<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Selain Tanjung Balai, Medan Juga Rawan Konflik Sosial</title><description>Kota Medan dianggap sebagai daerah yang paling rawan terjadinya konflik sosial di Sumatera Utara.</description><link>https://news.okezone.com/read/2016/08/01/340/1452453/selain-tanjung-balai-medan-juga-rawan-konflik-sosial</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2016/08/01/340/1452453/selain-tanjung-balai-medan-juga-rawan-konflik-sosial"/><item><title>Selain Tanjung Balai, Medan Juga Rawan Konflik Sosial</title><link>https://news.okezone.com/read/2016/08/01/340/1452453/selain-tanjung-balai-medan-juga-rawan-konflik-sosial</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2016/08/01/340/1452453/selain-tanjung-balai-medan-juga-rawan-konflik-sosial</guid><pubDate>Senin 01 Agustus 2016 23:48 WIB</pubDate><dc:creator>Wahyudi Aulia Siregar</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2016/08/01/340/1452453/selain-tanjung-balai-medan-juga-rawan-konflik-sosial-OAmGryy3oi.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Kerusuhan (Foto: Ilustrasi)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2016/08/01/340/1452453/selain-tanjung-balai-medan-juga-rawan-konflik-sosial-OAmGryy3oi.jpg</image><title>Kerusuhan (Foto: Ilustrasi)</title></images><description>


MEDAN - Kota Medan dianggap sebagai daerah yang paling rawan terjadinya konflik sosial di Sumatera Utara. Bahkan, dianggap memiliki hampir seluruh variabel yang memicu pecahnya kerusuhan berbau SARA di Kota Tanjung Balai, Sumatera Utara pada Jumat 29 Juli 2016.

Hal tersebut disampaikan Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Utara, Abdul Hakim Siagian di Medan, Senin (1/8/2016).

Menurut Abdul Hakim, kesenjangan ekonomi antara masyarakat pribumi dengan etnis pendatang khususnya etnis Tionghoa di Medan mulai terasa begitu kontras. Selain itu, sulitnya mendapat pekerjaan serta terjadinya degradasi moral di kalangan warga kota akibat peredaran narkoba, mampu meledakkan kecemburuan yang kini sudah terjadi di masyarakat.
(Baca: Tersangka Kasus Kerusuhan Tanjung Balai Bertambah Lima Orang)
&quot;Dari survei dan penelitian yang kami lakukan, Medan memiliki potensi yang cukup besar. Ini harus segera diantisipasi,&quot; ujar Abdul Hakim.

Abdul menegaskan, untuk mengantisipasi meledaknya konflik sosial tersebut, perlu dilakuan upaya-upaya komprehensif sesuai amanat Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2012 tentang Konflik Sosial.

&quot;Upaya antisipasi ini penting. Jangan kita hanya menggunakan pendekatan peradilan pidana saja. Akar masalah yang memungkinkan pecahnya konflik harus ikut ditangani secara menyeluruh,&quot; tukasnya.

Menanggapi pandangan tersebut, Wakil Wali Kota Medan, Akhyar Nasution meyakini konflik sosial seperti yang terjadi di Tanjung Balai tak akan terjadi di Medan. Menurutnya, warga Kota Medan sudah cukup cerdas memaknai perbedaan dan siap melawan setiap upaya pecah belah yang dilakukan pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab.

&quot;Insya Allah, ini Kota Medan dan Kota ini rumah kita bersama. Jangan mencoba membawa konflik sosial tersebut ke Medan, karena kita akan lawan bersama-sama. Tidak laku di Medan hal yang seperti itu (konflik). Kami Haqqul Yakin dengan warga Kota Medan, kalau hal tersebut tidak akan terjadi,&quot; tandasnya.

</description><content:encoded>


MEDAN - Kota Medan dianggap sebagai daerah yang paling rawan terjadinya konflik sosial di Sumatera Utara. Bahkan, dianggap memiliki hampir seluruh variabel yang memicu pecahnya kerusuhan berbau SARA di Kota Tanjung Balai, Sumatera Utara pada Jumat 29 Juli 2016.

Hal tersebut disampaikan Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Utara, Abdul Hakim Siagian di Medan, Senin (1/8/2016).

Menurut Abdul Hakim, kesenjangan ekonomi antara masyarakat pribumi dengan etnis pendatang khususnya etnis Tionghoa di Medan mulai terasa begitu kontras. Selain itu, sulitnya mendapat pekerjaan serta terjadinya degradasi moral di kalangan warga kota akibat peredaran narkoba, mampu meledakkan kecemburuan yang kini sudah terjadi di masyarakat.
(Baca: Tersangka Kasus Kerusuhan Tanjung Balai Bertambah Lima Orang)
&quot;Dari survei dan penelitian yang kami lakukan, Medan memiliki potensi yang cukup besar. Ini harus segera diantisipasi,&quot; ujar Abdul Hakim.

Abdul menegaskan, untuk mengantisipasi meledaknya konflik sosial tersebut, perlu dilakuan upaya-upaya komprehensif sesuai amanat Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2012 tentang Konflik Sosial.

&quot;Upaya antisipasi ini penting. Jangan kita hanya menggunakan pendekatan peradilan pidana saja. Akar masalah yang memungkinkan pecahnya konflik harus ikut ditangani secara menyeluruh,&quot; tukasnya.

Menanggapi pandangan tersebut, Wakil Wali Kota Medan, Akhyar Nasution meyakini konflik sosial seperti yang terjadi di Tanjung Balai tak akan terjadi di Medan. Menurutnya, warga Kota Medan sudah cukup cerdas memaknai perbedaan dan siap melawan setiap upaya pecah belah yang dilakukan pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab.

&quot;Insya Allah, ini Kota Medan dan Kota ini rumah kita bersama. Jangan mencoba membawa konflik sosial tersebut ke Medan, karena kita akan lawan bersama-sama. Tidak laku di Medan hal yang seperti itu (konflik). Kami Haqqul Yakin dengan warga Kota Medan, kalau hal tersebut tidak akan terjadi,&quot; tandasnya.

</content:encoded></item></channel></rss>
