<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Rodrigo Roa Duterte</title><description>Presiden ke-16 Filipina yang terkenal ceplas-ceplos faktanya pernah dilecehkan secara seksual oleh pastur di sekolahnya.</description><link>https://news.okezone.com/read/2016/10/15/17/1515445/rodrigo-roa-duterte</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2016/10/15/17/1515445/rodrigo-roa-duterte"/><item><title>Rodrigo Roa Duterte</title><link>https://news.okezone.com/read/2016/10/15/17/1515445/rodrigo-roa-duterte</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2016/10/15/17/1515445/rodrigo-roa-duterte</guid><pubDate>Sabtu 15 Oktober 2016 09:10 WIB</pubDate><dc:creator>Silviana Dharma</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2016/10/15/17/1515445/rodrigo-roa-duterte-vJ8HqiTyuj.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Presiden Filipina Rodrigo Duterte. (Foto: Bullit Marquez-AP)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2016/10/15/17/1515445/rodrigo-roa-duterte-vJ8HqiTyuj.jpg</image><title>Presiden Filipina Rodrigo Duterte. (Foto: Bullit Marquez-AP)</title></images><description>DIGONG, Rody, Donald Trump-nya Filipina dan bahkan Asia, The Punisher atau Sang Penghukum adalah sederet nama panggilan dan julukan yang disematkan kepada Presiden ke-16 Filipina. Terlahir dengan nama asli Rodrigo Roa Duterte pada 28 Maret 1945, kepala negara yang terkenal dengan ucapan ceplas-ceplosnya ini mewarisi darah Cebu dari ayahnya, Vincente G Duterte dan klan Roa dari ibunya, Soledad Roa. Selain itu, dalam tubuhnya juga mengalir darah Portugis, Spanyol, China, Arab dan Malaysia yang diperoleh dari para leluhurnya.
Menilik silsilah keluarganya, anak kedua dari lima bersaudara ini tumbuh besar di lingkungan politik. Ayahnya yang seorang pengacara swasta, pernah menjabat sebagai Wali Kota Cebu dan Gubernur Davao, kota di Pulau Mindanao. Sepupunya, Ronald Duterte juga pernah duduk di balai kota Cebu pada 1983-1986. Demikian juga ayah Ronald, yakni Ramon Duterte pernah menjadi Wali Kota Cebu pada 1957-1959. Sementara ibunya yang berkarier sebagai guru juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan.
&amp;lt;img class=&quot;isPxSynA2D_M-pQOPx8XEepE irc_mi&quot; alt=&quot;Hasil gambar untuk Duterte family&quot; style=&quot;margin-top: 0px;&quot; src=&quot;http://sa.kapamilya.com/absnews/abscbnnews/media/2016/nation2/06/30/dutertefam.jpg&quot; onload=&quot;google.aft&amp;amp;amp;&amp;amp;amp;google.aft(this)&quot; width=&quot;590&quot; height=&quot;393&quot;&amp;gt;
Foto: Keluarga Besar Presiden Duterte (Facebook)
Jika silsilah keluarga Duterte ditelusuri lebih jauh, maka dapat terlihat jaring kekuasaan dinasti Duterte dan Roa telah menyelimuti Cebu, Durano, Almendras hingga Roa. Tidak heran, presiden pertama Filipina yang berasal dari Mindanao ini bisa menjadi Wali Kota Davao selama 22 tahun.Meski begitu, modal kepemimpinan dan watak Duterte yang kita kenal  seperti sekarang ini terbentuk berkat pengalaman pahitnya semasa kecil.  Siapa sangka, Duterte yang keras pernah mengalami pelecehan seksual? Ya,  selama duduk di bangku sekolah sampai dikeluarkan dan pindah ke sekolah  baru, tak pernah dia melapor pada orangtuanya.
Namun setelah cukup dewasa barulah dia mengaku pernah diperkosa oleh  pastur di sekolah katolik Ateneo de Davao University (AdDU). Umurnya  saat itu tidak lebih dari lima tahun. Bersikukuh menutupi seluruh  kebenarannya, setelah didesak oleh Bishop Katolik Konferensi Filipina,  akhirnya Duterte menyebut pelakunya adalah Romo Mark Falvey.
Rody tak membual. Pengusutan dilakukan, hasilnya mengejutkan.  Pengadilan di Amerika Serikat mencatat, sedikitnya ada sembilan korban  pelecehan seksual Romo Falvey di Los Angeles selama periode 1959-1975.  Hal ini tidak pernah terungkap di media dan sang pastor lolos dari  dakwaan karena tempatnya mengabdi, Jesuits of Society Jesus in  Philippines membayar uang tutup mulut sebesar USD16 juta.
Pendidikan dan Karier
Dalam jajak pendapat The Guardian terkait 100 hari kepemimpinan  Duterte, sekira 76 persen dari 1.200 rakyat Filipina yang ditanyai  mengaku puas dengan kinerja sang presiden. Terlepas dari kekasaran dan  kontroversinya, seorang warga dari Tacloban bernama Carla menghargai  kejujurannya.
&amp;ldquo;Benar, dia memang vulgar dan ucapannya kasar. Dia bicara tanpa  disaring dulu. Tetapi setidaknya dia tulus, jujur dan pekerja keras. Dia  mencintai rakyat miskin dan lemah. Bahkan, dia punya selera humor yang  bagus. Terlepas dari retorikanya yang sarkas dan kelakuan yang urakan,  dia juga cerdas, pintar dan memiliki perencanaan yang strategis,&amp;rdquo;  paparnya.

Pendapat Carla pun ada benarnya, Duterte bisa jadi adalah tokoh  politik yang paling terbuka membicarakan kehidupan pribadinya. Semasa  berkuliah, misalnya, dia pernah menuturkan di hadapan media bahwa  dirinya pernah menembak seseorang.
Teman kuliah yang tak disebutkan namanya itu merendahkan etnis  keluarga Duterte. Geram dengan hinaan SARA itu, Duterte muda lantas  melepaskan tembakan. Untunglah temannya tak sampai terbunuh.
Saat insiden, ayah lima anak itu sedang menjalani tahun terakhir  studi hukum di San Beda College of Law. Akibat tindakannya, dia lulus  tetapi tidak diizinkan mengikuti prosesi wisuda.Sebelum mengambil kuliah hukum, Duterte mendalami ilmu politik di   Lyceum of the Philippines University. Titel sarjana strata satunya   didapatkan pada 1968.
Lulus dari San Beda College, The Punisher mengikuti jejak ayahnya   berkarier sebagai pengacara dan jaksa. Namun menjadi ahli hukum saja tak   cukup baginya, dia butuh lebih. Alhasil, mulailah dia merangkak naik   dari hanya staf di pemerintahan, masuk jadi anggota kongres, wakil wali   kota Davao, wali kota Davao dan sekarang Presiden Filipina.
Untuk sampai ke posisi tersebut, sejumlah kinerja nyata telah ia   tunjukkan. Berdasarkan data yang dihimpun The Famous People dan Success   Story, semasa menjabat Wali Kota Davao 22 tahun, Duterte telah membawa   banyak perubahan di kotanya. Kota yang awalnya dinobatkan paling rusuh   dan paling tinggi angka kriminalitasnya menjadi kota teraman nomor  empat  di dunia. Lembaga nonpemerintah internasional pun mengganjarnya  dengan  penghargaan National Literacy Hall of Fame Award pada 2015.
Selain itu, keberhasilannya antara lain dituai dengan menerapkan   kebijakan larangan menjual, menyajikan, minum dan mengonsumsi alkohol   pukul 01.00 hingga 08.00; mengurangi batas kecepatan maksimum berkendara   di Davao; larangan merokok di ruang publik; melarang petasan; serta   mewajibkan semua pusat perbelanjaan memasang kamera pengawas di setiap   pintu masuk dan keluar.
Dalam tujuh periode kepempinannya di Davao, Duterte juga dinilai   berjasa menyediakan 10 mobil ambulans tambahan bagi rumah sakit daerah   dan 42 mobil serta motor patroli untuk para polisinya. Dari tangan   pemimpin yang dinilai cabul dan keras itu lahir Magna Charta yang   menjunjung tinggi hak asasi perempuan. Dia juga yang mendamaikan   sengketa SARA antara pribumi Lumad dan komunitas Muslim setempat.

Melihat kinerja nyatanya, banyak pihak kemudian menaksir Duterte. Dia   antara lain pernah diberi penghargaan wali kota terbaik pada 2014,   tetapi menolaknya karena merasa yang dilakukannya sudah kewajiban. Ada   juga penghargaan anti-rokok dari Singapura dan penghargaan dari American   Cancer Society, yang lagi-lagi ditolaknya.
Sedikitnya empat kali dia ditawari menjadi menteri dalam negeri oleh   Presiden Fidel Ramos, Joseph Ejercito Estrada, Gloria Macapagal-Arroyo   dan Beniqno S Aquino III. Akan tetapi dia tidak tergiur. Kala itu,   fokusnya hanya membangun kampung halamannya menjadi lebih baik.
Ketika ingin dicalonkan sebagai presiden pun, Duterte terbilang yang   paling jual mahal. Donald Trump-nya Asia itu selalu berkilah dari   pertanyaan awak media selama hampir setahun. Setelah mencari wejangan   dari sana sini, akhirnya dia mantap masuk bursa capres Filipina pada 21   November 2015.

Kiprah sebagai Presiden
Pada 2-8 Juli 2016, Pulse Asia merilis jajak pendapat yang    menunjukkan 91 persen rakyat Filipina puas dengan kinerja Presiden    Duterte. Ini merupakan pertama kalinya hampir seluruh rakyat mendukung    dan menyatakan suka dengan pemimpinnya.
Meski begitu, kehadiran presiden yang dilantik sejak 30 Juni 2016 itu    tidak terlepas dari kontroversi di dalam maupun luar negeri. Kampanye    perang anti-narkobanya mendapat kecaman paling keras dari negara  barat   yang menjunjung tinggi HAM. Jerman bahkan protes tatkala Duterte menyamakan pembantaian lebih dari 3.000 pengedar narkoba di negaranya    dengan genosida tiga juta Yahudi oleh Adolf Hitler.
Kebiasaannya bicara sembarangan juga menjadi kritik tersendiri.    Gara-gara menyebut Presiden Barack Obama sebagai anak pelacur, pertemuan    bilateral antara Filipina dan AS di sela KTT ASEAN di Laos  dibatalkan.

Sementara memunggungi negara-negara barat, presiden yang pada    September lalu mengunjungi Jakarta itu malah menggandeng China dan    Rusia. Duterte berjanji di bawah pemerintahannya, Filipina akan menjadi    negara yang merdeka dan mandiri, terlepas dari intervensi asing,    terutama AS.
Biodata singkat
Nama Lengkap: Rodrigo Roa Duterte
Nama Panggilan: Rody, Digong
Julukan dari media: The Punisher (Time), Donald Trump-nya Asia
Tempat, Tanggal Lahir: Leyte, 28 Maret 1945
Nama Istri:

Elizabeth Abellana Zimmerman (1973-2000);
Cielito &amp;lsquo;Honeylet&amp;rsquo; Avancena (sekarang).

Nama Anak:

Paolo &amp;lsquo;Pulong&amp;rsquo; Duterte;
Sara (Inday) Duterte;
Sebastian &amp;lsquo;Baste&amp;rsquo; Duterte;
Veronica &amp;lsquo;Kitty&amp;rsquo; Duterte.

Jenjang Pendidikan:

Lyceum of the Philippines University (S1 Ilmu Politik, 1968);
San Beda College of Law (S1 Hukum, 1972).

Jenjang Karier:

Pengacara (1977-1979);
Jaksa (1981-1986);
Wakil Wali Kota Davao (1983);
Wali Kota Davao (1988-1998, 2001-2010, 2013-2016);
Anggota Parlemen Filipina mewakili Davao (1998-2001);
Presiden Filipina (Juni 2016 &amp;ndash; sekarang).

Penghargaan:

Anti-smoking award dari Singapura (2010);
World Mayor Prize (2014);
National Literacy Hall of Fame Award (2015).
</description><content:encoded>DIGONG, Rody, Donald Trump-nya Filipina dan bahkan Asia, The Punisher atau Sang Penghukum adalah sederet nama panggilan dan julukan yang disematkan kepada Presiden ke-16 Filipina. Terlahir dengan nama asli Rodrigo Roa Duterte pada 28 Maret 1945, kepala negara yang terkenal dengan ucapan ceplas-ceplosnya ini mewarisi darah Cebu dari ayahnya, Vincente G Duterte dan klan Roa dari ibunya, Soledad Roa. Selain itu, dalam tubuhnya juga mengalir darah Portugis, Spanyol, China, Arab dan Malaysia yang diperoleh dari para leluhurnya.
Menilik silsilah keluarganya, anak kedua dari lima bersaudara ini tumbuh besar di lingkungan politik. Ayahnya yang seorang pengacara swasta, pernah menjabat sebagai Wali Kota Cebu dan Gubernur Davao, kota di Pulau Mindanao. Sepupunya, Ronald Duterte juga pernah duduk di balai kota Cebu pada 1983-1986. Demikian juga ayah Ronald, yakni Ramon Duterte pernah menjadi Wali Kota Cebu pada 1957-1959. Sementara ibunya yang berkarier sebagai guru juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan.
&amp;lt;img class=&quot;isPxSynA2D_M-pQOPx8XEepE irc_mi&quot; alt=&quot;Hasil gambar untuk Duterte family&quot; style=&quot;margin-top: 0px;&quot; src=&quot;http://sa.kapamilya.com/absnews/abscbnnews/media/2016/nation2/06/30/dutertefam.jpg&quot; onload=&quot;google.aft&amp;amp;amp;&amp;amp;amp;google.aft(this)&quot; width=&quot;590&quot; height=&quot;393&quot;&amp;gt;
Foto: Keluarga Besar Presiden Duterte (Facebook)
Jika silsilah keluarga Duterte ditelusuri lebih jauh, maka dapat terlihat jaring kekuasaan dinasti Duterte dan Roa telah menyelimuti Cebu, Durano, Almendras hingga Roa. Tidak heran, presiden pertama Filipina yang berasal dari Mindanao ini bisa menjadi Wali Kota Davao selama 22 tahun.Meski begitu, modal kepemimpinan dan watak Duterte yang kita kenal  seperti sekarang ini terbentuk berkat pengalaman pahitnya semasa kecil.  Siapa sangka, Duterte yang keras pernah mengalami pelecehan seksual? Ya,  selama duduk di bangku sekolah sampai dikeluarkan dan pindah ke sekolah  baru, tak pernah dia melapor pada orangtuanya.
Namun setelah cukup dewasa barulah dia mengaku pernah diperkosa oleh  pastur di sekolah katolik Ateneo de Davao University (AdDU). Umurnya  saat itu tidak lebih dari lima tahun. Bersikukuh menutupi seluruh  kebenarannya, setelah didesak oleh Bishop Katolik Konferensi Filipina,  akhirnya Duterte menyebut pelakunya adalah Romo Mark Falvey.
Rody tak membual. Pengusutan dilakukan, hasilnya mengejutkan.  Pengadilan di Amerika Serikat mencatat, sedikitnya ada sembilan korban  pelecehan seksual Romo Falvey di Los Angeles selama periode 1959-1975.  Hal ini tidak pernah terungkap di media dan sang pastor lolos dari  dakwaan karena tempatnya mengabdi, Jesuits of Society Jesus in  Philippines membayar uang tutup mulut sebesar USD16 juta.
Pendidikan dan Karier
Dalam jajak pendapat The Guardian terkait 100 hari kepemimpinan  Duterte, sekira 76 persen dari 1.200 rakyat Filipina yang ditanyai  mengaku puas dengan kinerja sang presiden. Terlepas dari kekasaran dan  kontroversinya, seorang warga dari Tacloban bernama Carla menghargai  kejujurannya.
&amp;ldquo;Benar, dia memang vulgar dan ucapannya kasar. Dia bicara tanpa  disaring dulu. Tetapi setidaknya dia tulus, jujur dan pekerja keras. Dia  mencintai rakyat miskin dan lemah. Bahkan, dia punya selera humor yang  bagus. Terlepas dari retorikanya yang sarkas dan kelakuan yang urakan,  dia juga cerdas, pintar dan memiliki perencanaan yang strategis,&amp;rdquo;  paparnya.

Pendapat Carla pun ada benarnya, Duterte bisa jadi adalah tokoh  politik yang paling terbuka membicarakan kehidupan pribadinya. Semasa  berkuliah, misalnya, dia pernah menuturkan di hadapan media bahwa  dirinya pernah menembak seseorang.
Teman kuliah yang tak disebutkan namanya itu merendahkan etnis  keluarga Duterte. Geram dengan hinaan SARA itu, Duterte muda lantas  melepaskan tembakan. Untunglah temannya tak sampai terbunuh.
Saat insiden, ayah lima anak itu sedang menjalani tahun terakhir  studi hukum di San Beda College of Law. Akibat tindakannya, dia lulus  tetapi tidak diizinkan mengikuti prosesi wisuda.Sebelum mengambil kuliah hukum, Duterte mendalami ilmu politik di   Lyceum of the Philippines University. Titel sarjana strata satunya   didapatkan pada 1968.
Lulus dari San Beda College, The Punisher mengikuti jejak ayahnya   berkarier sebagai pengacara dan jaksa. Namun menjadi ahli hukum saja tak   cukup baginya, dia butuh lebih. Alhasil, mulailah dia merangkak naik   dari hanya staf di pemerintahan, masuk jadi anggota kongres, wakil wali   kota Davao, wali kota Davao dan sekarang Presiden Filipina.
Untuk sampai ke posisi tersebut, sejumlah kinerja nyata telah ia   tunjukkan. Berdasarkan data yang dihimpun The Famous People dan Success   Story, semasa menjabat Wali Kota Davao 22 tahun, Duterte telah membawa   banyak perubahan di kotanya. Kota yang awalnya dinobatkan paling rusuh   dan paling tinggi angka kriminalitasnya menjadi kota teraman nomor  empat  di dunia. Lembaga nonpemerintah internasional pun mengganjarnya  dengan  penghargaan National Literacy Hall of Fame Award pada 2015.
Selain itu, keberhasilannya antara lain dituai dengan menerapkan   kebijakan larangan menjual, menyajikan, minum dan mengonsumsi alkohol   pukul 01.00 hingga 08.00; mengurangi batas kecepatan maksimum berkendara   di Davao; larangan merokok di ruang publik; melarang petasan; serta   mewajibkan semua pusat perbelanjaan memasang kamera pengawas di setiap   pintu masuk dan keluar.
Dalam tujuh periode kepempinannya di Davao, Duterte juga dinilai   berjasa menyediakan 10 mobil ambulans tambahan bagi rumah sakit daerah   dan 42 mobil serta motor patroli untuk para polisinya. Dari tangan   pemimpin yang dinilai cabul dan keras itu lahir Magna Charta yang   menjunjung tinggi hak asasi perempuan. Dia juga yang mendamaikan   sengketa SARA antara pribumi Lumad dan komunitas Muslim setempat.

Melihat kinerja nyatanya, banyak pihak kemudian menaksir Duterte. Dia   antara lain pernah diberi penghargaan wali kota terbaik pada 2014,   tetapi menolaknya karena merasa yang dilakukannya sudah kewajiban. Ada   juga penghargaan anti-rokok dari Singapura dan penghargaan dari American   Cancer Society, yang lagi-lagi ditolaknya.
Sedikitnya empat kali dia ditawari menjadi menteri dalam negeri oleh   Presiden Fidel Ramos, Joseph Ejercito Estrada, Gloria Macapagal-Arroyo   dan Beniqno S Aquino III. Akan tetapi dia tidak tergiur. Kala itu,   fokusnya hanya membangun kampung halamannya menjadi lebih baik.
Ketika ingin dicalonkan sebagai presiden pun, Duterte terbilang yang   paling jual mahal. Donald Trump-nya Asia itu selalu berkilah dari   pertanyaan awak media selama hampir setahun. Setelah mencari wejangan   dari sana sini, akhirnya dia mantap masuk bursa capres Filipina pada 21   November 2015.

Kiprah sebagai Presiden
Pada 2-8 Juli 2016, Pulse Asia merilis jajak pendapat yang    menunjukkan 91 persen rakyat Filipina puas dengan kinerja Presiden    Duterte. Ini merupakan pertama kalinya hampir seluruh rakyat mendukung    dan menyatakan suka dengan pemimpinnya.
Meski begitu, kehadiran presiden yang dilantik sejak 30 Juni 2016 itu    tidak terlepas dari kontroversi di dalam maupun luar negeri. Kampanye    perang anti-narkobanya mendapat kecaman paling keras dari negara  barat   yang menjunjung tinggi HAM. Jerman bahkan protes tatkala Duterte menyamakan pembantaian lebih dari 3.000 pengedar narkoba di negaranya    dengan genosida tiga juta Yahudi oleh Adolf Hitler.
Kebiasaannya bicara sembarangan juga menjadi kritik tersendiri.    Gara-gara menyebut Presiden Barack Obama sebagai anak pelacur, pertemuan    bilateral antara Filipina dan AS di sela KTT ASEAN di Laos  dibatalkan.

Sementara memunggungi negara-negara barat, presiden yang pada    September lalu mengunjungi Jakarta itu malah menggandeng China dan    Rusia. Duterte berjanji di bawah pemerintahannya, Filipina akan menjadi    negara yang merdeka dan mandiri, terlepas dari intervensi asing,    terutama AS.
Biodata singkat
Nama Lengkap: Rodrigo Roa Duterte
Nama Panggilan: Rody, Digong
Julukan dari media: The Punisher (Time), Donald Trump-nya Asia
Tempat, Tanggal Lahir: Leyte, 28 Maret 1945
Nama Istri:

Elizabeth Abellana Zimmerman (1973-2000);
Cielito &amp;lsquo;Honeylet&amp;rsquo; Avancena (sekarang).

Nama Anak:

Paolo &amp;lsquo;Pulong&amp;rsquo; Duterte;
Sara (Inday) Duterte;
Sebastian &amp;lsquo;Baste&amp;rsquo; Duterte;
Veronica &amp;lsquo;Kitty&amp;rsquo; Duterte.

Jenjang Pendidikan:

Lyceum of the Philippines University (S1 Ilmu Politik, 1968);
San Beda College of Law (S1 Hukum, 1972).

Jenjang Karier:

Pengacara (1977-1979);
Jaksa (1981-1986);
Wakil Wali Kota Davao (1983);
Wali Kota Davao (1988-1998, 2001-2010, 2013-2016);
Anggota Parlemen Filipina mewakili Davao (1998-2001);
Presiden Filipina (Juni 2016 &amp;ndash; sekarang).

Penghargaan:

Anti-smoking award dari Singapura (2010);
World Mayor Prize (2014);
National Literacy Hall of Fame Award (2015).
</content:encoded></item></channel></rss>
