<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>HISTORIPEDIA: Sejarah Tahun Baru  </title><description>Pada suasana tahun baru 2017, Okezone akan mengulas mengenai sejarah tahun baru.</description><link>https://news.okezone.com/read/2017/01/01/18/1580440/historipedia-sejarah-tahun-baru</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2017/01/01/18/1580440/historipedia-sejarah-tahun-baru"/><item><title>HISTORIPEDIA: Sejarah Tahun Baru  </title><link>https://news.okezone.com/read/2017/01/01/18/1580440/historipedia-sejarah-tahun-baru</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2017/01/01/18/1580440/historipedia-sejarah-tahun-baru</guid><pubDate>Minggu 01 Januari 2017 08:02 WIB</pubDate><dc:creator>Emirald Julio</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2016/12/31/18/1580440/historipedia-sejarah-tahun-baru-Kd5KK8llmw.jpg" expression="full" type="image/jpeg">(Kiri) gambar Christopher Clavius (Kanan) Paus Gregorius XIII (Foto: Istimewa)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2016/12/31/18/1580440/historipedia-sejarah-tahun-baru-Kd5KK8llmw.jpg</image><title>(Kiri) gambar Christopher Clavius (Kanan) Paus Gregorius XIII (Foto: Istimewa)</title></images><description>HARI ini tepat tanggal 1 Januari dan menjadi penanda awal masuknya kita pada&amp;nbsp;tahun yang baru. Namun,&amp;nbsp;mungkin masih banyak yang belum mengetahui mengapa pergantian tahun selalu berawal di Januari. Karena itu Okezone kali ini pada artikel Historipedia akan mengulas mengenai sejarah tahun baru, sebagaimana dikutip dari History, Minggu (1/1/2017).
Tahun baru&amp;nbsp;mulai dirayakan pada 1 Januari tepatnya di tahun 45 Sebelum Masehi (SM). Selain itu,&amp;nbsp;sejarah mencatatnya bahwa itu&amp;nbsp;pertama kalinya kalender Julian mulai diberlakukan.
Namun awal terbentuknya penentuan tanggal ini bermula ketika Julius Caesar menyatakan bahwa kalender Romawi tradisional sangat membutuhkan reformasi. Kalender Romawi sendiri mulai digunakan pada abad ketujuh SM dan berusaha untuk&amp;nbsp;mengikuti siklus bulan&amp;nbsp;namun sayangnya sering keluar dari fase berbagai musim sehingga Julius merasa bahwa perlu diadakan&amp;nbsp;perubahan.
Terdapat alasan lain mengapa perlu diadakan&amp;nbsp;perubahan kalender&amp;nbsp;yaitu akibat badan Romawi yang bertugas mengawasi kalender, Pontifices, kerap menyalahgunakan wewenangnya dengan sepihak menambah hari untuk memperpanjang masa jabatan politik tertentu serta mengganggu proses pemilihan umum.
Dalam pembuatan kalender yang baru, Julius&amp;nbsp;meminta bantuan seorang astronom dari Aleksandria bernama Sosigenes. Sosigenes memberikan saran kepada Julius agar mengikuti tahun matahari, seperti yang berlaku di Mesir. Satu tahun diputuskan berjumlah 365 serta &amp;frac14; hari dan Julius menambahkan 67 hari pada 65 SM agar membuat tahun yang baru bermula pada 1 Januari bukan Maret 66 SM.
Julius kemudian menetapkan setiap empat tahun sekali, satu hari akan  ditambah ke Februari yang diklaim untuk&amp;nbsp;menjaga kalender versi Julius  tidak keluar jalur. Jauh hari sebelum ia dibunuh pada 44 SM, Julius  mengubah nama bulan&amp;nbsp;Quintilis menjadi namanya sendiri atau yang saat ini  lebih dikenal dengan nama bulan Juli. Kemudian, Julius memutuskan untuk  mengganti nama bulan Sextilis menjadi Ausgustus (Agustus) sesuai dengan  nama suksesornya.
Ketika abad pertengahan, perayaan tahun baru&amp;nbsp;sudah sering  ditinggalkan bahkan banyak yang tidak memandang 1 Januari bukan sebagai  hari awal pergantian tahun. Terdapat alasan mengapa praktik pergantian  tahun tidak dilakukan lagi,&amp;nbsp;yaitu&amp;nbsp;Julius dan Sosiegenes dianggap gagal  menghitung tahun matahari dengan tepat.
Menyadari hal itu, Gereja Roma kemudian memutuskan untuk mengambil  langkah baru. Pada 1570, Paus Gregorius XIII menugaskan seorang astronom  bernama Christopher Clavius untuk membuat kalender baru.
Pada 1582, kalender Gregorian mulai diimplementasikan dengan  menghilangkan 10 hari pada tahun itu dan menetapkan aturan baru bahwa  dalam satu dari setiap empat abad harus dijadikan tahun kabisat.  Semenjak itulah, setiap masyarakat dunia berkumpul pada 31 Desember  hingga 1 Januari untuk merayakan tibanya hari pergantian tahun atau yang  lebih dikenal dengan perayaan tahun baru.</description><content:encoded>HARI ini tepat tanggal 1 Januari dan menjadi penanda awal masuknya kita pada&amp;nbsp;tahun yang baru. Namun,&amp;nbsp;mungkin masih banyak yang belum mengetahui mengapa pergantian tahun selalu berawal di Januari. Karena itu Okezone kali ini pada artikel Historipedia akan mengulas mengenai sejarah tahun baru, sebagaimana dikutip dari History, Minggu (1/1/2017).
Tahun baru&amp;nbsp;mulai dirayakan pada 1 Januari tepatnya di tahun 45 Sebelum Masehi (SM). Selain itu,&amp;nbsp;sejarah mencatatnya bahwa itu&amp;nbsp;pertama kalinya kalender Julian mulai diberlakukan.
Namun awal terbentuknya penentuan tanggal ini bermula ketika Julius Caesar menyatakan bahwa kalender Romawi tradisional sangat membutuhkan reformasi. Kalender Romawi sendiri mulai digunakan pada abad ketujuh SM dan berusaha untuk&amp;nbsp;mengikuti siklus bulan&amp;nbsp;namun sayangnya sering keluar dari fase berbagai musim sehingga Julius merasa bahwa perlu diadakan&amp;nbsp;perubahan.
Terdapat alasan lain mengapa perlu diadakan&amp;nbsp;perubahan kalender&amp;nbsp;yaitu akibat badan Romawi yang bertugas mengawasi kalender, Pontifices, kerap menyalahgunakan wewenangnya dengan sepihak menambah hari untuk memperpanjang masa jabatan politik tertentu serta mengganggu proses pemilihan umum.
Dalam pembuatan kalender yang baru, Julius&amp;nbsp;meminta bantuan seorang astronom dari Aleksandria bernama Sosigenes. Sosigenes memberikan saran kepada Julius agar mengikuti tahun matahari, seperti yang berlaku di Mesir. Satu tahun diputuskan berjumlah 365 serta &amp;frac14; hari dan Julius menambahkan 67 hari pada 65 SM agar membuat tahun yang baru bermula pada 1 Januari bukan Maret 66 SM.
Julius kemudian menetapkan setiap empat tahun sekali, satu hari akan  ditambah ke Februari yang diklaim untuk&amp;nbsp;menjaga kalender versi Julius  tidak keluar jalur. Jauh hari sebelum ia dibunuh pada 44 SM, Julius  mengubah nama bulan&amp;nbsp;Quintilis menjadi namanya sendiri atau yang saat ini  lebih dikenal dengan nama bulan Juli. Kemudian, Julius memutuskan untuk  mengganti nama bulan Sextilis menjadi Ausgustus (Agustus) sesuai dengan  nama suksesornya.
Ketika abad pertengahan, perayaan tahun baru&amp;nbsp;sudah sering  ditinggalkan bahkan banyak yang tidak memandang 1 Januari bukan sebagai  hari awal pergantian tahun. Terdapat alasan mengapa praktik pergantian  tahun tidak dilakukan lagi,&amp;nbsp;yaitu&amp;nbsp;Julius dan Sosiegenes dianggap gagal  menghitung tahun matahari dengan tepat.
Menyadari hal itu, Gereja Roma kemudian memutuskan untuk mengambil  langkah baru. Pada 1570, Paus Gregorius XIII menugaskan seorang astronom  bernama Christopher Clavius untuk membuat kalender baru.
Pada 1582, kalender Gregorian mulai diimplementasikan dengan  menghilangkan 10 hari pada tahun itu dan menetapkan aturan baru bahwa  dalam satu dari setiap empat abad harus dijadikan tahun kabisat.  Semenjak itulah, setiap masyarakat dunia berkumpul pada 31 Desember  hingga 1 Januari untuk merayakan tibanya hari pergantian tahun atau yang  lebih dikenal dengan perayaan tahun baru.</content:encoded></item></channel></rss>
