<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>NEWS STORY: Pertempuran Berdarah 5 Hari di Semarang dalam Balutan Teatrikal</title><description>Sosiodrama unik dan otentik digelar di Kota Lumpia untuk memperingati Pertempuran 5 Hari di Semarang.</description><link>https://news.okezone.com/read/2016/11/05/512/1533409/news-story-pertempuran-berdarah-5-hari-di-semarang-dalam-balutan-teatrikal</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2016/11/05/512/1533409/news-story-pertempuran-berdarah-5-hari-di-semarang-dalam-balutan-teatrikal"/><item><title>NEWS STORY: Pertempuran Berdarah 5 Hari di Semarang dalam Balutan Teatrikal</title><link>https://news.okezone.com/read/2016/11/05/512/1533409/news-story-pertempuran-berdarah-5-hari-di-semarang-dalam-balutan-teatrikal</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2016/11/05/512/1533409/news-story-pertempuran-berdarah-5-hari-di-semarang-dalam-balutan-teatrikal</guid><pubDate>Sabtu 05 November 2016 08:15 WIB</pubDate><dc:creator>Randy Wirayudha</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2016/11/04/512/1533409/news-story-pertempuran-berdarah-5-hari-di-semarang-dalam-balutan-teatrikal-aDyum1quhH.png" expression="full" type="image/jpeg">Teatrikal Pertempuran 5 Hari Semarang (Foto: Capture YouTube)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2016/11/04/512/1533409/news-story-pertempuran-berdarah-5-hari-di-semarang-dalam-balutan-teatrikal-aDyum1quhH.png</image><title>Teatrikal Pertempuran 5 Hari Semarang (Foto: Capture YouTube)</title></images><description>HAMPIR di semua daerah di Indonesia, menyimpan kisah-kisah sejarah besar di masa revolusi. Jika Bandung punya kisah &amp;ldquo;Bandung Lautan Api&amp;rdquo; dan Surabaya punya cerita &amp;ldquo;Pertempuran 10 November&amp;rdquo;, di Kota Semarang tersimpan goresan sejarah &amp;ldquo;Pertempuran 5 Hari&amp;rdquo; (15-20 Oktober 1945).
Kisahnya berawal dari masa transisi pascaproklamasi 17 Agustus 1945, di mana banyak barisan rakyat dan pemuda Indonesia yang menggeruduk markas-markas Jepang. Tujuannya tak lain dan tak bukan untuk menuntut Jepang menyerahkan persenjataannya, demi menghadapi sekutu dan Belanda yang turut membonceng.
Di beberapa daerah lain, serdadu-serdadu Jepang ada yang bersedia menyerahkan persenjataan dengan cara damai dan ada pula yang harus lebih dulu menumpahkan darah. Hal ini pula yang turut jadi pemikiran para pemuda di Semarang pada Oktober 71 tahun lampau.

Sebagai negosiator, Gubernur Jawa Tengah (Jateng) kala itu Mr Wongsonegoro, datang menemui Mayor Kido, komandan Pasukan Kidobutai di Jatingaleh. Sayangnya, Mayor Kido hanya berkenan memberikan sejumlah senjata tua.

Ini yang membuat para pemuda tidak puas. Alhasil, para pemuda memilih aksi perampasan senjata dari tentara Jepang di beberapa tempat. Ketegangan terjadi di seantero Kota Semarang akibat berbagai aksi-aksi perampasan ini.
Tensi di Semarang meningkat setelah terjadi peristiwa kaburnya 400 tawanan serdadu Jepang pada 14 Oktober 1945. Tidak hanya kabur, mereka juga menyerbu delapan Polisi Istimewa atau PI (cikal bakal Brimob Polri) di Reservoir Siranda dan melucuti senjatanya.

Sementara itu, tokoh kedokteran di Semarang, Dokter Kariadi, tengah melakukan penyelidikan di Reservoir Siranda karena ada isu bahwa Jepang sudah menebar racun ke penampungan air di kawasan Candilama tersebut.
Tapi sebelum sampai ke lokasi, mobil yang dikendarai Dr Kariadi dengan dikawal beberapa Tentara Pelajar (TP), dicegat dan ditembaki. Dr Kariadi sempat coba dilarikan ke Rumah Sakit Purusara (kini, Rumah Sakit Dr Kariadi), tapi nyawanya tak tertolong.

Meninggalnya Dr Kariadi itu tak pelak jadi klimaks ketegangan antara pemuda dengan Kidobutai. Sehari setelah Dr Kariadi ditembaki, satu batalion (sekira 1.000 tentara) Pasukan Kidobutai kembali bergerak mengepung Kota Semarang. Bahkan mereka turut mengikutsertakan warga-warga sipil asal Jepang.
Pertahanan pejuang di daerah Jatingaleh dan Gombel pun sukses diterobos Jepang pada 18 Oktober atau tiga hari sejak pecahnya pertempuran. Namun sehari kemudian, datang perwakilan sekutu dan pemerintah RI, untuk &amp;ldquo;memaksakan&amp;rdquo; gencatan senjata.
Tapi di beberapa front, pertempuran terus terjadi hingga baku tembak baru terhenti pada 20 Oktober 1945. Disebutkan, sekira 2.000 orang di pihak Indonesia jadi korban. Sementara tercatat 850 tentara Jepang juga binasa.

Peristiwa berdarah selama lima hari di &amp;ldquo;Kota Lumpia&amp;rdquo; itu sedianya rutin diperingati Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang di Bundaran Tugu Muda dengan disertai malam renungan. Tapi peringatan yang unik dan berbeda turut dibawakan para penggiat sejarah Semarang Historical Reenactment (SHR).
Bekerja sama dengan PT KAI Divisi Heritage dan sejumlah reenactor (pereka ulang sejarah) dari berbagai kota lainnya, SHR menggelar aksi teatrikal &amp;ldquo;Pertempuran 5 Hari Semarang&amp;rdquo; di Lawang Sewu, 23 Oktober lalu.
Koordinator event Wisnu Yogi, menguraikan bahwa aksi teatrikal yang dikemas dengan lebih otentik ini, ditujukan sebagai pembelajaran bagi masyarakat Kota Semarang.
&amp;ldquo;Untuk memperingati 71 tahun peristiwa Pertempuran 5 Hari di Semarang dan mengedukasi kepada masyarakat, bahwa pertempuran yang pernah terjadi dulu itu ya seperti ini,&amp;rdquo; terang Wisnu kepada Okezone. 
&amp;ldquo;Pesan yang ingin kami sampaikan adalah, agar para generasi muda Semarang ini tahu akan sejarah perjuangan di kotanya. Perjuangan meraih kemerdekaan yang tidak mudah. Semoga generasi muda bisa meneladani semangat juang saat itu dan mengisi kemerdekaan dengan hal-hal positif, dengan membangun Kota Semarang yang kita cintai,&amp;rdquo; tandasnya.
Aksi teatrikal ini juga direkam dengan video dan diunggah ke media sosial YouTube dan kebetulan, salah satu reenactor Mamet Hidayat, berkicau di akun Twitter Gubernur Jateng Ganjar Pranowo dengan disertai link videonya.

&amp;ldquo;Pak @ganjarpranowo @PemkotSemarang ini video temen2 komunitas SHR memperingati Pertmpuran 5 hari di Semarang,&amp;rdquo; kicau akun @mast_mameth. 
Kicauan itu juga kemudian direspons Gubernur Ganjar dengan nada apresiatif: &amp;ldquo;Kereeen,&amp;rdquo; jawab sang gubernur.
&amp;lt;iframe width=&quot;560&quot; height=&quot;315&quot; src=&quot;https://www.youtube.com/embed/_03deZYY4Xg&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;</description><content:encoded>HAMPIR di semua daerah di Indonesia, menyimpan kisah-kisah sejarah besar di masa revolusi. Jika Bandung punya kisah &amp;ldquo;Bandung Lautan Api&amp;rdquo; dan Surabaya punya cerita &amp;ldquo;Pertempuran 10 November&amp;rdquo;, di Kota Semarang tersimpan goresan sejarah &amp;ldquo;Pertempuran 5 Hari&amp;rdquo; (15-20 Oktober 1945).
Kisahnya berawal dari masa transisi pascaproklamasi 17 Agustus 1945, di mana banyak barisan rakyat dan pemuda Indonesia yang menggeruduk markas-markas Jepang. Tujuannya tak lain dan tak bukan untuk menuntut Jepang menyerahkan persenjataannya, demi menghadapi sekutu dan Belanda yang turut membonceng.
Di beberapa daerah lain, serdadu-serdadu Jepang ada yang bersedia menyerahkan persenjataan dengan cara damai dan ada pula yang harus lebih dulu menumpahkan darah. Hal ini pula yang turut jadi pemikiran para pemuda di Semarang pada Oktober 71 tahun lampau.

Sebagai negosiator, Gubernur Jawa Tengah (Jateng) kala itu Mr Wongsonegoro, datang menemui Mayor Kido, komandan Pasukan Kidobutai di Jatingaleh. Sayangnya, Mayor Kido hanya berkenan memberikan sejumlah senjata tua.

Ini yang membuat para pemuda tidak puas. Alhasil, para pemuda memilih aksi perampasan senjata dari tentara Jepang di beberapa tempat. Ketegangan terjadi di seantero Kota Semarang akibat berbagai aksi-aksi perampasan ini.
Tensi di Semarang meningkat setelah terjadi peristiwa kaburnya 400 tawanan serdadu Jepang pada 14 Oktober 1945. Tidak hanya kabur, mereka juga menyerbu delapan Polisi Istimewa atau PI (cikal bakal Brimob Polri) di Reservoir Siranda dan melucuti senjatanya.

Sementara itu, tokoh kedokteran di Semarang, Dokter Kariadi, tengah melakukan penyelidikan di Reservoir Siranda karena ada isu bahwa Jepang sudah menebar racun ke penampungan air di kawasan Candilama tersebut.
Tapi sebelum sampai ke lokasi, mobil yang dikendarai Dr Kariadi dengan dikawal beberapa Tentara Pelajar (TP), dicegat dan ditembaki. Dr Kariadi sempat coba dilarikan ke Rumah Sakit Purusara (kini, Rumah Sakit Dr Kariadi), tapi nyawanya tak tertolong.

Meninggalnya Dr Kariadi itu tak pelak jadi klimaks ketegangan antara pemuda dengan Kidobutai. Sehari setelah Dr Kariadi ditembaki, satu batalion (sekira 1.000 tentara) Pasukan Kidobutai kembali bergerak mengepung Kota Semarang. Bahkan mereka turut mengikutsertakan warga-warga sipil asal Jepang.
Pertahanan pejuang di daerah Jatingaleh dan Gombel pun sukses diterobos Jepang pada 18 Oktober atau tiga hari sejak pecahnya pertempuran. Namun sehari kemudian, datang perwakilan sekutu dan pemerintah RI, untuk &amp;ldquo;memaksakan&amp;rdquo; gencatan senjata.
Tapi di beberapa front, pertempuran terus terjadi hingga baku tembak baru terhenti pada 20 Oktober 1945. Disebutkan, sekira 2.000 orang di pihak Indonesia jadi korban. Sementara tercatat 850 tentara Jepang juga binasa.

Peristiwa berdarah selama lima hari di &amp;ldquo;Kota Lumpia&amp;rdquo; itu sedianya rutin diperingati Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang di Bundaran Tugu Muda dengan disertai malam renungan. Tapi peringatan yang unik dan berbeda turut dibawakan para penggiat sejarah Semarang Historical Reenactment (SHR).
Bekerja sama dengan PT KAI Divisi Heritage dan sejumlah reenactor (pereka ulang sejarah) dari berbagai kota lainnya, SHR menggelar aksi teatrikal &amp;ldquo;Pertempuran 5 Hari Semarang&amp;rdquo; di Lawang Sewu, 23 Oktober lalu.
Koordinator event Wisnu Yogi, menguraikan bahwa aksi teatrikal yang dikemas dengan lebih otentik ini, ditujukan sebagai pembelajaran bagi masyarakat Kota Semarang.
&amp;ldquo;Untuk memperingati 71 tahun peristiwa Pertempuran 5 Hari di Semarang dan mengedukasi kepada masyarakat, bahwa pertempuran yang pernah terjadi dulu itu ya seperti ini,&amp;rdquo; terang Wisnu kepada Okezone. 
&amp;ldquo;Pesan yang ingin kami sampaikan adalah, agar para generasi muda Semarang ini tahu akan sejarah perjuangan di kotanya. Perjuangan meraih kemerdekaan yang tidak mudah. Semoga generasi muda bisa meneladani semangat juang saat itu dan mengisi kemerdekaan dengan hal-hal positif, dengan membangun Kota Semarang yang kita cintai,&amp;rdquo; tandasnya.
Aksi teatrikal ini juga direkam dengan video dan diunggah ke media sosial YouTube dan kebetulan, salah satu reenactor Mamet Hidayat, berkicau di akun Twitter Gubernur Jateng Ganjar Pranowo dengan disertai link videonya.

&amp;ldquo;Pak @ganjarpranowo @PemkotSemarang ini video temen2 komunitas SHR memperingati Pertmpuran 5 hari di Semarang,&amp;rdquo; kicau akun @mast_mameth. 
Kicauan itu juga kemudian direspons Gubernur Ganjar dengan nada apresiatif: &amp;ldquo;Kereeen,&amp;rdquo; jawab sang gubernur.
&amp;lt;iframe width=&quot;560&quot; height=&quot;315&quot; src=&quot;https://www.youtube.com/embed/_03deZYY4Xg&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;</content:encoded></item></channel></rss>
