangani-korban-perubahan-iklim-T1S3I6jurI.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Atase Kerja Sama Pendididikan Kedubes Prancis di Indonesia, Emilliene. (Foto: dok. FITE)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2016/06/03/18/1406080/kerja-sama-indonesia-prancis-tangani-korban-perubahan-iklim-T1S3I6jurI.jpg</image><title>Atase Kerja Sama Pendididikan Kedubes Prancis di Indonesia, Emilliene. (Foto: dok. FITE)</title></images><description>NUSA DUA &amp;ndash; Indonesia dan Prancis jelas berbeda dari segi latar budaya, geografis dan politis. Namun begitu, bukan berarti kedua negara tidak dapat saling mempelajari kebolehan satu sama lain.
Bicara dalam konteks perubahan iklim, setidaknya kedua negara peserta COP21 di Paris beberapa waktu lalu ini, sepakat bahwa segala sektor kerja sama bilateral perlu mempertimbangkan kelestarian lingkungan hidup.
Salah satunya, dalam sektor pariwisata. Merah Putih dan Negeri Mode bertemu di STP Nusa Dua, Bali, pada 2-3 Juni 2016 dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, yang jatuh setiap 5 Juni. Bersama stakeholder dari Amerika Serikat, keduanya akan membahas pengembangan pengelolaan sektor pariwisata berkelanjutan di Indonesia, khususnya di Bali, yang berbasis kearifan lokal.
&amp;ldquo;Di Bali kita mengenal prinsip Tri Hita Karana, yang berarti keselarasan dengan lingkungan hidup, manusia dan Pencipta. Konsep inilah yang menjadi model dalam berbagai modifikasi dan adaptasi industri pariwisata dan pengembangan kebijakan di pemerintahan lokal dan provinsi,&amp;rdquo; kata pimpinan Bali Tourism Board, Bagus Sudibya, yang turut hadir menjadi pembicara dalam panel diskusi Forum on International Tourism and Environment (FITE) 2016 di Nusa Dua, Bali.
Forum internasional tersebut merupakan hasil kerja sama antara Kementerian Pariwisata Indonesia dengan Institut Prancis Indonesia (IFI) dan Kedutaan Besar Prancis di Indonesia.Sementara itu, menurut peneliti CIRAD, Alain Rival, ketika  membicarakan pembangunan pariwisata berkelanjutan, sektor pertanian  tidak dapat diabaikan. Sebab, sektor pariwisata dan pertanian sama-sama  berkontribusi, sekaligus menjadi korban dari perubahan iklim.
&amp;ldquo;(Untuk itu,) kita membutuhkan pendekatan inovatif dan sinergis dalam  membangun dua sektor ini. Pembangunan pariwisata sangat berperan dalam  menggugah kesadaran orang mengenai perubahan iklim melalui pertukaran  ide dan gagasan dan mengambil pelajaran dari negara lain,&amp;rdquo; terangnya,  dalam sebuah siaran pers yang diterima Okezone, Sabtu (4/6/2016).
Meskipun berangkat dari latar belakang yang berbeda, sehingga apa  yang diterapkan di Prancis belum tentu bisa berhasil di Indonesia. Ia  meyakinkan kedua negara bisa setidaknya, mengambil pelajaran dari  manajemen dan teknologi penghematan energi, pengelolaan limbah,  manajemen transportasi dan pendidikan dasar mengenai pembangunan  berkelanjutan, yang dapat diterapkan sejak dini, khususnya bagi siswa  sekolah dasar.
Hari Lingkungan Hidup Sedunia diperingati setiap 5 Juni, guna  meningkatkan kesadaran masyarakat global tentang lingkungan dan  mendorong perhatian dan tindakan politik yang positif terkait  kelestarian lingkungan.
Forum FITE ini menjadi ajang tukar gagasan sekaligus saling  menginspirasi antara negara Indonesia dan Prancis. Prancis merupakan  salah satu negara di dunia yang unggul dalam pariwisata.
&amp;ldquo;Mereka didukung jejaring transportasi yang mumpuni, warisan budaya  yang dijaga dan lingkungan hidup yang asri, semua faktor saling terkait.  Kita dapat menggali ilmu dari para pakar Prancis mengenai pengelolaan  industri parisiwata yang tidak hanya mengandalkan sisi komersil tetapi  juga memperhatikan sisi kelestarian lingkungan dan budaya,&amp;rdquo; demikian  harapan Sudibya.</description><content:encoded>NUSA DUA &amp;ndash; Indonesia dan Prancis jelas berbeda dari segi latar budaya, geografis dan politis. Namun begitu, bukan berarti kedua negara tidak dapat saling mempelajari kebolehan satu sama lain.
Bicara dalam konteks perubahan iklim, setidaknya kedua negara peserta COP21 di Paris beberapa waktu lalu ini, sepakat bahwa segala sektor kerja sama bilateral perlu mempertimbangkan kelestarian lingkungan hidup.
Salah satunya, dalam sektor pariwisata. Merah Putih dan Negeri Mode bertemu di STP Nusa Dua, Bali, pada 2-3 Juni 2016 dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, yang jatuh setiap 5 Juni. Bersama stakeholder dari Amerika Serikat, keduanya akan membahas pengembangan pengelolaan sektor pariwisata berkelanjutan di Indonesia, khususnya di Bali, yang berbasis kearifan lokal.
&amp;ldquo;Di Bali kita mengenal prinsip Tri Hita Karana, yang berarti keselarasan dengan lingkungan hidup, manusia dan Pencipta. Konsep inilah yang menjadi model dalam berbagai modifikasi dan adaptasi industri pariwisata dan pengembangan kebijakan di pemerintahan lokal dan provinsi,&amp;rdquo; kata pimpinan Bali Tourism Board, Bagus Sudibya, yang turut hadir menjadi pembicara dalam panel diskusi Forum on International Tourism and Environment (FITE) 2016 di Nusa Dua, Bali.
Forum internasional tersebut merupakan hasil kerja sama antara Kementerian Pariwisata Indonesia dengan Institut Prancis Indonesia (IFI) dan Kedutaan Besar Prancis di Indonesia.Sementara itu, menurut peneliti CIRAD, Alain Rival, ketika  membicarakan pembangunan pariwisata berkelanjutan, sektor pertanian  tidak dapat diabaikan. Sebab, sektor pariwisata dan pertanian sama-sama  berkontribusi, sekaligus menjadi korban dari perubahan iklim.
&amp;ldquo;(Untuk itu,) kita membutuhkan pendekatan inovatif dan sinergis dalam  membangun dua sektor ini. Pembangunan pariwisata sangat berperan dalam  menggugah kesadaran orang mengenai perubahan iklim melalui pertukaran  ide dan gagasan dan mengambil pelajaran dari negara lain,&amp;rdquo; terangnya,  dalam sebuah siaran pers yang diterima Okezone, Sabtu (4/6/2016).
Meskipun berangkat dari latar belakang yang berbeda, sehingga apa  yang diterapkan di Prancis belum tentu bisa berhasil di Indonesia. Ia  meyakinkan kedua negara bisa setidaknya, mengambil pelajaran dari  manajemen dan teknologi penghematan energi, pengelolaan limbah,  manajemen transportasi dan pendidikan dasar mengenai pembangunan  berkelanjutan, yang dapat diterapkan sejak dini, khususnya bagi siswa  sekolah dasar.
Hari Lingkungan Hidup Sedunia diperingati setiap 5 Juni, guna  meningkatkan kesadaran masyarakat global tentang lingkungan dan  mendorong perhatian dan tindakan politik yang positif terkait  kelestarian lingkungan.
Forum FITE ini menjadi ajang tukar gagasan sekaligus saling  menginspirasi antara negara Indonesia dan Prancis. Prancis merupakan  salah satu negara di dunia yang unggul dalam pariwisata.
&amp;ldquo;Mereka didukung jejaring transportasi yang mumpuni, warisan budaya  yang dijaga dan lingkungan hidup yang asri, semua faktor saling terkait.  Kita dapat menggali ilmu dari para pakar Prancis mengenai pengelolaan  industri parisiwata yang tidak hanya mengandalkan sisi komersil tetapi  juga memperhatikan sisi kelestarian lingkungan dan budaya,&amp;rdquo; demikian  harapan Sudibya.</content:encoded></item></channel></rss>
