<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Alasan Medsos Dijadikan Panggung Kampanye</title><description>media sosial digunakan sebagai bagian dari kampanye karena efektif sekaligus murah.</description><link>https://news.okezone.com/read/2016/11/30/337/1554742/alasan-medsos-dijadikan-panggung-kampanye</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2016/11/30/337/1554742/alasan-medsos-dijadikan-panggung-kampanye"/><item><title>Alasan Medsos Dijadikan Panggung Kampanye</title><link>https://news.okezone.com/read/2016/11/30/337/1554742/alasan-medsos-dijadikan-panggung-kampanye</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2016/11/30/337/1554742/alasan-medsos-dijadikan-panggung-kampanye</guid><pubDate>Rabu 30 November 2016 05:29 WIB</pubDate><dc:creator>Fakhrizal Fakhri </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2016/11/30/337/1554742/alasan-medsos-jadi-panggung-kampanye-51KfMQR37U.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Ilustrasi</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2016/11/30/337/1554742/alasan-medsos-jadi-panggung-kampanye-51KfMQR37U.jpg</image><title>Foto: Ilustrasi</title></images><description>JAKARTA - Praktisi komunikasi Algooth Putranto menilai, media sosial digunakan sebagai bagian dari kampanye karena efektif sekaligus murah. Menurutnya, banyak orang yang lebih memantau medsos ketimbang menyetel radio dan televisi.
&quot;Kita dipaksa dan kaget dengan kehadiran media sosial,&quot; kata Putranto dalam diskusi Redbons yang bertajuk 'Menyoroti Media Sosial Jelang Demo 2 Desember&amp;lrm;' di Kantor Okezone, Jakarta, Selasa 29 November 2016.
Menurut Putranto, pemerintah telat mengatur regulasi terhadap aktivitas di medsos. Ujung-ujungnya, berbagai macam informasi hoax berseliweran di medsos. &quot;Kita sering dengar sosial media muncul itu larinya memang isunya seksi,&quot; jelasnya.
&amp;lrm;Putranto menganggap, revisi terhadap UU Nomer 11 Tahun 2008 tentang ITE&amp;lrm; terkesan dipaksakan karena adanya momentum Pilkada serentak 2017 dan rencana aksi demonstrasi yang digagas&amp;nbsp;Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI (GNPF-MUI) &amp;lrm;pada 2 Desember mendatang.
&quot;Karena memang seharusnya standar dari regulasi penggunaan media sosial agar tidak dipaksakan, kalau tidak ya kebablasan,&quot; tutupnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Praktisi komunikasi Algooth Putranto menilai, media sosial digunakan sebagai bagian dari kampanye karena efektif sekaligus murah. Menurutnya, banyak orang yang lebih memantau medsos ketimbang menyetel radio dan televisi.
&quot;Kita dipaksa dan kaget dengan kehadiran media sosial,&quot; kata Putranto dalam diskusi Redbons yang bertajuk 'Menyoroti Media Sosial Jelang Demo 2 Desember&amp;lrm;' di Kantor Okezone, Jakarta, Selasa 29 November 2016.
Menurut Putranto, pemerintah telat mengatur regulasi terhadap aktivitas di medsos. Ujung-ujungnya, berbagai macam informasi hoax berseliweran di medsos. &quot;Kita sering dengar sosial media muncul itu larinya memang isunya seksi,&quot; jelasnya.
&amp;lrm;Putranto menganggap, revisi terhadap UU Nomer 11 Tahun 2008 tentang ITE&amp;lrm; terkesan dipaksakan karena adanya momentum Pilkada serentak 2017 dan rencana aksi demonstrasi yang digagas&amp;nbsp;Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI (GNPF-MUI) &amp;lrm;pada 2 Desember mendatang.
&quot;Karena memang seharusnya standar dari regulasi penggunaan media sosial agar tidak dipaksakan, kalau tidak ya kebablasan,&quot; tutupnya.</content:encoded></item></channel></rss>
