<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Suasana Haru Kala Setengah Kota Hadiri Pemakaman Korban Pesawat Jatuh</title><description>Hampir setengah kota yang populasi penduduknya 210 ribu orang memadati  jalan dari bandara menuju stadion tim sepakbola Chapecoense.</description><link>https://news.okezone.com/read/2016/12/04/18/1558353/suasana-haru-kala-setengah-kota-hadiri-pemakaman-korban-pesawat-jatuh</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2016/12/04/18/1558353/suasana-haru-kala-setengah-kota-hadiri-pemakaman-korban-pesawat-jatuh"/><item><title>Suasana Haru Kala Setengah Kota Hadiri Pemakaman Korban Pesawat Jatuh</title><link>https://news.okezone.com/read/2016/12/04/18/1558353/suasana-haru-kala-setengah-kota-hadiri-pemakaman-korban-pesawat-jatuh</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2016/12/04/18/1558353/suasana-haru-kala-setengah-kota-hadiri-pemakaman-korban-pesawat-jatuh</guid><pubDate>Minggu 04 Desember 2016 04:55 WIB</pubDate><dc:creator>Silviana Dharma</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2016/12/04/18/1558353/suasana-haru-kala-setengah-kota-hadiri-pemakaman-korban-pesawat-jatuh-FpzZo9YEb1.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Para penggemar memberi penghormatan terakhir. (Foto: Getty)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2016/12/04/18/1558353/suasana-haru-kala-setengah-kota-hadiri-pemakaman-korban-pesawat-jatuh-FpzZo9YEb1.jpg</image><title>Para penggemar memberi penghormatan terakhir. (Foto: Getty)</title></images><description>CHAPECO &amp;ndash; Awan kelabu menyelimuti Kota Chapeco di Brasil. Hujan mengguyur kawasan itu begitu deras. Seolah memahami perasaan ratusan ribu orang yang berkumpul di Stadion Chapeco Arena conda pada Sabtu 3 Desember 2016 waktu setempat.
Meski begitu, tak seorang pun beranjak dari niatnya untuk memberikan penghormatan terakhir bagi para pesepakbola, jurnalis dan penumpang serta awak pesawat LaMia yang celaka di perbukitan Kolombia. Sambil berlindung di bawah payung dan di balik jas hujan plastik, mereka memeluk satu sama lain. Mencoba menghilangkan duka yang terlalu dalam dan menyamarkan air mata yang bahkan tak mampu dihanyutkan rinai hujan.

Hampir setengah kota yang populasi penduduknya 210 ribu orang memadati jalan dari bandara menuju stadion tim sepakbola Chapecoense. Tentunya orang sebanyak itu tidak semua yang merupakan keluarga terdekat korban. Tetapi di sana lah mereka, menunjukkan sisi kemanusiaan paling positif.
&amp;ldquo;Saya sudah di sini sejak pagi,&amp;rdquo; kata Chaiane Lorenzetti (19), karyawan di supermarket lokal yang kabarnya sering dikunjungi para pemain Chapecoense.
Kini dia tidak akan pernah lagi melihat para penggila bola sepak itu di tokonya. &amp;ldquo;Sungguh hari yang menghancurkan, yang mungkin akan bertahan selamanya,&amp;rdquo; tambah dia.Upacara pemakaman digelar ala militer. Tentara berseragam baret  memanggul satu per satu peti jenazah ke tempat peristirahatan  terakhirnya. Di atas peti membentang selebaran putih bertuliskan, &amp;ldquo;Dalam  kebahagian dan pada masa tersulit, Kalian selalu pemenang.&amp;rdquo;

Semuanya berjumlah 50 peti, sebagian besar dibawa menuju stadion  Chapeco. Genangan air dan lumpur mengiringi pengusungan setiap jenazah,  juga para warga yang mengiringi di kanan kiri jalan, mengular panjang  hingga empat sampai lima barisan. Belum terhitung banyaknya karangan  bunga dan atribut tim sepakbola itu, seperti bendera kelab dan  kebangsaan Negeri Samba.

Para anggota keluarga dan teman terdekat menangis di bawah tenda.  Banyak dari mereka sampai membungkuk di atas peti mati itu, tak kuasa  menerima kenyataan bahwa yang dikasihi telah berpulang untuk  selama-lamanya.Tangis juga pecah di kalangan para penggemar sepak bola lokal. Cleusa   Eichner (52) yang sering datang ke stadion itu untuk menyaksikan tim   kesayangannya bertanding, sekarang melihat mereka masuk ke lapangan   hijau dengan cara berbeda.
&amp;ldquo;Rasanya, saya masih bisa melihat para pemain masuk ke stadion dengan   menggadeng anak-anak di lengan mereka. Saya lebih baik mengenang momen   tersebut di kepala saya, berpegang pada kebahagiaan itu daripada   menggantinya dengan sesuatu yang hampa,&amp;rdquo; ujarnya.

Klub sepak bola  Chapecoense terbang dari Medellin Senin 28 November  2016 malam untuk  bermain di laga final Copa Sudamericana, yang  merupakan salah satu  turnamen utama di benua Amerika Selatan.  Pertandingan ini merupakan  momen terbaik dari klub tim Chapecoense  setelah berhasil naik level dari  divisi empat.
Nahas, pesawat terbang LaMia BAE 146 itu jatuh di wilayah pegunungan   yang berjarak hanya belasan kilometer dari Bandara Medelin, Kolombia.   Berdasarkan rekaman suara yang ditemukan awak media, diketahui pesawat   yang terbang dari Bolivia itu mengalami kecelakaan karena kehabisan   bahan bakar dan kegagalan elektrik.</description><content:encoded>CHAPECO &amp;ndash; Awan kelabu menyelimuti Kota Chapeco di Brasil. Hujan mengguyur kawasan itu begitu deras. Seolah memahami perasaan ratusan ribu orang yang berkumpul di Stadion Chapeco Arena conda pada Sabtu 3 Desember 2016 waktu setempat.
Meski begitu, tak seorang pun beranjak dari niatnya untuk memberikan penghormatan terakhir bagi para pesepakbola, jurnalis dan penumpang serta awak pesawat LaMia yang celaka di perbukitan Kolombia. Sambil berlindung di bawah payung dan di balik jas hujan plastik, mereka memeluk satu sama lain. Mencoba menghilangkan duka yang terlalu dalam dan menyamarkan air mata yang bahkan tak mampu dihanyutkan rinai hujan.

Hampir setengah kota yang populasi penduduknya 210 ribu orang memadati jalan dari bandara menuju stadion tim sepakbola Chapecoense. Tentunya orang sebanyak itu tidak semua yang merupakan keluarga terdekat korban. Tetapi di sana lah mereka, menunjukkan sisi kemanusiaan paling positif.
&amp;ldquo;Saya sudah di sini sejak pagi,&amp;rdquo; kata Chaiane Lorenzetti (19), karyawan di supermarket lokal yang kabarnya sering dikunjungi para pemain Chapecoense.
Kini dia tidak akan pernah lagi melihat para penggila bola sepak itu di tokonya. &amp;ldquo;Sungguh hari yang menghancurkan, yang mungkin akan bertahan selamanya,&amp;rdquo; tambah dia.Upacara pemakaman digelar ala militer. Tentara berseragam baret  memanggul satu per satu peti jenazah ke tempat peristirahatan  terakhirnya. Di atas peti membentang selebaran putih bertuliskan, &amp;ldquo;Dalam  kebahagian dan pada masa tersulit, Kalian selalu pemenang.&amp;rdquo;

Semuanya berjumlah 50 peti, sebagian besar dibawa menuju stadion  Chapeco. Genangan air dan lumpur mengiringi pengusungan setiap jenazah,  juga para warga yang mengiringi di kanan kiri jalan, mengular panjang  hingga empat sampai lima barisan. Belum terhitung banyaknya karangan  bunga dan atribut tim sepakbola itu, seperti bendera kelab dan  kebangsaan Negeri Samba.

Para anggota keluarga dan teman terdekat menangis di bawah tenda.  Banyak dari mereka sampai membungkuk di atas peti mati itu, tak kuasa  menerima kenyataan bahwa yang dikasihi telah berpulang untuk  selama-lamanya.Tangis juga pecah di kalangan para penggemar sepak bola lokal. Cleusa   Eichner (52) yang sering datang ke stadion itu untuk menyaksikan tim   kesayangannya bertanding, sekarang melihat mereka masuk ke lapangan   hijau dengan cara berbeda.
&amp;ldquo;Rasanya, saya masih bisa melihat para pemain masuk ke stadion dengan   menggadeng anak-anak di lengan mereka. Saya lebih baik mengenang momen   tersebut di kepala saya, berpegang pada kebahagiaan itu daripada   menggantinya dengan sesuatu yang hampa,&amp;rdquo; ujarnya.

Klub sepak bola  Chapecoense terbang dari Medellin Senin 28 November  2016 malam untuk  bermain di laga final Copa Sudamericana, yang  merupakan salah satu  turnamen utama di benua Amerika Selatan.  Pertandingan ini merupakan  momen terbaik dari klub tim Chapecoense  setelah berhasil naik level dari  divisi empat.
Nahas, pesawat terbang LaMia BAE 146 itu jatuh di wilayah pegunungan   yang berjarak hanya belasan kilometer dari Bandara Medelin, Kolombia.   Berdasarkan rekaman suara yang ditemukan awak media, diketahui pesawat   yang terbang dari Bolivia itu mengalami kecelakaan karena kehabisan   bahan bakar dan kegagalan elektrik.</content:encoded></item></channel></rss>
