<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Sungai Celeng di Bantul Butuh Perlakuan Khusus</title><description>Kepala Bidang Sumber Daya Air Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Bantul Eko Budisantoso menilai, secara keseluruhan sebenarnya tak ada yang salah dengan kondisi sungai tersebut.</description><link>https://news.okezone.com/read/2017/01/12/510/1589448/sungai-celeng-di-bantul-butuh-perlakuan-khusus</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2017/01/12/510/1589448/sungai-celeng-di-bantul-butuh-perlakuan-khusus"/><item><title>Sungai Celeng di Bantul Butuh Perlakuan Khusus</title><link>https://news.okezone.com/read/2017/01/12/510/1589448/sungai-celeng-di-bantul-butuh-perlakuan-khusus</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2017/01/12/510/1589448/sungai-celeng-di-bantul-butuh-perlakuan-khusus</guid><pubDate>Kamis 12 Januari 2017 10:07 WIB</pubDate><dc:creator>Agregasi Harian Jogja</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/01/12/510/1589448/sungai-celeng-di-bantul-butuh-perlakuan-khusus-2u8y5crgap.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/01/12/510/1589448/sungai-celeng-di-bantul-butuh-perlakuan-khusus-2u8y5crgap.jpg</image><title>Ilustrasi</title></images><description>BANTUL - Sehari pascameluapnya Sungai Celeng, 11 Januari 2017, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul segera melakukan inspeksi. Hasilnya, sungai yang berhulu di kawasan perbukitan dan berhilir di Sungai Opak itu memang perlu menerima perlakuan serius di sepanjang tebingnya.

Kepala Bidang Sumber Daya Air Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Bantul Eko Budisantoso menilai, secara keseluruhan sebenarnya tak ada yang salah dengan kondisi sungai tersebut. Bahkan, ia menilai sungai yang hanya berair saat musim hujan itu sebenarnya sudah mengalami penanggulan sepanjang ratusan meter.

Dari hasil pengamatannya, satu-satunya persoalan yang ada di sungai itu adalah banyaknya titik penyempitan akibat proses sedimentasi. Selain itu, di beberapa titik juga terdapat tumpukan sisa ranting dan batang pohon yang patah. &amp;ldquo;Salah satunya adalah titik di dekat jembatan yang berada di sisi selatan Balai Desa Wukirsari [Kecamatan Imogiri] ini,&amp;rdquo; katanya saat ditemui di sela kegiatan inspeksinya di seputaran Sungai Celeng, seperti mengutip Harian Jogja, Kamis (12/1/2017).

Itulah sebabnya, ia menilai mutlak segera dilakukan upaya normalisasi atas sungai itu. Sayangnya, rencana itu kemudian terbentur oleh kewenangan. Sesuai Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 37 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Daerah Air Sungai (DAS), kewenangan pengelolaan DAS lintas kabupaten dalam satu provinsi seharusnya dikelola Pemerintah Provinsi. &amp;ldquo;Jika bicara kewenangan, seharusnya memang jadi perhatian Pemerintah DIY,&amp;rdquo; imbuhnya.

Mengingat besarnya dampak bencana, pihaknya lantas mengambil inisiatif untuk melakukan penanganan. Di antaranya adalah dengan melakukan talutisasi di sepanjang tebing sungai tersebut. Kegiatan itu bahkan ia lakukan hampir setiap tahunnya.

Bahkan di tahun 2016 lalu, ia mengklaim telah melakukan talutisasi di tebing Sungai Celeng sepanjang lebih dari 300 meter. Talutisasi yang menelan anggaran lebih dari Rp800 juta itu dilakukannya di dua desa, yakni masing-masing Desa Karangtengah dan Desa Girirejo Kecamatan Imogiri. &amp;ldquo;Untuk yang 2017 ini, kami lebih fokus pada gali sedimen di saluran irigasi. Sepertinya, tidak ada yang untuk sungai,&amp;rdquo; katanya.

Terpisah, Sumadi, salah satu warga Dusun Paduresan Desa Imogiri mengakui, kawasan sekitar Sungai Celeng memang menjadi langganan banjir setiap hujan deras mengguyur kawasan perbukitan. Itulah sebabnya, saat ditanya mengenai luapan Sungai Celeng, Selasa (11/1) lalu, ia menganggapnya masih sebatas wajar. &amp;ldquo;Itu sih masih normal, Mas. Beberapa tahun lalu, bahkan pernah lebih besar dari itu,&amp;rdquo; katanya.

Anehnya, ia mengatakan, dari sepanjang daerah bantaran Sungai Celeng, titik kawasan yang rentan meluap hanyalah di Dusun Paduresan saja. Padahal, sungai itu mengalir sejak dari Dusun Pucung DesaWukirsari hingga berakhir pada Sungai Oya di Desa Seloharjo, Kecamatan Pundong. &amp;ldquo;Entah kenapa, yang banjir kok selalu di sini,&amp;rdquo; keluhnya.</description><content:encoded>BANTUL - Sehari pascameluapnya Sungai Celeng, 11 Januari 2017, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul segera melakukan inspeksi. Hasilnya, sungai yang berhulu di kawasan perbukitan dan berhilir di Sungai Opak itu memang perlu menerima perlakuan serius di sepanjang tebingnya.

Kepala Bidang Sumber Daya Air Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Bantul Eko Budisantoso menilai, secara keseluruhan sebenarnya tak ada yang salah dengan kondisi sungai tersebut. Bahkan, ia menilai sungai yang hanya berair saat musim hujan itu sebenarnya sudah mengalami penanggulan sepanjang ratusan meter.

Dari hasil pengamatannya, satu-satunya persoalan yang ada di sungai itu adalah banyaknya titik penyempitan akibat proses sedimentasi. Selain itu, di beberapa titik juga terdapat tumpukan sisa ranting dan batang pohon yang patah. &amp;ldquo;Salah satunya adalah titik di dekat jembatan yang berada di sisi selatan Balai Desa Wukirsari [Kecamatan Imogiri] ini,&amp;rdquo; katanya saat ditemui di sela kegiatan inspeksinya di seputaran Sungai Celeng, seperti mengutip Harian Jogja, Kamis (12/1/2017).

Itulah sebabnya, ia menilai mutlak segera dilakukan upaya normalisasi atas sungai itu. Sayangnya, rencana itu kemudian terbentur oleh kewenangan. Sesuai Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 37 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Daerah Air Sungai (DAS), kewenangan pengelolaan DAS lintas kabupaten dalam satu provinsi seharusnya dikelola Pemerintah Provinsi. &amp;ldquo;Jika bicara kewenangan, seharusnya memang jadi perhatian Pemerintah DIY,&amp;rdquo; imbuhnya.

Mengingat besarnya dampak bencana, pihaknya lantas mengambil inisiatif untuk melakukan penanganan. Di antaranya adalah dengan melakukan talutisasi di sepanjang tebing sungai tersebut. Kegiatan itu bahkan ia lakukan hampir setiap tahunnya.

Bahkan di tahun 2016 lalu, ia mengklaim telah melakukan talutisasi di tebing Sungai Celeng sepanjang lebih dari 300 meter. Talutisasi yang menelan anggaran lebih dari Rp800 juta itu dilakukannya di dua desa, yakni masing-masing Desa Karangtengah dan Desa Girirejo Kecamatan Imogiri. &amp;ldquo;Untuk yang 2017 ini, kami lebih fokus pada gali sedimen di saluran irigasi. Sepertinya, tidak ada yang untuk sungai,&amp;rdquo; katanya.

Terpisah, Sumadi, salah satu warga Dusun Paduresan Desa Imogiri mengakui, kawasan sekitar Sungai Celeng memang menjadi langganan banjir setiap hujan deras mengguyur kawasan perbukitan. Itulah sebabnya, saat ditanya mengenai luapan Sungai Celeng, Selasa (11/1) lalu, ia menganggapnya masih sebatas wajar. &amp;ldquo;Itu sih masih normal, Mas. Beberapa tahun lalu, bahkan pernah lebih besar dari itu,&amp;rdquo; katanya.

Anehnya, ia mengatakan, dari sepanjang daerah bantaran Sungai Celeng, titik kawasan yang rentan meluap hanyalah di Dusun Paduresan saja. Padahal, sungai itu mengalir sejak dari Dusun Pucung DesaWukirsari hingga berakhir pada Sungai Oya di Desa Seloharjo, Kecamatan Pundong. &amp;ldquo;Entah kenapa, yang banjir kok selalu di sini,&amp;rdquo; keluhnya.</content:encoded></item></channel></rss>
