<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>HISTORIPEDIA: Revolusi Kebebasan Hungaria dari Uni Soviet</title><description>Pada 23 Oktober 1956, demonstrasi menuntut dikembalikannya jabatan Imre Nagy sebagai perdana menteri dimulai.</description><link>https://news.okezone.com/read/2016/10/23/18/1521152/historipedia-revolusi-kebebasan-hungaria-dari-uni-soviet</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2016/10/23/18/1521152/historipedia-revolusi-kebebasan-hungaria-dari-uni-soviet"/><item><title>HISTORIPEDIA: Revolusi Kebebasan Hungaria dari Uni Soviet</title><link>https://news.okezone.com/read/2016/10/23/18/1521152/historipedia-revolusi-kebebasan-hungaria-dari-uni-soviet</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2016/10/23/18/1521152/historipedia-revolusi-kebebasan-hungaria-dari-uni-soviet</guid><pubDate>Minggu 23 Oktober 2016 07:01 WIB</pubDate><dc:creator>Silviana Dharma</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2016/10/21/18/1521152/historipedia-revolusi-kebebasan-hungaria-dari-uni-soviet-VtXgKt50lB.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Revolusi Hungaria pada 1956. (Foto: dok. Kedubes AS di Budapest)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2016/10/21/18/1521152/historipedia-revolusi-kebebasan-hungaria-dari-uni-soviet-VtXgKt50lB.jpg</image><title>Revolusi Hungaria pada 1956. (Foto: dok. Kedubes AS di Budapest)</title></images><description>JAUH sebelum pembubaran Uni Soviet terjadi pada akhir 1991, Hungaria telah memulai upaya separatisnya. Paham komunisme yang dibangun Lenin sejak 1917, lama kelamaan dirasa tak lagi cocok dengan perkembangan sosial, budaya dan politik di Budapest. Rakyat Hungaria pada 1956, lebih tertarik dengan paham liberalisme.
Pada 23 Oktober 1956, demonstrasi menuntut dikembalikannya jabatan Imre Nagy sebagai perdana menteri dimulai. Rakyat menyukainya tak lain karena kebijakan liberalnya.

Foto: Imre Nagy (Gimagine)
Arak-arakan pengunjuk rasa yang diorganisasikan oleh mahasiswa itu awalnya berlangsung damai. Mereka melakukan pawai panjang dari pusat kota Budapest menuju Gedung Parlemen Hungaria. Selain menginginkan Nagy, massa juga menuntut pemilihan umum yang bersih, kebebasan pers, dan pengusiran tentara Soviet dari negara itu.
Dilansir dari Visit Budapest, Minggu (23/10/2016), demonstrasi ini menarik minat banyak orang. Semakin lama, massa yang menyuarakan pendapatnya semakin membludak. Jumlahnya tercatat mencapai puluhan ribu orang.
Sementara kebanyakan massa mengumandangkan tuntutannya bermodalkan alat pengeras suara di atas mobil, seorang  perwakilan mahasiswa berusaha masuk ke dalam stasiun radio untuk menyiarkan kampanye secara lebih meluas.
Polisi pun tidak membiarkan hal itu terjadi dan menangkapnya. Mendengar utusan mereka ditahan, massa menuntut temannya dibebaskan. Akan tetapi, otoritas keamanan nasional Hungaria (AVH) malah menembaki para demonstran dari atas gedung stasiun radio tersebut.
Seorang mahasiswa tewas dan dibungkus dengan bendera. Jasadnya lalu ditandu ke atas kerumunan. Pada titik ini, demonstrasi tak lagi berjalan damai, pemberontakan besar-besaran dilakukan. Massa yang marah menyerukan &amp;ldquo;Revolusi, Kemerdekaan atas Uni Soviet!&amp;rdquo;Dalam sekejap kerusuhan menyebar luas, pemerintahan pun kacau.  Ratusan orang meninggal. Bentrokan antara warga sipil dan militer tak  terhindarkan. Selama berhari-hari, polisi menampakkan taringnya,  tank-tank Soviet tak ketinggalan mondar-mandir di jalan.
Kerusuhan baru mereda pada 28 Oktober. Gencatan senjata diberlakukan.  Soviet pun setuju menarik pasukannya dari Hungaria dua hari kemudian.  Sesuai permintaan rakyat, Imre Nagy dikembalikan ke posisinya sebagai  perdana menteri dan diizinkan membentuk pemerintahan baru.

Foto: Patung Stalin dihancurkan saat Revolusi Hungaria. (Tumblr)
Namun begitu, Soviet tidak lantas menyerah kalah. Pada 4 November,  pemimpin Soviet kala itu, Nikita Khrushchev mengirimkan kendaraan lapis  bajanya ke Budapest untuk mengakhiri revolusi berdarah tersebut. Sejarah  mencatat, konflik antara kaum liberal dan komunisme di Hungaria  berakhir pada 10 November 1956.
Lebih dari 2.500 warga sipil Hungaria meninggal dan 700 tentara  Soviet terbunuh selama konflik. Revolusi kemerdekaan faktanya juga telah  menyebabkan sedikitnya 200 ribu penduduk Hungaria eksodus dan menjadi  pengungsi ke negara lain di Eropa. Setelahnya, ribuan demonstran  ditangkap dan ratusan di antaranya dihukum mati.
Sayangnya, pemberontakan puluhan ribu warga Hungaria tidak berbuah  kemenangan. Soviet tetap berjaya, revolusi pada 23 Oktober dikategorikan  sebagai upaya pemberontakan dan melarang segala bentuk peringatan  terhadap hari bersejarah ini. Nagy pun dieksekusi pada 1958 setelah  menjalani sidang tertutup dan sangat dirahasiakan di Budapest.
Baru pada 1989, menjelang kejatuhan Soviet, Republik Hungaria  mendeklarasikan 23 Oktober sebagai hari nasional. Pada Desember 1991,  Presiden pertama Rusia, Boris Yeltsin meminta maaf secara resmi kepada  rakyat Hungaria atas peristiwa 1956. Ia mengulang lagi permintaan maaf  tersebut setahun setelahnya saat berpidato di hadapan parlemen Hungaria.
Tahun-tahun setelahnya, 23 Oktober menjadi hari libur nasional di  Hungaria. Sejumlah kepala negara datang dan memberi penghormatan pada  para korban demonstrasi yang kini dianggap pahlawan. Dan hari ini adalah  peringatan 60 tahun revolusi terbesar yang pernah terjadi di Hungaria.</description><content:encoded>JAUH sebelum pembubaran Uni Soviet terjadi pada akhir 1991, Hungaria telah memulai upaya separatisnya. Paham komunisme yang dibangun Lenin sejak 1917, lama kelamaan dirasa tak lagi cocok dengan perkembangan sosial, budaya dan politik di Budapest. Rakyat Hungaria pada 1956, lebih tertarik dengan paham liberalisme.
Pada 23 Oktober 1956, demonstrasi menuntut dikembalikannya jabatan Imre Nagy sebagai perdana menteri dimulai. Rakyat menyukainya tak lain karena kebijakan liberalnya.

Foto: Imre Nagy (Gimagine)
Arak-arakan pengunjuk rasa yang diorganisasikan oleh mahasiswa itu awalnya berlangsung damai. Mereka melakukan pawai panjang dari pusat kota Budapest menuju Gedung Parlemen Hungaria. Selain menginginkan Nagy, massa juga menuntut pemilihan umum yang bersih, kebebasan pers, dan pengusiran tentara Soviet dari negara itu.
Dilansir dari Visit Budapest, Minggu (23/10/2016), demonstrasi ini menarik minat banyak orang. Semakin lama, massa yang menyuarakan pendapatnya semakin membludak. Jumlahnya tercatat mencapai puluhan ribu orang.
Sementara kebanyakan massa mengumandangkan tuntutannya bermodalkan alat pengeras suara di atas mobil, seorang  perwakilan mahasiswa berusaha masuk ke dalam stasiun radio untuk menyiarkan kampanye secara lebih meluas.
Polisi pun tidak membiarkan hal itu terjadi dan menangkapnya. Mendengar utusan mereka ditahan, massa menuntut temannya dibebaskan. Akan tetapi, otoritas keamanan nasional Hungaria (AVH) malah menembaki para demonstran dari atas gedung stasiun radio tersebut.
Seorang mahasiswa tewas dan dibungkus dengan bendera. Jasadnya lalu ditandu ke atas kerumunan. Pada titik ini, demonstrasi tak lagi berjalan damai, pemberontakan besar-besaran dilakukan. Massa yang marah menyerukan &amp;ldquo;Revolusi, Kemerdekaan atas Uni Soviet!&amp;rdquo;Dalam sekejap kerusuhan menyebar luas, pemerintahan pun kacau.  Ratusan orang meninggal. Bentrokan antara warga sipil dan militer tak  terhindarkan. Selama berhari-hari, polisi menampakkan taringnya,  tank-tank Soviet tak ketinggalan mondar-mandir di jalan.
Kerusuhan baru mereda pada 28 Oktober. Gencatan senjata diberlakukan.  Soviet pun setuju menarik pasukannya dari Hungaria dua hari kemudian.  Sesuai permintaan rakyat, Imre Nagy dikembalikan ke posisinya sebagai  perdana menteri dan diizinkan membentuk pemerintahan baru.

Foto: Patung Stalin dihancurkan saat Revolusi Hungaria. (Tumblr)
Namun begitu, Soviet tidak lantas menyerah kalah. Pada 4 November,  pemimpin Soviet kala itu, Nikita Khrushchev mengirimkan kendaraan lapis  bajanya ke Budapest untuk mengakhiri revolusi berdarah tersebut. Sejarah  mencatat, konflik antara kaum liberal dan komunisme di Hungaria  berakhir pada 10 November 1956.
Lebih dari 2.500 warga sipil Hungaria meninggal dan 700 tentara  Soviet terbunuh selama konflik. Revolusi kemerdekaan faktanya juga telah  menyebabkan sedikitnya 200 ribu penduduk Hungaria eksodus dan menjadi  pengungsi ke negara lain di Eropa. Setelahnya, ribuan demonstran  ditangkap dan ratusan di antaranya dihukum mati.
Sayangnya, pemberontakan puluhan ribu warga Hungaria tidak berbuah  kemenangan. Soviet tetap berjaya, revolusi pada 23 Oktober dikategorikan  sebagai upaya pemberontakan dan melarang segala bentuk peringatan  terhadap hari bersejarah ini. Nagy pun dieksekusi pada 1958 setelah  menjalani sidang tertutup dan sangat dirahasiakan di Budapest.
Baru pada 1989, menjelang kejatuhan Soviet, Republik Hungaria  mendeklarasikan 23 Oktober sebagai hari nasional. Pada Desember 1991,  Presiden pertama Rusia, Boris Yeltsin meminta maaf secara resmi kepada  rakyat Hungaria atas peristiwa 1956. Ia mengulang lagi permintaan maaf  tersebut setahun setelahnya saat berpidato di hadapan parlemen Hungaria.
Tahun-tahun setelahnya, 23 Oktober menjadi hari libur nasional di  Hungaria. Sejumlah kepala negara datang dan memberi penghormatan pada  para korban demonstrasi yang kini dianggap pahlawan. Dan hari ini adalah  peringatan 60 tahun revolusi terbesar yang pernah terjadi di Hungaria.</content:encoded></item></channel></rss>
