<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Telusuri Jejak Manusia Purba di Sungai Oya, Arkeolog Temukan Beragam Artefak</title><description>Selama sekira dua pekan, Indah dan sembilan rekannya dari Balai Arkeologi menyusuri Sungai Oya.</description><link>https://news.okezone.com/read/2016/11/17/510/1544066/telusuri-jejak-manusia-purba-di-sungai-oya-arkeolog-temukan-beragam-artefak</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2016/11/17/510/1544066/telusuri-jejak-manusia-purba-di-sungai-oya-arkeolog-temukan-beragam-artefak"/><item><title>Telusuri Jejak Manusia Purba di Sungai Oya, Arkeolog Temukan Beragam Artefak</title><link>https://news.okezone.com/read/2016/11/17/510/1544066/telusuri-jejak-manusia-purba-di-sungai-oya-arkeolog-temukan-beragam-artefak</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2016/11/17/510/1544066/telusuri-jejak-manusia-purba-di-sungai-oya-arkeolog-temukan-beragam-artefak</guid><pubDate>Kamis 17 November 2016 14:55 WIB</pubDate><dc:creator>Agregasi Harian Jogja</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2016/11/17/510/1544066/telusuri-jejak-manusia-purba-di-sungai-oya-arkeolog-temukan-beragam-artefak-AgOA8oOELJ.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2016/11/17/510/1544066/telusuri-jejak-manusia-purba-di-sungai-oya-arkeolog-temukan-beragam-artefak-AgOA8oOELJ.jpg</image><title>Ilustrasi</title></images><description>GUNUNGKIDUL - Sepuluh peneliti dari Balai Arkeologi DIY menelusuri jejak manusia purba yang pernah hidup di sepanjang Sungai Oya, Kabupaten Gunungkidul. Misteri peradaban masa lalu mulai terkuak &amp;nbsp;dari puluhan artefak yang ditemukan.
Bongkahan batu seberat 1,6 kilogram (kg) terbungkus plastik bening. Wujudnya tak bulat dan mulus. Ada cekungan di sebagian batu berwarna coklat tua itu. Di bagian pinggirnya, ada jejak mirip hasil sentuhan tangan manusia.
&amp;ldquo;Ini batu bekas pangkasan, hasil tangan manusia jelas sekali, seperti terbacok sehingga bentuknya seperti ini,&amp;rdquo; kata Ketua Tim Peneliti Sungai Oya dari Balai Arkeologi DIY, Indah Asikin Nurani, seperti dikutip dari Harianjogja.com, Kamis (17/11/2016).
Indah mengatakan, sudah terbiasa memebedakan mana batu yang terpotong akibat ulah manusia dengan batu yang tergerus akibat proses alam. Gerusan akibat proses alam akan menghasilkan bentuk yang lebih alami. Artefak paleolitikum atau zaman batu tua itu dinamai alat penetak, karena bentuknya menyerupai kepala kapak.
&amp;ldquo;Alat penetak ini bisa digunakan untuk menghancurkan daging atau makanan pada zaman manusia pra sejarah,&amp;rdquo; ujar dia.
Selama sekira dua pekan, Indah dan sembilan rekannya dari Balai Arkeologi menyusuri Sungai Oya yang melintasi Kecamatan Semin, Ngawen, Nglipar, Karangmojo, Wonosari, Gedangsari, Patuk hingga Playen Gunungkidul. Periode turun ke lapangan itu dimulai 19 Oktober lalu dan berakhir 1 November.
Perburuan selama dua pekan itu berhasil menemukan lebih dari 60 artefak yang diduga kuat peninggalan manusia purba zaman batu tua atau sekira 1,8 juta tahun lalu. Mulai dari alat penetak, kapak perimbas dan pahat. Seluruhnya diduga kuat adalah benda hasil kebudayaan manusia pra sejarah. Puluhan artefak itu diperoleh setelah para peneliti menyambangi lebih dari 20 titik lekukan sungai.
Lekukan sungai dari berbagai pengalaman arkeolog kerap menjadi tempat tinggal manusia purba. Manusia purba zaman batu tua diyakini tak hidup di dalam gua seperti pada zaman batu tengah atau mesolitikum. Tempat berteduh seperti cekungan-cekungan tebing di dekat sungai atau gua terbuka lebih disenangi sebagai tempat tinggal.
&amp;ldquo;Lekukan sungai atau meander itu biasanya lebih rata enak untuk ditempati serta kerap tersedia bahan makanan. Binatang juga kerap mencari makanan di sekitar lekukan,&amp;rdquo; tuturnya.</description><content:encoded>GUNUNGKIDUL - Sepuluh peneliti dari Balai Arkeologi DIY menelusuri jejak manusia purba yang pernah hidup di sepanjang Sungai Oya, Kabupaten Gunungkidul. Misteri peradaban masa lalu mulai terkuak &amp;nbsp;dari puluhan artefak yang ditemukan.
Bongkahan batu seberat 1,6 kilogram (kg) terbungkus plastik bening. Wujudnya tak bulat dan mulus. Ada cekungan di sebagian batu berwarna coklat tua itu. Di bagian pinggirnya, ada jejak mirip hasil sentuhan tangan manusia.
&amp;ldquo;Ini batu bekas pangkasan, hasil tangan manusia jelas sekali, seperti terbacok sehingga bentuknya seperti ini,&amp;rdquo; kata Ketua Tim Peneliti Sungai Oya dari Balai Arkeologi DIY, Indah Asikin Nurani, seperti dikutip dari Harianjogja.com, Kamis (17/11/2016).
Indah mengatakan, sudah terbiasa memebedakan mana batu yang terpotong akibat ulah manusia dengan batu yang tergerus akibat proses alam. Gerusan akibat proses alam akan menghasilkan bentuk yang lebih alami. Artefak paleolitikum atau zaman batu tua itu dinamai alat penetak, karena bentuknya menyerupai kepala kapak.
&amp;ldquo;Alat penetak ini bisa digunakan untuk menghancurkan daging atau makanan pada zaman manusia pra sejarah,&amp;rdquo; ujar dia.
Selama sekira dua pekan, Indah dan sembilan rekannya dari Balai Arkeologi menyusuri Sungai Oya yang melintasi Kecamatan Semin, Ngawen, Nglipar, Karangmojo, Wonosari, Gedangsari, Patuk hingga Playen Gunungkidul. Periode turun ke lapangan itu dimulai 19 Oktober lalu dan berakhir 1 November.
Perburuan selama dua pekan itu berhasil menemukan lebih dari 60 artefak yang diduga kuat peninggalan manusia purba zaman batu tua atau sekira 1,8 juta tahun lalu. Mulai dari alat penetak, kapak perimbas dan pahat. Seluruhnya diduga kuat adalah benda hasil kebudayaan manusia pra sejarah. Puluhan artefak itu diperoleh setelah para peneliti menyambangi lebih dari 20 titik lekukan sungai.
Lekukan sungai dari berbagai pengalaman arkeolog kerap menjadi tempat tinggal manusia purba. Manusia purba zaman batu tua diyakini tak hidup di dalam gua seperti pada zaman batu tengah atau mesolitikum. Tempat berteduh seperti cekungan-cekungan tebing di dekat sungai atau gua terbuka lebih disenangi sebagai tempat tinggal.
&amp;ldquo;Lekukan sungai atau meander itu biasanya lebih rata enak untuk ditempati serta kerap tersedia bahan makanan. Binatang juga kerap mencari makanan di sekitar lekukan,&amp;rdquo; tuturnya.</content:encoded></item></channel></rss>
