<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ribuan Orang di Yaman Protes Serangan Udara Arab Saudi</title><description>Ribuan warga Yaman berunjuk rasa di depan kantor PBB di Sana'a terkait serangan udara di pemakaman yang menewaskan lebih dari 140 orang.</description><link>https://news.okezone.com/read/2016/10/10/18/1510288/ribuan-orang-di-yaman-protes-serangan-udara-arab-saudi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2016/10/10/18/1510288/ribuan-orang-di-yaman-protes-serangan-udara-arab-saudi"/><item><title>Ribuan Orang di Yaman Protes Serangan Udara Arab Saudi</title><link>https://news.okezone.com/read/2016/10/10/18/1510288/ribuan-orang-di-yaman-protes-serangan-udara-arab-saudi</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2016/10/10/18/1510288/ribuan-orang-di-yaman-protes-serangan-udara-arab-saudi</guid><pubDate>Senin 10 Oktober 2016 02:45 WIB</pubDate><dc:creator>Silviana Dharma</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2016/10/10/18/1510288/ribuan-orang-di-yaman-protes-serangan-udara-arab-saudi-RwixDnv8zT.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi. Demonstran di Yaman. (Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2016/10/10/18/1510288/ribuan-orang-di-yaman-protes-serangan-udara-arab-saudi-RwixDnv8zT.jpg</image><title>Ilustrasi. Demonstran di Yaman. (Foto: Reuters)</title></images><description>SANA&amp;rsquo;A &amp;ndash; Kantor PBB di Sana&amp;rsquo;a, Ibu Kota Yaman dipadati ribuan warga Yaman pada Minggu 9 Oktober. Para demonstran menuntut lembaga perdamaian dunia itu untuk menyelidiki kasus serangan udara yang menewaskan lebih dari 140 orang di pemakaman Sana&amp;rsquo;a.
Sedikitnya 525 orang juga menderita luka-luka akibat serangan udara yang diyakini merupakan konflik panjang antara pasukan koalisi antiteroris Arab Saudi dan kelompok garis keras Houthi di Yaman. Serangan yang terjadi pada Sabtu 8 Oktober tersebut disebut-sebut sebagai yang paling mematikan sepanjang sejarah perang sipil di Yaman.
Diwartakan ITV, Senin (10/10/2016), para demonstran sendiri menyalahkan koalisi Saudi atas jatuhnya rudal pabrikan Amerika Serikat, Mark 82 itu ke atas negaranya. Selain itu, PBB juga disalahkan lantaran dianggap telah gagal mengakhiri konflik di Yaman.
&amp;ldquo;Bergemingnya PBB dan komunitas internasional  adalah mesiu dari para pembunuh. Meski begitu, kami yakin para pembunuh itu tidak akan lolos dari pengadilan ilahi,&amp;rdquo; pungkas juru bicara Houthi, Mohammed Abdul-Salam.
Pemberontak Houthi yang didukung Iran menyerbu Sanaa pada September 2014 dan menguasai sejumlah wilayah di Yaman, membuat pemerintah Presiden Abedrabbo Mansour Hadi terpaksa harus melarikan diri dari Ibu Kota. Selama ini, Houthi pun terus melancarkan gempuran ke arah pemerintah yang dipimpin oleh Presiden Abed Rabbo Mansour Hadi.
Lebih dari 6.700 orang, sebagian besar warga sipil, tewas di Yaman sejak koalisi mengintervensi untuk mendukung Hadi pada Maret tahun lalu, menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Serangan udara ke pemakaman di Sana&amp;rsquo;a jelas menambah jumlah korban konflik ini.
Dalam keterangan resminya, Pemerintah Arab Saudi sebagai koalisi yang mendukung legitimasi pemerintahan petahana di Yaman, turut berduka atas kasus pengeboman tersebut. Mereka juga menegaskan, kalau pasukannya telah mendapat arahan yang jelas untuk tidak menyasar kawasan penduduk dan menghindari serangan udara yang dapat menewaskan warga sipil.</description><content:encoded>SANA&amp;rsquo;A &amp;ndash; Kantor PBB di Sana&amp;rsquo;a, Ibu Kota Yaman dipadati ribuan warga Yaman pada Minggu 9 Oktober. Para demonstran menuntut lembaga perdamaian dunia itu untuk menyelidiki kasus serangan udara yang menewaskan lebih dari 140 orang di pemakaman Sana&amp;rsquo;a.
Sedikitnya 525 orang juga menderita luka-luka akibat serangan udara yang diyakini merupakan konflik panjang antara pasukan koalisi antiteroris Arab Saudi dan kelompok garis keras Houthi di Yaman. Serangan yang terjadi pada Sabtu 8 Oktober tersebut disebut-sebut sebagai yang paling mematikan sepanjang sejarah perang sipil di Yaman.
Diwartakan ITV, Senin (10/10/2016), para demonstran sendiri menyalahkan koalisi Saudi atas jatuhnya rudal pabrikan Amerika Serikat, Mark 82 itu ke atas negaranya. Selain itu, PBB juga disalahkan lantaran dianggap telah gagal mengakhiri konflik di Yaman.
&amp;ldquo;Bergemingnya PBB dan komunitas internasional  adalah mesiu dari para pembunuh. Meski begitu, kami yakin para pembunuh itu tidak akan lolos dari pengadilan ilahi,&amp;rdquo; pungkas juru bicara Houthi, Mohammed Abdul-Salam.
Pemberontak Houthi yang didukung Iran menyerbu Sanaa pada September 2014 dan menguasai sejumlah wilayah di Yaman, membuat pemerintah Presiden Abedrabbo Mansour Hadi terpaksa harus melarikan diri dari Ibu Kota. Selama ini, Houthi pun terus melancarkan gempuran ke arah pemerintah yang dipimpin oleh Presiden Abed Rabbo Mansour Hadi.
Lebih dari 6.700 orang, sebagian besar warga sipil, tewas di Yaman sejak koalisi mengintervensi untuk mendukung Hadi pada Maret tahun lalu, menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Serangan udara ke pemakaman di Sana&amp;rsquo;a jelas menambah jumlah korban konflik ini.
Dalam keterangan resminya, Pemerintah Arab Saudi sebagai koalisi yang mendukung legitimasi pemerintahan petahana di Yaman, turut berduka atas kasus pengeboman tersebut. Mereka juga menegaskan, kalau pasukannya telah mendapat arahan yang jelas untuk tidak menyasar kawasan penduduk dan menghindari serangan udara yang dapat menewaskan warga sipil.</content:encoded></item></channel></rss>
