<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Yusup Supriatna Tinggal Tulang Terbungkus Kulit</title><description>Yusup Supriatna hanya terbujur kaku dan tak berdaya di pembaringan.</description><link>https://news.okezone.com/read/2017/01/04/525/1582670/yusup-supriatna-tinggal-tulang-terbungkus-kulit</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2017/01/04/525/1582670/yusup-supriatna-tinggal-tulang-terbungkus-kulit"/><item><title>Yusup Supriatna Tinggal Tulang Terbungkus Kulit</title><link>https://news.okezone.com/read/2017/01/04/525/1582670/yusup-supriatna-tinggal-tulang-terbungkus-kulit</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2017/01/04/525/1582670/yusup-supriatna-tinggal-tulang-terbungkus-kulit</guid><pubDate>Rabu 04 Januari 2017 07:58 WIB</pubDate><dc:creator>Sindonews</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/01/04/525/1582670/yusup-supriatna-tinggal-tulang-terbungkus-kulit-niSuyiTaUJ.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Yusup Supriatna. (Foto: Aam Aminullah/Koran Sindo)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/01/04/525/1582670/yusup-supriatna-tinggal-tulang-terbungkus-kulit-niSuyiTaUJ.jpg</image><title>Yusup Supriatna. (Foto: Aam Aminullah/Koran Sindo)</title></images><description>SUMEDANG - Yusup Supriatna (14), hanya terbujur kaku  dan tak berdaya di pembaringan. Kondisi tubuhnya memprihatinkan,  tulangnya hanya tinggal terbungkus kulit tipis.Derita yang  dialami anak lelaki kelahiran 9 September 2002 ini dia rasakan sepanjang  hidupnya, tepatnya sejak usia 11 hari setelah dilahirkan sang ibu,  Apong Hartati (40), warga Desa Cisurat, Kecamatan Wado, Sumedang, Jawa  Barat. Kini, mereka tinggal di tempat relokasi di Dusun Kisepat, Desa  Sukapura, Kecamatan Wado, Kabupaten Sumedang. Apong, ibunda  Yusup mengatakan, kondisi fisik anak pertama dari dua bersaudara yang  kini hanya tinggal tulang belulang ini, bermula saat Yusup berusia 11  hari. Ketika itu, Yusup mengalami pendarahan pusar.&quot;Saat itu  juga Yusup langsung kami bawa ke RSUD Sumedang. Dan hasil pemeriksaan  waktu itu, pusar Yusup harus dijahit. Dan, selama menunggu proses  penjahitan itu, Yusup harus dirawat di rumah sakit. Tapi seingat saya,  waktu itu, dokter hanya memberikan obat tetes saja dan saat dirawat itu,  Yusup sempat kehabisan darah,&quot; kenang istri dari Komar (45), kepada KORAN SINDO di RSUD Sumedang, Selasa (3/1/2017).Karena  saat itu kehabisan biaya dan kondisi Yusup selama dirawat inap di RSUD  Sumedang tak kunjung membaik, pihak keluarga memutuskan untuk merawat  Yusup di rumah.&quot;Kondisi Yusup sebenarnya sempat tumbuh normal  dan bertahan hingga usia lima tahun. Tapi sejak itu, badan Yusup mulai  mengalami penyusutan. Segala upaya terus kami lakukan untuk menyembuhkan  Yusup, namun kondisi Yusup terus memburuk dan hingga kami kewalahan  membiayai pengobatannya,&quot; tuturnya.Sejak kondisi badan Yusup  terus mengalami penyusutan dan kian parah, lanjutnya, derita Yusup kian  bertambah karena sudah tidak bisa bicara dan tidak berdaya sama sekali.&quot;Untuk  makan dan minum pun sudah tidak bisa, sehingga harus disuapi. Yang saya  paling tidak tega itu kalau sudah terasa penyakitnya anak saya selalu  menangis kejang.&quot;Saat ini, Apong mengaku pasrah setelah berbagai upaya tidak bisa membuat Yusup sembuh normal, seperti anak seusianya.&quot;Dari  hari ke hari kondisi anak saya terlihat makin memburuk. Tapi sebagai  seorang ibu, saya berharap anak ini masih bisa kembali normal dan sembuh  seperti sediakala. Karena kami juga sudah tidak mampu membiayai  pengobatannya, saya berharap ada pihak yang membantu terutama dari pihak  yang mengerti kesehatan.&quot;Sementara, Kepala Dinas Kesehatan Sumedang Retno Ernawati menyebutkan,  Yusup menderita penyakit tumbuh kembang berupa kelainan genetik.&quot;Saat  ini, petugas medis di RSUD Sumedang terus mengobati luka-luka di bagian  tubuhnya akibat terlalu lama berbaring. Pada intinya, selain mengobati  luka-luka di bagian tubuh, kami juga terus memerhatikan asupan gizi bagi  Yusup untuk memulihkan kondisinya,&quot; jelasnya.Terkait masalah biaya, lanjut Retno, pihak keluarga tidak perlu khawatir karena sepenuhnya menjadi tanggungan pemerintah daerah.&quot;Untuk  biaya perawatan selanjutnya, pada 2017 ini akan disertakan pada program  Jamkesda sehingga nantinya bisa dicover BPJS Kesehatan,&quot; katanya.</description><content:encoded>SUMEDANG - Yusup Supriatna (14), hanya terbujur kaku  dan tak berdaya di pembaringan. Kondisi tubuhnya memprihatinkan,  tulangnya hanya tinggal terbungkus kulit tipis.Derita yang  dialami anak lelaki kelahiran 9 September 2002 ini dia rasakan sepanjang  hidupnya, tepatnya sejak usia 11 hari setelah dilahirkan sang ibu,  Apong Hartati (40), warga Desa Cisurat, Kecamatan Wado, Sumedang, Jawa  Barat. Kini, mereka tinggal di tempat relokasi di Dusun Kisepat, Desa  Sukapura, Kecamatan Wado, Kabupaten Sumedang. Apong, ibunda  Yusup mengatakan, kondisi fisik anak pertama dari dua bersaudara yang  kini hanya tinggal tulang belulang ini, bermula saat Yusup berusia 11  hari. Ketika itu, Yusup mengalami pendarahan pusar.&quot;Saat itu  juga Yusup langsung kami bawa ke RSUD Sumedang. Dan hasil pemeriksaan  waktu itu, pusar Yusup harus dijahit. Dan, selama menunggu proses  penjahitan itu, Yusup harus dirawat di rumah sakit. Tapi seingat saya,  waktu itu, dokter hanya memberikan obat tetes saja dan saat dirawat itu,  Yusup sempat kehabisan darah,&quot; kenang istri dari Komar (45), kepada KORAN SINDO di RSUD Sumedang, Selasa (3/1/2017).Karena  saat itu kehabisan biaya dan kondisi Yusup selama dirawat inap di RSUD  Sumedang tak kunjung membaik, pihak keluarga memutuskan untuk merawat  Yusup di rumah.&quot;Kondisi Yusup sebenarnya sempat tumbuh normal  dan bertahan hingga usia lima tahun. Tapi sejak itu, badan Yusup mulai  mengalami penyusutan. Segala upaya terus kami lakukan untuk menyembuhkan  Yusup, namun kondisi Yusup terus memburuk dan hingga kami kewalahan  membiayai pengobatannya,&quot; tuturnya.Sejak kondisi badan Yusup  terus mengalami penyusutan dan kian parah, lanjutnya, derita Yusup kian  bertambah karena sudah tidak bisa bicara dan tidak berdaya sama sekali.&quot;Untuk  makan dan minum pun sudah tidak bisa, sehingga harus disuapi. Yang saya  paling tidak tega itu kalau sudah terasa penyakitnya anak saya selalu  menangis kejang.&quot;Saat ini, Apong mengaku pasrah setelah berbagai upaya tidak bisa membuat Yusup sembuh normal, seperti anak seusianya.&quot;Dari  hari ke hari kondisi anak saya terlihat makin memburuk. Tapi sebagai  seorang ibu, saya berharap anak ini masih bisa kembali normal dan sembuh  seperti sediakala. Karena kami juga sudah tidak mampu membiayai  pengobatannya, saya berharap ada pihak yang membantu terutama dari pihak  yang mengerti kesehatan.&quot;Sementara, Kepala Dinas Kesehatan Sumedang Retno Ernawati menyebutkan,  Yusup menderita penyakit tumbuh kembang berupa kelainan genetik.&quot;Saat  ini, petugas medis di RSUD Sumedang terus mengobati luka-luka di bagian  tubuhnya akibat terlalu lama berbaring. Pada intinya, selain mengobati  luka-luka di bagian tubuh, kami juga terus memerhatikan asupan gizi bagi  Yusup untuk memulihkan kondisinya,&quot; jelasnya.Terkait masalah biaya, lanjut Retno, pihak keluarga tidak perlu khawatir karena sepenuhnya menjadi tanggungan pemerintah daerah.&quot;Untuk  biaya perawatan selanjutnya, pada 2017 ini akan disertakan pada program  Jamkesda sehingga nantinya bisa dicover BPJS Kesehatan,&quot; katanya.</content:encoded></item></channel></rss>
