<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Menengok Sejarah Kesultanan Kotawaringin di Kalimantan</title><description>Kerajaan ini bagian dari kepangeranan cabang Kesultanan Banjar.</description><link>https://news.okezone.com/read/2016/09/15/340/1490135/menengok-sejarah-kesultanan-kotawaringin-di-kalimantan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2016/09/15/340/1490135/menengok-sejarah-kesultanan-kotawaringin-di-kalimantan"/><item><title>Menengok Sejarah Kesultanan Kotawaringin di Kalimantan</title><link>https://news.okezone.com/read/2016/09/15/340/1490135/menengok-sejarah-kesultanan-kotawaringin-di-kalimantan</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2016/09/15/340/1490135/menengok-sejarah-kesultanan-kotawaringin-di-kalimantan</guid><pubDate>Kamis 15 September 2016 06:34 WIB</pubDate><dc:creator>Sigit Dzakwan</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2016/09/15/340/1490135/menengok-sejarah-kesultanan-kotawaringin-di-kalimantan-G4bMuJr0UQ.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Bangunan peninggalan sejarah Kerajaan Kotawaringin (Sigit/Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2016/09/15/340/1490135/menengok-sejarah-kesultanan-kotawaringin-di-kalimantan-G4bMuJr0UQ.jpg</image><title>Bangunan peninggalan sejarah Kerajaan Kotawaringin (Sigit/Okezone)</title></images><description>KOTAWARINGIN - Kerajaan Kotawaringin merupakan salah satu kerajaan Islam yang wilayah intinya sekarang yang menjadi Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah (Kalteng). Kerajaan ini bagian dari kepangeranan cabang Kesultanan Banjar.
Menurut catatan istana al-Nursari di Kotawaringin Lama (Kolam), kerajaan itu didirikan pada 1615 atau 1530 Masehi. Mulanya, Kotawaringin merupakan keadipatian yang dipimpin Dipati Ngganding.
Berdasarkan perjanjian kongsi dagang Belanda (VOC) dengan Kesultanan Banjar, Kotawaringin merupakan salah satu negara dependensi atau negara bagian di dalam &quot;negara Banjar Raya&quot;.
&quot;Kotawaringin secara langsung menjadi bagian dari Kesultanan Banjar, sehingga sultan-sultan Kotawaringin selalu memakai gelar pangeran jika mereka berada di Banjar. Tetapi di dalam lingkungan Kotawaringin sendiri, para pangeran (pangeran ratu) yang menjadi raja juga disebut dengan sultan,&quot; ujar Sultan Kutaringin XIV, Pangeran Ratu Alidin Sukma Alamsyah, di Istana Kuning Pangkalan Bun, Kamis (15/9/2016).
Sedangkan sebutan Pangkalan Bun yang kini jadi nama Ibu Kota Kotawaringin Barat berawal kisah Sultan Imanuddin melakukan perjalanan dari Kotawaringin Lama (Kolam) menuju Kumai bahkan sampai ke Banjarmasin.
Sering kali ia singgah di Pongkalan Buun (Pongkalan=tempat singgah), sementara Buun adalah nama orang dari suku Dayak, rumah milik Buun yang berada di muara sungai inilah yang sering disinggahi Sultan Imanudin.
&amp;nbsp;
Seiring berjalannya waktu dari bulan ke tahun mengingat Sultan sering melakukan perjalanan, maka Sultan mempunyai keinginan untuk membuat kampung.
&quot;Sultan sering hilir mudik, karena jauh muncul keinginan untuk membuat kampung. Dari situ lah sejarah nama Pangkalan Bun, Kotawaringin Barat,&quot; ujar Alidin.
Sejarah lainnya, tiang Sangga Benua yang ditancapkan oleh Sultan Kutaringin IX Pangeran Ratu Imanuddin sebagai simbol dipindahkannya ibu kota Kesultanan Kutaringin dari Kotawaringin Lama (Kolam) ke Pangkalan Bun pada 1811, akhirnya berkalang tanah setelah berdiri menjulang 204 tahun lamanya.
Pada masa pemindahan itu, Sultan Imannudin menyampaikan sebuah amanah yang berbunyi, &amp;ldquo;kudirikan Negeri Sukabumi Kutaringin baru Pangkalan Bu&amp;rsquo;un untuk anak-anakku, cucu-cucuku, keturunanku dan orang-orang yang mau berdiam di negeriku dalam pangkuan Kesultanan Kutaringin.&amp;rdquo;
Menurut Pangeran Ratu Alidin Sukma Alamsyah, tumbangnya simbol salah satu Kerajaan Islam di Kalimantan itu karena usia tua. Meski dikeramatkan oleh Kesultanan Kutaringin, Sultan Alidin mengimbau agar masyarakat tidak cemas akan pertanda-pertanda. &quot;Intinya, kita harus dekat dan banyak-banyak mengingat Allah SWT,&quot; cetusnya.
Mengenai perlakuan Tiang Sangga Benua yang patah menjadi empat bagian besar, Sultan Alidin telah memerintahkan kerabat kesultanan untuk memindahkan patahan-patahan Tiang Sangga Benua dari rumah Pangeran Muasjidinsjah ke dalam ruang Dalem Kuning keraton.
&quot;Supaya diperlakukan secara hati-hati dan jangan disimpan di sembarang tempat,&quot; pungkasnya.
&amp;nbsp;</description><content:encoded>KOTAWARINGIN - Kerajaan Kotawaringin merupakan salah satu kerajaan Islam yang wilayah intinya sekarang yang menjadi Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah (Kalteng). Kerajaan ini bagian dari kepangeranan cabang Kesultanan Banjar.
Menurut catatan istana al-Nursari di Kotawaringin Lama (Kolam), kerajaan itu didirikan pada 1615 atau 1530 Masehi. Mulanya, Kotawaringin merupakan keadipatian yang dipimpin Dipati Ngganding.
Berdasarkan perjanjian kongsi dagang Belanda (VOC) dengan Kesultanan Banjar, Kotawaringin merupakan salah satu negara dependensi atau negara bagian di dalam &quot;negara Banjar Raya&quot;.
&quot;Kotawaringin secara langsung menjadi bagian dari Kesultanan Banjar, sehingga sultan-sultan Kotawaringin selalu memakai gelar pangeran jika mereka berada di Banjar. Tetapi di dalam lingkungan Kotawaringin sendiri, para pangeran (pangeran ratu) yang menjadi raja juga disebut dengan sultan,&quot; ujar Sultan Kutaringin XIV, Pangeran Ratu Alidin Sukma Alamsyah, di Istana Kuning Pangkalan Bun, Kamis (15/9/2016).
Sedangkan sebutan Pangkalan Bun yang kini jadi nama Ibu Kota Kotawaringin Barat berawal kisah Sultan Imanuddin melakukan perjalanan dari Kotawaringin Lama (Kolam) menuju Kumai bahkan sampai ke Banjarmasin.
Sering kali ia singgah di Pongkalan Buun (Pongkalan=tempat singgah), sementara Buun adalah nama orang dari suku Dayak, rumah milik Buun yang berada di muara sungai inilah yang sering disinggahi Sultan Imanudin.
&amp;nbsp;
Seiring berjalannya waktu dari bulan ke tahun mengingat Sultan sering melakukan perjalanan, maka Sultan mempunyai keinginan untuk membuat kampung.
&quot;Sultan sering hilir mudik, karena jauh muncul keinginan untuk membuat kampung. Dari situ lah sejarah nama Pangkalan Bun, Kotawaringin Barat,&quot; ujar Alidin.
Sejarah lainnya, tiang Sangga Benua yang ditancapkan oleh Sultan Kutaringin IX Pangeran Ratu Imanuddin sebagai simbol dipindahkannya ibu kota Kesultanan Kutaringin dari Kotawaringin Lama (Kolam) ke Pangkalan Bun pada 1811, akhirnya berkalang tanah setelah berdiri menjulang 204 tahun lamanya.
Pada masa pemindahan itu, Sultan Imannudin menyampaikan sebuah amanah yang berbunyi, &amp;ldquo;kudirikan Negeri Sukabumi Kutaringin baru Pangkalan Bu&amp;rsquo;un untuk anak-anakku, cucu-cucuku, keturunanku dan orang-orang yang mau berdiam di negeriku dalam pangkuan Kesultanan Kutaringin.&amp;rdquo;
Menurut Pangeran Ratu Alidin Sukma Alamsyah, tumbangnya simbol salah satu Kerajaan Islam di Kalimantan itu karena usia tua. Meski dikeramatkan oleh Kesultanan Kutaringin, Sultan Alidin mengimbau agar masyarakat tidak cemas akan pertanda-pertanda. &quot;Intinya, kita harus dekat dan banyak-banyak mengingat Allah SWT,&quot; cetusnya.
Mengenai perlakuan Tiang Sangga Benua yang patah menjadi empat bagian besar, Sultan Alidin telah memerintahkan kerabat kesultanan untuk memindahkan patahan-patahan Tiang Sangga Benua dari rumah Pangeran Muasjidinsjah ke dalam ruang Dalem Kuning keraton.
&quot;Supaya diperlakukan secara hati-hati dan jangan disimpan di sembarang tempat,&quot; pungkasnya.
&amp;nbsp;</content:encoded></item></channel></rss>
