<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kisah Pilu Orangtua Saksikan Dua Anaknya Tewas saat Jembatan Kuning Roboh</title><description>Gede Sulianta (34) dan Ketut Wirati (30) menahan air  mata saat menyaksikan dua anaknya terbujur kaku di dalam keranda  jenazah.</description><link>https://news.okezone.com/read/2016/10/17/340/1517018/kisah-pilu-orangtua-saksikan-dua-anaknya-tewas-saat-jembatan-kuning-roboh</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2016/10/17/340/1517018/kisah-pilu-orangtua-saksikan-dua-anaknya-tewas-saat-jembatan-kuning-roboh"/><item><title>Kisah Pilu Orangtua Saksikan Dua Anaknya Tewas saat Jembatan Kuning Roboh</title><link>https://news.okezone.com/read/2016/10/17/340/1517018/kisah-pilu-orangtua-saksikan-dua-anaknya-tewas-saat-jembatan-kuning-roboh</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2016/10/17/340/1517018/kisah-pilu-orangtua-saksikan-dua-anaknya-tewas-saat-jembatan-kuning-roboh</guid><pubDate>Senin 17 Oktober 2016 16:38 WIB</pubDate><dc:creator>Raiza Andini</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2016/10/17/340/1517018/kisah-pilu-orangtua-saksikan-dua-anaknya-tewas-saat-jembatan-kuning-roboh-8c95796SrS.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Jembatan kuningan yang roboh di Nusa Ceningan, Bali. (Foto: Raiza A./Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2016/10/17/340/1517018/kisah-pilu-orangtua-saksikan-dua-anaknya-tewas-saat-jembatan-kuning-roboh-8c95796SrS.jpeg</image><title>Jembatan kuningan yang roboh di Nusa Ceningan, Bali. (Foto: Raiza A./Okezone)</title></images><description>NUSA CENINGAN &amp;ndash; Gede Sulianta (34) dan Ketut Wirati (30) hanya terdiam serta menahan air mata saat menyaksikan dua anaknya terbujur kaku di dalam keranda jenazah. Dua anaknya yang masih di bawah umur tewas dalam insiden ambruknya jembatan penghubung antara Nusa Ceningan dan Nusa Lembongan.
Ketika itu Sulianta bersama keluarga kecilnya tengah menuju Pura Bakung Ceningan untuk melakukan upacara odalan. Dia membawa serta tiga anaknya yakni NPKD (9), NKM (6), dan yang paling kecil bernama KGB.
Mereka berangkat ke Pura Bakung di Pulau Nusa Ceningan menggunakan sepeda motor dari kediamannya di Jungut Batu Nusa Lembongan, kemudian memarkirkan motornya di bagian utara jembatan dan berjalan kaki menuju jembatan. Sulianta ketika itu menggendong anaknya yang paling kecil.
Lalu dua anaknya tersebut jalan tepat di depannya beserta sang istri Wirati. Ketika mereka berada di tengah jembatan, tiba-tiba jembatan itu ambruk dan sempat mengeluarkan suara.
&quot;Pas kita menyeberang, itu pas di pertengahan macet karena ada motor yang lalu lalang. Pas di macet itu langsung &amp;lsquo;bruk&amp;rsquo;, kita itu sudah di laut,&quot; tutur Sulianta di Nusa Ceningan, Senin (17/10/2016).
Anaknya yang bungsu masih digendongnya ketika berada di dalam air. Namun nahas, dua anaknya yang lain tidak berhasil terselamatkan, hanya anak terakhirnya yang ada di pelukannya.
&quot;Saya sempat tenggelam, saya berenang sedikit ke barat kemudian ada evakuasi 10 sampai 15 menit,&quot; tambahnya.
Sulianta menuturkan bahwa kejadian ambruknya jembatan sangat cepat di saat banyak orang menyesaki jembatan yang sudah berumur 22 tahun tersebut untuk melakukan Persembahyangan Odalan di Pura Bakung Ceningan.
&quot;Jembatannya full pada saat itu, cepat sekali kejadiannya langsung ambruk, langsung jatuh,&quot; ungkapnya.
Sebelum kejadian, Sulianta sempat mendengar suara mengerat dari badan jembatan dan tiba-tiba langsung ambruk dan menenggelamkan puluhan orang. &quot;Enggak ada jedanya, bunyi &amp;lsquo;krek&amp;rsquo;, &amp;lsquo;krek&amp;rsquo;, langsung jatuh,&quot; katanya.
Dalam peristiwa tersebut Sulianta juga menjadi korban, kakinya mengalami luka. Beruntung si bungsu dan sang istri tidak mengalami luka. &quot;Kaki hanya lecet, tidak tahu kenapa,&quot; ujarnya.
Menjadi korban peristiwa ambruknya jembatan kuning, pihak Pemerintah Kabupaten Klungkung memberikan bantuan kepada keluarga Sulianta berupa uang. &quot;Ada tadi pagi Pak Bupatinya ke rumah, ada bantuan besarnya belum tahu. Beliau sudah datang,&quot; tuturnya.
Rencananya, jasad kedua anaknya itu akan dikremasi pada Rabu 19 Oktober 2016.</description><content:encoded>NUSA CENINGAN &amp;ndash; Gede Sulianta (34) dan Ketut Wirati (30) hanya terdiam serta menahan air mata saat menyaksikan dua anaknya terbujur kaku di dalam keranda jenazah. Dua anaknya yang masih di bawah umur tewas dalam insiden ambruknya jembatan penghubung antara Nusa Ceningan dan Nusa Lembongan.
Ketika itu Sulianta bersama keluarga kecilnya tengah menuju Pura Bakung Ceningan untuk melakukan upacara odalan. Dia membawa serta tiga anaknya yakni NPKD (9), NKM (6), dan yang paling kecil bernama KGB.
Mereka berangkat ke Pura Bakung di Pulau Nusa Ceningan menggunakan sepeda motor dari kediamannya di Jungut Batu Nusa Lembongan, kemudian memarkirkan motornya di bagian utara jembatan dan berjalan kaki menuju jembatan. Sulianta ketika itu menggendong anaknya yang paling kecil.
Lalu dua anaknya tersebut jalan tepat di depannya beserta sang istri Wirati. Ketika mereka berada di tengah jembatan, tiba-tiba jembatan itu ambruk dan sempat mengeluarkan suara.
&quot;Pas kita menyeberang, itu pas di pertengahan macet karena ada motor yang lalu lalang. Pas di macet itu langsung &amp;lsquo;bruk&amp;rsquo;, kita itu sudah di laut,&quot; tutur Sulianta di Nusa Ceningan, Senin (17/10/2016).
Anaknya yang bungsu masih digendongnya ketika berada di dalam air. Namun nahas, dua anaknya yang lain tidak berhasil terselamatkan, hanya anak terakhirnya yang ada di pelukannya.
&quot;Saya sempat tenggelam, saya berenang sedikit ke barat kemudian ada evakuasi 10 sampai 15 menit,&quot; tambahnya.
Sulianta menuturkan bahwa kejadian ambruknya jembatan sangat cepat di saat banyak orang menyesaki jembatan yang sudah berumur 22 tahun tersebut untuk melakukan Persembahyangan Odalan di Pura Bakung Ceningan.
&quot;Jembatannya full pada saat itu, cepat sekali kejadiannya langsung ambruk, langsung jatuh,&quot; ungkapnya.
Sebelum kejadian, Sulianta sempat mendengar suara mengerat dari badan jembatan dan tiba-tiba langsung ambruk dan menenggelamkan puluhan orang. &quot;Enggak ada jedanya, bunyi &amp;lsquo;krek&amp;rsquo;, &amp;lsquo;krek&amp;rsquo;, langsung jatuh,&quot; katanya.
Dalam peristiwa tersebut Sulianta juga menjadi korban, kakinya mengalami luka. Beruntung si bungsu dan sang istri tidak mengalami luka. &quot;Kaki hanya lecet, tidak tahu kenapa,&quot; ujarnya.
Menjadi korban peristiwa ambruknya jembatan kuning, pihak Pemerintah Kabupaten Klungkung memberikan bantuan kepada keluarga Sulianta berupa uang. &quot;Ada tadi pagi Pak Bupatinya ke rumah, ada bantuan besarnya belum tahu. Beliau sudah datang,&quot; tuturnya.
Rencananya, jasad kedua anaknya itu akan dikremasi pada Rabu 19 Oktober 2016.</content:encoded></item></channel></rss>
