<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Bendera Setengah Tiang untuk Mengenang Sosok Jo Cox</title><description>Kantor PM Inggris di Downing Street No.10 kibarkan bendera setengah tiang untuk mengenang mendiang Jo Cox.</description><link>https://news.okezone.com/read/2016/06/17/18/1417486/bendera-setengah-tiang-untuk-mengenang-sosok-jo-cox</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2016/06/17/18/1417486/bendera-setengah-tiang-untuk-mengenang-sosok-jo-cox"/><item><title>Bendera Setengah Tiang untuk Mengenang Sosok Jo Cox</title><link>https://news.okezone.com/read/2016/06/17/18/1417486/bendera-setengah-tiang-untuk-mengenang-sosok-jo-cox</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2016/06/17/18/1417486/bendera-setengah-tiang-untuk-mengenang-sosok-jo-cox</guid><pubDate>Jum'at 17 Juni 2016 06:05 WIB</pubDate><dc:creator>Randy Wirayudha</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2016/06/17/18/1417486/bendera-setengah-tiang-untuk-mengenang-sosok-jo-cox-xGdiDUz9Mx.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Bendera setengah tiang di Kantor Perdana Menteri Inggris, David William Donald Cameron di Downing Street No.10 untuk mengenang mendiang Helen Joanne &quot;Jo&quot; Cox (Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2016/06/17/18/1417486/bendera-setengah-tiang-untuk-mengenang-sosok-jo-cox-xGdiDUz9Mx.jpg</image><title>Bendera setengah tiang di Kantor Perdana Menteri Inggris, David William Donald Cameron di Downing Street No.10 untuk mengenang mendiang Helen Joanne &quot;Jo&quot; Cox (Foto: Reuters)</title></images><description>WEST YORKSHIRE - Kancah perpolitikan Inggris tengah berduka. Seorang anggota parlemennya, Helen Joanne &amp;ldquo;Jo&amp;rdquo; Cox dinyatakan meninggal pada Kamis, 16 Juni 2016 siang waktu setempat di Rumah Sakit Umum Leeds, selang sejam setelah ditikam dan ditembak seorang terduga aktivis anti-Islam.
Para pembesar Negeri Ratu Elizabeth II itu pun melayangkan ungkapan duka citanya. Mulai dari Wali Kota London; Sadiq Khan, hingga Perdana Menteri (PM) Inggris; David Cameron. (Anggota Parlemen Tewas Ditembak, Sadiq Khan &amp;amp; PM Inggris Syok).
Demi berbelasungkawa dan mengenang sosok aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) yang juga politikus Partai Buruh tersebut, Kantor PM Inggris di Downing Street No.10 pun mengibarkan bendera setengah tiang.

Selain para koleganya di arena perpolitikan Inggris, tentu pihak yang paling terpukul atas kematian wanita berusia 41 tahun itu adalah keluarga yang ditinggalkannya &amp;ndash; seorang suami; Brendan Cox dan dua anaknya.&amp;ldquo;Hari ini adalah bab baru dalam hidup kami. Lebih sulit, lebih  menyakitkan, tiada kebahagiaan, tiada cinta,&amp;rdquo; ungkap Brendan Cox,  sebagaimana dinukil Mirror, Jumat (17/6/2016).
&amp;ldquo;Saya dan teman-teman Jo serta keluarga akan terus melanjutkan  hidup untuk mencintai dan merawat anak-anak kami, serta melawan  kebencian yang jadi penyebab Jo terbunuh. Jo percaya pada dunia yang  lebih baik dan dia memperjuangkannya setiap hari,&amp;rdquo; tambahnya.

Sedikit mengulas sosoknya, Jo lahir di Batley, West Yorkshire,  Inggris pada 22 Juni 1974 dari seorang ibu, Jean yang bekerja sebagai  sekretaris sekolah dan seorang ayah, Gordon yang merupakan buruh pasta  gigi dan hairspray di Leeds.
Pendidikan dasarnya dihabiskan di Heckmondwike, hingga jadi yang  pertama di keluarganya yang mengenyam pendidikan tinggi di Pembroke  College dengan jurusan Ilmu Sosial dan Politik.Jo juga pernah menjajaki kariernya di organisasi internasional  Oxfam  dan di tempat inilah, Jo bertemu pria pujaan hati yang kemudian   menikahinya, Brendan Cox, hingga memiliki dua buah hati.
Sebelum masuk dunia politik, Jo juga sempat menjadi pekerja  sosial  di Yayasan Bill dan Melinda Gates. Adapun di dunia politik, Jo   memulainya dengan menjadi Ketua Jaringan Buruh Wanita, serta menjadi   penasihat senior lembaga amal anti-perbudakan, Freedom Fund.
Tahun 2015 lalu, Cox bisa duduk di salah satu kursi parlemen dari   Partai Buruh, setelah menang di daerah pemilihan Batley dan Spen, untuk   menggantikan Mike Wood yang sudah duduk di parlemen sejak 1997.

Dengan duduk sebagai anggota parlemen, Cox kian lantang  menyuarakan  masalah HAM, serta jadi salah satu politikus yang paling  &amp;lsquo;nyaring&amp;rsquo;  mendorong Inggris untuk lebih banyak menerima para pengungsi  asal Timur  Tengah.Jelas, meninggalnya Jo Cox juga jadi kehilangan besar bagi  sejumlah   lembaga pembela HAM, macam Amnesti Internasional, sebagaimana  yang   diungkapkan Direktur Amnesty Internasional (cabang) Inggris, Kate    Allen.
&amp;ldquo;Kami sangat sedih mendengar kabar tragis ini. Jo seorang juru    kampanye soal keadilan dan HAM yang tak kenal lelah. Kampanyenya tentang    pengungsi, krisis Suriah dan hak-hak wanita membuatnya jadi anggota    parlemen yang paling berdedikasi. Kami bangga pernah bekerja  dengannya,&amp;rdquo;   ungkap Allen.
Jo Cox meninggal setelah ditikam dan ditembak Tommy Mair, seorang    pelaku yang terduga aktivis anti-Islam dan partai sayap kanan, Britain    First berusia 52 tahun di dekat sebuah perpustakaan di    Birstall, West Yorkshire, Kamis, 16 Juni sekira pukul 12.53 waktu    setempat.
Jo Cox sempat dilarikan dengan helikopter medis ke RSU Leeds,  tapi   nyawanya tak tertolong dan sekira pukul 1.48 siang, tim dokter yang    menanganinya menyatakan Jo Cox telah tiada. (Baca: Pelaku Penembakan Anggota Parlemen    Inggris Diduga Aktivis Anti-Islam).

Sebelum meninggal, Jo Cox tengah membantu PM Cameron  mengampanyekan   Inggris untuk tetap bertahan sebagai anggota Uni Eropa,  jelang   Referendum &amp;ldquo;Brexit&amp;rdquo; pada 23 Juni 2016 mendatang.
Pembunuhan Jo Cox ini merupakan pembunuhan terhadap anggota  Parlemen   Inggris yang pertama, sejak insiden serupa pada 1990 lalu. Kala  itu,   seorang anggota Parlemen Inggris, Ian Gow tewas dalam sebuah  ledakan   bom mobil yang diketahui dilakukan simpatisan IRA atau Milisi  Republik   Irlandia.</description><content:encoded>WEST YORKSHIRE - Kancah perpolitikan Inggris tengah berduka. Seorang anggota parlemennya, Helen Joanne &amp;ldquo;Jo&amp;rdquo; Cox dinyatakan meninggal pada Kamis, 16 Juni 2016 siang waktu setempat di Rumah Sakit Umum Leeds, selang sejam setelah ditikam dan ditembak seorang terduga aktivis anti-Islam.
Para pembesar Negeri Ratu Elizabeth II itu pun melayangkan ungkapan duka citanya. Mulai dari Wali Kota London; Sadiq Khan, hingga Perdana Menteri (PM) Inggris; David Cameron. (Anggota Parlemen Tewas Ditembak, Sadiq Khan &amp;amp; PM Inggris Syok).
Demi berbelasungkawa dan mengenang sosok aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) yang juga politikus Partai Buruh tersebut, Kantor PM Inggris di Downing Street No.10 pun mengibarkan bendera setengah tiang.

Selain para koleganya di arena perpolitikan Inggris, tentu pihak yang paling terpukul atas kematian wanita berusia 41 tahun itu adalah keluarga yang ditinggalkannya &amp;ndash; seorang suami; Brendan Cox dan dua anaknya.&amp;ldquo;Hari ini adalah bab baru dalam hidup kami. Lebih sulit, lebih  menyakitkan, tiada kebahagiaan, tiada cinta,&amp;rdquo; ungkap Brendan Cox,  sebagaimana dinukil Mirror, Jumat (17/6/2016).
&amp;ldquo;Saya dan teman-teman Jo serta keluarga akan terus melanjutkan  hidup untuk mencintai dan merawat anak-anak kami, serta melawan  kebencian yang jadi penyebab Jo terbunuh. Jo percaya pada dunia yang  lebih baik dan dia memperjuangkannya setiap hari,&amp;rdquo; tambahnya.

Sedikit mengulas sosoknya, Jo lahir di Batley, West Yorkshire,  Inggris pada 22 Juni 1974 dari seorang ibu, Jean yang bekerja sebagai  sekretaris sekolah dan seorang ayah, Gordon yang merupakan buruh pasta  gigi dan hairspray di Leeds.
Pendidikan dasarnya dihabiskan di Heckmondwike, hingga jadi yang  pertama di keluarganya yang mengenyam pendidikan tinggi di Pembroke  College dengan jurusan Ilmu Sosial dan Politik.Jo juga pernah menjajaki kariernya di organisasi internasional  Oxfam  dan di tempat inilah, Jo bertemu pria pujaan hati yang kemudian   menikahinya, Brendan Cox, hingga memiliki dua buah hati.
Sebelum masuk dunia politik, Jo juga sempat menjadi pekerja  sosial  di Yayasan Bill dan Melinda Gates. Adapun di dunia politik, Jo   memulainya dengan menjadi Ketua Jaringan Buruh Wanita, serta menjadi   penasihat senior lembaga amal anti-perbudakan, Freedom Fund.
Tahun 2015 lalu, Cox bisa duduk di salah satu kursi parlemen dari   Partai Buruh, setelah menang di daerah pemilihan Batley dan Spen, untuk   menggantikan Mike Wood yang sudah duduk di parlemen sejak 1997.

Dengan duduk sebagai anggota parlemen, Cox kian lantang  menyuarakan  masalah HAM, serta jadi salah satu politikus yang paling  &amp;lsquo;nyaring&amp;rsquo;  mendorong Inggris untuk lebih banyak menerima para pengungsi  asal Timur  Tengah.Jelas, meninggalnya Jo Cox juga jadi kehilangan besar bagi  sejumlah   lembaga pembela HAM, macam Amnesti Internasional, sebagaimana  yang   diungkapkan Direktur Amnesty Internasional (cabang) Inggris, Kate    Allen.
&amp;ldquo;Kami sangat sedih mendengar kabar tragis ini. Jo seorang juru    kampanye soal keadilan dan HAM yang tak kenal lelah. Kampanyenya tentang    pengungsi, krisis Suriah dan hak-hak wanita membuatnya jadi anggota    parlemen yang paling berdedikasi. Kami bangga pernah bekerja  dengannya,&amp;rdquo;   ungkap Allen.
Jo Cox meninggal setelah ditikam dan ditembak Tommy Mair, seorang    pelaku yang terduga aktivis anti-Islam dan partai sayap kanan, Britain    First berusia 52 tahun di dekat sebuah perpustakaan di    Birstall, West Yorkshire, Kamis, 16 Juni sekira pukul 12.53 waktu    setempat.
Jo Cox sempat dilarikan dengan helikopter medis ke RSU Leeds,  tapi   nyawanya tak tertolong dan sekira pukul 1.48 siang, tim dokter yang    menanganinya menyatakan Jo Cox telah tiada. (Baca: Pelaku Penembakan Anggota Parlemen    Inggris Diduga Aktivis Anti-Islam).

Sebelum meninggal, Jo Cox tengah membantu PM Cameron  mengampanyekan   Inggris untuk tetap bertahan sebagai anggota Uni Eropa,  jelang   Referendum &amp;ldquo;Brexit&amp;rdquo; pada 23 Juni 2016 mendatang.
Pembunuhan Jo Cox ini merupakan pembunuhan terhadap anggota  Parlemen   Inggris yang pertama, sejak insiden serupa pada 1990 lalu. Kala  itu,   seorang anggota Parlemen Inggris, Ian Gow tewas dalam sebuah  ledakan   bom mobil yang diketahui dilakukan simpatisan IRA atau Milisi  Republik   Irlandia.</content:encoded></item></channel></rss>
