<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Murtini Bertekad Jadi Tunanetra Pertama yang Keliling Indonesia</title><description>Ia bertujuan untuk memecahkan rekor Muri dengan kategori tunanetra yang keliling Indonesia.</description><link>https://news.okezone.com/read/2016/07/22/519/1444016/murtini-bertekad-jadi-tunanetra-pertama-yang-keliling-indonesia</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2016/07/22/519/1444016/murtini-bertekad-jadi-tunanetra-pertama-yang-keliling-indonesia"/><item><title>Murtini Bertekad Jadi Tunanetra Pertama yang Keliling Indonesia</title><link>https://news.okezone.com/read/2016/07/22/519/1444016/murtini-bertekad-jadi-tunanetra-pertama-yang-keliling-indonesia</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2016/07/22/519/1444016/murtini-bertekad-jadi-tunanetra-pertama-yang-keliling-indonesia</guid><pubDate>Jum'at 22 Juli 2016 09:23 WIB</pubDate><dc:creator>Agregasi Madiun Pos</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2016/07/22/519/1444016/murtini-bertekad-jadi-tunantera-pertama-yang-keliling-indonesia-dWXBmrJyjp.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Murtini (Madiun Pos)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2016/07/22/519/1444016/murtini-bertekad-jadi-tunantera-pertama-yang-keliling-indonesia-dWXBmrJyjp.jpg</image><title>Murtini (Madiun Pos)</title></images><description>PACITAN &amp;ndash; Memiliki keterbatasan fisik, bukan menjadi suatu alasan untuk tidak berprestasi. Memiliki keterbatasan fisik, justru terkadang menjadi semangat seseornag untuk melampaui mereka yang dianggap normal.
Salah satunya seperti yang dilakukan oleh Murtini, wanita penyandang tunanetra ini memiliki tekad dan keinginan kuat untuk menaklukkan seluruh wilayah Indonesia. Sejak 2007, Murtini memutuskan untuk keluar rumah dan berkeliling ke seluruh kota/kabupaten se-Indonesia.
Mantan dosen Universitas Riau yang bergelar magister itu menceritakan, awal mula memutuskan untuk berkeliling Indonesia bertujuan untuk memecahkan rekor Muri dengan kategori tunanetra yang keliling Indonesia.
Selain mewujudkan ambisi, Murtini mengaku, perjalanannya juga bertujuan untuk mengetahui pelayanan di kantor-kantor pemerintah terhadap kaum difabel. Setiap kali datang ke kabupaten/kota, Murtini selalu mendatangi kantor pemerintahan, bertemu dengan bupati/wali kota, Polres, hingga TNI.
Saat bertandang ke kantor pemerintahan, Murtini selalu meminta kepada pejabat terkait untuk membuatkan surat keterangan dirinya sudah berkunjung ke lokasi tersebut. Surat keterangan ini menjadi bukti yang kelak akan diberikan kepada pemerintah pusat.
Bagi penyandang tunanetra seperti Murtini, berkeliling ke seluruh wilayah Indonesia bukan persoalan gampang. Dia harus membulatkan niat dan meminta persetujuan serta dukungan dari keluarganya.
Sebagai seorang tunanetra, perjalanan keliling Indonesia juga menjadi persoalan tersendiri. Tetapi, dia mengakui selama ini tidak begitu mendapat masalah dalam menyelesaikan misinya tersebut.
&amp;ldquo;Saya dulu seorang dosen Pendidikan Kewarganegaraan di Universitas Riau, setelah saya mengalami kebutaan, saya berhenti mengajar. Saya mendapat gelar doktor di Belanda,&amp;rdquo; kata warga Kelurahan Pinang, Kota Tangerang, Jawa Barat ini, seperti dikutip dari Madiun Pos, Jumat (22/7/2016).Ibu empat anak ini mengatakan, dalam perjalanannya keliling  Indonesia, dia menggunakan uang pribadi sebanyak Rp200 juta. Uang itu  merupakan uang tabungannya saat masih produktif dan pemberian  anak-anaknya.
Dalam kunjungannya dari satu provinsi ke provinsi lain, biasanya dia  menggunakan moda transportasi pesawat terbang. Setelah itu, untuk  transportasi ke kabupaten/kota, biasanya menggunakan bus atau diantar  menggunakan mobil pemerintah.
&amp;ldquo;Selama keliling Indonesia, saya menggunakan uang pribadi, dan saat  ini masih tersisa Rp30 juta, ini untuk menyelesaikan misi saya,&amp;rdquo;  ujarnya.
Murtini mengaku, proses perjalanan keliling Indonesia dilakukan  bertahap. Dalam satu bulan, biasanya ia habiskan selama 20 hari untuk  berkeliling dan 10 hari untuk beristirahat di rumah. Jadi, dalam 20 hari  itu, biasanya digunakan untuk berkeliling ke empat hingga enam  kota/kabupaten.
&amp;ldquo;Saya biasanya dijemput anak kalau sudah saatnya pulang dan  beristirahat. Itu sudah menjadi kesepakatan, selain itu juga untuk  kesehatan saya,&amp;rdquo; jelas dia.
Dalam perjalanannya keliling Indonenisa, biasanya Murtini hanya  membawa dua stel pakaian dan sejumlah dokumen. Hal ini supaya  perbekalannya tidak terlalu memberatkan dirinya dalam perjalanan.
Sejauh ini, Murtini sudah berkunjung 289 kota/kabupaten se-Indonesia.  Dia pun mengaku sanggup untuk menunjukkan bukti perjalanannya itu  dengan berbagai surat keterangan yang diminta dari pemerintah yang  pernah ia kunjungi.</description><content:encoded>PACITAN &amp;ndash; Memiliki keterbatasan fisik, bukan menjadi suatu alasan untuk tidak berprestasi. Memiliki keterbatasan fisik, justru terkadang menjadi semangat seseornag untuk melampaui mereka yang dianggap normal.
Salah satunya seperti yang dilakukan oleh Murtini, wanita penyandang tunanetra ini memiliki tekad dan keinginan kuat untuk menaklukkan seluruh wilayah Indonesia. Sejak 2007, Murtini memutuskan untuk keluar rumah dan berkeliling ke seluruh kota/kabupaten se-Indonesia.
Mantan dosen Universitas Riau yang bergelar magister itu menceritakan, awal mula memutuskan untuk berkeliling Indonesia bertujuan untuk memecahkan rekor Muri dengan kategori tunanetra yang keliling Indonesia.
Selain mewujudkan ambisi, Murtini mengaku, perjalanannya juga bertujuan untuk mengetahui pelayanan di kantor-kantor pemerintah terhadap kaum difabel. Setiap kali datang ke kabupaten/kota, Murtini selalu mendatangi kantor pemerintahan, bertemu dengan bupati/wali kota, Polres, hingga TNI.
Saat bertandang ke kantor pemerintahan, Murtini selalu meminta kepada pejabat terkait untuk membuatkan surat keterangan dirinya sudah berkunjung ke lokasi tersebut. Surat keterangan ini menjadi bukti yang kelak akan diberikan kepada pemerintah pusat.
Bagi penyandang tunanetra seperti Murtini, berkeliling ke seluruh wilayah Indonesia bukan persoalan gampang. Dia harus membulatkan niat dan meminta persetujuan serta dukungan dari keluarganya.
Sebagai seorang tunanetra, perjalanan keliling Indonesia juga menjadi persoalan tersendiri. Tetapi, dia mengakui selama ini tidak begitu mendapat masalah dalam menyelesaikan misinya tersebut.
&amp;ldquo;Saya dulu seorang dosen Pendidikan Kewarganegaraan di Universitas Riau, setelah saya mengalami kebutaan, saya berhenti mengajar. Saya mendapat gelar doktor di Belanda,&amp;rdquo; kata warga Kelurahan Pinang, Kota Tangerang, Jawa Barat ini, seperti dikutip dari Madiun Pos, Jumat (22/7/2016).Ibu empat anak ini mengatakan, dalam perjalanannya keliling  Indonesia, dia menggunakan uang pribadi sebanyak Rp200 juta. Uang itu  merupakan uang tabungannya saat masih produktif dan pemberian  anak-anaknya.
Dalam kunjungannya dari satu provinsi ke provinsi lain, biasanya dia  menggunakan moda transportasi pesawat terbang. Setelah itu, untuk  transportasi ke kabupaten/kota, biasanya menggunakan bus atau diantar  menggunakan mobil pemerintah.
&amp;ldquo;Selama keliling Indonesia, saya menggunakan uang pribadi, dan saat  ini masih tersisa Rp30 juta, ini untuk menyelesaikan misi saya,&amp;rdquo;  ujarnya.
Murtini mengaku, proses perjalanan keliling Indonesia dilakukan  bertahap. Dalam satu bulan, biasanya ia habiskan selama 20 hari untuk  berkeliling dan 10 hari untuk beristirahat di rumah. Jadi, dalam 20 hari  itu, biasanya digunakan untuk berkeliling ke empat hingga enam  kota/kabupaten.
&amp;ldquo;Saya biasanya dijemput anak kalau sudah saatnya pulang dan  beristirahat. Itu sudah menjadi kesepakatan, selain itu juga untuk  kesehatan saya,&amp;rdquo; jelas dia.
Dalam perjalanannya keliling Indonenisa, biasanya Murtini hanya  membawa dua stel pakaian dan sejumlah dokumen. Hal ini supaya  perbekalannya tidak terlalu memberatkan dirinya dalam perjalanan.
Sejauh ini, Murtini sudah berkunjung 289 kota/kabupaten se-Indonesia.  Dia pun mengaku sanggup untuk menunjukkan bukti perjalanannya itu  dengan berbagai surat keterangan yang diminta dari pemerintah yang  pernah ia kunjungi.</content:encoded></item></channel></rss>
