<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>KALEIDOSKOP 2016: Gempa Aceh, Duka Indonesia</title><description>Gempa 6,5 SR yang mengguncang Aceh pada 7 Desember lalu merupakan bencana paling banyak merenggut korban jiwa di Indonesia selama 2016.</description><link>https://news.okezone.com/read/2016/12/30/340/1579769/kaleidoskop-2016-gempa-aceh-duka-indonesia</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2016/12/30/340/1579769/kaleidoskop-2016-gempa-aceh-duka-indonesia"/><item><title>KALEIDOSKOP 2016: Gempa Aceh, Duka Indonesia</title><link>https://news.okezone.com/read/2016/12/30/340/1579769/kaleidoskop-2016-gempa-aceh-duka-indonesia</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2016/12/30/340/1579769/kaleidoskop-2016-gempa-aceh-duka-indonesia</guid><pubDate>Jum'at 30 Desember 2016 19:04 WIB</pubDate><dc:creator>Salman Mardira</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2016/12/30/340/1579769/kaleidoskop-2016-gempa-aceh-duka-indonesia-tV7AAJQaof.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Pengenda melintas di antara bangunan rusak akibat gempa di Pasar Meureudu, Pidie Jaya (Antara)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2016/12/30/340/1579769/kaleidoskop-2016-gempa-aceh-duka-indonesia-tV7AAJQaof.jpg</image><title>Pengenda melintas di antara bangunan rusak akibat gempa di Pasar Meureudu, Pidie Jaya (Antara)</title></images><description>INDONESIA sepanjang 2016 banyak dilanda bencana alam. Satu di antaranya gempa 6,5 skala Richter (SR) yang mengguncang Aceh pada Rabu 7 Desember. Sedikitnya 104 orang meninggal dunia dan 700 orang lainnya luka-luka. Inilah bencana paling banyak merenggut korban jiwa tahun ini.
BMKG mencatat gempa terjadi sekira pukul 05.03 WIB berpusat di darat Kabupaten Pidie Jaya atau 106 kilometer arah Kota Banda Aceh tepatnya di koordinat 5,25 lintang utara dan 96,24 bujur timur. Gempa dengan kedalaman 15 Km itu tak berpotensi menimbulkan gelombang tsunami.
Warga yang masih tertidur menjelang subuh itu berhamburan keluar rumah. Masyarakat yang tinggal dekat pantai Pidie Jaya langsung berlarian mencari tempat lebih tinggi karena khawatir tsunami. Mereka umumnya  pernah merasakan tsunami pada 26 Desember 2004.
Kepanikan warga makin menjadi-jadi karena listrik di Pidie Jaya padam saat terjadinya gempa. Dalam kegelapan subuh, mereka terus berzikir dan bermunajat agar terlindung dari bala.
Banyak warga tertimpa reruntuhan bangunan dan terjebak. Satu di antaranya adalah Zubaidah (25) warga Gampong Blang Baroh, Kecamatan Bandar Dua, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh. Ia masih trauma saat menceritakan detik-detik gempa 6,5 SR yang dialaminya.

(foto Rayful/Okezone)
Saat itu, Zubaidah bersama suami Teungku Mahdi (34) dan anak bungsunya Nafisatul berusia 11 bulan masih terlelap di kamar rumahnya. Anaknya yang lain Khairani Miskya (5) dan Anjali tidur di kamar lain.
Mereka terbangun saat bumi mengguncang hebat dan berupaya menyelamatkan diri. Saat hendak ke luar, tiba-tiba rumah mereka runtuh. Mereka terjebak dan tertimpa reruntuhan.
Warga yang sadar rumah Teungku Mahdi roboh sontak berlarian memindahkan pecahan material dinding rumah.
&amp;ldquo;Saya peluk Nafisatul, Alhamdulillah dia tidak luka apa-apa,&amp;rdquo; kata Zubaidah kepada Okezone di posko pengungsian darurat, Dusun Baroh, Gampong Baroh, Kecamatan Bandar Baru, Pidie Jaya, Sabtu 10 Desember 2016.
(Baca juga: Kisah Korban Selamat dari Reruntuhan Rumah Usai Gempa 6,5 SR)
Sementara dari kamar lain, Khairani berteriak histeris saat sadar tak bisa bergerak, terjebak reruntuhan. Di antara seluruh keluarganya, gadis belia itu paling terakhir diselamatkan. Pasalnya, keberadaannya saat itu paling sulit ditemukan.
Zubaidah merupakan satu dari ratusan ribu warga Pidie Jaya yang selamat dari gempa 6,5 SR. Gempa itu dirasakan hampir di seluruh Aceh, tapi paling parah di tiga kabupaten yakni Pidie Jaya, Pidie, dan Bireun.

Evakuasi korban gempa di Pidie Jaya (Antara)
Banyak cerita miris dan mengharukan muncul dari gempa. Mulai orang yang kehilangan keluarga, anggota tubuh, gagal nikah, hingga aksi heroik menyelamatkan diri.
BNPB mencatat 104 orang meninggal dunia akibat gempa 6,5 SR di Aceh. Dua orang di Pidie, lima di Bireun. Selebihnya di Pidie Jaya. Mereka umumnya tewas akibat tertimpa bangunan yang roboh. Korban luka 700 orang; 168 luka berat da 532 luka ringan.
Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) menyebutkan, gempa juga merusak 19.130 rumah warga di Pidie Jaya, Pidie, dan Bireun. Terdiri dari 2.554 rusak berat, 2.361 rusak sedang, dan 14.215 rusak ringan. Berikutnya 64 masjid, 88 meunasah, 14.800 meter jalan serta 55 jembatan juga rusak.
Warga yang mengungsi akibat gempa mencapai 83.838 orang yakni di Pidie Jaya sebanyak 82.122 orang yang tersebar di 120 titik dan Bireun 1.716 orang.Gempa 6,52 SR di Aceh yang menghiasi media nasional dan mancanegara mengundang keprihatinan dan solidaritas. Warga dari berbagai pelosok nusantara bersatu tanpa membedakan ras, suku, dan agama, menggalang bantuan untuk Aceh. Bantuan juga datang dari luar negeri seperti Jepang dan Malaysia. Tercatat 121 organisasi non pemerintah membantu Aceh pascagempa.
Banyaknya korban jiwa dan parahnya tingkat kerusakan membuat pemerintah memberlakukan masa tanggap darurat gempa Aceh selama 14 hari hingga 20 Desember 2016. Dilanjutkan dengan masa transisi selama 90 hari.
(Baca juga: Pascagempa Aceh, Pemerintah Tetapkan Masa Transisi 90 Hari)
Presiden Joko Widodo (Jokowi) ikut berduka atas bencana itu. Ia langsung memimpin rapat penanganan gempa. Bukan saja memerintah di balik meja, Jokowi juga turun langsung ke Aceh. Ada dua kali ia mengunjungi korban gempa di Pidie, Pidie Jaya, dan Bireun, masing-masing pada 9 dan 15 Desember 2016. Sejumlah pejabat penting negara juga bertandang ke Aceh.

Pembersihan puing reruntuhan gempa di Pidie Jaya (Antara)
Pemerintah memperkirakan kerugian dan kerusakan materil akibat gempa Aceh mencapai Rp3,5 triliun lebih. Presiden Jokowi memutuskan penanganan rehabilitasi Aceh pascagempa 6,5 SR ditangani pemerintah pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).
Gempa 6,5 SR yang berpusat di Pidie Jaya pada 7 Desember lalu merupakan gempa paling merusak dari 5.578 kali gempa yang terjadi di Indonesia sepanjang 2016. Tahun ini BNPB mencatat, setiap bulan rata-rata 460 kali gempa terjadi di Tanah Air dengan 12 di antaranya merusak.

Presiden Jokowi menghibur anak-anak korban gempa di Pidie Jaya (Antara)
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho&amp;lrm; mengatakan, banyaknya kerusakan akibat gempa di Pidie Jaya selain karena pusatnya di darat dan dangkal juga dipicu akibat kualitas bangunan yang masih rendah dan belum ramah bencana.
&quot;Kerusakan (bangunan) paling banyak terjadi karena tak ada penguat di pondasi sikunya. Kemudian minim pengetahuan masyarakat tentang rumah anti-gempa,&quot; katanya.
Gempa di Pidie Jaya juga menegakan masih banyak sumber gempa di daratan Indonesia yang belum teridentifikasi. Harian Kompas edisi 24 Desember 2016 menulis, sesar Pidie Jaya termasuk satu dari 281 patahan darat aktif baru yang akan ditambah dalam peta kegempaan nasiona.
Ahli gempa menyebutkan bahwa lindu berkekuatan 6,5 SR di Pidie Jaya pada 7 Desember 2016 terjadi di luar jalur sesar utama yang belum terindentifikasi sebelumnya.
&amp;nbsp;</description><content:encoded>INDONESIA sepanjang 2016 banyak dilanda bencana alam. Satu di antaranya gempa 6,5 skala Richter (SR) yang mengguncang Aceh pada Rabu 7 Desember. Sedikitnya 104 orang meninggal dunia dan 700 orang lainnya luka-luka. Inilah bencana paling banyak merenggut korban jiwa tahun ini.
BMKG mencatat gempa terjadi sekira pukul 05.03 WIB berpusat di darat Kabupaten Pidie Jaya atau 106 kilometer arah Kota Banda Aceh tepatnya di koordinat 5,25 lintang utara dan 96,24 bujur timur. Gempa dengan kedalaman 15 Km itu tak berpotensi menimbulkan gelombang tsunami.
Warga yang masih tertidur menjelang subuh itu berhamburan keluar rumah. Masyarakat yang tinggal dekat pantai Pidie Jaya langsung berlarian mencari tempat lebih tinggi karena khawatir tsunami. Mereka umumnya  pernah merasakan tsunami pada 26 Desember 2004.
Kepanikan warga makin menjadi-jadi karena listrik di Pidie Jaya padam saat terjadinya gempa. Dalam kegelapan subuh, mereka terus berzikir dan bermunajat agar terlindung dari bala.
Banyak warga tertimpa reruntuhan bangunan dan terjebak. Satu di antaranya adalah Zubaidah (25) warga Gampong Blang Baroh, Kecamatan Bandar Dua, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh. Ia masih trauma saat menceritakan detik-detik gempa 6,5 SR yang dialaminya.

(foto Rayful/Okezone)
Saat itu, Zubaidah bersama suami Teungku Mahdi (34) dan anak bungsunya Nafisatul berusia 11 bulan masih terlelap di kamar rumahnya. Anaknya yang lain Khairani Miskya (5) dan Anjali tidur di kamar lain.
Mereka terbangun saat bumi mengguncang hebat dan berupaya menyelamatkan diri. Saat hendak ke luar, tiba-tiba rumah mereka runtuh. Mereka terjebak dan tertimpa reruntuhan.
Warga yang sadar rumah Teungku Mahdi roboh sontak berlarian memindahkan pecahan material dinding rumah.
&amp;ldquo;Saya peluk Nafisatul, Alhamdulillah dia tidak luka apa-apa,&amp;rdquo; kata Zubaidah kepada Okezone di posko pengungsian darurat, Dusun Baroh, Gampong Baroh, Kecamatan Bandar Baru, Pidie Jaya, Sabtu 10 Desember 2016.
(Baca juga: Kisah Korban Selamat dari Reruntuhan Rumah Usai Gempa 6,5 SR)
Sementara dari kamar lain, Khairani berteriak histeris saat sadar tak bisa bergerak, terjebak reruntuhan. Di antara seluruh keluarganya, gadis belia itu paling terakhir diselamatkan. Pasalnya, keberadaannya saat itu paling sulit ditemukan.
Zubaidah merupakan satu dari ratusan ribu warga Pidie Jaya yang selamat dari gempa 6,5 SR. Gempa itu dirasakan hampir di seluruh Aceh, tapi paling parah di tiga kabupaten yakni Pidie Jaya, Pidie, dan Bireun.

Evakuasi korban gempa di Pidie Jaya (Antara)
Banyak cerita miris dan mengharukan muncul dari gempa. Mulai orang yang kehilangan keluarga, anggota tubuh, gagal nikah, hingga aksi heroik menyelamatkan diri.
BNPB mencatat 104 orang meninggal dunia akibat gempa 6,5 SR di Aceh. Dua orang di Pidie, lima di Bireun. Selebihnya di Pidie Jaya. Mereka umumnya tewas akibat tertimpa bangunan yang roboh. Korban luka 700 orang; 168 luka berat da 532 luka ringan.
Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) menyebutkan, gempa juga merusak 19.130 rumah warga di Pidie Jaya, Pidie, dan Bireun. Terdiri dari 2.554 rusak berat, 2.361 rusak sedang, dan 14.215 rusak ringan. Berikutnya 64 masjid, 88 meunasah, 14.800 meter jalan serta 55 jembatan juga rusak.
Warga yang mengungsi akibat gempa mencapai 83.838 orang yakni di Pidie Jaya sebanyak 82.122 orang yang tersebar di 120 titik dan Bireun 1.716 orang.Gempa 6,52 SR di Aceh yang menghiasi media nasional dan mancanegara mengundang keprihatinan dan solidaritas. Warga dari berbagai pelosok nusantara bersatu tanpa membedakan ras, suku, dan agama, menggalang bantuan untuk Aceh. Bantuan juga datang dari luar negeri seperti Jepang dan Malaysia. Tercatat 121 organisasi non pemerintah membantu Aceh pascagempa.
Banyaknya korban jiwa dan parahnya tingkat kerusakan membuat pemerintah memberlakukan masa tanggap darurat gempa Aceh selama 14 hari hingga 20 Desember 2016. Dilanjutkan dengan masa transisi selama 90 hari.
(Baca juga: Pascagempa Aceh, Pemerintah Tetapkan Masa Transisi 90 Hari)
Presiden Joko Widodo (Jokowi) ikut berduka atas bencana itu. Ia langsung memimpin rapat penanganan gempa. Bukan saja memerintah di balik meja, Jokowi juga turun langsung ke Aceh. Ada dua kali ia mengunjungi korban gempa di Pidie, Pidie Jaya, dan Bireun, masing-masing pada 9 dan 15 Desember 2016. Sejumlah pejabat penting negara juga bertandang ke Aceh.

Pembersihan puing reruntuhan gempa di Pidie Jaya (Antara)
Pemerintah memperkirakan kerugian dan kerusakan materil akibat gempa Aceh mencapai Rp3,5 triliun lebih. Presiden Jokowi memutuskan penanganan rehabilitasi Aceh pascagempa 6,5 SR ditangani pemerintah pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).
Gempa 6,5 SR yang berpusat di Pidie Jaya pada 7 Desember lalu merupakan gempa paling merusak dari 5.578 kali gempa yang terjadi di Indonesia sepanjang 2016. Tahun ini BNPB mencatat, setiap bulan rata-rata 460 kali gempa terjadi di Tanah Air dengan 12 di antaranya merusak.

Presiden Jokowi menghibur anak-anak korban gempa di Pidie Jaya (Antara)
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho&amp;lrm; mengatakan, banyaknya kerusakan akibat gempa di Pidie Jaya selain karena pusatnya di darat dan dangkal juga dipicu akibat kualitas bangunan yang masih rendah dan belum ramah bencana.
&quot;Kerusakan (bangunan) paling banyak terjadi karena tak ada penguat di pondasi sikunya. Kemudian minim pengetahuan masyarakat tentang rumah anti-gempa,&quot; katanya.
Gempa di Pidie Jaya juga menegakan masih banyak sumber gempa di daratan Indonesia yang belum teridentifikasi. Harian Kompas edisi 24 Desember 2016 menulis, sesar Pidie Jaya termasuk satu dari 281 patahan darat aktif baru yang akan ditambah dalam peta kegempaan nasiona.
Ahli gempa menyebutkan bahwa lindu berkekuatan 6,5 SR di Pidie Jaya pada 7 Desember 2016 terjadi di luar jalur sesar utama yang belum terindentifikasi sebelumnya.
&amp;nbsp;</content:encoded></item></channel></rss>
