<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Pascabadai Matthew, Haiti Hadapi Krisis Pangan Parah</title><description>Kegiatan pertanian dan perkebunan lumpuh, rakyat Haiti kelaparan dan menderita kekurangan gizi.</description><link>https://news.okezone.com/read/2016/11/11/18/1538632/pascabadai-matthew-haiti-hadapi-krisis-pangan-parah</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2016/11/11/18/1538632/pascabadai-matthew-haiti-hadapi-krisis-pangan-parah"/><item><title>Pascabadai Matthew, Haiti Hadapi Krisis Pangan Parah</title><link>https://news.okezone.com/read/2016/11/11/18/1538632/pascabadai-matthew-haiti-hadapi-krisis-pangan-parah</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2016/11/11/18/1538632/pascabadai-matthew-haiti-hadapi-krisis-pangan-parah</guid><pubDate>Jum'at 11 November 2016 09:07 WIB</pubDate><dc:creator>Silviana Dharma</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2016/11/11/18/1538632/pascabadai-matthew-haiti-hadapi-krisis-pangan-parah-UMoFtZT9MH.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Pascabadai Matthew di Haiti. (Foto: AP)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2016/11/11/18/1538632/pascabadai-matthew-haiti-hadapi-krisis-pangan-parah-UMoFtZT9MH.jpg</image><title>Pascabadai Matthew di Haiti. (Foto: AP)</title></images><description>PORT AU PRINCE &amp;ndash; Petahana Presiden Haiti, Jocelerme Privert kecewa dengan komitmen masyarakat internasional dalam membantu rakyatnya membangun kembali negara yang hancur. Ia melihat, perhatian negara-negara di dunia begitu cepat surut dan teralihkan dari penderitaan rakyatnya.
Seperti diketahui, Haiti hancur lebur setelah dihantam Badai Matthew yang membawa hujan deras dan angin berkecepatan tinggi pada 4 Oktober lalu. Sedikitnya 800 orang meninggal akibat bencana alam tersebut.
Selain membenahi negara yang luluh lantah akibat badai, Presiden Privert mengungkap saat ini Haiti juga diperhadapkan pada krisis pangan parah dan kekurangan gizi. Dia mengakui bahwa negara tidak bisa membantu banyak sebagaimana jumlah kerugian gara-gara badai setara dengan seluruh anggaran nasional yang dimiliki.
Oleh karena itulah, dia mendesak pemerintah di seluruh dunia untuk kembali mengulurkan tangan bagi pembangunan Haiti. Ia menegaskan, tanpa bantuan keuangan yang memadai untuk rakyat bercocok tanam, situasi di negaranya akan semakin buruk.
&amp;ldquo;Saya tidak ingin melihat rakyat Haiti mati karena tidak tersedianya bantuan internasional. Jika kita tidak berhasil membangkitkan pertanian negeri, maka dalam tiga sampai empat bulan ke depan kita siap-siap saja menghadapi krisis pangan parah,&amp;rdquo; ujar Privert dari kediamannya di Port au Prince, seperti dilansir dari BBC, Jumat (11/11/2016).
Privert menuturkan, biaya pembangunan pertanian yang dibutuhkan Haiti berkisar antara USD25 juta atau Rp339,5 miliar dan USD30 juta atau Rp407,4 miliar. Sementara anggaran yang ada di genggaman pemerintah saat ini hanya sepersepuluhnya, yakni USD2,5 juta atau Rp33,95 miliar.
&amp;ldquo;Komunitas internasional telah menyampaikan simpati mendalam mereka untuk rakyat Haiti. Para kepala negara juga sudah menghubungi kami, sejumlah kepala pemerintahan pun menyediakan beberapa bantuan baik secara moral dan materi. Tetapi semua itu belum cukup,&amp;rdquo; ucapnya.Badai Matthew kategori empat menerjang Haiti yang termasuk dalam  kawasan Laut Karibia. Sekira 2,1 juta orang menderita karenanya. Menurut  perhitungan Pemerintah Haiti, sedikitnya 1,5 juta penduduk membutuhkan  bantuan kemanusiaan langsung dan segera. Termasuk di antaranya ada lebih  dari 140 ribu orang yang masih tinggal di penampungan sementara.
Laporan lembaga nirlaba internasional J/P HRO membenarkan pernyataan  sang presiden mengenai kondisi terkini rakyat Haiti. Organisasi  kemanusiaan yang sudah mengirimkan bantuan ke Haiti sejak 2010 itu  mengatakan, krisis pangan yang dikhawatirkan itu benar-benar akan  terjadi dalam waktu relatif sangat dekat.
&amp;ldquo;Apa yang kami lihat di sini adalah kelaparan parah. Haiti mengalami  tiga tahun kekeringan sebelum badai, jadi tingkat kekurangan gizi di  sini pada dasarnya sudah tinggi. Sekarang puluhan dari ribuan are lahan  dan jutaan pohon buah telah hancur (jadi situasi negara semakin  mencekam),&amp;rdquo; beber ketua J/P HRO, Ann Lee.
Sepekan setelah Badai Matthew menghantam Haiti, PBB segera menyerukan  penggalangan dana kilat untuk mencapai USD120 juta atau Rp1,629 triliun. Dalam kurun waktu  sebulan lewat baru 38 persen dari tuntutan itu terpenuhi.
Pada kesempatan berbeda, Inggris Raya menyatakan komitmennya untuk  membantu Haiti secara finansial sebesar USD8 juta atau Rp108 miliar. Sejauh ini, bantuan  keuangan yang dijanjikan telah diserahkan ke PBB sebanyak USD1,3 juta atau Rp17,8 miliar.  Walaupun terkesan lamban, juru bicara pemerintah Inggris menjelaskan,  negaranya secara berangsur-angsur juga memberikan bantuan langsung  berupa penyediaan air bersih, tempat penampungan, perbaikan sanitasi dan  perlindungan.</description><content:encoded>PORT AU PRINCE &amp;ndash; Petahana Presiden Haiti, Jocelerme Privert kecewa dengan komitmen masyarakat internasional dalam membantu rakyatnya membangun kembali negara yang hancur. Ia melihat, perhatian negara-negara di dunia begitu cepat surut dan teralihkan dari penderitaan rakyatnya.
Seperti diketahui, Haiti hancur lebur setelah dihantam Badai Matthew yang membawa hujan deras dan angin berkecepatan tinggi pada 4 Oktober lalu. Sedikitnya 800 orang meninggal akibat bencana alam tersebut.
Selain membenahi negara yang luluh lantah akibat badai, Presiden Privert mengungkap saat ini Haiti juga diperhadapkan pada krisis pangan parah dan kekurangan gizi. Dia mengakui bahwa negara tidak bisa membantu banyak sebagaimana jumlah kerugian gara-gara badai setara dengan seluruh anggaran nasional yang dimiliki.
Oleh karena itulah, dia mendesak pemerintah di seluruh dunia untuk kembali mengulurkan tangan bagi pembangunan Haiti. Ia menegaskan, tanpa bantuan keuangan yang memadai untuk rakyat bercocok tanam, situasi di negaranya akan semakin buruk.
&amp;ldquo;Saya tidak ingin melihat rakyat Haiti mati karena tidak tersedianya bantuan internasional. Jika kita tidak berhasil membangkitkan pertanian negeri, maka dalam tiga sampai empat bulan ke depan kita siap-siap saja menghadapi krisis pangan parah,&amp;rdquo; ujar Privert dari kediamannya di Port au Prince, seperti dilansir dari BBC, Jumat (11/11/2016).
Privert menuturkan, biaya pembangunan pertanian yang dibutuhkan Haiti berkisar antara USD25 juta atau Rp339,5 miliar dan USD30 juta atau Rp407,4 miliar. Sementara anggaran yang ada di genggaman pemerintah saat ini hanya sepersepuluhnya, yakni USD2,5 juta atau Rp33,95 miliar.
&amp;ldquo;Komunitas internasional telah menyampaikan simpati mendalam mereka untuk rakyat Haiti. Para kepala negara juga sudah menghubungi kami, sejumlah kepala pemerintahan pun menyediakan beberapa bantuan baik secara moral dan materi. Tetapi semua itu belum cukup,&amp;rdquo; ucapnya.Badai Matthew kategori empat menerjang Haiti yang termasuk dalam  kawasan Laut Karibia. Sekira 2,1 juta orang menderita karenanya. Menurut  perhitungan Pemerintah Haiti, sedikitnya 1,5 juta penduduk membutuhkan  bantuan kemanusiaan langsung dan segera. Termasuk di antaranya ada lebih  dari 140 ribu orang yang masih tinggal di penampungan sementara.
Laporan lembaga nirlaba internasional J/P HRO membenarkan pernyataan  sang presiden mengenai kondisi terkini rakyat Haiti. Organisasi  kemanusiaan yang sudah mengirimkan bantuan ke Haiti sejak 2010 itu  mengatakan, krisis pangan yang dikhawatirkan itu benar-benar akan  terjadi dalam waktu relatif sangat dekat.
&amp;ldquo;Apa yang kami lihat di sini adalah kelaparan parah. Haiti mengalami  tiga tahun kekeringan sebelum badai, jadi tingkat kekurangan gizi di  sini pada dasarnya sudah tinggi. Sekarang puluhan dari ribuan are lahan  dan jutaan pohon buah telah hancur (jadi situasi negara semakin  mencekam),&amp;rdquo; beber ketua J/P HRO, Ann Lee.
Sepekan setelah Badai Matthew menghantam Haiti, PBB segera menyerukan  penggalangan dana kilat untuk mencapai USD120 juta atau Rp1,629 triliun. Dalam kurun waktu  sebulan lewat baru 38 persen dari tuntutan itu terpenuhi.
Pada kesempatan berbeda, Inggris Raya menyatakan komitmennya untuk  membantu Haiti secara finansial sebesar USD8 juta atau Rp108 miliar. Sejauh ini, bantuan  keuangan yang dijanjikan telah diserahkan ke PBB sebanyak USD1,3 juta atau Rp17,8 miliar.  Walaupun terkesan lamban, juru bicara pemerintah Inggris menjelaskan,  negaranya secara berangsur-angsur juga memberikan bantuan langsung  berupa penyediaan air bersih, tempat penampungan, perbaikan sanitasi dan  perlindungan.</content:encoded></item></channel></rss>
