<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Aksara Jawa yang Kini Tertelan Zaman</title><description>Perkembangan zaman membuat aksara jawa tak lagi dimengerti oleh generasi saat ini.</description><link>https://news.okezone.com/read/2016/09/09/510/1485245/aksara-jawa-yang-kini-tertelan-zaman</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2016/09/09/510/1485245/aksara-jawa-yang-kini-tertelan-zaman"/><item><title>Aksara Jawa yang Kini Tertelan Zaman</title><link>https://news.okezone.com/read/2016/09/09/510/1485245/aksara-jawa-yang-kini-tertelan-zaman</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2016/09/09/510/1485245/aksara-jawa-yang-kini-tertelan-zaman</guid><pubDate>Jum'at 09 September 2016 06:11 WIB</pubDate><dc:creator>Prabowo</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2016/09/09/510/1485245/aksara-jawa-yang-kini-tertelan-zaman-ZbwfdRTFcD.jpg" expression="full" type="image/jpeg"></media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2016/09/09/510/1485245/aksara-jawa-yang-kini-tertelan-zaman-ZbwfdRTFcD.jpg</image><title></title></images><description>YOGYAKARTA - Diakui atau tidak, generasi muda saat ini banyak yang tidak mengenal aksara jawa. Mereka mengetahui keberadaan aksara jawa, tapi tidak bisa memahami ataupun membaca aksara jawa tersebut.
Lunturnya pemahaman aksara jawa ini membuat banyak pihak khawatir. Tidak menutup kemungkinan aksara jawa tinggal sejarah karena tidak diterapkan dalam kehidupan sosial masyarakat.
&quot;Bahasa Jawa kurang populer, banyak masyarakat tidak percaya diri dengan bahasa daerah sendiri,&quot; kata Charis Zubair, akademisi Fakultas Filsafat UGM dalam dialog publik hari aksara internasional di Aula Dinas Pariwisata DIY, Kamis (8/9/2016).
Dialog bertema &quot;Urgensi Gerakan Literasi Aksara Jawa di Masa Kini dan Masa Depan&quot; itu dihadiri kalangan akademisi, perwakilan Dinas Kebudayaan, hingga kalangan legislator DPRD DIY.
Dalam kesempatan itu, pemangku kebijakan dan kalangan akademisi satu suara untuk menyelamatkan aksara jawa supaya tidak punah. Mereka sepakat agar aksara jawa ini kembali diminati masyarakat dan generasi muda.
&quot;Saya kira perlu gerakan dinamis yang harus didukung eksekutif dan legislatif. Perlu langkah konkret sosialisasi Bahasa Jawa jadi gerakan dinamis dan tidak statis,&quot; tandasnya.
Dia juga menyampaikan lemahnya penggunaan dialeg jawa dalam  masyarakat. Sebagai contoh panggilan 'Simbok' yang hilang berganti  dengan mama ataupun bunda. Ironisnya, tak sedikit kantor-kantor maupun  tempat-tempat umum terkadang salah dalam penulisan aksara jawa.
&quot;Perlu membangun kesadaran dari rendah diri ke arah percaya diri,  lalu bangun dari kehilangan jati diri. Menyusun konsep landasan sistemik  bagi gerakan bisa melalui pendidikan,&quot; urainya.Upaya yang disarankan itu tidak bisa berjalan maksimal tanpa dukungan kebijakan Pemda DIY. Misal, melalui peraturan perundangan yang wajib dilakukan instansi pendidikan, kebudayaan, maupun instansi lainnya.
Kabid Sejarah Purbakala dan Museum Dinas Kebudayaan DIY, Erlina Hidayati mengungkapkan perlunya mendokumentasikan perjalanan sejarah aksara Jawa. Mulai perkembangan aksara Jawa dari masa ke masa. Hal itu sebagai gerakan awal untuk kembali memasyarakatkan bahasa Jawa.
&quot;Kita perlu memahamkan sejarahnya lebih dahulu. Sehingga dari sisi kebudayaan ini dinamis tidak statis, memang tidak mesti semua murni,&quot; ungkap dia
Wakil Ketua DPRD DIY, Arief Noor Hartanto mengaku sering mendapat keluhan dari guru bahasa jawa mengenai lunturnya bahasa daerah. Terkait kebijakan politik, pihaknya akan merespon dengan membuat produk hukum terkait bahasa dan aksara Jawa ini.
&quot;Mungkin nanti bisa diformulasikan dengan Perdais Kebudayaan karena di dalamnya banyak item dan ini bisa dimasukkan,&quot; katanya.</description><content:encoded>YOGYAKARTA - Diakui atau tidak, generasi muda saat ini banyak yang tidak mengenal aksara jawa. Mereka mengetahui keberadaan aksara jawa, tapi tidak bisa memahami ataupun membaca aksara jawa tersebut.
Lunturnya pemahaman aksara jawa ini membuat banyak pihak khawatir. Tidak menutup kemungkinan aksara jawa tinggal sejarah karena tidak diterapkan dalam kehidupan sosial masyarakat.
&quot;Bahasa Jawa kurang populer, banyak masyarakat tidak percaya diri dengan bahasa daerah sendiri,&quot; kata Charis Zubair, akademisi Fakultas Filsafat UGM dalam dialog publik hari aksara internasional di Aula Dinas Pariwisata DIY, Kamis (8/9/2016).
Dialog bertema &quot;Urgensi Gerakan Literasi Aksara Jawa di Masa Kini dan Masa Depan&quot; itu dihadiri kalangan akademisi, perwakilan Dinas Kebudayaan, hingga kalangan legislator DPRD DIY.
Dalam kesempatan itu, pemangku kebijakan dan kalangan akademisi satu suara untuk menyelamatkan aksara jawa supaya tidak punah. Mereka sepakat agar aksara jawa ini kembali diminati masyarakat dan generasi muda.
&quot;Saya kira perlu gerakan dinamis yang harus didukung eksekutif dan legislatif. Perlu langkah konkret sosialisasi Bahasa Jawa jadi gerakan dinamis dan tidak statis,&quot; tandasnya.
Dia juga menyampaikan lemahnya penggunaan dialeg jawa dalam  masyarakat. Sebagai contoh panggilan 'Simbok' yang hilang berganti  dengan mama ataupun bunda. Ironisnya, tak sedikit kantor-kantor maupun  tempat-tempat umum terkadang salah dalam penulisan aksara jawa.
&quot;Perlu membangun kesadaran dari rendah diri ke arah percaya diri,  lalu bangun dari kehilangan jati diri. Menyusun konsep landasan sistemik  bagi gerakan bisa melalui pendidikan,&quot; urainya.Upaya yang disarankan itu tidak bisa berjalan maksimal tanpa dukungan kebijakan Pemda DIY. Misal, melalui peraturan perundangan yang wajib dilakukan instansi pendidikan, kebudayaan, maupun instansi lainnya.
Kabid Sejarah Purbakala dan Museum Dinas Kebudayaan DIY, Erlina Hidayati mengungkapkan perlunya mendokumentasikan perjalanan sejarah aksara Jawa. Mulai perkembangan aksara Jawa dari masa ke masa. Hal itu sebagai gerakan awal untuk kembali memasyarakatkan bahasa Jawa.
&quot;Kita perlu memahamkan sejarahnya lebih dahulu. Sehingga dari sisi kebudayaan ini dinamis tidak statis, memang tidak mesti semua murni,&quot; ungkap dia
Wakil Ketua DPRD DIY, Arief Noor Hartanto mengaku sering mendapat keluhan dari guru bahasa jawa mengenai lunturnya bahasa daerah. Terkait kebijakan politik, pihaknya akan merespon dengan membuat produk hukum terkait bahasa dan aksara Jawa ini.
&quot;Mungkin nanti bisa diformulasikan dengan Perdais Kebudayaan karena di dalamnya banyak item dan ini bisa dimasukkan,&quot; katanya.</content:encoded></item></channel></rss>
