<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Mengenal Sistem Pengamanan Terbuka Turki</title><description>Terletak di daerah rawan konflik, Turki menerapkan sistem pengamanan terbuka untuk menjaga stabilitas keamanannya.</description><link>https://news.okezone.com/read/2016/09/11/18/1486795/mengenal-sistem-pengamanan-terbuka-turki</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2016/09/11/18/1486795/mengenal-sistem-pengamanan-terbuka-turki"/><item><title>Mengenal Sistem Pengamanan Terbuka Turki</title><link>https://news.okezone.com/read/2016/09/11/18/1486795/mengenal-sistem-pengamanan-terbuka-turki</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2016/09/11/18/1486795/mengenal-sistem-pengamanan-terbuka-turki</guid><pubDate>Minggu 11 September 2016 06:02 WIB</pubDate><dc:creator>Silviana Dharma</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2016/09/11/18/1486795/mengenal-sistem-pengamanan-terbuka-turki-wMVwjsu8KS.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Petugas polisi Turki. (Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2016/09/11/18/1486795/mengenal-sistem-pengamanan-terbuka-turki-wMVwjsu8KS.jpg</image><title>Petugas polisi Turki. (Foto: Reuters)</title></images><description>JAKARTA - Telefon seluler adalah barang murah di Indonesia. Konter-konter pulsa menjamur dan setiap konsumen bebas memiliki berapa pun nomor telefon yang diinginkannya. Namun berbeda cerita jika kita tinggal di Turki.
Rupa-rupanya, di negara Republik Parlementer ini, warganya hanya dizinkan memiliki satu nomor telefon saja. Itu pun harus terdaftar dengan data yang valid. Sangat mustahil untuk bisa memiliki lebih dari satu nomor Turki, mengingat tentunya setiap orang hanya punya satu identitas diri.
&quot;Kalau di sini kan gampang sekali punya nomor HP, tinggal ke konter depan itu beli kartu. Daftar pakai nama asal saja sudah bisa aktifin. Kalau di Turki enggak bisa. Satu orang cuma bisa satu (sim card),&quot; terang Azwir Nazar, mahasiswa S-3 Ilmu Komunikasi Sosial di Universitas Hacettepe, Ankara dalam wawancara khusus dengan Okezone, Sabtu (10/9/2016).
Dengan penerapan sistem semacam ini, pemerintah bermaksud memudahkan akses spionase. Mungkin terdengar seperti tidak menghargai privasi, tetapi konsep penyadapan informasi dalam benak pemerintah Turki di sini berbeda.
Seperti banyak diberitakan, letak Turki yang dikelilingi negara Timur Tengah yang rawan konflik membuat negara Eurasia ini harus pandai-pandai menjaga stabilitas keamanan wilayahnya, baik di dalam maupun di luar negeri. Bagi Turki yang pernah menjadi suatu negara terbesar di dunia, Utsmaniyah Ottoman, posisinya sangat rawan diterpa pemberontakan sana sini. Sebut saja adanya etnis Kurdi yang tak pernah berhenti mengangkat senjata dan menjadi oposisi. Belum terhitung perpecahan politik ekstrem di dalam negerinya, yang bukan mustahil mendorong para pengikutnya terlibat kontak senjata.
Berdasarkan situasi inilah, pemerintah Turki merasa perlu untuk menjaga stabilitas keamanan wilayahnya dengan sistem keamanan yang disebut Azwir sebagai sistem pengamanan terbuka. Kebijakan ini memungkinkan otoritas setempat mengawasi segala gerak-gerik masyarakatnya.&amp;nbsp;
&quot;Pokoknya semua pergerakan kita di sana itu ketahuan sama pemerintah. Makanya penjahat di sana, itu cepat sekali ketangkapnya. Dan di sana kalau mau tangkap orang enggak bisa sembarangan, harus ada bukti tindakan dulu,&quot; ucapnya.
Ketika pemerintah menemukan aktivitas mencurigakan, mereka pun bergerak cepat memutus sambungan nomor yang terdaftar itu. Hal inilah yang kini dialami mahasiswa program doktoral di Turki yang sedang menikmati masa libur perkuliahan itu.
&quot;Saya belakangan ini banyak koar-koar soal Turki lewat telefon seluler, mungkin info saya dianggap terlalu macam-macam. Jadi nomor Turki saya ini rusak, sepertinya kena pembersihan gitu dari sananya. Semua kehapus data saya, jadi harus aktifkan lagi ini nanti kalau saya ke Turki lagi,&quot; curhatnya.
Kisah lain tentang pengamanan terbuka di Turki disaksikan pria kelahiran Aceh 4 Januari 1983 itu saat bom-bom meledakkan kantor polisi di sejumlah kawasan metropolitan Turki. Kinerja aparat di sana yang bergerak cepat menangani ancaman tak pelak membuatnya berdecak kagum. Tidak heran jika korban yang berjatuhan pun sedikit dan aktivitas warga tidak terhambat lama.
&quot;Saya itu salut sama aparat di sana. Kerjanya cepat. Di sana kan kita tahu sering ada bom-bom yang dilancarkan militan Kurdi. Tapi aparat di sana itu sigap. Jalanan yang tadinya berantakan, sebentar saja bisa mereka bereskan. Rapi sekali, sampai kalau dilihat kesannya tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Jadi warga juga bisa beraktivitas lagi seperti biasa,&quot; ungkapnya.

Hal senada juga diutarakan teman satu kampung halaman Azwir di Nangroe Aceh Darussalam. Zainal Mutaqin, mahasiwa S-2 Hubungan Internasional di Univeristas Indonesia itu nimbrung dan berbagi pengalamannya soal situasi dalam negeri Turki. Penuturannya didasarkan pada pengalaman dia saat menempuh pendidikan S-1 di perguruan tinggi Ibu Kota Turki.
&quot;Kami di sana itu dekat sekali lagi denga polisi dan militer. Mereka kalau tidak ada operasi itu sama seperti rakyat biasa, ketawa ketiwi di warung pinggir jalan. Beda dengan di Jakarta aja kan kita takut kalau lihat ada polisi ramai-ramai. Pikiran sudah, wah..ada apa ini, ada kejadian apa? Tapi kalau di sana jadi pemandangan biasa. Cuma ya itu, mereka jadi tahu segala sesuatu tentang masyarakat setempat,&quot; ujarnya.&amp;nbsp;
Di samping pergerakan sehari-hari masyarakatnya, arus keluar masuk di perbatasan juga tak luput dari pantauan pemerintah Turki. &quot;Oh iya, jelas. Kriminal ecek-ecek saja ketangkap, apalagi yang di perbatasan. Mereka sebenarnya tahu semua. Ada datanya,&quot; tukas Azwir.
Penerima beasiswa YTB (program dari pemerintah Turki) itu menjelaskan, untuk masuk ke Turki sangatlah mudah. Kalau mau keluar juga begitu. Meskipun sangat disayangkan karena banyak yang transit ke negara ini untuk menyeberang ke Suriah, pemerintah setempat seolah tak mau ambil pusing.
&quot;Ya, kalau mau menyeberang, itu kan urusan mereka. Tidak ada ruginya untuk Turki. Tapi sekali mereka ketahuan pernah pergi ke Suriah, tidak ada jalan kembali masuk ke Turki,&quot; terangnya.

</description><content:encoded>JAKARTA - Telefon seluler adalah barang murah di Indonesia. Konter-konter pulsa menjamur dan setiap konsumen bebas memiliki berapa pun nomor telefon yang diinginkannya. Namun berbeda cerita jika kita tinggal di Turki.
Rupa-rupanya, di negara Republik Parlementer ini, warganya hanya dizinkan memiliki satu nomor telefon saja. Itu pun harus terdaftar dengan data yang valid. Sangat mustahil untuk bisa memiliki lebih dari satu nomor Turki, mengingat tentunya setiap orang hanya punya satu identitas diri.
&quot;Kalau di sini kan gampang sekali punya nomor HP, tinggal ke konter depan itu beli kartu. Daftar pakai nama asal saja sudah bisa aktifin. Kalau di Turki enggak bisa. Satu orang cuma bisa satu (sim card),&quot; terang Azwir Nazar, mahasiswa S-3 Ilmu Komunikasi Sosial di Universitas Hacettepe, Ankara dalam wawancara khusus dengan Okezone, Sabtu (10/9/2016).
Dengan penerapan sistem semacam ini, pemerintah bermaksud memudahkan akses spionase. Mungkin terdengar seperti tidak menghargai privasi, tetapi konsep penyadapan informasi dalam benak pemerintah Turki di sini berbeda.
Seperti banyak diberitakan, letak Turki yang dikelilingi negara Timur Tengah yang rawan konflik membuat negara Eurasia ini harus pandai-pandai menjaga stabilitas keamanan wilayahnya, baik di dalam maupun di luar negeri. Bagi Turki yang pernah menjadi suatu negara terbesar di dunia, Utsmaniyah Ottoman, posisinya sangat rawan diterpa pemberontakan sana sini. Sebut saja adanya etnis Kurdi yang tak pernah berhenti mengangkat senjata dan menjadi oposisi. Belum terhitung perpecahan politik ekstrem di dalam negerinya, yang bukan mustahil mendorong para pengikutnya terlibat kontak senjata.
Berdasarkan situasi inilah, pemerintah Turki merasa perlu untuk menjaga stabilitas keamanan wilayahnya dengan sistem keamanan yang disebut Azwir sebagai sistem pengamanan terbuka. Kebijakan ini memungkinkan otoritas setempat mengawasi segala gerak-gerik masyarakatnya.&amp;nbsp;
&quot;Pokoknya semua pergerakan kita di sana itu ketahuan sama pemerintah. Makanya penjahat di sana, itu cepat sekali ketangkapnya. Dan di sana kalau mau tangkap orang enggak bisa sembarangan, harus ada bukti tindakan dulu,&quot; ucapnya.
Ketika pemerintah menemukan aktivitas mencurigakan, mereka pun bergerak cepat memutus sambungan nomor yang terdaftar itu. Hal inilah yang kini dialami mahasiswa program doktoral di Turki yang sedang menikmati masa libur perkuliahan itu.
&quot;Saya belakangan ini banyak koar-koar soal Turki lewat telefon seluler, mungkin info saya dianggap terlalu macam-macam. Jadi nomor Turki saya ini rusak, sepertinya kena pembersihan gitu dari sananya. Semua kehapus data saya, jadi harus aktifkan lagi ini nanti kalau saya ke Turki lagi,&quot; curhatnya.
Kisah lain tentang pengamanan terbuka di Turki disaksikan pria kelahiran Aceh 4 Januari 1983 itu saat bom-bom meledakkan kantor polisi di sejumlah kawasan metropolitan Turki. Kinerja aparat di sana yang bergerak cepat menangani ancaman tak pelak membuatnya berdecak kagum. Tidak heran jika korban yang berjatuhan pun sedikit dan aktivitas warga tidak terhambat lama.
&quot;Saya itu salut sama aparat di sana. Kerjanya cepat. Di sana kan kita tahu sering ada bom-bom yang dilancarkan militan Kurdi. Tapi aparat di sana itu sigap. Jalanan yang tadinya berantakan, sebentar saja bisa mereka bereskan. Rapi sekali, sampai kalau dilihat kesannya tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Jadi warga juga bisa beraktivitas lagi seperti biasa,&quot; ungkapnya.

Hal senada juga diutarakan teman satu kampung halaman Azwir di Nangroe Aceh Darussalam. Zainal Mutaqin, mahasiwa S-2 Hubungan Internasional di Univeristas Indonesia itu nimbrung dan berbagi pengalamannya soal situasi dalam negeri Turki. Penuturannya didasarkan pada pengalaman dia saat menempuh pendidikan S-1 di perguruan tinggi Ibu Kota Turki.
&quot;Kami di sana itu dekat sekali lagi denga polisi dan militer. Mereka kalau tidak ada operasi itu sama seperti rakyat biasa, ketawa ketiwi di warung pinggir jalan. Beda dengan di Jakarta aja kan kita takut kalau lihat ada polisi ramai-ramai. Pikiran sudah, wah..ada apa ini, ada kejadian apa? Tapi kalau di sana jadi pemandangan biasa. Cuma ya itu, mereka jadi tahu segala sesuatu tentang masyarakat setempat,&quot; ujarnya.&amp;nbsp;
Di samping pergerakan sehari-hari masyarakatnya, arus keluar masuk di perbatasan juga tak luput dari pantauan pemerintah Turki. &quot;Oh iya, jelas. Kriminal ecek-ecek saja ketangkap, apalagi yang di perbatasan. Mereka sebenarnya tahu semua. Ada datanya,&quot; tukas Azwir.
Penerima beasiswa YTB (program dari pemerintah Turki) itu menjelaskan, untuk masuk ke Turki sangatlah mudah. Kalau mau keluar juga begitu. Meskipun sangat disayangkan karena banyak yang transit ke negara ini untuk menyeberang ke Suriah, pemerintah setempat seolah tak mau ambil pusing.
&quot;Ya, kalau mau menyeberang, itu kan urusan mereka. Tidak ada ruginya untuk Turki. Tapi sekali mereka ketahuan pernah pergi ke Suriah, tidak ada jalan kembali masuk ke Turki,&quot; terangnya.

</content:encoded></item></channel></rss>
