<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Jangan Terburu-buru Sebut Abu Sayyaf Penyandera WNI di Filipina</title><description>Hal tersebut bisa mengakibatkan bahaya laten bagi pelayar Indonesia.</description><link>https://news.okezone.com/read/2016/06/25/337/1425029/jangan-terburu-buru-sebut-abu-sayyaf-penyandera-wni-di-filipina</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2016/06/25/337/1425029/jangan-terburu-buru-sebut-abu-sayyaf-penyandera-wni-di-filipina"/><item><title>Jangan Terburu-buru Sebut Abu Sayyaf Penyandera WNI di Filipina</title><link>https://news.okezone.com/read/2016/06/25/337/1425029/jangan-terburu-buru-sebut-abu-sayyaf-penyandera-wni-di-filipina</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2016/06/25/337/1425029/jangan-terburu-buru-sebut-abu-sayyaf-penyandera-wni-di-filipina</guid><pubDate>Sabtu 25 Juni 2016 10:59 WIB</pubDate><dc:creator>Mukmin Azis</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2016/06/25/337/1425029/jangan-terburu-buru-sebut-abu-sayyaf-penyandera-wni-di-filipina-2wIlSxA9VT.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Kapal TB Charles tiba di Pelabuhan Balikpapan. (Foto: Mukmin Azis)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2016/06/25/337/1425029/jangan-terburu-buru-sebut-abu-sayyaf-penyandera-wni-di-filipina-2wIlSxA9VT.jpg</image><title>Kapal TB Charles tiba di Pelabuhan Balikpapan. (Foto: Mukmin Azis)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Tujuh warga negara Indonesia (WNI) dikabarkan disandera oleh kelompok bersenjata di Filipina. Pengamat intelijen Universitas Indonesia (UI), Ridwan Habib, meragukan jika penyanderanya adalah kelompok Abu Sayyaf. Karena itu, ia mengimbau pemerintah tidak terburu-buru menyebut pelaku. Terlebih hal tersebut bisa mengakibatkan bahaya laten bagi pelayar Indonesia.

&quot;Pemerintah harus berhati-hati sebelum menyebut nama Abu Sayyaf. Karena kalau mereka bukan Abu, akan menimbulkan ketegangan secara laten,&quot; ujar Ridwan kepada Okezone, Sabtu (25/6/2016).

Ridwan menilai, setelah dua kali pembebasan WNI pada periode lalu, terdapat komitmen tak tertulis antara intelijen Indonesia dengan kelompok Abu Sayyaf. Dalam komitmen tersebut, ia meyakini adanya kesepakatan jika Abu Sayyaf dan kawan-kawan tidak akan melakukan penyanderaan lagi.

&quot;Setidaknya begini, setelah berhasil dibebaskan sebelumnya, ada komitmen tidak tertulis antara intelijen indonesia dengan Abu Sayyaf bahwa mereka tidak akan melakukan penyanderaan lagi. Jadi kalau ada, ini kemungkinan cuma tiru-tiru,&quot; paparnya.
(Baca Juga : Pengamat Intelijen Ragukan Penyandera WNI Kelompok Abu Sayyaf)
Karena itu, ia mengingatkan pemerintah tidak asal sebut lantaran bisa berdampak terhadap para korban. Selain itu, tuduhan terburu-buru bahwa Abu Sayyaf dalang di balik penyanderaan, juga bisa membuat si pemilik nama tersinggung hingga kemudian kembali menyandera WNI.

&quot;Jadi harus hati-hati, jangan sampai nanti salah sebut. Efeknya bisa bahaya bagi yang disandera dan kelompok itu sendiri. Kalau sampai Abu Sayyaf tersinggung semacam menantang. Kalau misal bukan, kita bisa minta bantuan Abu Syyaf atau faksi-faksi yang kemarin bersahabat untuk membebaskan, jadi dianggap teman dulu deh,&quot; paparnya.
</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Tujuh warga negara Indonesia (WNI) dikabarkan disandera oleh kelompok bersenjata di Filipina. Pengamat intelijen Universitas Indonesia (UI), Ridwan Habib, meragukan jika penyanderanya adalah kelompok Abu Sayyaf. Karena itu, ia mengimbau pemerintah tidak terburu-buru menyebut pelaku. Terlebih hal tersebut bisa mengakibatkan bahaya laten bagi pelayar Indonesia.

&quot;Pemerintah harus berhati-hati sebelum menyebut nama Abu Sayyaf. Karena kalau mereka bukan Abu, akan menimbulkan ketegangan secara laten,&quot; ujar Ridwan kepada Okezone, Sabtu (25/6/2016).

Ridwan menilai, setelah dua kali pembebasan WNI pada periode lalu, terdapat komitmen tak tertulis antara intelijen Indonesia dengan kelompok Abu Sayyaf. Dalam komitmen tersebut, ia meyakini adanya kesepakatan jika Abu Sayyaf dan kawan-kawan tidak akan melakukan penyanderaan lagi.

&quot;Setidaknya begini, setelah berhasil dibebaskan sebelumnya, ada komitmen tidak tertulis antara intelijen indonesia dengan Abu Sayyaf bahwa mereka tidak akan melakukan penyanderaan lagi. Jadi kalau ada, ini kemungkinan cuma tiru-tiru,&quot; paparnya.
(Baca Juga : Pengamat Intelijen Ragukan Penyandera WNI Kelompok Abu Sayyaf)
Karena itu, ia mengingatkan pemerintah tidak asal sebut lantaran bisa berdampak terhadap para korban. Selain itu, tuduhan terburu-buru bahwa Abu Sayyaf dalang di balik penyanderaan, juga bisa membuat si pemilik nama tersinggung hingga kemudian kembali menyandera WNI.

&quot;Jadi harus hati-hati, jangan sampai nanti salah sebut. Efeknya bisa bahaya bagi yang disandera dan kelompok itu sendiri. Kalau sampai Abu Sayyaf tersinggung semacam menantang. Kalau misal bukan, kita bisa minta bantuan Abu Syyaf atau faksi-faksi yang kemarin bersahabat untuk membebaskan, jadi dianggap teman dulu deh,&quot; paparnya.
</content:encoded></item></channel></rss>
