<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Presiden Mesir Puji Trump, Ragukan Hillary</title><description>Setelah bertemu muka dengan Donald Trump, Presiden Mesir Abdel Fatah al Sisi tidak ragu lagi. Dia yakin miliarder AS itu pemimpin yang kuat.</description><link>https://news.okezone.com/read/2016/09/22/18/1495731/presiden-mesir-puji-trump-ragukan-hillary</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2016/09/22/18/1495731/presiden-mesir-puji-trump-ragukan-hillary"/><item><title>Presiden Mesir Puji Trump, Ragukan Hillary</title><link>https://news.okezone.com/read/2016/09/22/18/1495731/presiden-mesir-puji-trump-ragukan-hillary</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2016/09/22/18/1495731/presiden-mesir-puji-trump-ragukan-hillary</guid><pubDate>Kamis 22 September 2016 11:30 WIB</pubDate><dc:creator>Silviana Dharma</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2016/09/22/18/1495731/presiden-mesir-puji-trump-ragukan-hillary-JYr52kq0Nu.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Presiden Mesir puji gaya kepemimpinan Trump. (Foto: Breitbart)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2016/09/22/18/1495731/presiden-mesir-puji-trump-ragukan-hillary-JYr52kq0Nu.jpg</image><title>Presiden Mesir puji gaya kepemimpinan Trump. (Foto: Breitbart)</title></images><description>NEW YORK &amp;ndash; Setelah bertemu muka dengan Donald Trump, Presiden Mesir Abdel Fatah al Sisi tidak ragu lagi. Dia melihat, calon presiden Amerika Serikat (AS) usungan Partai Republik tersebut akan menjadi pemimpin yang kuat.
Sisi memuji gaya kepemimpinan juragan real estate tersebut saat diwawancarai oleh kantor berita AS, CNN, soal usulan Trump untuk melarang umat Islam masuk AS. Meski terbilang kontroversial, presiden keenam Mesir itu nyatanya memiliki sudut pandang yang berbeda.
&amp;ldquo;Amerika Serikat memiliki prosedur umum keamanan yang sangat ketat. Berlaku untuk semua orang yang mengunjungi negaranya, tempat yang memang telah berlangsung damai selama beberapa tahun,&amp;rdquo; terangnya, seperti dilansir dari Al Araby, Kamis (22/9/2016).
Ia menambahkan, &amp;ldquo;Penting juga untuk mengetahui, selama kampanye pemilihan presiden banyak pernyataan yang dibuat dan dilontarkan. Walau begitu, setelahnya memerintah negara tentu dijalankan dengan berbeda. Banyak faktor yang akan memengaruhi (cara memimpin negara).&amp;ldquo;
Tanggapan positif juga dinyatakan oleh Anggota Parlemen Komite Luar Negeri Mesir, Ahmed Gad. Kepada Breitbart, dia mengungkap 90 persen rakyat Mesir lebih menyukai Trump jadi presiden AS daripada harus membayangkan Hillary Clinton yang memimpin.
&amp;ldquo;Trump jelas tidak akan bersekutu dengan Ikhwanul Muslimin, kelompok bersenjata yang menggencarkan serangan di Mesir. Kami menyaksikan kekejaman mereka setiap hari, jadi kami tahu betul mereka adalah teroris dan kami ingin membangun rezim demokratis,&amp;rdquo; ujarnya.Selain berdiskusi dengan Trump, Sisi juga memanfaatkan kunjungannya  ke Sidang Majelis Umum PBB ke-71 di New York dengan melakukan pertemuan  bilateral dengan capres AS dari Partai Demokrat. Ketika ditanyai  pendapatnya soal mantan ibu negara tersebut, Sisi malah membahas  keditaktoran dan kualitas kepemimpinan.
&amp;ldquo;Di Mesir, tidak akan ada lagi kesempatan untuk seorang diktator  karena di Mesir sudah ada konstitusi (yang mengatur soal itu). Ada hukum  dan ada keinginan kuat dari rakyat untuk menolak pemimpin yang ingin  mempertahankan jabatannya lebih lama dari masa empat tahun yang  ditentukan,&amp;rdquo; tukasnya.
&amp;lt;img alt=&quot;Hasil gambar untuk Hillary met Sisi&quot; src=&quot;https://thenypost.files.wordpress.com/2016/09/160921-clinton-el-sisi-feature.jpg?quality=90&amp;amp;amp;strip=all&amp;amp;amp;strip=all&quot; onload=&quot;google.aft&amp;amp;amp;&amp;amp;amp;google.aft(this)&quot; class=&quot;i29owyGOtw5k-pQOPx8XEepE irc_mi&quot; style=&quot;margin-top: 0px;&quot; height=&quot;393&quot; width=&quot;590&quot;&amp;gt;
Pria kelahiran Kairo itu melanjutkan, &amp;ldquo;Partai politik di AS tidak  akan membiarkan kandidatnya sampai ke tingkat tersebut (menang pilpres)  jika bukan karena mereka memang memiliki kualifikasi untuk memimpin  negara sebesar Amerika Serikat.&amp;rdquo;
Dalam pertemuan dengan Presiden Sisi di New York, Hillary mengangkat  isu HAM dan penegakan hukum untuk menunjang masa depan Mesir. Sementara  Trump lebih bermaksud untuk berkenalan dan mempererat hubungan  pertemanan.</description><content:encoded>NEW YORK &amp;ndash; Setelah bertemu muka dengan Donald Trump, Presiden Mesir Abdel Fatah al Sisi tidak ragu lagi. Dia melihat, calon presiden Amerika Serikat (AS) usungan Partai Republik tersebut akan menjadi pemimpin yang kuat.
Sisi memuji gaya kepemimpinan juragan real estate tersebut saat diwawancarai oleh kantor berita AS, CNN, soal usulan Trump untuk melarang umat Islam masuk AS. Meski terbilang kontroversial, presiden keenam Mesir itu nyatanya memiliki sudut pandang yang berbeda.
&amp;ldquo;Amerika Serikat memiliki prosedur umum keamanan yang sangat ketat. Berlaku untuk semua orang yang mengunjungi negaranya, tempat yang memang telah berlangsung damai selama beberapa tahun,&amp;rdquo; terangnya, seperti dilansir dari Al Araby, Kamis (22/9/2016).
Ia menambahkan, &amp;ldquo;Penting juga untuk mengetahui, selama kampanye pemilihan presiden banyak pernyataan yang dibuat dan dilontarkan. Walau begitu, setelahnya memerintah negara tentu dijalankan dengan berbeda. Banyak faktor yang akan memengaruhi (cara memimpin negara).&amp;ldquo;
Tanggapan positif juga dinyatakan oleh Anggota Parlemen Komite Luar Negeri Mesir, Ahmed Gad. Kepada Breitbart, dia mengungkap 90 persen rakyat Mesir lebih menyukai Trump jadi presiden AS daripada harus membayangkan Hillary Clinton yang memimpin.
&amp;ldquo;Trump jelas tidak akan bersekutu dengan Ikhwanul Muslimin, kelompok bersenjata yang menggencarkan serangan di Mesir. Kami menyaksikan kekejaman mereka setiap hari, jadi kami tahu betul mereka adalah teroris dan kami ingin membangun rezim demokratis,&amp;rdquo; ujarnya.Selain berdiskusi dengan Trump, Sisi juga memanfaatkan kunjungannya  ke Sidang Majelis Umum PBB ke-71 di New York dengan melakukan pertemuan  bilateral dengan capres AS dari Partai Demokrat. Ketika ditanyai  pendapatnya soal mantan ibu negara tersebut, Sisi malah membahas  keditaktoran dan kualitas kepemimpinan.
&amp;ldquo;Di Mesir, tidak akan ada lagi kesempatan untuk seorang diktator  karena di Mesir sudah ada konstitusi (yang mengatur soal itu). Ada hukum  dan ada keinginan kuat dari rakyat untuk menolak pemimpin yang ingin  mempertahankan jabatannya lebih lama dari masa empat tahun yang  ditentukan,&amp;rdquo; tukasnya.
&amp;lt;img alt=&quot;Hasil gambar untuk Hillary met Sisi&quot; src=&quot;https://thenypost.files.wordpress.com/2016/09/160921-clinton-el-sisi-feature.jpg?quality=90&amp;amp;amp;strip=all&amp;amp;amp;strip=all&quot; onload=&quot;google.aft&amp;amp;amp;&amp;amp;amp;google.aft(this)&quot; class=&quot;i29owyGOtw5k-pQOPx8XEepE irc_mi&quot; style=&quot;margin-top: 0px;&quot; height=&quot;393&quot; width=&quot;590&quot;&amp;gt;
Pria kelahiran Kairo itu melanjutkan, &amp;ldquo;Partai politik di AS tidak  akan membiarkan kandidatnya sampai ke tingkat tersebut (menang pilpres)  jika bukan karena mereka memang memiliki kualifikasi untuk memimpin  negara sebesar Amerika Serikat.&amp;rdquo;
Dalam pertemuan dengan Presiden Sisi di New York, Hillary mengangkat  isu HAM dan penegakan hukum untuk menunjang masa depan Mesir. Sementara  Trump lebih bermaksud untuk berkenalan dan mempererat hubungan  pertemanan.</content:encoded></item></channel></rss>
