<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>#RIPIntan, Korban Tragedi Bom Samarinda yang Menyayat Hati</title><description>Selain Intan, seorang balita lainnya masih kritis dan diharapkan tak menyusul jadi martir kedua bom Samarinda.</description><link>https://news.okezone.com/read/2016/11/14/340/1541350/ripintan-korban-tragedi-bom-samarinda-yang-menyayat-hati</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2016/11/14/340/1541350/ripintan-korban-tragedi-bom-samarinda-yang-menyayat-hati"/><item><title>#RIPIntan, Korban Tragedi Bom Samarinda yang Menyayat Hati</title><link>https://news.okezone.com/read/2016/11/14/340/1541350/ripintan-korban-tragedi-bom-samarinda-yang-menyayat-hati</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2016/11/14/340/1541350/ripintan-korban-tragedi-bom-samarinda-yang-menyayat-hati</guid><pubDate>Senin 14 November 2016 19:48 WIB</pubDate><dc:creator>Randy Wirayudha</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2016/11/14/340/1541350/ripintan-korban-tragedi-bom-samarinda-yang-menyayat-hati-K4ZO3vwqLd.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Balita korban bom Samarinda (Foto: Twitter)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2016/11/14/340/1541350/ripintan-korban-tragedi-bom-samarinda-yang-menyayat-hati-K4ZO3vwqLd.jpg</image><title>Balita korban bom Samarinda (Foto: Twitter)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Aksi terorisme di Samarinda, Kalimantan Timur pada Minggu 13 November lalu memakan korban jiwa. Yang bikin miris kalbu setiap warga Indonesia, korbannya masih balita.
Aksi bom molotov di sebuah gereja di Samarinda lalu melukai empat balita yang kebetulan, tengah bermain di lokasi pemboman. Satu di antaranya tak bisa tertolong, kendati sudah berusaha dilarikan ke Rumah Sakit Abdul Wahab Syahranie, Samarinda.
Luka bakarnya sudah mencapai lebih dari 70 persen. (Baca: Balita Korban Ledakan Samarinda Tak Tertolong, Ini Penyebabnya)
Intan Olivia Marbun namanya. Bocah mungil berusia tiga tahun ini seolah jadi martir akibat kebiadaban sekelompok teroris yang mengatasnamakan agama.
Entah bagaimana suasana hati keluarga, mengetahui buah hati mereka yang tak tahu apa-apa, turut jadi korban terorisme. Intan memang bukan satu-satunya, terlebih jika kita menengok ke berbagai konflik di Timur Tengah.
Namun ini jadi perhatian tersendiri bagi masyarakat kita yang belakangan, tengah menghadapi ujian besar. Ujian mempertahankan kebhinekaan negeri kita yang sudah diperjuangkan dengan keringat dan darah para pendahulu kita.
Media Sosial, terutama Twitter, dibanjiri tanda pagar (tagar) #RIPIntan, sebagai bentuk belasungkawa para netizen. Meninggalnya Intan akibat bom di depan gereja seolah juga mengingatkan kita akan &amp;ldquo;martir&amp;rdquo; lainnya yang dengan bertaruh nyawa menjaga sesama manusia Indonesia.
Riyanto namanya. Anggota Banser Nahdlatul Ulama (NU) yang meninggal pada Desember 2004 silam. Riyanto tewas dalam tugasnya kala mengamankan perayaan Hari Natal di sebuah gereja di Mojokerto, Jawa Timur.

&amp;ldquo;Sahabatku, riyanto..adik kita Intan Olivia Marbun menyusulmu..menjadi MARTIR bagi Kebangsaan &amp;amp; Kebhinekaan Republik Indonesia. #RIPIntan,&amp;rdquo; kicau akun Twitter @ansor_jatim.
Itu hanya sedikit dari sejumlah ungkapan duka mendalam atas meninggalnya Intan yang menyayat hati di jagad maya. Semoga ini jadi yang terakhir, di mana nyawa anak tak berdosa jadi korban kekerasan dan terorisme di negeri kita yang tercinta.
Tak ketinggalan, berbagai doa juga dipanjatkan kepada tiga balita lainnya yang masih dirawat di rumah sakit. Karena salah satunya kini dalam keadaan kritis dengan luka bakar 50 persen.
(Baca juga: Luka Bakar 50%, Satu Lagi Balita 3 Tahun Korban Bom Samarinda Kritis)
&amp;ldquo;Satu orang masih bertahan namanya Triniti usianya 3 tahun. Kritis karena luka bakarnya 50 persen,&quot; kata Direktur RSUD Abdul Wahab Sjahranie, Dr Rachim Dinata ketika dikonfirmasi Okezone, Senin (14/11/2016). (raw)</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Aksi terorisme di Samarinda, Kalimantan Timur pada Minggu 13 November lalu memakan korban jiwa. Yang bikin miris kalbu setiap warga Indonesia, korbannya masih balita.
Aksi bom molotov di sebuah gereja di Samarinda lalu melukai empat balita yang kebetulan, tengah bermain di lokasi pemboman. Satu di antaranya tak bisa tertolong, kendati sudah berusaha dilarikan ke Rumah Sakit Abdul Wahab Syahranie, Samarinda.
Luka bakarnya sudah mencapai lebih dari 70 persen. (Baca: Balita Korban Ledakan Samarinda Tak Tertolong, Ini Penyebabnya)
Intan Olivia Marbun namanya. Bocah mungil berusia tiga tahun ini seolah jadi martir akibat kebiadaban sekelompok teroris yang mengatasnamakan agama.
Entah bagaimana suasana hati keluarga, mengetahui buah hati mereka yang tak tahu apa-apa, turut jadi korban terorisme. Intan memang bukan satu-satunya, terlebih jika kita menengok ke berbagai konflik di Timur Tengah.
Namun ini jadi perhatian tersendiri bagi masyarakat kita yang belakangan, tengah menghadapi ujian besar. Ujian mempertahankan kebhinekaan negeri kita yang sudah diperjuangkan dengan keringat dan darah para pendahulu kita.
Media Sosial, terutama Twitter, dibanjiri tanda pagar (tagar) #RIPIntan, sebagai bentuk belasungkawa para netizen. Meninggalnya Intan akibat bom di depan gereja seolah juga mengingatkan kita akan &amp;ldquo;martir&amp;rdquo; lainnya yang dengan bertaruh nyawa menjaga sesama manusia Indonesia.
Riyanto namanya. Anggota Banser Nahdlatul Ulama (NU) yang meninggal pada Desember 2004 silam. Riyanto tewas dalam tugasnya kala mengamankan perayaan Hari Natal di sebuah gereja di Mojokerto, Jawa Timur.

&amp;ldquo;Sahabatku, riyanto..adik kita Intan Olivia Marbun menyusulmu..menjadi MARTIR bagi Kebangsaan &amp;amp; Kebhinekaan Republik Indonesia. #RIPIntan,&amp;rdquo; kicau akun Twitter @ansor_jatim.
Itu hanya sedikit dari sejumlah ungkapan duka mendalam atas meninggalnya Intan yang menyayat hati di jagad maya. Semoga ini jadi yang terakhir, di mana nyawa anak tak berdosa jadi korban kekerasan dan terorisme di negeri kita yang tercinta.
Tak ketinggalan, berbagai doa juga dipanjatkan kepada tiga balita lainnya yang masih dirawat di rumah sakit. Karena salah satunya kini dalam keadaan kritis dengan luka bakar 50 persen.
(Baca juga: Luka Bakar 50%, Satu Lagi Balita 3 Tahun Korban Bom Samarinda Kritis)
&amp;ldquo;Satu orang masih bertahan namanya Triniti usianya 3 tahun. Kritis karena luka bakarnya 50 persen,&quot; kata Direktur RSUD Abdul Wahab Sjahranie, Dr Rachim Dinata ketika dikonfirmasi Okezone, Senin (14/11/2016). (raw)</content:encoded></item></channel></rss>
