<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>HISTORIPEDIA: Amerika Serikat dan Uni Soviet Diskusikan Pengurangan Senjata Nuklir  </title><description>AS dan Uni Soviet melakukan pembicaraan terbuka terkait wacana pengurangan senjata nuklir jarak menengah.</description><link>https://news.okezone.com/read/2016/11/30/18/1554335/historipedia-amerika-serikat-dan-uni-soviet-diskusikan-pengurangan-senjata-nuklir</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2016/11/30/18/1554335/historipedia-amerika-serikat-dan-uni-soviet-diskusikan-pengurangan-senjata-nuklir"/><item><title>HISTORIPEDIA: Amerika Serikat dan Uni Soviet Diskusikan Pengurangan Senjata Nuklir  </title><link>https://news.okezone.com/read/2016/11/30/18/1554335/historipedia-amerika-serikat-dan-uni-soviet-diskusikan-pengurangan-senjata-nuklir</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2016/11/30/18/1554335/historipedia-amerika-serikat-dan-uni-soviet-diskusikan-pengurangan-senjata-nuklir</guid><pubDate>Rabu 30 November 2016 08:04 WIB</pubDate><dc:creator>Rufki Ade Vinanda</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2016/11/29/18/1554335/historipedia-amerika-serikat-dan-uni-soviet-diskusikan-pengurangan-senjata-nuklir-UjMDRLC5tC.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Mantan Presiden AS Jimmy Carter dan Mantan Sekjen Uni Soviet Leonid Brezhnev menandatangani perjanjian SALT. (Foto: Bill Fitz-Patrick/Britannica)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2016/11/29/18/1554335/historipedia-amerika-serikat-dan-uni-soviet-diskusikan-pengurangan-senjata-nuklir-UjMDRLC5tC.jpg</image><title>Mantan Presiden AS Jimmy Carter dan Mantan Sekjen Uni Soviet Leonid Brezhnev menandatangani perjanjian SALT. (Foto: Bill Fitz-Patrick/Britannica)</title></images><description>PERWAKILAN dari Amerika Serikat dan Uni Soviet melakukan pembicaraan terbuka terkait wacana pengurangan senjata nuklir jarak menengah atau intermediate-range nuclear (INF) di Eropa pada 30 November 1981. Diskusi tersebut berlangsung hingga 17 November 1981, namun pada akhirnya tidak menghasilkan kesepakatan apa pun.

Konferensi bilateral dan perjanjian internasional antardua negara adidaya tersebut dikenal dengan Strategic Arms Limitation Talks atau SALT. SALT I (1972) dan SALT II (1979) diselenggarakan bertujuan untuk mengurangi jumlah persenjataan strategis, namun pertemuan tersebut justru menyisakan masalah yang tak pernah terselesaikan yakni meningkatnya jumlah persenjataan non-strategis seperti rudal nuklir jarak menengah (INF) di Eropa.

Pada 1976, Soviet mulai memperbarui sistem persenjatan non strategis mereka atau INF menjadi senjata yang lebih baik yaitu rudal SS-20. Amerika dan sekutunya, NATO merespons kegiatan Uni Soviet tersebut dengan AS mengeluarkan ancaman akan menggerakkan rudal jelajah Pershing II (rudal balistik jarak menengah) pada 1983, apabila tidak ada kesepakatan yang kunjung disepakati dengan Uni Soviet.

Kemudian pada 1981 situasi mulai berubah. Persenjataan nuklir dilarang di Eropa Barat dan secara bersamaan terdapat rasa takut yang berkembang di kalangan masyarakat dunia setelah mendengar retorika Presiden Amerika kala itu, Ronald Reagan, yang menyebabkan konfrontasi nuklir AS dengan Eropa menjadi sebuah medan perang.

Amerika Serikat dan Uni Soviet setuju untuk menggelar pembicaraan berkaitan dengan INF pada November 1981. Sebelum pertemuan tersebut berlangsung, Presiden Reagan terlebih dulu mengumumkan apa yang disebut &quot;zero option&quot; sebagai dasar untuk posisi AS dalam negosiasi. Dalam rencana ini Amerika Serikat akan membatalkan penyebaran rudal baru di Eropa Barat jika Soviet membongkar rudal atau INF mereka di Eropa Timur.

Usulan tersebut disambut dengan skeptis oleh Uni Soviet. Bahkan sekutu AS sendiri percaya bahwa hal tersebut merupakan bagian dari salah satu strategi publik yang pasti tidak akan diterima Uni Soviet. Uni Soviet kemudian menanggapi usulan tersebut dengan rinci, yang intinya menghilangkan semua INF di Eropa termasuk rudal milik Prancis dan Inggris (sekutu AS) yang belum tercakup dalam wacana &quot;zero option&quot; milik Reagan.  Rencana ini tentu saja secara otomatis akan membuat negara di bagian Eropa Barat tunduk pada Uni Soviet.

Usulan ini tampak tidak realistis. Dan meskipun sudah ada upaya diskusi, baik dari perwakilan AS dan Uni Soviet, pada akhirnya tetap tidak ada kesepakatan dicapai. Perjanjian tersebut terbengkalai, hingga kemudian pada Desember 1987, rencana tersebut disepakati oleh kedua belah pihak. Presiden AS Reagan dan Pimpinan Uni Soviet Mikhail Gorbachev  setuju mengurangi peresenjataan rudal jarak menengah (INF) mereka.

Amerika Serikat dan Uni Soviet - kini Rusia - memang sudah tak terlibat konfrontasi nuklir. Namun AS harus mengahadapi masalah yang lebih pelik, yakni konfrontasi nuklir dari Korea Utara yang terkenal rajin melakukan uji coba rudal balistik mereka.</description><content:encoded>PERWAKILAN dari Amerika Serikat dan Uni Soviet melakukan pembicaraan terbuka terkait wacana pengurangan senjata nuklir jarak menengah atau intermediate-range nuclear (INF) di Eropa pada 30 November 1981. Diskusi tersebut berlangsung hingga 17 November 1981, namun pada akhirnya tidak menghasilkan kesepakatan apa pun.

Konferensi bilateral dan perjanjian internasional antardua negara adidaya tersebut dikenal dengan Strategic Arms Limitation Talks atau SALT. SALT I (1972) dan SALT II (1979) diselenggarakan bertujuan untuk mengurangi jumlah persenjataan strategis, namun pertemuan tersebut justru menyisakan masalah yang tak pernah terselesaikan yakni meningkatnya jumlah persenjataan non-strategis seperti rudal nuklir jarak menengah (INF) di Eropa.

Pada 1976, Soviet mulai memperbarui sistem persenjatan non strategis mereka atau INF menjadi senjata yang lebih baik yaitu rudal SS-20. Amerika dan sekutunya, NATO merespons kegiatan Uni Soviet tersebut dengan AS mengeluarkan ancaman akan menggerakkan rudal jelajah Pershing II (rudal balistik jarak menengah) pada 1983, apabila tidak ada kesepakatan yang kunjung disepakati dengan Uni Soviet.

Kemudian pada 1981 situasi mulai berubah. Persenjataan nuklir dilarang di Eropa Barat dan secara bersamaan terdapat rasa takut yang berkembang di kalangan masyarakat dunia setelah mendengar retorika Presiden Amerika kala itu, Ronald Reagan, yang menyebabkan konfrontasi nuklir AS dengan Eropa menjadi sebuah medan perang.

Amerika Serikat dan Uni Soviet setuju untuk menggelar pembicaraan berkaitan dengan INF pada November 1981. Sebelum pertemuan tersebut berlangsung, Presiden Reagan terlebih dulu mengumumkan apa yang disebut &quot;zero option&quot; sebagai dasar untuk posisi AS dalam negosiasi. Dalam rencana ini Amerika Serikat akan membatalkan penyebaran rudal baru di Eropa Barat jika Soviet membongkar rudal atau INF mereka di Eropa Timur.

Usulan tersebut disambut dengan skeptis oleh Uni Soviet. Bahkan sekutu AS sendiri percaya bahwa hal tersebut merupakan bagian dari salah satu strategi publik yang pasti tidak akan diterima Uni Soviet. Uni Soviet kemudian menanggapi usulan tersebut dengan rinci, yang intinya menghilangkan semua INF di Eropa termasuk rudal milik Prancis dan Inggris (sekutu AS) yang belum tercakup dalam wacana &quot;zero option&quot; milik Reagan.  Rencana ini tentu saja secara otomatis akan membuat negara di bagian Eropa Barat tunduk pada Uni Soviet.

Usulan ini tampak tidak realistis. Dan meskipun sudah ada upaya diskusi, baik dari perwakilan AS dan Uni Soviet, pada akhirnya tetap tidak ada kesepakatan dicapai. Perjanjian tersebut terbengkalai, hingga kemudian pada Desember 1987, rencana tersebut disepakati oleh kedua belah pihak. Presiden AS Reagan dan Pimpinan Uni Soviet Mikhail Gorbachev  setuju mengurangi peresenjataan rudal jarak menengah (INF) mereka.

Amerika Serikat dan Uni Soviet - kini Rusia - memang sudah tak terlibat konfrontasi nuklir. Namun AS harus mengahadapi masalah yang lebih pelik, yakni konfrontasi nuklir dari Korea Utara yang terkenal rajin melakukan uji coba rudal balistik mereka.</content:encoded></item></channel></rss>
