<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Menlu Rusia Sebut Tiga Negara Campuri Pilpres AS</title><description>Inggris, Jerman, dan Prancis ikut campur dalam kampanye pilpres AS untuk menjelekkan Donald Trump.&amp;nbsp;</description><link>https://news.okezone.com/read/2017/01/19/18/1595581/menlu-rusia-sebut-tiga-negara-campuri-pilpres-as</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2017/01/19/18/1595581/menlu-rusia-sebut-tiga-negara-campuri-pilpres-as"/><item><title>Menlu Rusia Sebut Tiga Negara Campuri Pilpres AS</title><link>https://news.okezone.com/read/2017/01/19/18/1595581/menlu-rusia-sebut-tiga-negara-campuri-pilpres-as</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2017/01/19/18/1595581/menlu-rusia-sebut-tiga-negara-campuri-pilpres-as</guid><pubDate>Kamis 19 Januari 2017 14:04 WIB</pubDate><dc:creator>Wikanto Arungbudoyo</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/01/19/18/1595581/menlu-rusia-sebut-tiga-negara-campuri-pilpres-as-u3wPH6qI5B.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov (Foto: Alexander Nemenov/AFP)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/01/19/18/1595581/menlu-rusia-sebut-tiga-negara-campuri-pilpres-as-u3wPH6qI5B.jpg</image><title>Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov (Foto: Alexander Nemenov/AFP)</title></images><description>MOSKOW &amp;ndash; Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menyebut Inggris, Jerman, dan Prancis turut campur dalam Pemilihan Presiden (pilpres) Amerika Serikat (AS). Ketiga negara tersebut sengaja berkampanye untuk Hillary Clinton dan secara terbuka menjelek-jelekkan Donald Trump.
Pria berkacamata itu jengah Rusia terus-menerus dituduh mengganggu jalannya Pilpres AS. Lavrov mengatakan sudah waktunya bagi dunia untuk mengakui fakta sebenarnya yang berkebalikan dari tuduhan tersebut.
&amp;ldquo;Sekutu AS ikut campur terlalu jauh dalam urusan dalam negeri, termasuk kampanye pilpres. Kami mencatat Angela Merkel (Kanselir Jerman), Francois Hollande (Presiden Prancis), Theresa May (Perdana Menteri Inggris), dan para pemimpin Eropa lain melakukannya,&amp;rdquo; tutur Lavrov dalam konferensi pers, seperti dimuat Russia Today, Kamis (19/1/2017).
Ia menambahkan, para pemimpin Eropa itu tidak segan-segan dalam menjelekkan nama Donald Trump. Sebagai contoh, Menteri Luar Negeri Jerman Frank Walther Steinmeier menyebut Donald Trump sebagai penyebar kebencian. Contoh lain adalah Menteri Luar Negeri Inggris Boris Johnson yang menyebut Trump tidak cocok menjadi Presiden AS.
Sergey Lavrov kembali menegaskan komitmen Pemerintah Rusia untuk bekerja sama dengan AS di bawah pemerintahan Donald Trump. Politikus Partai Republik itu sendiri sempat mengatakan jika kepentingan nasional AS tetap terjaga selama bekerja sama dengan Rusia maka akan sangat bodoh jika kerjasama tidak dijalin.
&amp;ldquo;Pendekatan kami tetap sama. Kami harus dan sudah siap bekerja dengan AS sebagaimana halnya bersama Uni Eropa serta Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO),&amp;rdquo; tegas Lavrov.</description><content:encoded>MOSKOW &amp;ndash; Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menyebut Inggris, Jerman, dan Prancis turut campur dalam Pemilihan Presiden (pilpres) Amerika Serikat (AS). Ketiga negara tersebut sengaja berkampanye untuk Hillary Clinton dan secara terbuka menjelek-jelekkan Donald Trump.
Pria berkacamata itu jengah Rusia terus-menerus dituduh mengganggu jalannya Pilpres AS. Lavrov mengatakan sudah waktunya bagi dunia untuk mengakui fakta sebenarnya yang berkebalikan dari tuduhan tersebut.
&amp;ldquo;Sekutu AS ikut campur terlalu jauh dalam urusan dalam negeri, termasuk kampanye pilpres. Kami mencatat Angela Merkel (Kanselir Jerman), Francois Hollande (Presiden Prancis), Theresa May (Perdana Menteri Inggris), dan para pemimpin Eropa lain melakukannya,&amp;rdquo; tutur Lavrov dalam konferensi pers, seperti dimuat Russia Today, Kamis (19/1/2017).
Ia menambahkan, para pemimpin Eropa itu tidak segan-segan dalam menjelekkan nama Donald Trump. Sebagai contoh, Menteri Luar Negeri Jerman Frank Walther Steinmeier menyebut Donald Trump sebagai penyebar kebencian. Contoh lain adalah Menteri Luar Negeri Inggris Boris Johnson yang menyebut Trump tidak cocok menjadi Presiden AS.
Sergey Lavrov kembali menegaskan komitmen Pemerintah Rusia untuk bekerja sama dengan AS di bawah pemerintahan Donald Trump. Politikus Partai Republik itu sendiri sempat mengatakan jika kepentingan nasional AS tetap terjaga selama bekerja sama dengan Rusia maka akan sangat bodoh jika kerjasama tidak dijalin.
&amp;ldquo;Pendekatan kami tetap sama. Kami harus dan sudah siap bekerja dengan AS sebagaimana halnya bersama Uni Eropa serta Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO),&amp;rdquo; tegas Lavrov.</content:encoded></item></channel></rss>
