<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Sejarah Ronggeng Gunung, Disukai Masyarakat hingga Lodaya</title><description>Kesenian tarian ronggeng gunung selain disukai oleh masyarakat juga disukai oleh lodaya atau maung siliwangi.</description><link>https://news.okezone.com/read/2016/07/14/525/1437421/sejarah-ronggeng-gunung-disukai-masyarakat-hingga-lodaya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2016/07/14/525/1437421/sejarah-ronggeng-gunung-disukai-masyarakat-hingga-lodaya"/><item><title>Sejarah Ronggeng Gunung, Disukai Masyarakat hingga Lodaya</title><link>https://news.okezone.com/read/2016/07/14/525/1437421/sejarah-ronggeng-gunung-disukai-masyarakat-hingga-lodaya</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2016/07/14/525/1437421/sejarah-ronggeng-gunung-disukai-masyarakat-hingga-lodaya</guid><pubDate>Kamis 14 Juli 2016 00:30 WIB</pubDate><dc:creator>Syamsul Maarif</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2016/07/13/525/1437421/sejarah-ronggeng-gunung-disukai-masyarakat-hingga-lodaya-VRe4M29tGc.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Adegan Tarian Ronggeng Gunung (Foto: Syamsul Maarif/Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2016/07/13/525/1437421/sejarah-ronggeng-gunung-disukai-masyarakat-hingga-lodaya-VRe4M29tGc.jpg</image><title>Adegan Tarian Ronggeng Gunung (Foto: Syamsul Maarif/Okezone)</title></images><description>PANGANDARAN &amp;ndash; Kesenian tarian ronggeng gunung selain disukai oleh masyarakat juga disukai oleh lodaya atau maung siliwangi, hal tersebut berdasarkan sejarah yang dialami oleh salah satu pelaku ronggeng gunung di tahun 1930.

Salah satu budayawan Pangandaran Aceng Hasyim mengatakan, kesenian ronggeng gunung pernah mengalami krisis regenerasi, hal tersebut terjadi lantaran sumpah salah satu penari ronggeng gunung bernama Indung Beunti yang berikrar agar anak cucu dan keturunannya jangan sampai ada yang menjadi penari ronggeng gunung.

&amp;ldquo;Adegan tarian ronggeng gunung memiliki aturan pementasan atau pakem, salahsatunya jangan menghibur atau melakukan pagelaran di luar daerah kerajaan Tatar Galuh,&amp;rdquo; kata Aceng.

Namun salah satu rombongan ronggeng gunung yang dipimpin oleh Indung Beunti asal daerah Ciparakan Desa Tunggilis Kecamatan Padaherang pernah diundang oleh lodaya atau maung siliwangi di salah satu daerah yang masuk ke wilayah kerajaan Sukapura tepatnya di daerah Desa Kawasen Kecamatan Banjarsari dengan iming-iming akan disediakan sesajen kepala kebo sebanyak tiga ekor kerbau.

&amp;ldquo;Pada pementasan yang digelar sejak pagi dan siang hingga sore penonton dan yang ikut melakukan tarian ronggeng gunung berwujud manusia,&amp;rdquo; tambahnya.

Tetapi pada malamnya penonton dan yang ikut menari adalah lodaya atau  maung siliwangi dengan ciri wujud manusia yang tidak memiliki hidung  dan dibukungnya ada ekor.

&amp;ldquo;Pagelaran berakhir pada pukul pagi menjelang Subuh, namun rombongan  ronggeng gunung tidak dibayar oleh yang mengundang,&amp;rdquo; papar Aceng.

Rombongan ronggeng gunung tersebut diantar pulang oleh tiga remaja,  dipertengahan perjalanan ke tiga remaja berjanji akan memberikan bayaran  dengan syarat selama perjalanan rombongan ronggeng gunung tidak  diperbolehkan menengok ke belakang.

&amp;ldquo;Setelah sampai di daerah Gontelang Desa Panyutran Kecamatan  Padaherang, rombongan ronggeng gunung sadar kalau mereka sudah sampai di  wilayah kerajaan Tatar Galuh, namun ketiga remaja setelah memberikan  sejumlah uang langsung menghilang,&amp;rdquo; jelas Aceng.

Saat rombongan ronggeng gunung menghitung uang yang diberikan oleh ke  tiga remaja, uang tersebut mendadak berubah menjadi daun, Indung Beunti  pun seketika kesal dan kecewa hingga melepaskan seluruh peralatan  pentas dari mulai alat musik dan kostum ronggeng dan menguburnya di  tempat tersebut.

&amp;ldquo;Setelah seluruh peralatan dikubur Indung Beunti bersumpah anak cucu  dan keturunannya jangan ada yang menjadi penari ronggeng gunung,&amp;rdquo; jelas  Aceng.

Setelah kejadian tersebut, ronggeng gunung mengalami krisis  regenerasi dan akhirnya muncul generasi yang datang dari luar keturunan  Indung Beunti yaitu Ki Maja Kabun.

&amp;ldquo;Singkat ceritra Ki Maja Kabun mengajarkan gerakan tari ronggeng  gunung kepada dua penari perempuan diantaranya Indung Raspi yang  sekarang berdomisili di Banjarsari dan Bi Penyoh yang saat ini menjadi  dukun bayi,&amp;rdquo; pungkas Aceng.</description><content:encoded>PANGANDARAN &amp;ndash; Kesenian tarian ronggeng gunung selain disukai oleh masyarakat juga disukai oleh lodaya atau maung siliwangi, hal tersebut berdasarkan sejarah yang dialami oleh salah satu pelaku ronggeng gunung di tahun 1930.

Salah satu budayawan Pangandaran Aceng Hasyim mengatakan, kesenian ronggeng gunung pernah mengalami krisis regenerasi, hal tersebut terjadi lantaran sumpah salah satu penari ronggeng gunung bernama Indung Beunti yang berikrar agar anak cucu dan keturunannya jangan sampai ada yang menjadi penari ronggeng gunung.

&amp;ldquo;Adegan tarian ronggeng gunung memiliki aturan pementasan atau pakem, salahsatunya jangan menghibur atau melakukan pagelaran di luar daerah kerajaan Tatar Galuh,&amp;rdquo; kata Aceng.

Namun salah satu rombongan ronggeng gunung yang dipimpin oleh Indung Beunti asal daerah Ciparakan Desa Tunggilis Kecamatan Padaherang pernah diundang oleh lodaya atau maung siliwangi di salah satu daerah yang masuk ke wilayah kerajaan Sukapura tepatnya di daerah Desa Kawasen Kecamatan Banjarsari dengan iming-iming akan disediakan sesajen kepala kebo sebanyak tiga ekor kerbau.

&amp;ldquo;Pada pementasan yang digelar sejak pagi dan siang hingga sore penonton dan yang ikut melakukan tarian ronggeng gunung berwujud manusia,&amp;rdquo; tambahnya.

Tetapi pada malamnya penonton dan yang ikut menari adalah lodaya atau  maung siliwangi dengan ciri wujud manusia yang tidak memiliki hidung  dan dibukungnya ada ekor.

&amp;ldquo;Pagelaran berakhir pada pukul pagi menjelang Subuh, namun rombongan  ronggeng gunung tidak dibayar oleh yang mengundang,&amp;rdquo; papar Aceng.

Rombongan ronggeng gunung tersebut diantar pulang oleh tiga remaja,  dipertengahan perjalanan ke tiga remaja berjanji akan memberikan bayaran  dengan syarat selama perjalanan rombongan ronggeng gunung tidak  diperbolehkan menengok ke belakang.

&amp;ldquo;Setelah sampai di daerah Gontelang Desa Panyutran Kecamatan  Padaherang, rombongan ronggeng gunung sadar kalau mereka sudah sampai di  wilayah kerajaan Tatar Galuh, namun ketiga remaja setelah memberikan  sejumlah uang langsung menghilang,&amp;rdquo; jelas Aceng.

Saat rombongan ronggeng gunung menghitung uang yang diberikan oleh ke  tiga remaja, uang tersebut mendadak berubah menjadi daun, Indung Beunti  pun seketika kesal dan kecewa hingga melepaskan seluruh peralatan  pentas dari mulai alat musik dan kostum ronggeng dan menguburnya di  tempat tersebut.

&amp;ldquo;Setelah seluruh peralatan dikubur Indung Beunti bersumpah anak cucu  dan keturunannya jangan ada yang menjadi penari ronggeng gunung,&amp;rdquo; jelas  Aceng.

Setelah kejadian tersebut, ronggeng gunung mengalami krisis  regenerasi dan akhirnya muncul generasi yang datang dari luar keturunan  Indung Beunti yaitu Ki Maja Kabun.

&amp;ldquo;Singkat ceritra Ki Maja Kabun mengajarkan gerakan tari ronggeng  gunung kepada dua penari perempuan diantaranya Indung Raspi yang  sekarang berdomisili di Banjarsari dan Bi Penyoh yang saat ini menjadi  dukun bayi,&amp;rdquo; pungkas Aceng.</content:encoded></item></channel></rss>
