<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Potret Kemiskinan dan Krisis Pangan di Chad</title><description> Menengok Chad, negara di Afrika Tengah yang mengalami krisis pangan parah dan kekurangan gizi akut. Sungai-sungai pun kian mengering.</description><link>https://news.okezone.com/read/2016/11/20/18/1546212/potret-kemiskinan-dan-krisis-pangan-di-chad</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2016/11/20/18/1546212/potret-kemiskinan-dan-krisis-pangan-di-chad"/><item><title>Potret Kemiskinan dan Krisis Pangan di Chad</title><link>https://news.okezone.com/read/2016/11/20/18/1546212/potret-kemiskinan-dan-krisis-pangan-di-chad</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2016/11/20/18/1546212/potret-kemiskinan-dan-krisis-pangan-di-chad</guid><pubDate>Minggu 20 November 2016 10:03 WIB</pubDate><dc:creator>Silviana Dharma</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2016/11/20/18/1546212/potret-kemiskinan-dan-krisis-pangan-di-chad-2hBJT66OCw.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Jumana dan anak-anaknya menunjukkan persedian makanan mereka sepekan ke depan. (Foto: Peter Caton/Tear Fund via BBC)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2016/11/20/18/1546212/potret-kemiskinan-dan-krisis-pangan-di-chad-2hBJT66OCw.jpg</image><title>Jumana dan anak-anaknya menunjukkan persedian makanan mereka sepekan ke depan. (Foto: Peter Caton/Tear Fund via BBC)</title></images><description>N&amp;rsquo;DJAMENA &amp;ndash; Menengok Chad, negara di Afrika Tengah yang beribukotakan N&amp;rsquo;djamena. Chad telah berdiri sebagai negara berdaulat sejak 11 Agustus 1960. Negara ini memang sudah terbebas dari penjajahan Prancis, sayang hingga kini republik tersebut belum merdeka seutuhnya dari masalah perut.
World Food Programme, lembaga internasional yang berfokus pada isu ketersediaan pangan di dunia,  melaporkan betapa kemiskinan dan krisis pangan di Chad sangat parah. Dalam studi Cost of Hunger di Afrika, kekurangan gizi berdampak paling signifikan terhadap perekonomian di negara tersebut.
Bahkan, dalam  Global Hunger Index per Oktober 2016, Chad menduduki peringkat kedua dari 118 negara di dunia yang tingkat kelaparannya paling tinggi. Negara-negara di Afrika dan Eropa sendiri sudah sering urungan meringankan penderitaan rakyat Chad, sayang semua upaya tersebut belum cukup.
Salah satu potret kemiskinan dan penderitaan rakyat Chad akibat  krisis pangan direpresentasikan oleh Yasmin sekeluarga. Yasmin adalah  anak perempuan berusia tujuh tahun yang tinggal di Hille Bar.

Foto: Yasmin (Peter Caton/Tear Fund)
Alih-alih bisa bersekolah seperti kebanyakan anak seusianya, justru  Yasmin harus membantu ibunya, Jumana menghidupi kelima saudaranya.  Sementara ayahnya harus pergi untuk bekerja di pabrik tali yang jaraknya  sangat jauh dari desanya.
&amp;ldquo;Terlalu banyak halangan untuk Yasmin bisa bersekolah, karena  prioritas kami di sini adalah makanan. Namun jika kondisi kami bisa  meningkat, tentu saya akan menabung dan mengirimnya ke bangku sekolah  yang hanya berjarak dua kilometer dari sini,&amp;rdquo; tukas Jumana, seperti  dilansir dari  BBC, Minggu (20/11/2016).
Angka melek huruf di Chad diketahui mencapai sekira 52 persen untuk  anak laki-laki, dan kurang dari 44 persennya dikecap perempuan.  Kebanyakan tidak bisa mengenyam pendidikan karena kelaparan. Desa Yasmin  salah satunya. Hille Bar terletak di Sahel, kawasan di Afrika Tengah  yang paling didera kekeringan. Tahun ini, ada lebih dari 5,5 juta anak  menderita malnutrisi akut.Yasmin sebenarnya sangat gemar bermain di luar. Dia juga termasuk   anak yang ceria. Akan tetapi, kelaparan menghalangi dia menjadi dirinya   sendiri. Jumana menuturkan, ada kalanya saat makanan sedang sangat   menipis, Yasmin terbaring lemas dan tak bisa beranjak keluar.

Baginya, Yasmin adalah salah satu anaknya yang beruntung. Jumana   menjelaskan, beberapa tahun lalu, anaknya yang lain, saudara Yasmin,   meninggal karena kelaparan.
Selain minimnya ketersediaan makanan, Chad juga sangat kekurangan   sumber daya air. Dalam salah satu foto yang diambil Peter Caton dari   Tear Fund, lembaga amal berbasis kekristenan di Inggris, terlihat Jumana   bersama putri bungsunya berdiri di atas sungai yang amat dangkal.   Sampai-sampai yang menjadi pijakan Jumana bukan lagi air, tetapi tanah.

&amp;ldquo;Beberapa bulan kemudian, sungai ini akan mengering sepenuhnya dan   warga desa harus mengais pasir demi mencari air. Ada lembaga kemanusiaan   yang sudah membantu komunitas di sini membangun bendungan kecil untuk   menampung air dan memberikan pasokan air yang lebih rutin dan   terjangkau,&amp;rdquo; terang Peter Caton untuk foto tersebut di atas.Kebanyakan warga desa Hille Bar bekerja sebagai pembuat tikar dan    keranjang roti. Hasil anyamannya kemudian dibawa ke pasar dengan bantuan    keledai. Berapa penghasilannya? Tidak disebutkan, tetapi Peter Caton    mengungkap, sangat sedikit.

Demikian sepenggal kisah kelam Yasmin dan keluarganya di Hille Bar.    Meksi begitu, sekarang kehidupan mereka sudah lebih baik. BBC mengulas,    yayasan Tear Fund telah menyalurkan bantuan keuangan dan memberi    pelatihan keterampilan kepada Jumana dan Yasmin.

Walau belum memberantas kemiskinan secara menyeluruh di Chad,    setidaknya di sini ada satu keluarga terangkat. Jumana sekarang dapat    membeli dan menjual gandum, serta barang-barang kecil lainnya untuk    memberikan penghasilan yang lebih mumpuni guna membesarkan anak-anaknya.</description><content:encoded>N&amp;rsquo;DJAMENA &amp;ndash; Menengok Chad, negara di Afrika Tengah yang beribukotakan N&amp;rsquo;djamena. Chad telah berdiri sebagai negara berdaulat sejak 11 Agustus 1960. Negara ini memang sudah terbebas dari penjajahan Prancis, sayang hingga kini republik tersebut belum merdeka seutuhnya dari masalah perut.
World Food Programme, lembaga internasional yang berfokus pada isu ketersediaan pangan di dunia,  melaporkan betapa kemiskinan dan krisis pangan di Chad sangat parah. Dalam studi Cost of Hunger di Afrika, kekurangan gizi berdampak paling signifikan terhadap perekonomian di negara tersebut.
Bahkan, dalam  Global Hunger Index per Oktober 2016, Chad menduduki peringkat kedua dari 118 negara di dunia yang tingkat kelaparannya paling tinggi. Negara-negara di Afrika dan Eropa sendiri sudah sering urungan meringankan penderitaan rakyat Chad, sayang semua upaya tersebut belum cukup.
Salah satu potret kemiskinan dan penderitaan rakyat Chad akibat  krisis pangan direpresentasikan oleh Yasmin sekeluarga. Yasmin adalah  anak perempuan berusia tujuh tahun yang tinggal di Hille Bar.

Foto: Yasmin (Peter Caton/Tear Fund)
Alih-alih bisa bersekolah seperti kebanyakan anak seusianya, justru  Yasmin harus membantu ibunya, Jumana menghidupi kelima saudaranya.  Sementara ayahnya harus pergi untuk bekerja di pabrik tali yang jaraknya  sangat jauh dari desanya.
&amp;ldquo;Terlalu banyak halangan untuk Yasmin bisa bersekolah, karena  prioritas kami di sini adalah makanan. Namun jika kondisi kami bisa  meningkat, tentu saya akan menabung dan mengirimnya ke bangku sekolah  yang hanya berjarak dua kilometer dari sini,&amp;rdquo; tukas Jumana, seperti  dilansir dari  BBC, Minggu (20/11/2016).
Angka melek huruf di Chad diketahui mencapai sekira 52 persen untuk  anak laki-laki, dan kurang dari 44 persennya dikecap perempuan.  Kebanyakan tidak bisa mengenyam pendidikan karena kelaparan. Desa Yasmin  salah satunya. Hille Bar terletak di Sahel, kawasan di Afrika Tengah  yang paling didera kekeringan. Tahun ini, ada lebih dari 5,5 juta anak  menderita malnutrisi akut.Yasmin sebenarnya sangat gemar bermain di luar. Dia juga termasuk   anak yang ceria. Akan tetapi, kelaparan menghalangi dia menjadi dirinya   sendiri. Jumana menuturkan, ada kalanya saat makanan sedang sangat   menipis, Yasmin terbaring lemas dan tak bisa beranjak keluar.

Baginya, Yasmin adalah salah satu anaknya yang beruntung. Jumana   menjelaskan, beberapa tahun lalu, anaknya yang lain, saudara Yasmin,   meninggal karena kelaparan.
Selain minimnya ketersediaan makanan, Chad juga sangat kekurangan   sumber daya air. Dalam salah satu foto yang diambil Peter Caton dari   Tear Fund, lembaga amal berbasis kekristenan di Inggris, terlihat Jumana   bersama putri bungsunya berdiri di atas sungai yang amat dangkal.   Sampai-sampai yang menjadi pijakan Jumana bukan lagi air, tetapi tanah.

&amp;ldquo;Beberapa bulan kemudian, sungai ini akan mengering sepenuhnya dan   warga desa harus mengais pasir demi mencari air. Ada lembaga kemanusiaan   yang sudah membantu komunitas di sini membangun bendungan kecil untuk   menampung air dan memberikan pasokan air yang lebih rutin dan   terjangkau,&amp;rdquo; terang Peter Caton untuk foto tersebut di atas.Kebanyakan warga desa Hille Bar bekerja sebagai pembuat tikar dan    keranjang roti. Hasil anyamannya kemudian dibawa ke pasar dengan bantuan    keledai. Berapa penghasilannya? Tidak disebutkan, tetapi Peter Caton    mengungkap, sangat sedikit.

Demikian sepenggal kisah kelam Yasmin dan keluarganya di Hille Bar.    Meksi begitu, sekarang kehidupan mereka sudah lebih baik. BBC mengulas,    yayasan Tear Fund telah menyalurkan bantuan keuangan dan memberi    pelatihan keterampilan kepada Jumana dan Yasmin.

Walau belum memberantas kemiskinan secara menyeluruh di Chad,    setidaknya di sini ada satu keluarga terangkat. Jumana sekarang dapat    membeli dan menjual gandum, serta barang-barang kecil lainnya untuk    memberikan penghasilan yang lebih mumpuni guna membesarkan anak-anaknya.</content:encoded></item></channel></rss>
