<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Park Geun-hye, Putri Diktator Pemecah Negara</title><description>Berikut ini Okezone mengulas Park Geun-hye dalam jajaran perempuan paling berpengaruh di dunia periode 2016 versi majalah Forbes.</description><link>https://news.okezone.com/read/2016/06/07/18/1408876/park-geun-hye-putri-diktator-pemecah-negara</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2016/06/07/18/1408876/park-geun-hye-putri-diktator-pemecah-negara"/><item><title>Park Geun-hye, Putri Diktator Pemecah Negara</title><link>https://news.okezone.com/read/2016/06/07/18/1408876/park-geun-hye-putri-diktator-pemecah-negara</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2016/06/07/18/1408876/park-geun-hye-putri-diktator-pemecah-negara</guid><pubDate>Selasa 07 Juni 2016 22:04 WIB</pubDate><dc:creator>Silviana Dharma</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2016/06/07/18/1408876/park-geun-hye-putri-diktator-pemecah-negara-Vg0p5awkzp.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Presiden Korsel Park Geun-hye. (Foto: Forbes)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2016/06/07/18/1408876/park-geun-hye-putri-diktator-pemecah-negara-Vg0p5awkzp.jpg</image><title>Presiden Korsel Park Geun-hye. (Foto: Forbes)</title></images><description>TERLEPAS sudah merebaknya paham feminisme di hampir seluruh penjuru dunia, tidak dapat dimungkiri bahwa perempuan pertama yang menjadi presiden selalu membawa daya tarik tersendiri bagi dunia internasional.
Tentu saja mereka terkenal karena kiprahnya yang ternyata memang tidak kalah dari kaum Adam. Di bawah pemerintahan mereka, negara menjadi lebih baik, lebih mendunia dan lebih bersaing. Setidaknya mereka menjadi inspirasi, disukai, bahkan disegani dan dianggap memiliki kontribusi lebih dalam di skala nasional maupun internasional.
Berikut ini Okezone mengulas Park Geun-hye dalam jajaran perempuan paling berpengaruh di dunia periode 2016 versi majalah Forbes.
Seperti halnya Megawati Soekarno Putri, Presiden Korea Selatan Park Geun-hye merupakan putri dari mantan presiden sebelumnya Park Chung-hee. Bedanya, ayah Megawati adalah presiden sekaligus pendiri negara yakni Bung Karno. Sementara ayah Chung-hee adalah diktator yang mendapat kekuasaannya melalui upaya kudeta.
Berdasarkan latar belakang tersebut, perempuan kelahiran Daegu, 2 Februari 1952, itu sudah lekat dengan dunia politik. Mengingat ayahnya sukses menduduki posisi orang nomor satu di Negeri Ginseng sejak ia berusia 11 tahun. Umur yang cukup bagi seorang anak untuk memahami apa yang terjadi pada dunia dan mengerti pekerjaan ayahnya.Sepeninggal ibunya yang menjadi korban pembunuhan yang menyasar sang  ayah, Geun-hye kala itu berusia 22 tahun dipercaya menggantikan ibunya  berperan sebagai ibu negara. Karier politik mahasiswi lulusan teknik  mesin tersebut berlanjut pada 1998 ketika dia ditunjuk menjadi wakil  ketua Grand National Party (GNP).
Berselang enam tahun saja, dia sudah menapaki posisi sebagai ketua  umum. Tiga tahun kemudian, yakni pada 2007, dia mengusung diri sebagai  presiden. Namun gagal memenangi pemilu. Menengok catatan kepemimpinan  ayahnya, banyak pihak khawatir dia akan bak buah jatuh tak jauh dari  pohonnya.
Pencalonannya sebagai presiden menuai kontroversi. Para pengkritik  memprediksi Geun-hye akan menjadi diktator dan membawa Korsel kembali ke  masa pelanggaran HAM berat, dan perang yang lebih besar dengan Korea  Utara. Akan tetapi, para pendukungnya percaya, Geun-hye justru sosok  yang tepat untuk membawa perubahan ekonomi yang lebih baik dan membantu  pemulihan hubungan antar-Korea.
Sebagaimana dilansir Biography, Selasa (7/6/2016), pemilu presiden  2012 akhirnya melahirkan putri ditaktor yang dianggap sebagai pemecah  negara menjelma harapan bangsa. Perempuan yang memilih menikah dengan  negaranya, alih-alih mencari pendamping hidup (seorang pria) itu  mengalahkan Moon Jae-in (59), saingannya yang justru berlatar belakang  pengacara HAM dan berideologi liberal.
Disumpah sebagai Presiden Korsel pada Februari 2013, Park Geun-hye  tahun ini mendapat pengakuan atas pemerintahan era baru yang  dijanjikannya. Dia pun dinobatkan sebagai pemimpin politik paling  berpengaruh keempat, setelah Kanselir Jerman Angela Merkel, Kandidat  Presiden Amerika Serikat Hillary Clinton, dan Ketua Federal Reserve AS  Janet Yellen.</description><content:encoded>TERLEPAS sudah merebaknya paham feminisme di hampir seluruh penjuru dunia, tidak dapat dimungkiri bahwa perempuan pertama yang menjadi presiden selalu membawa daya tarik tersendiri bagi dunia internasional.
Tentu saja mereka terkenal karena kiprahnya yang ternyata memang tidak kalah dari kaum Adam. Di bawah pemerintahan mereka, negara menjadi lebih baik, lebih mendunia dan lebih bersaing. Setidaknya mereka menjadi inspirasi, disukai, bahkan disegani dan dianggap memiliki kontribusi lebih dalam di skala nasional maupun internasional.
Berikut ini Okezone mengulas Park Geun-hye dalam jajaran perempuan paling berpengaruh di dunia periode 2016 versi majalah Forbes.
Seperti halnya Megawati Soekarno Putri, Presiden Korea Selatan Park Geun-hye merupakan putri dari mantan presiden sebelumnya Park Chung-hee. Bedanya, ayah Megawati adalah presiden sekaligus pendiri negara yakni Bung Karno. Sementara ayah Chung-hee adalah diktator yang mendapat kekuasaannya melalui upaya kudeta.
Berdasarkan latar belakang tersebut, perempuan kelahiran Daegu, 2 Februari 1952, itu sudah lekat dengan dunia politik. Mengingat ayahnya sukses menduduki posisi orang nomor satu di Negeri Ginseng sejak ia berusia 11 tahun. Umur yang cukup bagi seorang anak untuk memahami apa yang terjadi pada dunia dan mengerti pekerjaan ayahnya.Sepeninggal ibunya yang menjadi korban pembunuhan yang menyasar sang  ayah, Geun-hye kala itu berusia 22 tahun dipercaya menggantikan ibunya  berperan sebagai ibu negara. Karier politik mahasiswi lulusan teknik  mesin tersebut berlanjut pada 1998 ketika dia ditunjuk menjadi wakil  ketua Grand National Party (GNP).
Berselang enam tahun saja, dia sudah menapaki posisi sebagai ketua  umum. Tiga tahun kemudian, yakni pada 2007, dia mengusung diri sebagai  presiden. Namun gagal memenangi pemilu. Menengok catatan kepemimpinan  ayahnya, banyak pihak khawatir dia akan bak buah jatuh tak jauh dari  pohonnya.
Pencalonannya sebagai presiden menuai kontroversi. Para pengkritik  memprediksi Geun-hye akan menjadi diktator dan membawa Korsel kembali ke  masa pelanggaran HAM berat, dan perang yang lebih besar dengan Korea  Utara. Akan tetapi, para pendukungnya percaya, Geun-hye justru sosok  yang tepat untuk membawa perubahan ekonomi yang lebih baik dan membantu  pemulihan hubungan antar-Korea.
Sebagaimana dilansir Biography, Selasa (7/6/2016), pemilu presiden  2012 akhirnya melahirkan putri ditaktor yang dianggap sebagai pemecah  negara menjelma harapan bangsa. Perempuan yang memilih menikah dengan  negaranya, alih-alih mencari pendamping hidup (seorang pria) itu  mengalahkan Moon Jae-in (59), saingannya yang justru berlatar belakang  pengacara HAM dan berideologi liberal.
Disumpah sebagai Presiden Korsel pada Februari 2013, Park Geun-hye  tahun ini mendapat pengakuan atas pemerintahan era baru yang  dijanjikannya. Dia pun dinobatkan sebagai pemimpin politik paling  berpengaruh keempat, setelah Kanselir Jerman Angela Merkel, Kandidat  Presiden Amerika Serikat Hillary Clinton, dan Ketua Federal Reserve AS  Janet Yellen.</content:encoded></item></channel></rss>
